
Memasuki gedung tinggi menjulang itu, znala disambut ramah oleh satpam yang sedang berjaga. Satpam yang mengenal baik Nala.
"Selamat pagi mbak Nala.." Sapa satpam ramah, lelaki paruh baya itu tak menyadari wajah masam Nala.
"Pagi pak..." Nala merubah mimik wajahnya. Sudah lama tak bertegur sapa dengan lelaki ramah itu.
"Mau ketemu pak Gaara mbak?", Nala mengangguk dengan seulas senyum manis.
"Nala ke atas dulu ya pak.." Si satpam mengangguk dan tersenyum sambil mempersilahkan.
"Lupa..buat ngemil pak". Nala menyodorkan keresek berwarna putih itu.
"Apa ini mbak?". Nala tersenyum sambil melirik kiri kanan.
"Temen ngopi kesukaan bapak". Nala mengerling membuat si satpam terkekeh pelan.
"Makasih banyak ya mbak. Malah ngerepotin". Nala menggeleng, merasa senang membawakan sekedar cemilan untuk orang baik itu.
"Tinggal dulu ya pak..semangat kerja nya". Nala mengepalkan tangannya sambil tersenyum memberi semangat si bapak yang ikut tersenyum melihat wajah ceria Nala.
Sampai diresepsionis, Nala disambut ramah. Karena sebelumnya orang berkuasa kedua dikantor tempatnya bekerja itu sudah memberi instruksi jika Nala akan datang. Siapa lagi jika bukan si asisten peka namun juga minim akhlak, Nick.
"Selamat pagi mbak Nala.." Sapa si resepsionis ramah disambut senyum tipis Nala.
"Mari saya antar mbak. Pak Gaara sudah menunggu". Salah seorang resepsionis mengantarkan Nala hingga ke lantai tempat ruangan Gaara berada.
"Sampai sini aja kak..Kakak balik ke tempat kakak aja". Itulah yang membuat semua karyawan Gaara menyukai Nala. Sejak dulu Nala selalu ramah dan pengertian pada karyawan Gaara. Tak pernah sok berkuasa dan memerintah mereka.
"Nggak apa-apa kak. Aku tau ruangan abang kok.." Resepsionis bername tag Bunga itu mengangguk lalu tersenyum. Ia menundukkan kepalanya sedikit sebelum undur diri.
"Kalau begitu saya pamit undur diri dulu mbak Nala.." Nala menganggukkan kepalanya dengan seulas senyum yang kemudian langsung padam saat resepsionis yang mengantarnya sudah menghilang.
Dengan langkah anggun, Nala berjalan menuju ruangan Gaara yang berada diujung. Matanya melirik sinis pada seorang wanita yang duduk didepan ruangan lelakinya.
Wanita itupun juga melirik Nala. Tatapan mata keduanya bertemu. Saling menatap dengan tatapan yang sama-sama tajam.
Nala hendak masuk. Gadis itu sudah memegang handle pintu ruangan Gaara. Namun wanita yang sejak tadi menatap Nal itu bergerak cepat menghalangi Nala.
__ADS_1
Nala menatap wanita itu dengan sebelah alis terangkat. Tatapan matanya masih tajam seolah ingin menguliti wanita didepannya ini. Tidak tahukah dia jika saat ini Nala sedang sangat kesal. Ditambah wanita itu menghalanginya masuk keruangan Gaara.
"Pak Gaara sedang sibuk. Tidak bisa diganggu". Ucapnya yakin karena saat dirinya masuk tadi, Gaara memang sedang berkutat dengan tumpukan dokumen yang menggunung.
"Lagipula pak Gaara tidak menitipkan pesan apapun. Jadi silahkan tunggu disana". Wanita yang bernama Hani itu menunjuk sebuah sofa yang tak jauh dari meja nya.
Tak ingin berdebat, Nala mengikuti ucapan wanita itu. Sedangkan Hani terlihat menyunggingkan senyum penuh kemenangan saat Nala mengikuti perintahnya.
Baru saja Nala menghempaskan bobot tubuhnya ke sofa, ponselnya sudah berdering dengan nama 'abang♥️'yang memenuhi layar ponselnya.
"Hallo.."
"Sayang..kamu dimana? Kata Bunga, kamu udah dianter ke atas. Kenapa belum nyampe?". Suara Gaara terdengar jelas oleh Hani, karena Nala sengaja menyalakan speaker ponselnya.
"Aku? Aku didepan ruanganmu!". Nala melirik Hani yang telihat kesulitan menelan salivanya. Nala menyunggingkan senyum miring.
"Didepan?". Suara Gaara terdengar tengah kebingungan.
"Terus kenapa nggak masuk sayang?", Tanya Gaara lagi dari sambungan telepon.
