Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
bonus


__ADS_3

Hari-hari terus Nala lalui meski tak semudah dan tak setenang dulu sebelum ada nama Haikal dikehidupannya.


Hampir setiap hari Haikal mencoba mendekati dirinya. Namun beruntung ada si santen sachet yang selalu siap siaga menghalau manusia menyebalkan yang sudah seperti jamur yang tumbuh saat musim hujan.


"Saya ada keperluan dengan Nala, saya tidak punya kepentingan dengan kamu". Ucap Haikal yang lumayan kesal karena Kara selalu menjadi penghalang untuknya setiap kali ingin mendekati Nala.


"Ya urusan saya lah pak. Nala ini calon kakak ipar saya. Jadi bapak jangan macem-macem ya". Nala tersenyum tipis melihat Kara berdiri kokoh didepannya. Tak sedikitpun memberi celah pada Haikal walau sekedar untuk bisa melihatnya.


"Ck.." Haikal berdecak kesal. Sejak mengetahui jika Lengkara adalah adik dari rivalnya, Haikal semakin kesal saja pada gadis itu.


"Kakak adik sama-sama menyebalkan". Gerutu Haikal yang hampir tak terdengar. Namun bukan Kara namanya jika telinganya tak setajam ujung belati.


Kini bukan hanya telinga nya saja yang tajam, tatapan matanya pun tak kalah tajam menyorot Haikal yang mengatai dirinya dan Gaara menyebalkan. Tak sadarkah lelaki itu jika dirinya jauh lebih menyebalkan dari siapapun.


"Mending bapak jaga baik-baik deh nama bapak. Daripada saya sebarin alasan kenapa bapak Haikal, dosen pujaan para mahasiswi ini cerai sama istrinya". Haikal melotot tak percaya. Tak menyangka jika mahasiswi didepannya ini memiliki keberanian setinggi gunung.


"Kamu mengancam saya?", Sengit Haikal tak terima. Sementara Nala tetap diam, karena yakin jika Haikal tak akan pernah bisa menang berdebat dengan Kara meskipun mengerahkan seluruh kemampuan debatnya sekalipun.


"Bapak tuh harus diancam. Kalo nggak diancam makin ngelunjak". Semakin melebar saja mata Haikal saat mendengar tutur kata Kara yang sangat santai namun menohok.


"Kamu.."


"Dengerin saya ya pak. Mumpung belum terlambat, selagi bapak belum kehilangan segalanya. Mendingan udahan deh pak.."


"Saya mah ngeri nya abang saya ilang kesabaran terus bapak dibikin jadi gembel". Nala melipat bibirnya saat hampir tak bisa menahan tawanya.


"Dan kamu kira saya takut dengan kakakmu yang menyebalkan itu? Sama sekali tidak". Kara hanya tersenyum menanggapi ucapan Haikal yang seolah menantang Gaara.


"Yakin pak? Jangan sampe nanti pas udah kejadian, bapak mohon-mohon sama abang saya buat nolongin bapak". Haikal mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras. Merasa terinjak harga dirinya dengan segala ucapan Kara.


"Udah deh Ra. Dia bukan manusia yang bisa diajak bicara normal. Biarin aja abang bertindak..kita lihat setinggi apa ego nya". Tak tahan lagi, Nala ikut bersuara hingga membuat Haikal terkesiap. Ia melupakan keberadaan Nala karena sibuk menanggapi ocehan Kara.


"La..kakak---" Nala mengangkat telapak tangannya. Benar-benar muak menghadapi Haikal yang masih enggan menyerah untuk mendekatinya.

__ADS_1


"Tolong jaga batasan anda pak Haikal. Benar kata Kara, jangan sampai anda kehilangan segalanya hanya karna obsesi dan ego anda. Akan sangat disayangkan", Haikal diam menatap dalam pada Nala.


"Cukup satu kebodohan besar yang anda lakukan dengan melepas kak Nia. Jangan sampai karir anda ikut hancur karena obsesi gila anda. Saya mengatakannya agar anda sadar.." Nala segera menarik tangan Kara. Namun belum sempat ia dan Kara beranjak. Sebuah suara sudah mampu membekukan geraknya.


"Abang..." Gumam Nala dan Kara serempak. Susah payah keduanya menelan ludah saat melihat tatapan mematikan Gaara.


"Beneran kelar idup ni dosen.." Bisik Kara yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Nala.


"Heem..abis udah". Nala segera menyadarkan dirinya. Bisa bahaya jika dibiarkan Haikal dan Gaara saling menatap terlalu lama. Bisa dipastikan jika akan berakhir dengan baku hantam seperti yang sudah-sudah.


