Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
introgasi


__ADS_3

Kara melambaikan tangannya pada Bara yang baru saja mengantarkannya pulang. Ia melirik jam dipergelangan tangannya, masih ada satu jam sebelum makan malam keluarga.


Kara menatap pantulan dirinya dimobil ayahnya yang terparkir dihalaman rumah. Bara sangat tahu seleranya.


Saat tadi usai menonton, Bara membawa Kara ke sebuah toko pakaian. Awalnya Kara mengira Bara yang akan berbelanja. Namun dirinya terkejut saat Bara kembali dan membawa sebuah celana panjang dan hoodie berwarna biru cerah untuk dirinya.


"Buat lo. Ganti baju sana..gue tau lo nggak nyaman". Kara tersenyum senang dan mengambil pakaian yang disodorkan Bara setelah mengucapkan terimakasih.


Bibir Kara kembali melengkung mengingat betapa pengertiannya Bara. Ia melangkah ringan menuju pintu utama. Namun langkahnya terhenti saat melihat seseorang menatapnya galak.


"Ka-kakak.." Gumam Kara menelan ludahnya kasar.


"Kakak udah dateng? Kok mobilnya nggak ada?". Berusaha senatural mungkin saat bertanya pada Baim yang masih menatapnya tajam.


"Dari mana aja kamu?". Tanya Baim dingin


"A-aku tadi.."


"Kata mama kamu belom pulang dari siang tadi. Berarti kamu nggak langsung pulang abis dari apartemen tadi?". Tanya Baim beruntun membuat Kara menghela nafas berat.


"Oh itu..anu. Tadi.."


"Tadi apa Lengkara?". Kara tahu, jika sang kakak sudah memanggil nama lengkapnya, sudah ia pastikan sang kakak sedang serius.


"Tadi aku ketemu temen kak. Terus pergi nonton dulu, aku udah pamit kok ke mama.." Jawab Kara cepat. Toh ia berkata jujur saat ini.


"Siapa? Laki-laki tadi?". Tanya Baim lagi dan dijawab anggukan kepala oleh Kara. Suasana mendadak mencekam bagi Kara, ia seperti seorang maling yang ketahuan pemilik rumah.


"Kok pada diluar, ayo masuk". Kara bernafas lega saat sang ayah keluar dan memanggil dirinya dan Baim.


"Iya, ayo pa.." Kara berjalan secepat kilat, meninggalkan Baim yang masih menatapnya dan sang ayah yang terlihat heran.


"Kenapa adek kamu?". Tanya Abi namun Baim menggeleng.


Keduanya memutuskan masuk menyusul Kara, sebelum ibu negara berteriak dan keduanya dalam masalah.


"Kemana Kara, sayang?". Tanya Abi yang tidak melihat putrinya di meja makan.


"Mau mandi dulu katanya". Diandra datang dengan sebuah kue dengan lilin berlambangkan angka 21.


Tak lama Kara turun, dengan piyama tidurnya ia melangkah ringan. Rambutnya yang masih setengah basah, wajahnya yang polos tak sedikitpun mengurangi kecantikan alaminya.

__ADS_1


"Dari mana lo tadi?". Gaara membuka suara saat Kara baru saja mendaratkan bobot tubuhnya di kursi makan.


"Nggak kemana-mana". Sahut Kara acuh. Ia tak berani menengok ke kanan karena tahu jika saat ini Baim tengah menatapnya.


"Kata mama lo pergi ama temen lo. Siapa?". Tanya Gaara lagi lebih mendesak.


"Ish, abang kenapa sih. Mama juga izinin kok". Kara cemberut dan mendengus kesal.


"Lo pergi kemana?". Raffa ikut menimpali. Dilihat dari wajah ketiga saudara laki-lakinya, Kara yakin mereka sedang marah.


"Nonton". Sahut Kara pendek.


"Siapa barusan yang anter?". Baim ikut bertanya membuat Kara menghela nafas berat.


"Temen kak.."


"Siapa?!". Tanya ketiganya bersamaan membuat Kara benar-benar kesal. Selalu seperti ini, jika dirinya pergi dengan orang lain apalagi laki-laki. Ketiga saudaranya selalu bersikap berlebihan seperti saat ini.


"Kenapa jadi aku disidang gini sih". Gerutu Kara


"Karena mereka sayang sama kamu, nak". Diandra datang dan mengelus lembut kepala putri semata wayangnya.


Ia menatap kesal Raffa dan Gaara, namun ia langsung menundukkan kepalanya saat bersitatap dengan Baim. Aura Baim terlalu kuat hingga ia tak sanggup menatapnya. Karena sejak dulu pun ia memang paling takut pada Baim setelah ibu dan ayahnya.


"Kok jadi marah gini sih..kan sekarang ulang tahun kakak". Lerai Diandra, ibu dengan empat orang anak itu memberi kode pada ketiga putranya untuk menghentikan introgasi pada Kara.


