Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
Bukan sekedar ancaman


__ADS_3

"Tenang sayang..mama yakin Abi tidak akan diam saja". Mama Ana mengelus lembut pundak menantunya.


"Laki-laki itu. Apa dia benar-benar bukan manusia? Bisa-bisanya dia melakukan ini setelah apa yang diperbuatnya pada keluarga kita". Geram Diandra meremas kuat surat dari pengadilan itu.


"Tahan amarahmu sayang..jangan sampai Gaara tahu masalah ini".


Diandra menghela nafas panjang, benar yang dikatakan oleh mertuanya. Ia tak mau Gaara kembali bersedih dengan permasalahan ini.


"Mama benar..Gaara tidak perlu memikirkan hal ini. Aku dan mas Abi akan menyelesaikan ini sebelum anak-anak menyadari apapun". Mama Ana mengangguk setuju.


"Kita tidak akan melepaskan Gaara sayang..dia bagian dari kita. Tidak boleh ada yang mengambilnya sekalipun itu ayah kandungnya". Kedua wanita itu saling menguatkan.


Dan benar saja, Diandra dan Abi benar-benar tidak membiarkan anak-anaknya tahu perihal gugatan yang diajukan Abram. Keduanya bergerak dalam diam mengurus persidangan.


Sementara dilain tempat, Abram sedang duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya setelah sidang pertamanya. Ia bisa melihat jelas bagaimana tatapan membunuh yang Diandra hunuskan pada dirinya tadi saat sidang berjalan.


"Kenapa kamu keras kepala sekali, nak". Wanita yang seusia dengan mama Ana menatap sedih putranya.


"Aku harus mendapatkan anakku ma". Abram bersikeras


"Lalu kemana kamu selama ini?". Abram bungkam.


"Kamu tidak takut jika putramu justru akan semakin menjauh jika kamu melakukan ini pada keluarga yang telah membesarkannya selama ini?". Abram menunduk, ia tahu apa resikonya melakukan gugatan ini.


Bahkan ia mengeluarkan uang yang tidak sedikit agar bisa menggugat keluarga Abi. Tentu saja, di negara ini bukankah sudah menjadi rahasia umum jika masih banyak oknum yang melakukan kecurangan demi mencapai tujuannya.


"Biarkan saja, ma. Kita tunggu saja kehancuran anakmu yang b*doh itu". Seorang pria yang mungkin berumur 60tahunan itu berjalan tenang mendekati anak dan istrinya yang terlihat tegang.


"Pa.." Abram tak terima dengan ucapan sang ayah.


"Apa? Tidak cukupkah kebod*hanmu selama ini?". Tanya pak Burhan dengan wajah serius.


"Pa.." Bu Yuli, ibunda Abram menatap lembut sang suami.


"Dulu kamu menelantarkannya Bram. Ingat itu! Jangan menjadi orang gila dengan mengusik hidupnya yang sudah bahagia".


"Tidak cukupkah membuat ibunya mati karna ulahmu? Kau ingin darah dagingmu juga menyusul ibunya karna keegoisanmu itu?!".

__ADS_1


"Aku hanya ingin mengambil apa yang menjadi milikku pa! Lagipula menurut hukum aku bisa melakukannya. Apa papa tidak ingin dekat dengan cucu papa?". Pak Burhan tersenyum miring menatap putra semata wayangnya. Ia benar-benar merasa gagal mendidik anaknya.


"Milikmu?? Aku akan mendukungmu jika itu kau ucapkan 14tahun lalu. Saat Dea meminta tanggung jawabmu. Seandainya papa tahu kedatangan Dea waktu itu untuk meminta b*jingan tengik sepertimu bertanggung jawab, pasti tidak akan seperti ini kejadiannya". Sinis sang papa membuat Abram diam.


"Aku lebih memilih tidak memiliki cucu didekatku daripada memaksa dia berada didekatku tapi hatinya tersiksa". Tegas Pak Burhan.


"Aku tidak akan mundur pa. Aku akan mendapatkan hak asuh Gaara bagaimanapun caranya". Tekad Abram membuat pak Burhan dan bu Yuli menggeleng kecewa.


"Terserah. Papa dan mama hanya mengingatkan, jangan sampai ada penyesalan kedua kali. Atau kau akan benar-benar hancur karna kebencian putramu sendiri". Pak Burhan bangkit dan meninggalkan putranya.


"Mama kecewa sama kamu. Dulu kamu menyianyiakan ibunya, kamu menikahi wanita lain. Dan sekarang? Saat wanita yang kamu nikahi tidak bisa memberikan keturunan, kamu mau mengambil anak yang dulu tidak kamu akui?".


"Aku tidak tahu kalau dia putraku ma. Jika tau aku pasti akan bertanggung jawab". Abram masih tak mau kalah.


"Kalau seandainya Monika memberitahu aku lebih awal. Aku pasti tidak akan terlambat seperti ini". Imbuhnya membuat sang mama tersenyum sedih.


"Bahkan kamu tidak mengenal sepupu mu dengan baik. Turuti dan percayailah semua perkataan Monika jika kamu ingin hancur. Mama tidak akan pernah mendukung apalagi membantumu". Bu Yuli meninggalkan Abram yang kini tampak frustasi dengan menjambak rambutnya sendiri.


