Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
halusinasi


__ADS_3

Abi mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang menembus kornea matanya. Kepalanya terasa pusing dan berputar.


Abi meregangkan ototnya. Setidaknya tubuhnya terasa lebih enak karena tidur dengan nyaman.


Sepertinya semalam ia minum lebih banyak dari biasanya hingga efek pusingnya bertahan lebih lama dari biasanya. Ia bahkan berniat menguubungi Alvin dan meminta lelaki itu untuk menghandle pekerjaan hari ini karena ia ingin beristirahat dirumah. Ia mencari ponselnya namun tak ia temukan.


Ia menatap sekelilingnya. Seperti biasa, ia akan berakhir di apartemen seperti saat ini, ia berfikir Alvin yang mengantarnya seperti yang sudah-sudah. Namun matanya terhenti pada sosok yang meringkuk diatas sofa kamarnya.


"Lo udah gila beneran Bi". Gumamnya dengan seulas senyum masam.


" Gue musti cuci muka biar sadar". Dengan langkah terhuyung, Abi memasuki kamar mandi yang ada didalam kamarnya.


Abi menggosok gigi dan membasuh mukanya. Namun ada yang aneh menurutnya. Kapan dirinya mengganti baju? Sepatunya juga sudah dilepas.


"Apa si Alvin yang ganttiin ya? Tumben amat tu orang". Gumam Abi mengeringkan wajahnya dengan handuk.


Abi menggantungkan handuknya dan berjalan keluar dari kamar mandi. Berharap bayangan sosok wanita yang meringkuk diatas sofanya tadi sudah tak ada.


Namun Abi kembali dibuat membeku saat melihat sosok wanita itu masih ada disana. Bahkan kini dia tengah duduk dan menatap Abi dengan tatapan yang tidak bisa Abi artikan.


" Wah..lo bener-bener gila Bi ". Ucapnya sambil memukul kepalany.


" Lo harus mandi biar sadar". Imbuhnya lagi


"Kayanya lo kudu pensiun mabok. Bisa gila lo lama-lama". Ocehnya sambil berjalan kembali masuk kedalam kamar mandi.


Sementara Diandra yang melihatnya hanya bisa tersenyum geli. Jadi rupanya Abi menganggap dirinya hanya halusinasinya saja.


" Makanya kalo nggak bisa mabuk tuh nggak usah aneh-aneh mas". Gumam Diandra sambil menggelengkan kepalanya.


Diandra memilih meninggalkan kamar Abi. Ia juga butuh membersihkan dirinya. Akan ia lihat kamar yang biasa ia gunakan, masihkah ada barang-barang miliknya atau sudah dibuang oleh Abi.


Sementara Diandra pergi dari kamar Abi, si pemilik kamar tengah berdiri dibawah shower yang sengaja ia nyalakan dengan air dingin. Ia benar-benar harus menyadarkan diri karena terus melihat bayangan Diandra.


Setelah cukup lama membersihkan dirinya, Abi keluar dari dalam kamar mandi. Dengan perlahan ia mengintip dari celah pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Tuh kan. Gue emang masih mabok tadi". Gumamnya saat sosok yang ia anggap hanya halusinasi itu kini menghilang.


Abi memakai pakaian santainya, celana pendek berwarna hitam dengan kaos rumahannya. Ia mencari ponselnya dan mengetikkan pesan jika hari ini ia akan libur.


Keningnya berkerut saat membaca balasan pesan dari Alvin. " Siap bos, tenang aja. Selamat menikmati liburannya lah pokoknya, gas terus jangan kasih kendor bos".


"Dasar asisten gila". Gumam Abi melemparkan ponselnya keatas kasur. Ia kemudian berjalan keluar kamar untuk kedapur mengambil minum.


Namun langkahnya kembali terhenti saat melihat sosok yang berdiri membelakanginya. Aroma kopi menyeruak memenuhi indera penciumannya.


" Sadar Bi. Ayo sadar!! Lo bisa gila beneran kalo kaya gini". Abi menampar pipinya sendiri.


Bagaimana tidak, saat ini Abi melihat sosok dengan kaos putih kebesaran yang menutupi hingga setengah pahanya. Dan Abi tahu kaos milik siapa itu, dan siapa pemilik tubuh itu.


Tidak ingin semakin seperti orang gila, Abi melewati begitu saja Diandra yang tengah menyeduh kopi untuknya. Ia membuka kulkas dan mengambil air putih dingin dan langsung menenggaknya.