Makan malam yang biasanya sangat Kara tunggu itu kini tidak lagi membuatnya senang. Selain karena keposesifan ketiga saudaranya, ia juga terus terbayang wajah Amandha. Pikirannya berkelana tentang hubungan sang kakak dengan gadis bernama Amandha itu.


Selepas makan malam, Kara segera pergi setelah membantu sang mama membereskan meja makan. Ia yang biasanya akan bermanja-manja pada papa dan kakaknya mendadak malas karena takut akan kembali diinterogasi.


"Ngapain lo disini?". Raffa duduk disamping Kara yang duduk dipinggir taman, menatap diam bunga-bunga yang nampak indah terkena cahaya lampu temaram yang dipasang sang mama.


"Nungguin tu bunga-bunga pada betelur". Jawab Kara asal


"Ngaco". Sewot Raffa


Hening. Tak ada yang bersuara, karena Raffa tahu saat ini saudara kembarnya sedang dalam mood yang tidak baik sama sekali. Ditambah sikap posesifnya dan kedua kakaknya jika menyangkut laki-laki yang mendekati Kara.


"Lo ngambek? Marah gara-gara tadi?". Tanya Raffa setelah lama diam


"Kaga. Udah biasa juga lo pada kaya gini ke gue". Ketus Kara.

__ADS_1


"Lo tau kan, kita kaya gitu.."


"Karna kita peduli sama lo. Lo tuh sodara perempuan kita satu-satunya, kita nggak mau kalo sampe lo kenapa-napa apalagi sakit hati gara-gara cowok brengs*k yang nggak bener-bener cinta sama lo. Jadi lo harus ngerti kenapa kita selalu pengen tahu siapa cowok yang deket sama lo". Sambar Kara cepat. Ia sudah hafal diluar kepala kata apa saja yang akan keluar dari mulut ketiga saudaranya jika dirinya terlihat dekat dengan lelaki.


"Gara-gara ini juga kali ya, gue jadi suka sama kakak gue sendiri. Kalian terlalu jagain gue, sampe nggak ada laki-laki yang bisa narik perhatian gue kecuali kakak". Dalam hati Kara terkekeh pilu.


"Ra.."


"Udah lah Rap. Gue tau kok, gue juga nggak ada niatan pacaran". Kara bangkit dan meninggalkan Raffa yang termenung menatap punggung adik kembarnya. Ada yang berbeda dari Kara, Raffa yakin Kara menyembunyikan sesuatu darinya.


"Apa yang lo sembunyiin, Ra. Gue tahu ada sesuatu". Gumam Raffa menatap punggung Kara yang semakin menjauh.


Ikatan batin keduanya sangat kuat, tumbuh dirahim yang sama. Berbagi tempat dan makanan selama sembilan bulan berada dalam kandungan sang mama membuat ikatan batin keduanya sangat kuat.


"Ra.." Kara menghentikan langkahnya saat namanya kembali dipanggil. Kini sang kakak yang memanggilnya, orang yang sedang ingin Kara hindari karena tak ingin perasaan cintanya tumbuh semakin subur.


"Apa?".


"Kamu marah sama kakak?". Tanya Baim menatap langsung netra hitam adiknya yang justru membuang pandangannya ke lain arah.


"Enggak. Kara paham maksud kakak sama abang sama Raffa. Tapi Kara nggak pacaran kok, lagian kak Bara juga cuma Kara anggep sama kayak kalian. Dia juga nggak pernah macem-macem. Mama sama papa juga kenal kok, jadi kakak tenang aja kalo aku jalan sama kak Bara".


"Aku mau istirahat dulu ya kak. Met malem kak". Mulut Baim terbuka, namun tak mengeluarkan sepatah katapun karena Kara sudah lebih dulu pergi.


"Kakak cuma khawatir, Ra". Gumam Baim menatap punggung Kara yang semakin menjauh.


Bahkan adiknya tidak mengucapkan sekedar selamat ulang tahun padanya. Padahal tidak pernah sekalipun Kara melupakan ucapan sederhana itu.


"Lebih baik kaya gini, kak. Aku nggak mau cinta aku yang nggak akan pernah bisa bertepuk tangan ini semakin besar ke kakak. Aku takut perasaan aku bakal ngerusak hubungan persaudaraan kita pas nanti kakak tau semua perasaan aku. Aku bakal berusaha hapus perasaan aku yang emang nggak seharusnya ada". Kara menghempaskan tubuhnya ke ranjang empuknya.


Meskipun tak ada sedikitpun keyakinan dalam hatinya. Kara memantapkan hati untuk belajar ikhlas dan menghapus perasaannya pada Baim. Meski ia sendiri tahu jika itu pasti sulit atau mungkin bahkan mustahil.


...---•••---...


Yaaaah, si santen patah hati akut kayanya ya😂 Asa nggak cocok ya mak, biasa pecicilan ujug-ujug lemes gegara patah hati😂


Jangan bosen yaaa..jangan pliis😅


pokoknya nulis terus ya man teman..


Ku harap kalian nggak eneg baca tulisan othor amatiran ini ya🙏🏻 Happy reading cintakuuuh❤️💋🥰😁

__ADS_1


__ADS_2