"Abang udah dateng.." Pertanyaan konyol yang meluncur dari bibir mungil Nala membuat Kara menahan senyumnya. Jelas Gaara sudah berdiri didepan mereka, sudah pasti Gaara telah sampai.


Nala segera merangkul mesra lengan calon suaminya dan memberi kecupan singkat di pipi lelakinya itu hingga wajah bekunya sedikit mencair.


"Udah lama nunggu nya?", Nala menggeleng. Tak mungkin ia jujur jika sudah beberapa saat dirinya menunggu hingga Haikal mengganggunya.


Bukan karena Nala melindungi Haikal. Namun ia tidak ingin Gaara mengotori tangannya dengan memukul lawan yang tak sepadan dengannya.


"Kita pergi sekarang?". Nala mengangguk semangat. Sementara dibelakang Gaara, terlihat Nick yang memasang wajah waspada. Menatap penuh antisipasi pada Haikal agar tidak sampai terjadi keributan. Apalagi ini masih dilingkungan kampus.


"Yaah..beneran kelar idup lo pak Haikal". Gumam Kara yang melihat Haikal mencekal tangan Nala.


"Ba ji ngan!!!! Berani-beraninya lo pegang tangan calon istri gue!!!". Dengan kasar Gaara menghempaskan tangan Haikal hingga mundur beberapa langkah.


"Abang jangan.." Nala langsung memeluk tubuh Gaara dari belakang saat lelakinya itu merangsek maju untuk menyerang Haikal.


"Udah bang..jangan ngikutin naf su. Nanti abang luka, aku nggak mau". Jurus terampuh yang Nala punya adalah memeluk lelakinya seperti saat ini.


"Kita pergi aja bang. Udah ditungguin mami sama mama di butik". Nala mengingatkan jadwal fitting baju untuk pernikahan mereka.


"Awas lo!!", Ancam Gaara mengacungkan telunjuknya tepat didepan muka Haikal yang menyeringai tipis.


"Siapin aja pesta nya. Nanti gue yang bakal jadi mempelai prianya".

__ADS_1


Bugh!!!!


Selesai mengucapkan kalimat larangan itu, tubuh Haikal terpental ke belakang karena sebuah pukulan keras mendarat sempurna diwajahnya.


"Oooohh...mantap". Gumam Kara saat melihat luka robek diujung bibir Haikal.


"Mantap Nick!!", Kara mengacungkan jempolnya pada lelaki yang telah memukul Haikal. Lelaki yang tak lain adalah Nick.


"Lo mancing masalah mulu ya! Udah gue ingetin berkali-kali jauhin mbak Nala!!! Lo go blokk apa gimana hah!!!?". Kesal Nick


Sedari tadi ia sudah menahan diri untuk tidak ikut campur. Namun ucapan terakhir Haikal benar-benar membuatnya hilang sabar.


Tak tahukah lelaki itu, jika dirinya terus berulah..maka pastilah Nick yang harus kerepotan mengurusnya. Dan Nick sedang malas berurusan dengan segala masalah percintaan bos nya itu.


Gaara mengerjap beberapa kali. Biasanya asistennya itu adalah orang paling tenang. Ada gerangan apa hingga sebuah hantaman ia hadiahkan pada Haikal.


"Good job, Nick. Malam ini bonus mu akan masuk ke rekeningmu", Gaara melenggang pergi sambil merangkul calon istrinya yang masih diam tak percaya melihat Nick memukul Haikal.


"Dapet bonus Nick. Jangan lupa traktirannya". Kara menepuk pelan pundak Nick beberapa kali dan berlalu menyusul kakak dan calon kakak iparnya.


"Dapet bonus? Cuma nonjok muka orang aja gue dapet bonus?". Gumam Nick tak percaya


"Tiap hari aja gue hajar ni orang biar dapet bonus terus". Kembali Nick bergumam dengan seulas senyum geli. Geli dengan jalan pikirannya sendiri.


...¥¥¥•••¥¥¥...


Selamat ya Nick, dapet bonus dari si bos😄😄😄


Sini Nick aku bantuin kalo cuma ngehajar si Haikal mah..insyaallah ikhlas😅😅


Hollaa readers? Gimana nih kabarnya hari ini?? Insyaallah sehat-sehat semua yaaa..aamiin🤲🏻🤲🏻


Happy reading kesayangan...semoga selalu syukaa dan nggak bosen ya sayang-sayangku semuaahh🥰🥰

__ADS_1


Peluk sayang dari othor♥️♥️Sarangheo sekebon readers🥰🥰😘😘💐💋


__ADS_2