
Diandra menoleh saat tangannya digenggam oleh Naya. Wanita yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu itu tersenyum lembut padanya.
"Tanya disini, Di". Naya menunjuk dada Diandra.
" Apakah pergi dari mereka akan memberikan kebahagiaan atau justru sebuah siksaan rasa". Naya menjeda ucapannya untuk melihat reaksi sahabatnya.
"Aku yakin nggak mudah. Kisah cinta kamu terlalu rumit". Seloroh Naya dengan kekehan kecil.
" Siapa yang kamu percaya?". Tanya Naya membuat Diandra menatapnya bingung.
"Seperti aku percaya sama kamu, seperti kamu percaya sama aku. Pasti ada orang lain yang kamu percayai meskipun setelah kejadian itu". Diandra nampak berpikir, Naya tak tahu apa yang tengah dipikirkan Diandra.
Sementara Diandra, sekelebat bayangan mbok Tun terlintas saat Naya menanyakan siapa orang yang ia percaya. Wanita sepuh yang sudah seperti teman baginya karena sedari kecil, wanita itulah yang merawatnya.
" Jangan sampai menyesalinya nanti Di. Bukankah mencegah lebih baik dari mengobati?".Tanya Naya lagi
"Tapi aku udah terlanjur sakit Nay. Nggak ada obatnya". Sahut Diandra lirih.
" Bukan nggak ada obatnya..tapi kamu nggak mau cari obatnya". Diandra kembali menatap Naya yang tersenyum melihat dirinya.
"Dia.." Naya melirik Gaara yang masih terlelap tanpa terganggu oleh ocehan keduanya.
"Apa dia bukan obat?". Diandra menatap Gaara, selalu ada ketenangan saat menatap wajah damai putranya itu.
" Tapi.."
"Bukan karena tidak ada obat, Di. Tapi kamu terlalu kuat menggenggam dan memeluk rasa sakit kamu itu".
" Kamu terlalu mencintai rasa sakit itu hingga seberapa banyak pun obat yang kamu temui tidak pernah terasa mengurangi rasa sakit itu". Diandra diam mencerna setiap nasihat Naya.
"Kamu lihat aku?". Naya menatap lurus ke depan, menerawang jauh mengingat kisah cintanya yang bisa dibilang cukup tragis. ( Yang penasaran kisah Naya boleh baca kisahnya di 'imperfect partner' )
" Apa menurutmu mudah melupakannya Di?". Diandra menggeleng. Membayangkan kehilangan orang tercinta saja sudah membuatnya sesak. Apalagi jika mengalami apa yang Naya alami.
"Memang nggak mudah Di. Susah banget malah.." Naya kembali terkekeh pelan
"Tapi aku nemuin obatnya Di". Naya tersenyum lebar menatap Diandra.
" Kamu..mas Al, bahkan Dimas dan keluargaku adalah obat mujarab untuk sakitku saat itu Di". Naya kembali menggenggam tangan Diandra.
"Tapi sakitku berasal dari mereka Nay". Air mata yang coba ia tahan akhirnya jatuh juga. Membicarakan keluarga, bagaikan mengorek kembali luka yang belum sepenuhnya kering bagi Diandra.
" Karena itu mereka juga lah obatnya".
__ADS_1
"Saat kak Dea meninggal. Apa kamu sakit?". Jelas saja Diandra mengangguk.
" Jika kedua orang tuamu menyusulnya apa---"
"Nay". Potong Diandra cepat. Belum pernah terbayangkan olehnya ditinggalkan kedua orang tuanya. Membayangkannya saja ia sudah ketakutan.
" Jangan tunggu sampai kematian yang menyadarkan kamu Di". Diandra tersentak dengan kalimat terakhir Naya.
"Aku udah dijemput sama mas Al, kamu baik-baik ya. Nanti aku kesini lagi. Assalamualaikum". Naya memeluk Diandra yang jiwanya melayang entah kemana.
Naya sudah pergi sejak setengah jam lalu, namun Diandra belum beranjak sedikitpun dari tempat nya duduk bersama Naya tadi. Otaknya dipaksa bekerja karena kalimat terakhir Naya.
" Jangan tunggu sampai kematian yang menyadarkan kamu Di". Kalimat itu terus terngiang dikepalanya.
"Mbak". Sebuah tepukan halus dipundak membuat Diandra tersadar dari lamunan panjangnya. Seorang wanita berhijab tersenyum lembut padanya.
" Oh iya..ada apa?". Tanya Diandra yang masih bingung dengan situasi sekelilingnya.
"Maaf kalau saya nggak sopan. Tapi saya liat dari tadi ngelamun terus.." Senyuman teduh itu benar-benar menenangkan.
"Oh iya.." Hanya itu tanggapan Diandra karena bingung harus bagaimana.
