
Gaara mencoba menahan mata dan kepalanya agar tidak melirik Nala yang sedang berjalan disisinya.
Jika saja Nala masih sama seperti Nala nya yang dulu. Mungkin saat ini Gaara sudah memeluk erat Nala dan mengatakan jika kini ia sudah bisa mencintai Nala. Bahkan mungkin sangat mencintai gadis itu.
Jika saja gadis cantik itu masih bertanya apakah ia sudah mencintai dirinya? Maka dengan cepat dan tanpa keraguan, Gaara akan menjawab jika saat ini hanya Nala yang ada didalam hatinya.
Namun semua harapan itu sirna, Nala nya sudah tak sendiri. Sudah ada lelaki baik yang mencintai dan menyayangi Nala. Lelaki yang selalu siap melindungi dan menjadi perisai untuk gadis itu. Lelaki yang Gaara tahu bernama Zayn yang berstatus sebagai calon suami Nala. Padahal mah itu kakaknya, bang. Dibilang calon laki pan ama si santen adek si abang sendiri😂😂kasian bener punya adek kaga ada akhlak😂😂😅
Sungguh Gaara menyesali semuanya. Seandainya ia lebih cepat menyadari perasaannya. Mungkin saat ini, Nala sudah menjadi miliknya.
"Ehm..abang.." Nala menatap Gaara sekilas dan kembali menatap lurus ke depan saat Gaara balik menatapnya.
Gaara menoleh mendengar suara lembut itu. Suara yang kini sering ia rindui. Bahkan sangat dan teramat ia rindui.
"Makasih banyak ya bang..abang udah nolongin mas Zayn". Ucap Nala tulus membuat Gaara tersenyum kecut.
Harusnya ia menyadari jika Nala mau menemaninya keluar hanya karena permintaan Zayn.
"Hmm..sama-sama". Balas Gaara dengan seulas senyum tipis.
"Masih sama gantengnya. Malah tambah ganteng banget." Batin Nala saat melihat senyum tipis Gaara. Wajah yang hingga kini sangat sulit untuk ia lupakan. Wajah yang membuatnya selalu terbayang semua kenangan saat dirinya bisa selalu berada didekat lelaki itu.
"Kamu udah makan?". Tanya Gaara tiba-tiba. Karena sejak tadi ia belum melihat Nala makan apapun karena sibuk mengurus Zayn.
Nala tersentak mendengar Gaara yang memanggilnya 'kamu'. Padahal selama ini Gaara selalu memanggil dirinya 'lo'.
"Kamu udah makan belum?", Ulang Gaara karena Nala justru melamun sambil menatapnya. Mendengar pertanyaan Gaara untuk kedua kalinya membuat Nala tersadar, ia menggeleng pelan. Ia bahkan lupa hanya sekedar makan karena fokus pada sang kakak.
"Aku anter cari makan dulu". Gaara menarik pelan tangan Nala yang terlihat semakin terkejut dengan perlakuan Gaara. Hatinya berbunga bisa merasakan perhatian kecil Gaara.
Dan disinilah mereka sekarang, dirumah makan sederhana tak jauh dari rumah sakit dimana Zayn dirawat.
"Bu, pesan ayam gorengnya dua. Dada semua ya, yang satu kering sama sambalnya pedas. Minumnya, jus jeruk dua. Yang satu jangan terlalu manis. Sama tumis kangkungnya, setengah mateng". Nala melongo, bahkan Gaara tidak menanyakan apa yang ingin ia makan.
"Abang.." Lirih Nala yang melihat Gaara sibuk memesan makanan. Hampir saja Nala menangis. Bagaimana tidak, Gaara memesan semua makanan yang memang ia suka.
"Kamu ada yang di pengen lagi?". Tanya Gaara menatap Nala yang kini tengah menatapnya intens.
"Ada lagi nggak?". Tanya Gaara membuat Nala langsung menggeleng.
"Kita duduk disana ya.." Nala kembali melihat tangannya yang digenggam erat oleh Gaara. Semua ini sungguh seperti mimpi baginya.
