Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
memulai perjuangan


__ADS_3

Kara masih terus terbatuk mendengar perjodohan konyol yang dibicarakan sang mama. Hingga sebuah tepukan lembut dipunggungnya membuat Kara menoleh.


"Pada lebay deh. Masa nyampe keselek berjamaah gitu". Gerutu Diandra yang merasa semua orang berlebihan. Bagaimana bisa semua tersedak bersamaan hanya karena mendengar ucapannya.


"Minum dulu.." Baim mengasongkan segelas air putih pada kekasihnya. Ia tersenyum lembut namun justru membuat Kara tak tenang.


"Mama jangan becanda deh. Hari gini udah nggak jamannya jodoh-jodohan". Diandra menatap Kara.


"Mama nggak becanda sayang. Dari dulu mama sama tante Naya emang udah punya niat mau jodohin anak-anak mama. Cuma dulu anak pertama tante Naya laki-laki. Jadi nggak bisa dijodohin sama abang kamu". Gaara mendelik tak percaya.


"Ya tapi udah nggak jamannya perjodohan, ma". Kara terus mendebat sang mama.


"Arkan anaknya baik kok. Mama udah kenal banget juga. Tante Naya sama om Al juga kamu udah kenal baik. Jadi kenapa enggak?". Tanya Diandra membuat Kara menghela nafas panjang.


"Tenang Kara..tenang. Jangan sampe elo nyakitin perasaan mama". Batin Kara mencoba tetap tenang. Menolak tanpa harus menyakiti hati sang mama yang sangat ia sayangi.


"Tapi Kara nggak suka sama dia ma".


"Kenapa nggak suka? Arkan baik kok..pinter juga. Suamiable lah kalo kata mama". Diandra tampak santai mengucapkannya sambil menyuap nasi gorengnya. Ia tak melihat wajah pias putra angkatnya yang tangannya sudah mengepal kuat menahan sesak di dadanya.


"Suamiable menurut siapa?". Tanya Kara kesal


"Kara nggak mau, mama". Rengek Kara kemudian. Ia melirik Baim yang masih tampak tenang. Sungguh kesal rasanya. Apa kekasihnya itu tidak khawatir jika mama nya benar-benar menjodohkannya.


"Kan bisa ketemu dulu. Ngobrol-ngobrol dulu siapa tau kan cocok". Diandra tak mau kalah


"Sayang.."


"Apa mas?? Kara udah dewasa kok mas. Bentar lagi juga lulus. Tunangan dulu juga gapapa lah". Mata Kara benar-benar bisa melompat keluar jika lama-lama mendengar omongan sang mama.


"Kara nggak mau nikah muda ma. Kara mau kuliah, mau kerja, mau sukses dulu baru mikirin nikah". Kilah Kara


Bohong, semua yang Kara katakan bohong. Ia bahkan siap menikah kapan saja jika itu dengan Baim. Tapi dengan laki-laki lain? Ia bahkan tak akan pernah siap.


"Abis nikah juga bisa kuliah, sayang. Banyak kok yang habis nikah lanjutin kuliah". Kara memejamkan matanya, meredam emosinya yang sepertinya akan meledak sebentar lagi. Ia benar-benar kesal dengan sang mama. Mengapa ngotot sekali menjodohkan dirinya.


"Kenapa bukan abang aja?". Gaara melotot mendengar Kara menumbalkan dirinya.


"Abang lebih tua dari aku. Abang juga udah mapan malahan". Gaara semakin melotot, bibirnya komat kamit mengumpati adiknya.


"Ya kalo abang kan mama harus bahas juga sama ayah Abram. Atau enggak Baim aja deh, sama adiknya Arkan. Inget kan sama Icha?". Baim yang sedang minum menyemburkan kembali minumannya.


Ada apa sebenarnya dengan sang mama. Kenapa tiba-tiba ngotot menjodohkan anak-anaknya dengan anak sahabatnya.

__ADS_1


"Mama jangan ngaco deh". Ucap Gaara melihat Kara dan Baim yang wajahnya sudah pucat. Ia tahu pasti sulit bagi keduanya.


"Iya ma. Lagian kita masih muda. Kenapa harus dijodoh-jodohin segala". Raffa membantu saudara-saudaranya.


"Mama tuh cariin jodoh buat anak perempuan mama satu-satunya. Mama percaya sama Arkan. Dia pasti bisa bahagiain Kara". Kara benar-benar tak percaya mama nya bisa sengotot ini.


"Kalo Kara bahagianya sama orang lain?". Diandra langsung menatap Kara.


"Kamu udah punya pacar?". Tanya Diandra penasaran menatap putrinya langsung.


Sementara dibawah meja, Baim menggenggam erat tangan Kara. Berharap Kara tidak gegabah dengan mengatakan hubungan mereka berdua. Bukan dirinya pengecut, namun ini bukan waktu yang tepat menurut Baim.


"Kamu punya pacar??". Desak Diandra karena Kara justru bungkam dan beberapa kali menatap Baim.


Baim menggeleng pelan saat matanya bertemu dengan mata Kara yang sudah memerah menahan air mata yang hendak tumpah.


"Kara cuma bilang, kalo Kara bahagia nya sama laki-laki lain gimana?". Setelah beberapa kali menghela nafas, Kara akhirnya menuruti Baim dan tetap diam tentang hubungan keduanya.


