
Gaara yang awalnya hanya berniat menemani sang mama akhirnya juga masuk kedalam toilet karena tiba-tiba ingin buang air kecil.
Diandra yang sudah lebih dulu selesai segera keluar dari kamar mandi setelah mencuci tangannya di wastafel. Namun langkah nya terhenti karena seseorang sengaja berdiri tepat dihadapannya.
"Apa maumu? Jangan menggangguku dan menyingkirlah". Ketus Diandra menatap sengit Monika yang tersenyum remeh padanya.
"Sepertinya kamu hidup bahagia ya". Suara Monika benar-benar membuat Diandra kesal.
"Apa urusannya denganmu? Awas, kamu ngalangin jalan". Monika mengeraskan tubuhnya saat Diandra hendak menggeser tubuhnya.
"Apa kamu ingin mencicipi tanganku lagi Mon? Mungkin kamu rindu dengan cetakan tanganku ini diwajahmu?". Geram Diandra yang semakin kesal karena Monika terus saja memancing keributan dengan dirinya. Padahal usianya sudah kepala tiga, masih saja seperti anak remaja.
Sejujurnya Monika sedikit ngeri mendengar ancaman Diandra. Dulu ia pernah merasakan tamparan Diandra karena terus mengganggu dan mengusik Diandra, sama seperti saat ini. Dan Monika ingat betul bagaimana keras dan sakitnya tamparan Diandra dulu.
"Kamu datang dengan suami dan anak-anakmu?". Tanya Monika membuat mata Diandra menyipit, menatap curiga pada Monika.
"Bukan urusanmu!". Ketus Diandra namun Monika justru tertawa.
"Berapa umur anak Dea?". Diandra diam tak menjawab
"Apa kamu yakin dia darah daging Abi?". Diandra menghunuskan tatapan setajam belati pada Monika yang terlihat sangat santai.
"Hm? Apa kamu yakin???". Tanyanya lagi
"Tutup mulut s.alanmu itu!! Dasar siluman gila!". Umpat Diandra.
"Hahaha..aku hanya memberitahu saja. Kapan mereka menikah? Lalu kapan anaknya lahir". Diandra berusaha menulikan pendengarannya.
"Apa dia benar-benar darah daging Abi? Aku meragukannya". Monika tampak tersenyum miring melihat wajah geram Diandra.
"Diamlah! Kamu tahu aku bukan seorang penyabar Mon. Jadi menyingkirlah sebelum aku benar-benar kehabisan kesabaran". Gigi Diandra saling beradu saking kesalnya pada Monika.
"Bukankah aneh, Abi dan Dea menikah sudah satu tahun saat kamu mengetahuinya bukan? Lalu bagaimana bisa anaknya belum lahir saat kamu pulang?". Meskipun benci mengakuinya, namun logikanya membenarkan ucapan Monika.
"Jadi? Apa anak itu benar-benar anak Abi? Atau anak laki-laki lain? Atau mereka memang sengaja menghianatimu berkali-kali karena kesenangan?". Tangan Diandra terkepal kuat. Ingin rasanya ia melayangkan tinjunya pada wanita siluman didepannya itu.
"Persiapkan juga dirimu, Diandra. Siapa tahu ayah biologisnya akan mengambilnya dari hidupmu". Perasaan Diandra semakin campur aduk, marah, kesal, kecewa, takut melebur menjadi satu.
__ADS_1
"Tunggu dulu. Darimana kamu tahu semua hal tentang keluargaku?!". Tatapan Diandra semakin tajam seolah ingin menguliti Monika hidup-hidup.
"Hahaha". Tawa Monika menggelegar.
"Kau ini memang polos, atau benar-benar bodoh?!". Ejek Monika menatap sinis Diandra yang terlihat semakin terbakar amarah.
"Aku yang menjebak suamimu". Bisik Monika dengan bangga membuat Diandra mengangkat tangannya hendak menampar Monika. Namun sebuah suara membuat tangannya menggantung di udara.
"Mama.." Diandra menoleh, kemudian tersenyum melihat Gaara baru keluar dari toilet pria.
"Ayo sayang kita balik ke papa.." Diandra memegang tangan anaknya dan hendak berlalu meninggalkan Monika.
Namun wanita jelmaan siluman itu menahan tangan Diandra hingga membuat Diandra kembali diam.
"Apakah dia anak Dea?". Tanya Monika melirik Gaara yang Diandra tutupi dengan tubuhnya.
"Apa pedulimu?!". Sentak Diandra mulai kehilangan kesabaran. Ia menghempaskan dengan kasar tangan Monika.
"Dia tidak terlihat mirip dengan Abi. Sepertinya memang bukan anak---"
"Tutup mulutmu wanita gila!!!". Potong Diandra cepat. Ia tak mau Gaara sampai mendengar ucapan tak bermutu yang keluar dari bibir Monika.
