
Nala menatap sahabatnya bingung. Sejak pagi tadi datang ke sekolah, Kara benar-benar diam tak banyak bicara. Bahkan berkali-kali kena tegur guru karena melamun.
"Lo kenapa sih santen?". Tanya Nala penasaran.
Saat ini keduanya sedang duduk di kantin karena jam istirahat. Kara meletakkan kepalanya di atas meja. Perkataan sang mama pagi tadi benar-benar mengganggu pikirannya.
"Haish!!! Kenapa sih si mama!". Nala tersentak kaget, bahkan makanan yang baru ia akan telan membuatnya tersedak karena Kara yang tiba-tiba berteriak kesal..
"Lo kenapa sih. Gue ampe keselek anj*r". Kesal Nala setelah meneguk air minumnya.
"Aaah..gue kesel". Teriak Kara lagi. Alis Nala berkerut, kenapa sahabatnya ini. Setelah mengagetkan dirinya, kini ia kembali merebahkan kepalanya diatas meja dan kembali diam.
"Santen aneh". Gumam Nala melanjutkan makannya.
Ingin sebenarnya Nala menanyakan apa yang terjadi. Namun ia urungkan karena melihat wajah Kara yang sepertinya sedang banyak pikiran itu.
Bahkan hingga bel pulang berbunyi, Kara masih tetap diam. Gadis itu hanya berbicara seperlu nya saja, itupun jika ditanya.
"Tuh udah dijemput sama pacar lo". Nala menyenggol bahu Kara yang sejak tadi menundukkan wajahnya.
Nala berpikir, mungkin Kara sedang ada masalah dengan Baim hingga seharian hanya diam. Sekalinya membuka mulut langsung uring-uringan.
Kara menghela nafas panjang. Bukan karena tidak bahagia dijemput kekasih hatinya, tapi ia kembali teringat tentang perjodohan yang Diandra bicarakan.
"Ntar telpon gue kalo udah kelar ngobrol. Gue udah bilang mama kalo kita telat pulang". Tiba-tiba Raffa sudah berdiri disamping Kara. Menepuk pundak saudaranya beberapa kali.
"Tenang..pasti ada jalan. Percaya sama kakak. Dia pasti bisa cari jalan keluarnya". Raffa mencoba meyakinkan Kara. Karena ia sendiri sangat mempercayai sang kakak.
Raffa bisa melihat bagaimana kebahagiaan yang sang kakak berikan pada saudara kembarnya itu. Bahkan tanpa Kara sadari, gadis itu telah banyak berubah semenjak berstatus pacar Baim.
"Tapi mama.." Lirih Kara menatap Raffa sendu.
"Kalo gue aja percaya sama kakak, masa iya elo nggak percaya". Raffa tersenyum lebar agar Kara juga bisa percaya.
"Ada apa sih sebenernya?". Nala yang tak paham pembicaraan keduanya nampak bingung sendiri.
"Udah kelar sekolahnya?". Baim mendekat, mengelus sayang kepala kekasihnya yang nampak tak seperti biasanya.
Bukan hanya hati Kara yang terluka dengan keinginan Diandra. Namun dirinya pun sama terlukanya. Tapi Baim mencoba terlihat tenang, tak ingin membuat Kara semakin sedih jika melihat dirinya tak memiliki keyakinan.
"Ntar telpon aja kak kalo udah kelar. Biar gue jemput nanti". Baim tersenyum kemudian mengacak rambut Raffa dengan gemas.
__ADS_1
"Hish, gue bukan Kara kak". Gerutu Raffa membuat Baim terkekeh pelan.
"Makasih ya, Raf". Raffa mengangguk, menatap punggung Kara dan Baim yang mulai menjauh.
"Sarap! Ada apa sih sebenernya?!". Suara Nala yang tidak berbeda jauh dengan Kara membuat Raffa terlonjak kaget.
"Ngomongnya pelan-pelan bisa kaga sih!". Gerutu Raffa sambil mengelus dadanya.
"Ya abis dari tadi gue nanya kaga ada yang jawab! Ngeselin tau kaga lo pada". Omel Nala dengan wajah kesal namun justru membuat Raffa terbahak.
"Pulang dulu aja yuk. Ntar gue ceritain". Ajak Raffa
"Lo ngapain ngintilin gue?". Tanya Raffa bingung melihat Nala mengikutinya dibelakang.
"Katanya pulang". Jawab Nala polos membuatnya mendapat hadiah sentilan didahinya.
"Ya elo sana bawa mobil elo. Gue ikutin dari belakang. Dodol". Raffa menoyor kepala Nala.
"Emang gue bawa mobil ya?". Raffa mendengus kesal. Kenapa gadis cerdas dan cantik disampingnya ini mendadak oon.
"Itu mobil siapa??". Raffa menunjuk sebuah mobil berwarna merah tak jauh dari mereka.
"Hahaha..oiya gue bawa mobil. Gara-gara elo sih gue jadi lupa". Nala berlalu sambil tertawa membuat Raffa melongo.