"Saya nggak tahu masalah mbak itu apa. Tapi yang pasti setiap permasalahan akan ada jalan keluarnya. Lebih baik mbak fokus sama putranya aja". Diandra kembali terkesiap dan segera menatap putranya yang ternyata sudah bangun
"Maafin mama sayang..maafin mama". Diandra merasa sangat bersalah pada anak tidak berdosa itu. Beberapa hari ini dirinya terlalu sibuk dengan rasa sakitnya hingga sering lupa pada Gaara.
" Kita pulang ya sayang.." Diandra memanggil taksi dan pulang bersama Gaara.
Beberapa hari ini otaknya berfikir keras tentang pembicaraan terakhirnya bersama Abi. Berkali-kali ia mencoba acuh, namun tak kunjung bisa.
Dirinya mengingat semua ucapannya yang mengatakan tak lagi bahagia hidup bersama dengan Abi, dan meminta lelaki itu untuk menjaga batasannya. Dan kini, saat lelaki itu akan melepaskannya demi kebahagiaan yang katanya untuk dirinya, mengapa dirinya justru merasa semakin tidak bahagia dan sesak. Sebenarnya apa yang hatinya dan dirinya inginkan sekarang.
"Apa yang harus mama lakuin sekarang sayang?". Tanya Diandra pada putranya yang tengah memainkan kalung yang ia pakai.
" Kenapa mama jadi kaya gini". Gumamnya lagi.
Ia terus menanggapi celotehan-celotehan anak berusia satu tahun itu. Anak yang kini tengah aktif belajar berjalan meski berkali-kali terjatuh.
"Sudah sampai neng". Diandra melihat keluar jendela, benar saja jika dirinya sudah sampai dikediaman kedua orang tuanya.
" Ini pak. Ambil aja kembaliannya". Diandra memberikan dua lembar uang seratus ribuan pada supir taksi yang berkali-kali mengucapkan terimakasih padanya.
Sampai dirumah, Diandra sudah disambut dengan harum masakan dari orang yang sangat ia kenal, tentu saja mbok Tun.
__ADS_1
"Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam non..sudah pulang?". Tanya mbok Tun menyambut Diandra.
" Iya. Papa sama mama kemana mbok?". Tanya Diandra yang tidak melihat kedua orang tuanya.
"Bapak sama ibu pergi ke rumah paman nya non yang ada di kota sebelah". Jelas mbok Tun membuat Diandra mengangguk.
" Aku keatas dulu ya mbok.."
"Non..mau makan disini atau diatas?". Tanya mbok Tun sebelum Diandra beranjak.
" Diatas aja mbok, maaf ya mbok". Setelah berpikir sejenak, Diandra memutuskan untuk makan didalam kamarnya saja.
Sampai dikamar nya, Diandra menyiapkan air mandi untuk Gaara setelah memastikan putranya aman didalam box bayinya.
Dengan cekatan, gadis yang belum pernah melahirkan namun sudah berstatus ibu itu memandikan Gaara sambil sesekali tergelak karena Gaara memainkan airnya hingga mengenai dirinya.
"Tuh kan..mama jadi basah deh". Ucap Diandra sambil menciumi wajah Gaara hingga bocah kecil.itu terkekeh kegelian.
Diandra memakaikan baju untuk Gaara dan memberikan putranya itu susu hingga kembali terlelap.
" Anak mama hobinya tidur ih kaya papanya.." Diandra terdiam saat mengingat Abi. Beberapa hari tidak melihat suami tengilnya itu menyelipkan sedikit rasa khawatir dan juga rindu, namun Diandra menampiknya.
"Non..simbok masuk ya". Setelah dijawab oleh Diandra, mbok Tun masuk dengan sebuah nampan berisi nasi dan lauk pauknya serta segelas jus jeruk kesukaan Diandra.
" Taruh meja dulu aja mbok.." Pinta Diandra yang langsung dikerjakan oleh simbok.
"Mbok sini.." Diandra menepuk kasur disampingnya, meminta mbok Tun duduk disana.
Setelah mbok Tun duduk disana, Diandra merebahkan kepalanya dipaha sang asisten rumah tangganya itu. Sementara mnok Tun yang sudah hafal kebiasaan majikannya segera mengelus lembut kepala Diandra.
Sejak kecil Diandra selalu manja pada mbok Tun, selalu minta dielus kepalanya jika sedang bersedih atau sednag memiliki beban pikiran.
"Kenapa non?". Tanya mbok Tun lembut sambil terus membelai sayang kepala Diandra.
" Mbok..aku boleh nanya". Diandra menatap wajah yang sudah berkeriput karena usia itu.
Mbok Tun tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya.
######
**Kira-kira apa yang mau ditanyain ama Diandra ya?? Ikuti terus ceritanya ya..doain othornya sehat biar bisa rajin up.
__ADS_1
Lopelope sekebon reader semua**..