
"Mama..." Suara Gaara sudah memenuhi ruangan dimana sang mama dirawat saat ini.
"Jangan teriak sayang, nanti adik kamu kaget". Mama Ana mengusap kepala cucunya.
"Ups, maaf oma. Abang lupa". Gaara nyengir menatap neneknya.
"Hallo Sakha, hallo Santen sachet". Abi mendelik mendengar Gaara memanggil adik perempuannya santen sachet.
"Apa bang? Kok santen sachet sih?". Tanya Abi pada putra sulungnya.
"Kan Kara santen pa". Jawabnya santai
Sebenarnya Diandra ingin tertawa seperti papa mamanya dan kedua mertuanya yang terlihat membekap mulut menahan tawa agar tak nyaring terdengar, tapi ini tidak benar. Ia tidak mau anak-anaknya saling meledek saat nanti beranjak remaja.
"Sayang.." Diandra memanggil lembut putranya yang langsung mendekat tanpa protes sedikitpun.
"Sayang..abang nggak boleh panggil adik seperti itu ya. Kan papa kasih nama adik udah bagus, Lengkara. Masa dipanggilnya santen sih". Suara Diandra terdengar begitu lembut hingga membuat Gaara sendiri merasa bersalah.
"Maaf mama.." Cicitnya membuat Diandra tersenyum dan memeluknya.
"Nggak apa-apa. Asal jangan diulangin ya.." Gaara mengangguk cepat dan memeluk sang mama.
"Jam berapa boleh keluar nak?". Pertanyaan mama Dita membuat semua beralih menatap Abi dan Diandra bergantian.
"Tinggal nunggu surat buat check up aja ma. Sebentar lagi juga pasti sudah selesai". Jawab Abi yang sedang sibuk merapikan pakaian istri dan anak kembarnya. Dia benar-benar menjelma menjadi suami dan ayah siaga bagi istrinya dan anak-anaknya.
"Lihat, mereka tersenyum". Ucapan Baim membuat Gaara segera mendekat. Rupanya saudara angkatnya itu sejak tadi sudah diam disamping box adiknya.
"Cantik sekali.." Puji Gaara tulus saat melihat adik perempuannya tersenyum. Sangat cantik dan lucu.
"Lihat, dia juga sangat tampan.." Baim menunjuk wajah adik lelakinya.
"Ya tampan sekali seperti aku.." Sahut Gaara cepat membuat semua tergelak.
"Narsis banget anak papa". Abi yang gemas mengacak pelan rambut anaknya.
"Kata mama, abang ganteng. Iya kan ma?". Gaara menatap Diandra yang mengangguk sambil tersenyum.
"Tuh, kata mama abang ganteng".
__ADS_1
"Iya deh iya, anak-anak papa ganteng semua". Tak mau memancing keributan dengan si biang rusuh, Abi langsung mengiyakan ucapan putranya.
Tak lama dokter datang dengan membawa surat check up untuk Diandra dan anak kembarnya. Setelahnya, mereka pulang bersama-sama.
Abi dan Diandra sudah memutuskan akan tinggal dirumah pap Ihsan, orang tua Abi. Toh jarak rumah keduanya sangat dekat, bahkan hanya bersebrangan saja.
Anak-anaknya juga akan mudah jika ingin ke rumah neneknya. Hanya perlu berteriak agar dijemput, pasti sudah terdengar.
Perjalanan terasa singkat dari rumah sakit menuju kediaman papa Ihsan. Disana, bu Tini sudah menyambut keluarga majikannya itu. Ia juga penasaran seperti apa wajah bayi kembar Diandra dan Abi.
"Selamat datang mbak Dia..selamat atas kelahiran putranya ya". Diandra tersenyum ramah pada wanita yang sudah lama mengabdi pada keluarga suaminya itu.
"Makasih ya bu Tini".
"Walah, ganteng sama ayu tenan anak sampean mbak.." Bu Tini berdecak kagum menatap wajah cantik dan tampan anak-anak Diandra.
"Woalah, bibit unggul semua ini namanya". Selorohnya membuat semua orang tertawa.
"Ndak ada yang gagal produknya.." Wanita itu terus berbicara sambil menatap kagum dua bayi yang digendong Diandra dan Abi.
"Simbah awas ih, adik aku mau masuk.." Gaara memasang badan didepan bu Tini yang ia panggil simbah.
"Terpesona mbah.." Ralat Baim membuat semua orang tertawa.
Akhirnya keluarga bahagia itu masuk kedalam rumah. Abi dan Diandra langsung membawa Sakha dan Kara masuk kedalam kamar karena anak kembar itu tertidur pulas selama diperjalanan tadi.