"Aku ke toilet dulu ya.." Pamit Gaara dan Nala hanya kembali mengangguk. Jika boleh jujur, Nala ingin sedikit besar kepala dan percaya diri jika kini, Gaara sudah memiliki perasaan pada dirinya. Namun ia takut untuk berharap, ia takut jika hatinya kembali terluka.
__ADS_1
Bagaimana ia bisa bertahan jika sampai hatinya kembali terluka, luka yang sebelumnya saja masih belum sepenuhnya pulih.
Nala kembali termenung, memikirkan perubahan sikap Gaara yang tiba-tiba kini menjadi sangat perhatian padanya.
Sementara didalam ruang rawat Zayn, Kara sedang tertawa keras ketika mengingat wajah pias sang kakak ketika dirinya memperkenalkan Zayn sebagai calon suami Nala.
"Udah sih, Ra. Seneng banget". Cibir Raffa meski lelaki itu juga tidak dapat menyembunyikan senyumnya ketika mengingat bagaimana wajah kakaknya tadi.
"Puas banget nggak sih. Liat muka abang kaya gitu tadi". Ucap Kara di sela tawanya. Sementara Zayn dan Baim hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Kara.
Lain hal nya dengan Delisha yang masih terlihat bingung mendengar percakapan suami dan adik iparnya.
"Aduh..sakit ih perutnya buat ketawa terus". Kara memegangi perutnya yang terasa kaku karena sejak tadi terus tertawa.
"Kara kenapa sih?". Tanya Delisha berbisik pada sang suami yang langsung menoleh.
"Ngetawain abang". Jawab Raffa singkat
"Emang abang kalian kenapa?". Tanya Delisha semakin penasaran. Pasalnya sejak tadi ia tidak melihat ada sesuatu hal yang lucu.
"Jelasin Rapa. Kasian itu istri kamu". Kara masih mencoba meredam tawanya. Padahal sudah beberapa kali tersedak karena tawanya.
"Mas Zayn itu kakak kandungnya Nala".
"Hah???". Delisha memekik sambil menatap Zayn tak percaya.
"Tadi itu cuma iseng dikit aja". Sahut Kara acuh yang kini sudah bisa meredam tawanya.
"Nanti aku jelasin dirumah". Raffa tidak mungkin menceritakan semua tentang kakak dan sahabatnya sekarang. Bisa sampai esok tidak selesai jika sekarang menceritakannya.
Sementara Delisha terus mendesak sang suami untuk bercerita, kini Nala tampak bingung. Duduk berdampingan dengan seorang lelaki yang masih utuh berada di hatinya.
"Nih, kamu suka kulitnya kan?". Nala membeku saat tiba-tiba Gaara memberikan kulit ayam yang terlihat kering dan menggiurkan itu.
Suasana masih terasa hening, keduanya sibuk menikmati makanan yang sudah tersaji didepan mereka saat ini.
Banyak pertanyaan dibenak Nala. Sejak kapan Gaara tahu semua hal yang ia sukai termasuk makanan.
"Makannya kayak anak kecil.." Gaara menghapus sisa sambal yang menempel diujung bibir Nala dengan ibu jarinya. Menyebabkan Nala yang hampir menelan maknanannya tersedak.
"Pelan-pelan, La. Aku nggak akan minta". Bukannya mereda, batuknya semakin menjadi saja saat Gaara dengan cekatan memberikan minum untuknya dan menepuk lembut tengkuknya.
Sungguh Nala terkejut dengan semua perubahan sikap Gaara. Satu tahun lamanya ia tak berjumpa dengan lelaki pujaannya, dan saat kini berjumpa, ada banyak perubahan pada diri lelaki itu.
__ADS_1
Lelaki yang dulu selalu dingin dan acuh padanya, kini berubah menjadi lelaki yang hangat penuh perhatian.
"Jangan kaya gini bang..lupain abang yang kaya kulkas aja aku udah kuwalahan. Apalagi abang kaya gini". Batin Nala menjerit. Antara bahagia dan juga takut.
Takut jika ia kembali terjerat pada perasaan yang memang belum hilang dari dalam hatinya. Takut jika dirinya akan semakin sulit melupakan sosok lelaki tampan yang kini masih sibuk mengelus punggungnya.