Namun beberapa detik kemudian pintu ruangannya terbuka. Menampakkan Gaara yang terlihat keren dengan balutan kemeja yang digulung lengannya hingga siku. Lelaki tampan itu juga membuka dua kancing kemeja teratasnya dan melonggarkan dasinya.
"Kenapa masih disini hm??", Gaara menghampiri Nala yang wajahnya terlihat kesal.
Gaara tak tahu apa yang membuat wajah wanitanya cemberut. Yang pasti karena kehadiran Hani disana menambah kadar kekesalan Nala.
"Kenapa?". Tanya Gaara lembut sambil menyelipkan anak rambut Nala kebelakang telinga.
"Tanyain sekretaris sinting kamu itu. Katanya pak Gaara sibuk nggak bisa diganggu". Ketus Nala membuat Hani melotot tak percaya Nala megatainya wanita sinting.
Namun sesaat kemudian ia menunduk saat Gaara memberikan tatapan tajam pada dirinya.
"Yaudah kita masuk ya sayang.." Perlakuan lembut Gaara pada Nala mampu membuat Hani terpaku. Hatinya bagai tersayat ribuan pisau melihat bagaimana lembutnya Gaara pada Nala. Apalagi melihat Gaara merangkul mesra bahu Nala.
"Dan untuk kamu. Lain kali jangan mempersulit calon istri saya untuk masuk". Hani membeku, bahkan setelah Gaara membawa Nala masuk keruangannya, wanita itu masih diam bagaikan patung.
"Calon istri?". Gumam Hani yang masih tak percaya dengan apa yang ia dengar.
__ADS_1
Hani menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Ia menoleh, berharap Gaara yang keluar dan memeluk dirinya. Namun harapannya sirna saat yang terlihat hanya kepala Nala yang menyembul dibalik pintu.
Gadis itu tersenyum meledek, dan kemudian menjulurkan lidahnya pada Hani yang langsung melotot.
"Oh lupa..mbak Hani, tolong bikinin aku jus jeruk ya", Nala yang tadinya sudah masuk, kembali menyembulkan kepalanya.
Hani mengepalkan tangannya erat. Ingin menolak tapi tak mungkin ia lakukan. Dirinya benar-benar membenci Nala sampai kapanpun.
Dengan malas, Hani berjalan menuju pantry. Mau tak mau, suka tak suka, dirinya harus memenuhi perintah gadis menyebalkan yang sejak dulu memang sudah ia benci.
"Kenapa dia balik lagi?". Gumam Hani sambil mengaduk jus jeruk pesanan Nala.
"Karna mau nikah sama bos". Hani terkejut saat tiba-tiba mendengar suara Nick yang ada dibelakangnya.
"A-apa?? N-nikah??". Suara Hani terdengar gagap. Membuat Nick tersenyum miring melihat reaksi Hani.
Tanpa menjelaskan apapun lagi, Nick berlalu meninggalkan Hani yang masih mematung. Nick menatap punggung Hani dengan seringai kecil.
"Cepat bawa minumnya. Calon istrinya bos keburu haus". Hani tersadar saat Nick kembali bersuara. Saat Hani membalikkan tubuhnya, Nick sudah berjalan menjauh.
"Ada apa sebenarnya ini. Kenapa mereka tiba-tiba mau menikah". Gumam Hani yang masih tak percaya dengan segala hal yang ia dengar dan ia lihat hari ini.
Nick berjalan ringan menuju ruangannya yang berada tepat disamping ruangan Gaara. Lelaki itu terlihat sangat pua melihat wajah pias Hani. Belum apa-apa saja Hani sudah dibuat terkejut.
"Pawangnya si bos belom ngelakuin apa-apa aja udah bisa bikin itu cewek jelmaan mak lampir snewen. Nggak kebayang kalo berkolaborasi ama mbak Kara. Kayanya bisa kaku berdiri si Hani". Nick terkekeh pelan sambil masuk kedalam ruangannya.
"Kapan lagi liat si Hani ketemu lawan seimbang. Langsung kena mental tu perempuan ketemu pawangnya si bos lagi. Dua tahun dia ngerasa diatas awan nggak punya lawan seimbang. Sekarang, selamat menikmati". Nick menghempaskan tubuhnya dikursi kerjanya. Menyandarkan kepalanya dengan bayangan-bayangan bagaimana sakit kepalanya Hani menghadapi Nala nantinya.
...¥¥¥•••¥¥¥¥...
waaah, perangnya double nih..ama Haikal iya, ama si mbak sekretaris juga iya😱😱
Nggak cuma perangnya yang double, upnya juga udah double nih😁😁😁
Tampol like sama komennya juga didouble yak😁😁☺️
Sarangheo sekebon readersku😘😘😘lopelope banyak-banyak buat kalian semuaaaa♥️♥️😘😘😘🥰
__ADS_1
Makasih banyak buat semua dukungannya semuaaa🙏🏻🥰🥰💐