"Tu bocah kelamaan temenan ama si santen ikutan sableng". Gumam Raffa sambil menggelengkan kepalanya.
Sementara itu, didalam mobil Baim hanya ada keheningan. Keduanya sama-sama larut dalam pikirannya masing-masing.
"Udah makan?". Tanya Baim lembut menggenggam tangan Kara.
Kara menggeleng lemah, sejak mendengar ucapan sang mama pagi tadi. Kara benar-benar tidak berselera untuk makan. Selera makannya hilang entah kemana.
"Kita makan dulu ya.."
"Nggak laper kak". Jawab Kara pelan.
"Nggak akan selesaiin masalah kalopun kamu nggak makan, sayang". Ada desiran halus menyergap disanubarinya setiap kali Baim memanggil dengan sebutan sayang.
"Kita harus tetep sehat buat bisa lewatin ini semua..makan ya". Kara menatap Baim yang tersenyum padanya lalu kembali fokus pada jalanan yang mereka lewati.
"Aku sayang banget sama kakak.." Kara melepaskan tangan Baim yang menggenggam tangannya. Ia mengalungkan tangannya pada lengan Baim dan menyandarkan kepalanya dipundak kokoh lelaki yang ia cintai itu.
__ADS_1
"Aku nggak mau dijodohin sama siapapun. Aku cuma mau kakak". Kara semakin mengeratkan pelukannya dilengan Baim.
"Kamu cuma perlu percaya, sayang. Kakak yang akan berjuang..doakan kakak, kakak akan mendapatkan restu mama dan papa. Bahkan mereka nggak akan pernah berpikir ada laki-laki yang lebih pantas daripada kakak". Melihat bagaimana Kara mencintainya, Baim seolah mendapatkan semangat baru. Perlahan, ia akan membuktikan pada kedua orang tua angkatnya bahwa tidak ada laki-laki lain yang lebih pantas dari dirinya. Hanya dia yang akan pantas bersanding dengan wanita istimewa bernama Lengkara ini.
"Sekarang kita makan ya, sayang". Kepala Kara mengangguk. Apa yang Baim katakan benar adanya. Ia harus tetap sehat untuk berjuang bersama Baim.
Keduanya memutuskan makan direstoran cepat saji. Bahkan memutuskan membungkus makanannya dan memakan di apartemen Baim nantinya.
"Kakak siapin dulu ya.." Kara menahan lengan Baim.
"Kara aja, kak. Kakak pasti capek, tunggu bentar ya". Kara berlalu ke dapur, mengambil piring dan air putih untuk mereka berdua.
"Makasih sayang.." Baim mengelus pucuk kepala Kara. Gadis kecil manja yang cerewet itu kini sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang pengertian. Meski masih bar-bar namun Baim sangat suka.
Keduanya makan diselingi canda tawa. Melupakan sejenak apa yang diinginkan mamanya. Biarlah seperti ini sebentar, Baim akan memikirkan cara terbaik untuk membicarakan hubungannya dengan Kara.
"Kasih kakak waktu satu bulan sayang. Kakak akan bilang ke mama dan meminta ijin beliau". Ucap Baim tiba-tiba setelah Kara duduk disampingnya.
"Kakak.." Lirih Kara menatap mata hitam tajam milik Baim.
"Makasih kak..makasih udah mau perjuangin aku". Kara menabrak tubuh Baim dan membenamkan wajahnya didada yang selalu terasa hangat baginya itu.
Baim membalas pelukan Kara. Mengelus lembut punggung Kara dan beberapa kali mendaratkan kecupan di kepala kekasihnya.
"Biar kakak yang berjuang, Ra. Kamu nggak perlu pikirin ini semua. Kakak akan dapetin restu mama dan papa. Kakak akan buktiin kalo cuma kakak yang bisa bahagiain dan layak buat kamu, sayang". Baim mengukuhkan tekadnya. Ia akan bekerja keras untuk mendapatkan restu dari kedua orang tua mereka.
"Kakak sayang banget sama kamu, Ra". Baim mengeratkan pelukannya. Dibalas tak kalah ert oleh Kara.
"Kara juga sayang banget banget sama kakak". Semakin menelusupkan kepalanya didada hangat itu. Sungguh sangat sangat nyaman.
"Janji sama kakak.."
Kara mendongak, menatap Baim dengan sebelah alis terangkat yang membuat Baim gemas melihat wajah cantik itu.
"Janji sama kakak..kamu akan tetap jadi Lengkara yang kuat. Lengkara nya Baim yang akan selalu bahagia dan kuat". Kara tersenyum lebar menatap langsung mata Baim.
"Aku akan selalu bahagia dan kuat selagi ada kakak".
"Ayo kita berjuang bersama kak..kita cari kebahagiaan kita bersama-sama". Baim mengangguk dan kembali memeluk Kara.
...---£££---...
__ADS_1
Aduaduadu..si kakak manis banget siiiih..
Selamat berjuang kalian berdua..semoga sukses dengan perjuangan kalian😁