"Udah bang..makasih.." Nala sedikit menjauh, merasa debaran jantungnya semakin tak terkendali. Ia takut jika tubuhnya akan sama seperti jantungnya dan hilang kendali memeluk tubuh kekar yang ia rindukan itu.
"Hati-hati makannya.." Peringat Gaara dengan wajah khawatir dan dijawab anggukan kepala oleh Nala yang kembali berpura-pura sibuk dengan makanannya. Ia tak mau Gaara melihat semburat merah dikedua pipi nya. Karena kini ia merasa wajahnya panas.
Keduanya kembali diliputi keheningan karena keduanya sama-sama merasa canggung. Gaara merutuki sikap spontanitasnya yang langsung mengusap bibir Nala beberapa saat lalu hingga membuat jantungnya kini sulit ia kendalikan.
Hingga keduanya menandaskan makanannya, tak ada yang bersuara. Keduanya sama-sama bingung harus mengatakan apa dan bagaimana memulainya.
"Ehm..sekali lagi makasih ya bang". Nala akhirnya tak tahan. Setelah beberapa saat diam, ia memilih membuka suara.
"Sekali lagi, makasih udah nolongin mas Zayn, sama makasih udah nemenin aku makan. Padahal abang pasti sibuk.." Nala tersenyum tulus membuat Gaara ingin sekali memeluk gadis itu.
"Sama-sama". Sahut Gaara singkat karena bingung harus mengatakan apa.
"Abang pasti banyak kerjaan ya. Aku balik ke rumah sakit dulu ya. Abang hati-hati. Sekali lagi terimakasih bang". Pamit Nala sedikit menundukkan kepalanya sebagai rasa terimakasihnya.
Nala melangkahkan kakinya kembali ke rumah sakit. Ia tak tahu jika Gaara masih mengikutinya, memastikan jika gadis itu selamat kembali ke rumah sakit untuk kembali menjaga Zayn, calon suaminya. Hatinya kembali mencelos ketika mengingat Nala sudah memiliki lelaki yang akan mendampinginya.
Memang dasar Nala tidak berhati-hati, terlalu bersemangatkah? Atau mungkin memang gadis itu ceroboh. Papan bertuliskan hati-hati licin pun tak bisa ia lihat. Hingga akhirnya kakinya terpeleset dan keseimbangan tubuhnya hilang.
Nala memejamkan matanya, bersiap merasakan sakit ditubuhnya terutama dibagian pan tat nya. Namun beberapa detik kemudian ia tak merasakan sakit. Justru kehangatan yang tubuhnya rasakan.
Perlahan ia membuka mata, dan langsung bersirobok dengan mata tajam yang sangat-sangat ia kenali. Nala mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan jika apa yang saat ini ia lihat bukanlah sekedar halusinasi semata.
"Aku sudah bilang..kerjakan apapun dengan hati-hati". Nala tersadar ketika mendengar suara Gaara yang terdengar sangat nyata.
"M-makasih bang.." Nala terlihat gugup. Apalagi posisinya dan Gaara saat ini masih rapat sempurna karena Gaara masih memeluk pinggangnya dengan erat.
Nala hendak melepaskan pelukan Gaara. Namun ia kembali dibuat terkejut saat Gaara justru menarik tubuhnya kedalam pelukan hangat lelaki itu.
Sungguh, keduanya sangat merindukan pelukan seperti ini. Pelukan yang sudah satu tahun lebih lamanya tak dapat lagi keduanya rasakan.
Meskipun bingung, namun akhirnya Nala membalas pelukan Gaara dengan erat. Ia tak peduli dengan alasan Gaara memeluknya. Yang ia pikirkan, ia hanya ingin melepaskan rindu yang membelenggunya selama satu tahun terakhir ini. Biarlah untuk sesaat ia melupakan semuanya. Ia hanya ingin menikmati aroma lelaki yang sangat ia rindui ini.
...¥¥¥•••¥¥¥...
Hemh..bisa ae nih berdua. Si kang gara-gara ama si kuman..
__ADS_1
Yang atu takut sakit hati lagi..yang atu nya patah hati gara-gara kelakuan santen ama si sarap. Bener-bener emang itu duaan adek durjana😂😂
Sabar ya kang gara-gara, nunggu adek-adekmu itu insap dulu baru deh bisa ama kuman😂