
Nala langsung melepaskan pelukannya pada Gaara saat pintu ruangan periksa terbuka. Dirinya benar-benar khawatir dengan kondisi Zayn saat ini. Ia bahkan seolah lupa pada siapa ia bersandar sesaat lalu.
"Bagaimana keadaannya dok?". Tanya Nala tak sabar.
"Pasien hanya kelelahan, tekanan darahnya tinggi, dan sepertinya pasien tidak makan dengan teratur. Itu yang menyebabkan pasien pingsan. Selebihnya semua dalam kondisi baik". Nala menghela nafas lega mendengar penjelasan dokter.
"Saya boleh masuk?". Tanya Nala cepat
"Silahkan. Pasien juga sudah sadar..tapi saya sarankan untuk dirawat inap dulu beberapa hari". Nala mengangguk walau sebenarnya tak terlalu mendengarkan. Yang ada didalam pikirannya saat ini hanya ingin cepat melihat kondisi kakak nya itu.
Nala berjalan dengan cepat memasuki ruangan sang kakak diperiksa. Melihat mata sang kakak terbuka membuat Nala langsung menghambur memeluknya. Air matanya kembali tumpah karena merasa sangat khawatir.
"Mas..." Nala menangis sambil memeluk Zayn yang masih terbaring lemah dengan tangan tertancap jarum infus.
"Mas gapapa, dek. Udah dong jangan nangis, nanti jelek". Zayn mengangkat wajah adiknya dan menghapus air mata yang masih terus menetes itu.
"Aku takut mas. Aku takut mas ninggalin aku..aku nggak mau mas Zayn ninggalin aku". Nala kembali memeluk Zayn yang justru terkekeh.
"Emangnya mas mau kemana?". Kekeh Zayn menggoda Nala.
Gaara mematung didepan pintu, keinginannya masuk kedalam ruangan itu sepertinya bukan keputusan benar. Kini dada nya terasa sakit teramat sakit melihat bagaimana khawatirnya Nala dengan kondisi Zayn. Ditambah bagaimana eratnya pelukan Nala pada Zayn.
Sangat terlihat bagaimana Nala menyayangi lelaki bernama Zayn itu. Bahkan sangat terlihat Nala sangat ketakutan jika sampai terjadi sesuatu pada Zayn dan lelaki itu meninggalkannya. Ya iya takut bang, itu kakaknya itu..jelas aja takut ditinggal ama sodara😌 aku sih cuma ngebatin aja ngasih taunya. Takut si abang beneran tau😂😂😂
Tanpa mengatakan apapun, Gaara memilih keluar dari ruangan yang membuatnya sesak. Kaki jenjangnya membawanya berjalan semakin menjauh dari ruang IGD.
"Abang mau kemana?". Gaara mengangkat wajahnya. Melihat Kara dan Baim yang sudah berdiri didepannya.
"Nala nya mana?". Tanya Kara lagi saat pertanyaan pertamanya belum terjawab.
Gaara menunjuk ruang igd dan kembali melanjutkan langkahnya tanpa sepatah katapun. Membuat Kara maupun Baim saling menatap bingung.
"Abang kenapa ya kak?". Baim menggeleng karena ia juga tak tahu apa yang terjadi pada saudaranya. Bagaimana Baim bisa tahu, kan dari tadi barengan ama santen. Sini deh santen nanya nya ama othor. Pasti tau jawabannya kenapa si abang😂
"Kita liat kondisi kakak nya Nala dulu". Kara mengangguk dan berjalan menuju ruangan yang ditunjuk oleh Gaara.
Sementara Gaara, saat ini lelaki itu sudah berdiri didepan bagian administrasi. Entah apa alasannya, tapi Gaara hanya ingin membantu meringankan pekerjaan Nala dengan mengurus seluruh administrasinya dan menempatkan lelaki bernama Zayn itu dikamar terbaik agar Nala merasa nyaman saat menungguinya nanti.
__ADS_1
"Hm, pantes aja sodara kakak galau. Liat yang begini". Ucap Kara saat masuk kedalam ruang pemeriksaan Zayn. Dimana Nala masih memeluk sang kakak seolah enggan melepasnya.
"Gitu-gitu juga abang kamu". Balas Baim dan membuat keduanya terkekeh pelan.
"Assalamualaikum.." Nala melepaskan pelukannya dan mengalihkan pandangan ke pintu. Dimana Kara dan Baim berdiri disana.
"Wa'alaikumsalam.." Sahut Nala dan Zayn kompak.
"Gimana kondisinya mas Zayn?". Tanya Kara setelah mendekat.
"Aku nggak apa-apa, Ra. Cuma kecapekan aja". Jawab Zayn sambil tersenyum.
"Syukur Alhamdulillah kalau kondisinya baik-baik aja".
"Permisi.." Dua orang perawat masuk kedalam ruangan kecil itu.
"Saya pindahkan pak Zayn ke kamar rawat dulu ya.." Nala dan Zayn saling menatap.
"Tapi saya belum mengurus administrasinya, sus". Kedua perawat itu tersenyum.