Diandra hanya tersenyum melihat kelakuan Abi yang masih menganggap dirinya sebuah ilusi yang tidak nyata.


"Jangan diliat..jangan diliat. Jangan diliat Bi". Abi terus mengoceh sambil kembali melewati Diandra yang hampir tidak bisa menahan tawanya.


" Biasanya juga langsung ilang bayangannya kalo gue mandi. Ini kenapa dimana-mana ada sih". Gerutu Abi sambil menghempaskan tubuhnya diatas sofa ruang tamu.


Dengan jahil, Diandra berjalan mendekati Abi dan ikut mendudukkan dirinya disamping Abi. Ia ingin melihat akan seperti apa lagi reaksi Abi nanti.


"Astagfirullah". Abi berjingkat kaget saat menoleh kesamping dan mendapati Diandra tersenyum padanya.


" Ya Allah..apa saya udah gila sekarang? ". Abi mendongak, menatap langit-langit apartemen dan kembali menoleh. Berharap Diandra yang ia kira hanya bayangan itu menghilang.


Namun bukannya menghilang, bayangan itu justru semakin dekat dengan wajahnya hingga ia berteriak


" Waaaa..!". Diandra ikut kaget karena Abi berteriak tepat didepan wajahnya.


"Kira-kira dong mas kalo mau teriak". Omel Diandra dengan wajah kesal.


" Ya Allah, sekarang malah bisa ngomel juga ". Abi menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Diandra yang sudah kesal dan gemas akhirnya mencubit lengan Abi dengan keras dan memukul lengannya dengan sekuat tenaga hingga Abi mengaduh kesakitan.


" Aawww". Pekik Abi saat sebuah capitan tajam mendarat dilengannya, begitupun dengan pukulan yang lumayan terasa.


"Kamu ya mas. Daritadi bikin kesel". Sungut Diandra membuat Abi terdiam seketika. Rasa sakit dari cubutan Diandra hilang tak terasa. Yang ada hanya rasa tak percaya dengan apa yang ada dihadapannya kini.


" Mas! Mas!!". Diandra kembali memukul lengan Abi karena kini Abi bak patung tak bergerak sedikitpun.


"Hah? Apa?". Tanya Abi bingung.


" Hah heh hoh hah heh hoh. Aku ngomong dari tadi nggak didengerin?!". Cerocos Diandra


"Ini kamu? Beneran kamu Di? Aku nggak lagi mimpi?". Diandra langsung diam saat Abi menangkup kedua pipinya, mata lelaki itu sudah berkaca-kaca. Hanya dengan satu kali kedipan saja Diandra yakin jika air bening itu akan meluncur membasahi pipi suaminya itu.


Diandra membuang nafasnya pelan, memegang tangan Abi yang sedang menangkup kedua pipinya dan kemudian menganggukkan kepalanya.


Abi yang melihat Diandra mengangguk langsung menariknya kedalam pelukannya dan menghujani seluruh wajah Diandra dengan sebuah ciuman lembut.


" Mas..engap mas". Diandra menepuk punggung Abi beberapa kali saat merasa pelukan Abi semakin kencang.


"Ma-maaf sayang". Abi langsung melepaskan pelukannya dan mengelus sayang pipi Diandra.


Abi menatap Diandra dalam, masih tak percaya dengan apa yang ada didepan nya ini. Ia pikir semalam ia bermimpi melihat Diandra bahkan hingga beberapa waktu lalu ia masih merasa jika Diandra hanya halusinasinya saja. Tapi ternyata gadis itu benar-benar Diandra, benar-benar istrinya.


" Tapi.." Ucap Abi saat menyadari bagaimana Diandra ada diapartemennya.


"Tapi apa? Gimana aku disini?". Abi mengangguk polos


" Coba diinget deh semalem". Sindir Diandra Membuat Abi terdiam dan mencoba mengingat kejadian semalam saat dirinya mabuk.


"Udah inget?". Tanya Diandra namun Abi menggeleng.


" Makanya nggaj usah mabuk-mabukan!". Diandra menjewer telinga Abi hingga meringis kesakitan.


********

__ADS_1


**Double up manteman..doain bisa kasih satu bab lagi ya. Mumpung lagi semangat nulisnya hihi..


happy reading semua**..


__ADS_2