
Kedua anak manusia itu menginjakkan kakinya di rumah besar yang sudah menjadi saksi keduanya tumbuh dan dibesarkan.
"Ayo.." Baim mengulurkan tangannya pada Kara yang masih duduk dikursi penumpang. Rupanya gadis itu benar-benar enggan pulang kerumah kedua orang tuanya.
"Ayo sayang.." Setelah menghela nafas panjang, Kara menerima uluran tangan kekasih nya.
Keduanya masuk kedalam rumah dengan tangan yang saling bertaut. Apapun permasalahannya akan Baim hadapi tanpa harus melepaskan Kara.
Sementara didalam rumah, Diandra dan Abi serta Gaara dan Raffa sudah duduk di kursi nya masing-masing.
"Aku harap papa sama mama nggak akan nyakitin Kara maupun Baim lagi". Abi dan Diandra saling menatap dan hanya tersenyum tipis.
"Assalamualaikum.." Semua mata menatap kedatangan dua insan yang berjalan dengan tetap bergandengan tangan.
"Wa'alaikumsalam.." Sahut semua orang bersamaan.
Baim dan Kara segera duduk di kursinya masing-masing. Mereka mulai makan malam dengan suasana hening. Membuat Kara begitu sulit menelan makanan yang sebenarnya sudah ia kunyah sempurna itu.
Kara menghela nafas panjang. Ini sama seperti saat dirinya dan Baim mengakui hubungannya beberapa hari lalu. Duduk bersampingan didepan kedua orang tuanya yang tengah menatap mereka.
Semua anggota keluarga sudah ada diruang keluarga. Benar-benar suasana yang sama persis seperti saat Kara dan Baim mengakui hubungan mereka.
"Ehmm.." Gaara berdehem memecah kesunyian yang diciptakan anggota keluarga yang lain.
"Kalian tau apa yang kalian lakukan ini?". Abi membuka suara membuat Baim mengangkat kepalanya dan bertatapn langsung dengan ayah dari gadis yang menjadi kekasihnya itu.
"Tau pa..sangat tau. Dan aku tau papa sama mama pasti kecewa.."
"Tapi aku benar-benar mencintai Kara, pa. Maaf kalau pengakuanku ini semakin membuat papa dan mama kecewa dengan semua sikapku. Tapi---"
"Lepaskan Kara.." Belum selesai Baim berbicara, Abi sudah memotongnya.
"Maaf pa..sekali lagi maaf. Aku tidak bisa..dan tidak akan pernah mau melepaskan Kara meski papa dan mama alasannya.." Baim mempererat genggaman tangannya.
"Jangan membantahku dan lepaskan Kara sekarang!". Perintah Abi lebih tegas.
"Papa!!". Pekik Kara dengan mata sudah berair. Ia tak menyangka kedua orang tuanya benar-benar menentang hubungannya.
__ADS_1
"Lepaskan!! Jangan membuat kami semakin kecewa lebih dari ini!". Diandra angkat suara sementara Gaara menggeleng tak percaya.
"Pa! Ma!". Gaara berdiri, diikuti Baim dan Kara. Sementara Raffa duduk ditempatnya dengan tenang sambil menatap semua anggota keluarganya yang sedang adu suara.
"Kamu diam bang! Jangan ikut campur". Peringat Abi menatap tajam Gaara.
"Papa bilang lepaskan kara, Ibrahim Maulana!". Abi menekankan nama Baim.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa pa..aku tidak bisa melepaskan Kara". Kara sudah menangis membuat Baim semakin kalut. Ia tak mau semakin membuat luka di hati orang tua angkatnya.
"Lepaskan tangan kalian! Dan kamu..ikut kami". Suara Diandra membuat semua mengerjap bingung.
"Apalagi yang kamu tunggu, Baim. Lepaskan tangan Kara dan temui papa di ruang kerja". Meninggalkan Baim dan Kara serta Gaara yang masih terlihat kebingungan, Abi dan Diandra berjalan bersisian menuju ruang kerja Abi.
"Waaah.." Sementara yang lain masih mematung, Raffa hanya bisa berdecak melihat orang tuanya menjauh.
"Kak..!". Raffa memanggil Baim yang masih mematung.
"Ra,woii!! Bang!!". Raffa kebingungan, semua orang seperti patung saat ini.
"Kakak!!". Raffa menepuk pundak kakaknya sedikit keras untuk menyadarkan Baim.
"Sana susulin mama sama papa". Mendengar ucapan Raffa, Gaara kembali ke kesadarannya.