"Anak manis..dia hanya ibu tirimu. Kenapa kau sangat peduli..hm??". Rahang Gaara mengetat mendengar ocehan wanita didepannya.
"Dia mama ku. Sampai kapanpun aku akan melindungi mama". Gaara menatap nyalang pada Monika yang kini justru terbahak.
"Kita tinggalkan dia sayang. Kita bisa ikut gila jika terlalu lama dekat dengannya". Diandra segera menarik Gaara menjauh.
"Ingat kata-kataku tadi, Diandra. Cari tahu saja!". Teriak Monika
"Aku yakin dia bukan anak Abi". Monika terus berteriak sementara Diandra menutup rapat telinga anak sulungnya. Ia tak mau psikologis Gaara terganggu karena ucapan Monika.
"Apa yang tante Monika katakan barusan ma? Bukan anak siapa? Siapa yang dimaksud?". Cecar Gaara pada sang mama yang diam membisu.
"Kita pulang sekarang mas". Diandra mengambil tasnya, raut wajahnya menunjukkan kemarahan dan juga kesedihan.
Tanpa banyak bertanya, Abi mengangkat tubuh putrinya dan Baim kembali menggendong Raffa. Mereka mengikuti Diandra yang sudah lebih dulu berjalan didepan sana.
__ADS_1
"Ada apa bang?". Tanya Abi pada Gaara
"Abang nggak tau pa, tadi mama ketemu tante Monika". Wajah Gaara tak jauh berbeda, Abi bisa melihat kekecewaan dan kesedihan dinetra legam putranya itu.
"Ada apa sebenarnya? Ada apa dengan mereka berdua?". Batin Abi menatap punggung Diandra dan Gaara bergantian.
Sejak mobil melaju meninggalkan restoran, tak ada sepatah katapun keluar dari penghuni mobil. Diandra yang diam dengan tatapan mata tertuju pada pemandangan diluar jendela mobil. Pikirannya kembali berputar saat tadi Monika dengan yakin mengatakan jika Gaara bukan anak kandung Abi.
"Wanita s*alan itu. Aku benar-benar akan meremukkan tulangnya jika masih berani mengusik keluargaku apalagi mengganggu anak-anakku. Jangan harap bisa menyentuh mereka". Diandra bertekad kuat menjauhkan Monika dari anak-anaknya terutama Gaara. Ia memiliki firasat jika Monika memiliki niat buruk pada putranya.
Anak-anak Diandra sudah sangat paham watak ibunya. Jika ibunya sudah diam seperti ini, maka artinya mereka juga harus diam tanpa mempertanyakan apapun.
Bahkan anak sekecil Raffa dan Kara sudah sangat memahami mamanya. Sejak melihat wajah Diandra yang terlihat tak baik-baik saja, anak kembar itu memilih tidur. Kara dipelukan Baim, sementara Raffa meletakkan kepalanya di paha sang abang dan ikut tertidur.
Sepanjang perjalanan hanya diisi keheningan, tak seperti saat mereka berangkat tadi. Suasana yang sangat berbanding terbalik.
"S*al!!! Harusnya tadi aku tidak datang kesana! Reuni s*alan ini membuat aku tidak tenang". Diandra terus mengumpat dalam hatinya.
Mobil yang ditumpangi Abi dan keluarganya sudah terparkir rapi dihalaman rumah papa Ihsan. Gaara mengangkat tubuh Raffa yang sudah terlelap, sementara Baim menggendong Kara.
"Perlu bantuan papa?". Abi menawarkan diri karena merasa kasian pada Gaara dan Baim yang menggendong adik-adiknya.
"Tidak pa, biar kami yang membawa mereka ke kamar". Jawab Baim mewakili Gaara yang sejak tadi lebih banyak diam. Baim tahu ada sesuatu yang Gaara sembunyikan.
"Oke deh kalo nggak perlu dibantu. Hati-hati saat menaiki tangga. Mengerti?". Kedua putranya mengangguk.
Jangan tanyakan dimana keberadaan Diandra. Ibu muda itu sudah lebih dulu masuk tanpa sepatah katapun. Meninggalkan suaminya yang nampak kebingungan dengan perubahan sikap istrinya.
"Ada apa sebenarnya ini? Apalagi yang Monika lakukan hingga membuat Diandra seperti saat ini". Gumam Abi yang menatap anak-anaknya
"Aku akan bertanya pada Diandra nanti". Abi memastikan mobilnya terkunci kemudian ikut masuk kedalam rumah dan mencari keberadaan istrinya untuk meminta penjelasan.
---•••---
Sesuai janji..dikasih satu bab lagi ya☺️Jangan lupa tampol like sama komennya..
Bentar lagi bakal ada seseorang yang bikin keluarga cemarah goyah loh, bukan Monika pastinya ya
__ADS_1
Harap tunggu dan harap bersabar. Jangan lupa, harap dukungannya juga buat othor amatiran ini😁🙏🏻🙏🏻Lopelope sekebon semuah💋💐💐💐