
Hubungan Nala dan Gaara semakin hari semakin dekat saja. Bahkan kini Gaara sering pulang pergi ke kota dimana Nala tinggal dengan alasan bisnis. Tentu bukan hanya perkara bisnis saja, melainkan mengunjungi gadisnya.
Nala pun dengan senang hati menerima segala perlakuan manis Gaara. Meski hubungan keduanya masih belum ada kejelasan, namun Nala tak mempermasalahkannya. Toh memang dirinya yang belum menerima perasaan Gaara dengan alasan ingin menjalani hubungan seperti air mengalir saja.
"Kita jalani aja dulu bang. Kalo memang kita ditakdirkan berjodoh, pasti kita bersama". Dua kali Gaara menyatakan cintanya, dan dua kali pula Nala masih enggan menerimanya.
Jika ditanyakan bagaimana nasib si santen jahil..abang ganteng menghukumnya dengan tidak mengizinkan gadis itu bertemu dengan Baim selama satu minggu penuh.
Bagi Gaara yang tahu bagaimana kedua makhluk itu begitu saling mencintai, hukuman itu adalah yang paling ampuh. Ia bahkan rela mengantar dan menjemput adik perempuannya itu agar tidak kecolongan dan bertemu Baim dibelakangnya.
Bukan hanya si santen yang protes, Baim pun ikut memprotes. Namun keduanya tak bisa menolak saat Gaara kembali mengungkit keusilan keduanya yang membiarkan dirinya terus berada dalam kesalahpahaman yang hampir membuatnya melepas Nala untuk kedua kalinya.
"Kalian harus inget, dosa besar kalian ke aku. Kalo aku nggak cepet tahu Nala adiknya Zayn. Aku bakal ngelakuin kesalahan kedua kalinya. Jadi terima aja hukuman yang nggak seberapa ini. Anggep aja belajar dipingit". Bibir Kara mengerucut tajam. Selalu jawaban yang sama setiap kali dirinya memprotes hukuman yang Gaara berikan.
Meski terus menggerutu setiap hari, namun Kara menuruti dan menjalankan hukuman yang diberikan oleh Gaara. Toh dirinya masih bisa melakukan panggilan video dengan kekasihnya itu, pikirnya.
"Terserah abang aja deh". Sungut Kara.
"Hukuman kamu nggak semudah itu ya, santen". Kara yang hendak melangkah masuk kedalam kamarnya kembali menghentikan langkahnya.
"Nggak ada video call sama tunangan kamu itu. Satu minggu penuh". Ucap Gaara penuh penekanan dengan wajah yang sangat menyebalkan bagi Kara.
"Abang nggak berhak ya larang aku hubungin kak Baim". Kesal Kara menatap sengit abangnya.
"Hp aku juga---" Kara terdiam saat meraba saku celananya dan tak mendapati ponselnya. Ia membuka tasnya dan mencari ponselnya namun hasilnya nihil.
"Abaaaang!!! Balikin nggak?!". Teriakan Kara melengking memenuhi setiap sudut rumah mewah Abi.
__ADS_1
"Nggak akan". Gaara menaikkan sebelah alisnya dengan senyum penuh kemenangan. Sungguh ia puas melihat adiknya kesal. Baginya hukuman itu tak seberapa dibanding rasa malunya dihadapan Nala dan saudara-saudaranya.
"Mamaaaaa..." Kara mencoba mencari dukungan dari Diandra, sang mama. Namun sang mama yang sibuk membaca majalah hanya menatapnya sekilas lalu melanjutkan kegiatannya.
"Mama ih..." Kara menghentakkan kakinya berulang kali. Kesal juga pada mamanya karena tak membela dirinya.
"Kamu nggak akan pingsan cuma nggak pegang hp satu minggu, sayang". Diandra berkata santai tanpa menatap putrinya itu.
"Nggak bisa gitu dong ma.." Kara masih mencoba bernegosiasi.
"Kali ini mama dukung abang. Kamu sama Baim udah tau Zayn kakaknya Nala, malah ngerjain abangnya. Calon mantu mama hampir ilang lagi gara-gara keusilan kalian". Diandra tetap tenang saat mengatakannya namun mampu membuat Kara bungkam.
"Awas aja abang. Nanti aku laporin papa". Ancam Kara yang rupanya masih tak terima dengan hukuman tambahan dari Gaara.