"Jangan kak..aku nggak mau kakak kenapa-kenapa". Kara mencekal kuat lengan Baim saat lelaki itu hendak menyusul kedua orang tuanya.
"Kita nggak bisa terus gini, Ra. Kakak harus temuin papa sama mama.." Baim mencoba menenangkan.
Ia kemudian menatap Gaara meminta bantuan saudaranya untuk menahan dan menenangkan Kara yang masih menangis.
"Biarin Baim susulin mama sama papa, Ra". Baim meraih tubuh Kara dan merangkul pundak adiknya.
"T-tapi bang..."
"Baim udah putusin buat perjuangin elo. Jadi jangan persulit dia buat lakuin sesuatu". Gaara menahan tubuh Kara saat hendak menyusul langkah Baim. Ucapan Gaara membuatnya tertampar. Selama ini Baim yang selalu mengerti dirinya, selalu mengalah dan menuruti semua keinginannya. Kali ini ia harus dewasa dan mendukung semua yang Baim lakukan.
"Dukung dia. Abang yakin kalo dia laki-laki sejati. Papa sama mama pasti luluh". Akhirnya Kara mengangguk pasrah dan kembali duduk. Namun matanya tak pernah lepas dari pintu ruang kerja papa nya yang terlihat dari ruang keluarga.
__ADS_1
Sementara Gaara menatap aneh pada Raffa. Tumben sekali Raffa hanya diam dan menyaksikan apa yang dilakukan kedua orang tuanya. Biasanya anak itu yang berdiri paling depan untuk membela Kara dan Baim. Lalu ada apa? Kenapa anak itu kini terlihat acuh dan sangat tenang.
Gaara menghela nafas panjang. Sedikit pusing melihat Kara yang sejak hampir satu jam ini berjalan hilir mudik didepannya.
Ya, hampir satu jam dan Baim belum keluar dari ruang kerja sang ayah. Membuat Kara tidak tenang dan berjalan kesana kemari karena takut jika sang papa akan melakukan sesuatu yang buruk pada kekasihnya.
"Duduk deh, Ra. Pusing gue liatin lo kaya setrikaan". Ucap Gaara menarik tangan Kara untuk duduk disampingnya.
"Kenapa kakak belum keluar ya, bang. Papa nggak akan apa-apain kakak kan bang?". Tanya Kara khawatir.
"Hush! Buang jauh-jauh pikiran jelek lo, Ra. Sekeras apapun papa, abang tau kalo papa bukan orang kaya gitu". Kara menarik nafas panjang. Abangnya benar, papanya bukan orang yang suka main kasar apalagi pada anaknya sendiri.
Suara pintu terbuka membuat Gaara dan Kara serta Raffa menatap pintu itu. Baim keluar dengan kepala tertunduk dengan sebuah map coklat di tangan kirinya.
"Kakak.." Kara berlari menghampiri Baim.
"Gimana?". Tanya Gaara yang juga penasaran.
"Ini apa?". Tanya Kara merebut map coklat ditangan Baim. Buru-buru ia buka map itu, dan seketika tangannya gemetar dengan mata melebar sempurna.
"I-ini? Ap-apa ini kak?". Tanya Kara gugup membuat Gaara penasaran dan mengambil kertas di tangan Kara.
"P-pembatalan a-adopsi?? A-apa maksudnya ini?". Gaara tak kalah terkejut membaca surat apa yang Baim terima.
Apa maksud dari semua ini?? Gaara dan Kara hendak masuk kedalam ruang kerja Abi. Namun urung dilakukan karena kedua orang tuanya sudah lebih dulu keluar dari ruangan itu.
"Apa maksudnya ini?". Tanya Gaara dan Kara kompak menatap kedua orang tuanya dengan tatapan terluka.
"Ga..Ra..Denger dulu.." Baim menahan lengan keduanya namun dihempaskan secara bersamaan pula oleh keduanya.
"Nggak bisa kak! Apa maksud papa sama mama? Kenapa harus gini?". Tanya Kara dengan terus menatap mata kedua orang tuanya.
"Nggak bisa, Im. Ini udah keterlaluan..kenapa harus kaya gini? Apa salahnya kalian pengen bahagia bareng?". Mata Gaara berkilat penuh amarah. Namun Abi dan Diandra justru tersenyum menatap kedua anaknya yang terlihat sangat marah.
...¥¥¥•••¥¥¥...
Apaan lagi nih hayo??
__ADS_1
Mak Diandra ama Abi dimarahin ama anak-anaknya kan jadinya. Sok aneh-aneh sih ah😌