"Coba dulu ketemu Arkan. Kalo emang nggak cocok, mama akan kenalin sama anak temen mama yang lain". Mata Kara melebar mendengar penuturan Diandra. Sebenarnya kenapa dengan mama nya ini. Aneh sekali memaksanya menerima perjodohan konyol ini.


"Kalian pergi sekolah. Ini udah siang". Abi menyela saat Kara hendak membantah lagi.


"Tapi pa.."


"Abang berangkat dulu, pa, ma". Gaara mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan berpamitan pergi pada yang lain.


"Kakak hari ini sibuk?". Tanya Abi menatap Baim yang sudah bersiap juga ke kampus.


Baim dan Gaara memang melanjutkan pendidikannya di kampus yang sama untuk s2 nya.


"Enggak terlalu pa..gimana pa?", Tanya Baim was-was.


"Nanti kalo senggang ke kantor papa. Udah waktunya kamu bantu papa di kantor. Papa udah mulai tua kak". Baim menghela nafas, sudah berkali-kali sang papa memintanya bergabung. Bukan dirinya tak mau, tapi dirinya sedang mengerjakan sesuatu untuk masa depannya.


"Insyaallah pa. Aku usahakan". Abi tersenyum penuh makna menatap putra angkatnya.


"Ayo Ra berangkat". Ajak Raffa pada Kara yang justru melamun.


"Papa akan bicara sama mama kalo kamu emang nggak suka". Kara mengangguk kecil saat kalimat menenangkan itu papanya ucapkan ketika ia memeluk sang papa barusan.


Karena Kara tahu jika papa nya tidak akan bisa membujuk sang mama jika sudah memiliki tekad kuat. Tentang hal apapun itu, Kara hafal betul seperti apa watak mama nya.


"Semangat dong anak mama.." Kara tersenyum kaku menatap mama nya.

__ADS_1


"Ya gimana mau semangat. Yang bener aja gue mau dijodohin". Batin Kara menangis.


"Kara pergi dulu ma, pa. Assalamualaikum". Kara berjalan lesu mendahului Raffa yang sedang berpamitan pada kedua orang tuanya.


"Woii Ra tunggu!". Teriak Raffa.


"Lah kan, gue malah ditinggal. Dasar santen sachet". Gerutu Raffa menatap punggung Kara yang terlihat membungkuk lesu.


Belum sempat ia berjalan, Baim juga berjalan cepat mendahuluinya. Ia tahu pasti Baim ingin menyusul Kara.


"Ra.." Kara menghentikan langkahnya tanpa menoleh.


"Nanti siang kakak jemput. Kita ngobrol di apartemen ya.." Baim mengelus lembut kepala Kara, memberi kekuatan dan keyakinan pada kekasihnya meski dirinya sendiri hampir kehilangan akal mendengar perjodohan yang direncanakan sang mama.


"Jangan sedih..kamu percaya kan sama kakak? Perjuangan kita baru akan dimulai sekarang, sayang. Tolong percaya sama kakak". Kara mengangguk lemah. Ia masih berusaha mempercayai kekuatan cinta nya dan Baim.


"Loh kok masih disini sih? Udah siang ini". Kara dan Baim sama-sama terkejut saat Diandra sudah diam didepan pintu menatap kedua anaknya dengan heran.


"Ini juga mau berangkat. Barusan Kara nungguin aku ambil helm". Bukan Baim ataupun Kara, namun Raffa yang membantu kedua saudaranya menjawab sang mama agar tidak curiga.


"Ehhmm..yaudah sana pada berangkat". Ketiganya mengangguk dan segera berangkat ke tujuan masing-masing. Meninggalkan Diandra yang masih berdiri di teras memandangi anak-anaknya menghilang dari pandangan.


"Sayang.." Diandra menoleh ketika panggilan lembut itu menyapa telinganya.


"Kamu nggak harus maksa mereka, sayang". Diandra melengos. Ia tahu suaminya itu akan membujuknya membatalkan niatannya menjodohkan Kara.


"Ini keputusan aku mas. Toh dia anak baik kok.." Abi mengulas senyum lembut dan membawa tubuh istrinya kedalam dekapannya.


"Jangan terlalu memaksakan keadaan. Kita ikuti saja takdir tuhan akan membawa kemana keluarga kita.."


"Semua aku lakuin buat Kara kok mas.." Abi mengelus sayang punggung istrinya dan mendaratkan kecupan lembut dikepala Diandra.


"Mas tahu..tapi kalo Kara nggak mau gimana dong? Jangan dipaksa ya.."


"Biar mereka ketemu dulu mas.. Kita liat gimana setelah mereka ketemu". Abi tersenyum dan mengecup kening istrinya.


"Mas berangkat ya sayang". Diandra mengangguk dan mencium punggung tangan suaminya.


Melambaikan tangannya saat mobil sang suami meninggalkan pelataran rumahnya. Ia kemudian masuk kedalam rumah untuk menelpon seseorang.


...---€€€---...


Gimana dong ini nasib si santen ama kakak? Kira-kira mak Diandra tetep ngotot jodohin Kara apa nurut sama Abi ya??

__ADS_1


Yang sabar ya..udah tiga bab juga ini nulisnya. Ntar ceritanya cepet kelar kalo banyak-banyak up nya😂😂😂


__ADS_2