"Coba aja..emang sejak kapan papa beda pendapat sama mama". Gaara menjulurkan lidahnya penuh kemenangan. Apalagi melihat wajah kusut adiknya yang terlihat menggemaskan dengan pipi menggembung dan bibir mengerucut.
"Udah sana abang pulang ke rumah ayah". Usir Kara yang kesal karena hukuman Gaara. Akan lebih baik jika kakak lelakinya itu tidak tidur dirumah papa nya.
"Sorry aja sih, Ra. Abang udah ijin sama ayah, satu minggu penuh, nginep disini khusus buat jadi supir pribadinya neng santen. Adek kesayangannya abang Gaara". Gaara tersenyum tengil memainkan alisnya naik turun. Membuat Kara bertambah kesal.
"Abang ngeselin!!!". Kara menghentakkan kakinya berulang kali.
"Makasih pujiannya, santen sachet". Senyum Gaara semakin mengembang. Jujur saja, ia rindu dengan saat-saat seperti ini. Mengganggu dan menggoda Kara yang mudah tersulut emosi namun mudah pula dibujuk.
"Nggak ada yang muji orang nyebelin model abang!". Kara mendengus kesal kemudian berbalik dan berjalan menuju kamarnya.
Gaara menatap punggung Kara dengan tatapan penuh kasih. Dulu, jika Gaara menggoda Kara, maka akan ada Raffa yang ikut menggoda gadis manis itu hingga menangis. Kini bahkan Raffa sudah berubah status menjadi seorang suami. Waktu berjalan begitu cepat tanpa bisa Gaara hentikan.
__ADS_1
Terkadang ia berfikir, seandainya waktu bisa diulang, ada banyak hal yang ingin ia ulangi kembali bersama saudara-saudaranya. Dan tentu saja mengulang waktu dimana Nala masih ada didalam jangkauannya. Diam-diam Gaara tersenyum saat mengingat nama gadis yang rupanya sudah mampu merenggut seluruh hati dan pikirannya.
"Seandainya waktu itu..." Batin Gaara mengingat bagaimana Nala berjuang untuk mendapatkan dirinya.
"Jangan bikin mama takut deh, bang. Abang mesem-mesem sendiri bikin mama merinding". Diandra tahu apa yang sedang putranya pikirkan. Ia hanya ingin menggoda putra bungsunya itu saja.
"Ganteng kan tapi kalo senyum gini?". Gaara mengedipkan sebelah matanya pada Diandra yang terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.
"Love u ma.." Gaara mencium pipi Diandra sebelum berlalu ke kamarnya.
"Kalian sudah dewasa sekarang. Berbahagialah, kalian malaikat mama.." Diandra menyeka setitik embun yang menggenang diujung matanya.
Mungkin karena usianya yang memang sudah tak lagi muda. Ia selalu sensitif jika mengingat putra putrinya yang mungkin sebentar lagi akan memisahkan diri dari dirinya.
"Mama harap ada satu dari kalian yang mau menemani papa dan mama disini nantinya". Gumam Diandra menatap foto berisi formasi lengkap dirinya dan suami serta anak-anaknya.
Melepaskan Raffa yang seorang lelaki saja terasa sulit bagi Diandra, apalagi nanti saat melepaskan Kara. Putri semata wayang yang ia besarkan.
"Dimanapun mereka, hanya kebahagiaan yang kita harapkan untuk mereka sayang". Diandra dikejutkan dengan sebuah kecupan lembut yang tiba-tiba mendarat di pipinya.
Ia tersenyum melihat sosok matang yang sudah bersamanya selama puluhan tahun itu. Suami tercintanya, lelaki yang membuatnya merasakan duka namun juga lelaki yang memberikan kebahagiaan tak terkira untuk dirinya. Memberinya kesempatan menjadi seorang wanita sempurna, melahirkan dan membesarkan putra-putri mereka hingga bisa seperti saat ini.
Diandra menatap suaminya, lelaki matang yang justru terlihat semakin menawan di umurnya yang jelas tak lagi muda itu.
...¥¥¥¥••••¥¥¥¥...
Yuhuuuu...asupan malamnya pemirsah🤭🤭😁
__ADS_1
Dukung terus karya othor ya..dan seperti biasa, semoga tak bosan membaca cerita yang ngalor ngidul nggak kelar-kelar ini🤭😁😁🙏🏻