"Mas.." Diandra kaget karena Abi tiba-tiba memeluknya erat dari belakang.
"Makasih sayang.." Bisik Abi sambil mendaratkan sebuah kecupan dipipi kanan sang istri.
"Makasih buat apa mas?". Tanya Diandra mengelus tangan sang suami yang membelit perutnya.
"Makasih karna kamu kasih aku kesempatan jadi laki-laki yang beruntung. Dapetin kamu dan punya anak dari kamu". Diandra terkekeh pelan, suaminya tak ada hentinya berterimakasih dan meminta maaf padanya.
"Udah berapa kali kamu bilang makasih sama maaf mas? Udah cukup mas, bukan cuma kamu..aku juga bahagia". Diandra berbalik dan mengalungkan tangannya dileher Abi.
"Makasih sama maaf aku nggak akan cukup sayang, bahkan kalau seumur hidup aku ucapin". Abi menatap dalam mata istrinya. Tangannya memeluk pinggang istrinya yang kini terasa lebih lebar karena melahirkan.
"Tapi aku udah maafin kamu mas. Aku udah lupain semua, jadi jangan minta maaf terus. Yang penting, sekarang kamu udah jadi suami dan ayah yang terbaik buat kami". Abi mendaratkan ciuman yang begitu dalam dikening istrinya.
__ADS_1
Rasa bersyukurnya semakin besar, bisa memperistri seorang wanita yang sangat pengertian dan pemaaf seperti Diandra.
Abi lalu mencium mesra bibir istrinya, ciuman lembut yang semakin lama semakin terasa menuntut. Diandra yang menyadari gelagat suaminya segera menyudahi ciuman itu. Ia tak mau pada akhirnya sang suami jadi tersiksa sendiri karena ulahnya.
"Cukup mas.." Diandra menahan bibir Abi yang hendak melahap kembali bibirnya.
"Kenapa sayang?". Tanya Abi dengan suara berat. Bisa Diandra pastikan jika dibawah sana, junior Abi sudah mulai memberontak.
"Aku ini baru ngelahirin mas. Kamu tahu kan kalo abis ngelahirin tuh nggak akan bisa disentuh dulu?". Abi mende sah frustasi, ia mengacak rambutnya saat ingat jika saat ini hingga 35 hari kedepan, ia tak akan bisa menyentuh istrinya.
"Mau kemana mas?", Tanya Diandra saat melihat Abi berjalan menjauh.
"Adik aku butuh mama lux sayang". Teriak Abi yang sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi.
"Awas mas, jadi anak tuyul hayo kebanyakan solo karir". Balas Diandra juga setengah berteriak.
"Daripada kepala pening". Kepala Abi menyembul keluar menatap Diandra dengan wajah memelas hingga membuat Diandra tergelak.
Diandra berjalan mendekati box bayi berisi putra-putrinya, ia menatap dengan intens wajah kedua anaknya. Kenapa anak-anaknya lebih mirip bapaknya daripada ia yang mengandung dan melahirkan.
"Kalian juga mirip papa?". Gumam Diandra yang menatap wajah itu satu-persatu dimulai dari alis, mata hidung hingga bibir.
Anak lelakinya adalah gambaran Abi saat kecil, hanya hidungnya yang mirip dengannya. Sementara anak perempuan satu-satunya, yang ia harapkan mirip dirinya, hanya alis dan bibirnya saja yang seperti dirinya.
"Kenapa kalian semua mirip papa?? Abang udah mirip papa loh, masa iya kalian juga. Kan mama yang hamil..nggak adil.." Diandra seperti anak kecil yang merajuk sembari jemari lentiknya menyisir semua bagian wajah anak-anaknya.
"Adil sayang, aku yang lebih banyak bekerja saat diranjang. Kamu cuma terima beres, jadi wajar kalo mereka mirip sama aku". Entah sejak kapan Abi keluar, tapi lelaki itu sudah berdiri santai dibelakang istrinya dengan seringai dibibir seksinya. Terlihat benar-benar menyebalkan bagi Diandra.
---***---
Gimana readers?? Dilanjut apa nggak nih si santen sachet?
Enaknya ceritain anak-anak mereka pas masih kecil, apa langsung remaja aja ya? Yang pasti sih si kembar jadi biang rusuh ya😅😅
Ditambah si abang yang suka jahilin incess, makin rame lah keluarga nya Abi..
Jangan lupa tampol like nya ya readers..Lopelope sekebon semuaaa😍😘😘
Jangan lupa mampir dikarya aku yang lain yaaaa...
__ADS_1