"Administrasi nya sudah diselesaikan. Bahkan biaya rawat selama tiga hari ke depan juga sudah diselesaikan". Jawab salah seorang perawat dengan ramah.
"Pikirin nanti aja. Yang penting mas Zayn dipindah dulu biar lebih leluasa ngobrolnya". Usul Baim yang disetujui Kara.
Setelah menimbang beberapa saat, Nala menyetujui dan mempersilahkan perawat-perawat itu untuk memindahkan Zayn. Ia akan mencari tahu siapa yang membayar biaya perawatan kakaknya dan mengganti biaya rumah sakit nya nanti. Yang terpenting sekarang adalah kakaknya sembuh dulu.
Dan disinilah Nala dan Kara serta Baim saat ini. Diruang rawat vip yang tergolong mewah dengan fasilitas lengkap. Sebuah sofa besar dan beberapa kursi serta meja didalam ruangan yang cukup luas itu.
"Cari makan dulu dek. Kamu dari tadi belum makan". Ucap Zayn menatap Nala yang kini menggeleng.
"Aku nggak laper mas. Lagian aku nggak mau ninggalin mas sendirian". Tolak Nala
"Nanti malah kamu yang sakit. Sana cari makan dulu. Sekalian ambil baju kita di hotel, sekalian check out aja". Nala tampak berpikir sebentar.
"Aku anterin yuk". Usul Kara yang melihat keraguan Nala.
"Terus mas Zayn?". Zayn tersenyum. Adiknya terlalu mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
"Biar aku yang temenin, La". Nala menatap Baim yang baru ia sadari jika sejak tadi masih bersama mereka didalam ruang rawat Zayn.
"Gapapa emang kak?". Tanya Nala membuat Baim terkekeh.
"Ya gapapa lah, La. Emang kenapa?". Tanya Baim membuat Nala tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya.
"Aku ke toilet bentar deh.." Setelah berpikir sesaat, Nala menyetujui usul sang kakak dan menerima tawaran Kara.
Dan disinilah saat ini Kara dan Nala. Disebuah kamar hotel dan tengah membereskan pakaian milik Zayn. Sebenarnya tadi Kara hendak meminta Gaara mengantar Nala. Apalagi ia tadi melihat Gaara duduk di kursi yang tak jauh dari kamar rawat Zayn. Sayang, Nala tak melihat keberadaan Gaara karena terlalu larut dengan pikirannya tentang Zayn.
"Gimana rasanya, La?". Tanya Kara yang katanya ingin membantu membereskan pakaian Nala dan Zayn, tapi ternyata setelah sampai kamar hotel, gadis itu justru hanya menjadi mandor saja. Melihat setiap apa yang dikerjakan oleh Nala yang kini terlihat lebih mandiri dan cekatan.
"Maksudnya?". Tanya Nala menghentikan sejenak kegiatannya menata pakaian kakaknya ke dalam koper.
"Ketemu doi.." Kara memainkan alisnya naik turun. Sejujurnya ia sangat penasaran dengan perasaan Nala terhadap Gaara saat ini. Terselip sedikit kekhawatiran jika sampai sahabat baiknya itu benar-benar sudah berhasil move on dari abang tersayangnya itu.
Tak dapat Kara bayangkan akan seperti apa terpuruknya Gaara jika sampai Nala benar-benar sudah melupakan perasaan cintanya.
"Ya...gitu deh". Ucap Nala yang tampak termenung sesaat sebelum menjawab Kara dengan senyum kaku.
Kara tersenyum..bukan satu dua hari ia mengenal Nala. Dari cara Nala berbicara saja, Kara yakin jika perasaan Nala pada kakaknya masih sama. Walau tidak bisa Kara pastikan, apakah perasaan cinta itu masih sama besarnya atau sudah berkurang.
Tapi Kara bisa bernafas lega. Setidaknya Nala masih memiliki perasaan pada Gaara. Hanya bagaimana takdir akan memainkan perannya untuk kedua insan itu.
"Lo..maksud gue. Ah..maksud aku---" Kara menatap Nala yang kini justru tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa sih?". Tanya Kara bingung sekaligus kesal.
"Udah deh..kaga usah sok-sok an aku kamu. Geli gue". Kara mencebik, namun kemudian ikut tertawa bersama Nala. Sudah terlalu terbiasa bibir mereka menggunakan kata lo gue. Terlalu sulit diubah.
"Ati-ati aja kalo didepan mas Zayn ama kak Baim. Berdua mah nyantuy aja kali". Ucap Nala yang langsung disetujui oleh Kara.
"Udah yuk.." Nala berdiri dengan sebuah koper kecil disampingnya. Karena ia memang membereskan pakaian Zayn lebih dulu. Dan akan membereskan pakaiannya setelehnya.
...•••¥¥¥•••...
Seneng banget deh ah kalo liat si abang galau-galauan😂😅
__ADS_1
Dosa hayoloh pada ngetawain si abang mulu. Kasian tu galau anak orang🤣😂