Dilain tempat, saat ini Monika tengah berdandan. Siang tadi suaminya memberi kabar jika Abi yang juga merupakan rekan bisnis suaminya akan datang malam ini.


Monika bahkan menyempatkan diri ke salon siang tadi. Pakaian yang ia kenakan juga terlihat seperti wanita penggoda.


"Bukankah harus menghargai tamu, sayang. Tuan Abi bukan orang biasa, bisnis kalian harus lancar. Dan untuk itu kita harus membuatnya senang bukan?". Monika tersenyum manis meski hatinya mengumpati lelaki yang berstatus suaminya.


"Dasar tua bangka". Umpat Monika dalam hati. Bagaimana tidak, suaminya adalah lelaki yang sudah berumur. Usia keduanya terpaut 20tahun. Sangat jauh bukan? Bahkan keduanya seperti ayah dan anak, bukan suami istri.


"Bersiaplah, sebentar lagi pak Abimana akan sampai". Monika mengangguk, lalu mengusap pipinya dengan tisu setelah suaminya keluar, seolah bekas ciuman suaminya adalah hal yang menjijikkan.


"Jika bukan karena bisnis, sudah aku lemparkan kau sejak dulu, dasar tua bangka s*alan". Umpat Monika.


"Sayang..turunlah".


"Baiklah..Aku akan segera turun sayang". Monika meneliti kembali penampilannya sebelum keluar. Ia tak sabar bertemu dengan lelaki yang ia puja.


"Selamat malam pak Abi, suatu kehormatan anda datang ke gubuk kami". Suami Monika yang bernama Dani itu menyap ramah Abi.


"Anda terlalu berlebihan tuan Dani". Sahut Abi formal.

__ADS_1


"Ah mari silahkan masuk.." Abi mengangguk dan ikut masuk. Ia sendiri, tanpa Diandra dan juga asistennya.


"Tuan Abi..selamat malam. Selamat datang dirumah kami.." Dengan gaya centilnya, Monika menyapa Abi. Sedangkan Abi mengacuhkannya. Ia benar-benar muak dengan wanita didepannya.


"Saya terkejut mendapat pesan dari asisten anda jika anda ingin berkunjung". Pak Dani terlihat sangat senang dengan kedatangan Abi.


"Oh sayang..tolong bawa minumannya kemari".


"Tidak perlu tuan Dani". Pak Dani menatap bingung Abi.


"Saya tidak akan berbasa-basi, tuan Dani. Saya kesini untuk urusan pribadi, bukan urusan bisnis". Dahi pak Dani berkerut dalam, terlihat jelas kebingungan disana.


"Apa ada masalah? Pak Abi.." Abi melirik tajam Monika yang berdiri disamping tuan Dani.


"Nyonya Monika, saya ada urusan dengan istri anda". Kerutan didahi pria paruh baya itu semakin dalam.


"Si-silahkan.." Meskipun bingung pak Dani tetap mempersilahkan.


"Apakah peringatanku selama ini masih kurang? Nona Monika.." Monika tiba-tiba merasa tenggorokannya kering.


"Berhenti mengusik keluargaku atau aku akan benar-benar menghancurkanmu. Bukan hanya dirimu, bahkan orang tuamu dan bisnis suamimu akan aku hancurkan jika kau tidak berhenti mengganggu keluargaku!". Tatapan Abi menghunus tajam seperti pedang.


"A-apa maksudnya ini pak Abi?". Tanya Pak Dani bingung


"Anda tidak tahu?? Kenapa tidak anda tanyakan pada istri anda ini tentang apa saja yang dia lakukan pada istri dan anak-anak saya".


"Jaga istri anda jika anda masih ingin bisnis anda berlanjut, tuan. Karena siapapun yang mengusik istri dan anak-anak saya, saya tidak akan segan menghancurkannya hingga tak bersisa. Jangankan untuk bangkit, mengangkat kepala pun anda tidak akan mampu lagi jika istri anda terus berulah". Monika menelan salivanya dengan susah payah. Apalagi kini ia mendapat tatapan tajam dari suaminya.


"Ini bukan sekedar ancaman tuan Dani. Saya rasa anda mengenal baik bagaimana saya, jadi perhatikan baik-baik perilaku istri anda".


"Saya hanya ingin mengatakan itu. Saya permisi". Abi segera berlalu dari rumah Monika, tak peduli teriakan pak Dani yang memanggil namanya berulang.


___^^^___


Holla semuaaa..gedeg ya? sama..othor juga gedeg ama Abram sama Monika. Heran ya kok bisa kaya gitu😤


Abram memang bisa kok gugat hak asuh Gaara, ada kasus seperti kisah diatas. Hanya saja prensentasenya keciiiiil banget..Jadi jangan pada ngamuk ama othor dulu ya..nikmati aja dulu alurnya, karena abis konflik ini kelar, kita bakal pindah dimensi dimana anak-anak biang rusuh udah remaja nanti..

__ADS_1


Buat komen, sama like nya makasih yaaa..othornya makin semangat nulisnya. Doain biar bisa up satu bab lagi ya. Lopelope sekebon semuah❤️🥰🥰


__ADS_2