Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
memulai cerita


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu setelah kejadian dipinggir jalan itu. Abi kini benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikiran gadis yang dulu begitu manja pada dirinya itu.


Ditambah dengan kehadiran lelaki bernama Panca yang selalu menempel istrinya, tak memandang dimanapun. Sungguh Abi ingin mencekik lelaki itu.


Hati Abi selalu panas jika melihat istrinya bisa tertawa lepas saat sedang bergurau dengan Panca. Sedangkan dengan dirinya, istrinya itu selalu mencoba menghindar meski beberapa kali Abi bisa menikmati manisnya bibir istri tercintanya itu.


Sudah beberapa kali ia berhasil mencuri ciuman dari istrinya, berharap setelahnya hubungan keduanya akan berjalan normal layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Namun sikap Diandra yang selalu menghindar setelah keduanya bermesraan benar-benar membuat Abi frustasi.


Bukan dirinya tak pernah berusaha meluluhkan istrinya itu, namun tembok yang dibangun oleh Diandra begitu kokoh dan tinggi hingga sulit ia jangkau dan ia robohkan.


"Lu kenapa sih Bi? Kusut amat muka". Alvin yang baru saja masuk keruangan bosnya langsung nyerocos melihat wajah atasan sekaligus sahabatnya sudah layaknya pakaian kusut yang belum terjamah setrikaan.


" Pusing gue ama Diandra ". Alvin hanya memutar bola matanya, jengah juga lama-lama mendengar keluhan bosnya yang sudah hampir satu tahun menikah. Dan selama itu pula keluhannya selalu sama, pusing dengan sikap wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya itu.


" Napa lagi sih? Lama-lama gue yang puyeng denger curhatan elu. Setaun Bi, setaun. Masa iya lu kaga bisa luluhin hati bini sendiri". Cerocos Alvin membuat Abi menatapnya tajam. Kesal juga Abi pada sahabatnya itu, bukankah dia dan Tiara sangat mengetahui keadaan rumah tangganya. Bisa-bisanya sekarang Alvin ceramah seperti itu didepannya.


"Ya santuy aja Bi. Kaga usah melotot gitu juga lu". Alvin menyadari kesalahannya saat berbicara. Ia buru-buru meralat kalimatnya sebelum bonus bulanannya disunat oleh atasan kejamnya itu.


" Lagian bingung gue ama lu berdua, si Gaara ampe udah bisa panggil 'mama papa' aja lu berdua masih perang. Ya walaupun tu bocah ngomong kaga jelas". Alvin mengingat kembali saat pertama kali Gaara bisa berbicara dan kata papa lah yang pertama keluar dari bibir kecil itu.


Ia ingat betul bagaimana Diandra tak berhenti mengomel karena tidak terima putra nya menyebut kata papa untuk pertama kali bayi itu bisa berbicara.


" Udah lah Bi..lo tidurin aja itu bini lu. Kalo udah tanam saham kan mau kaga mau juga dia mau". Usul Alvin asal


"Lo kira gampang". Gerutu Abi


" Abis dicium aja susah ditemuin". Imbuhnya lirih sambil menghembuskan nafas kasar.


"Auk ah..puyeng gue ama lu pada. Nih tanda tangan". Alvin meletakkan sebuah dokumen yang membutuhkan tanda tangan Abi.

__ADS_1


" Gue kasih tau Bi. Kalo lu kaga cepet, bisa jadi lu di sleding si ular sanca itu ntar. Belom lagi itu si Monika yang udah kaya kang gofood bolak balik kantor sini nyari elu". Mendengar ucapan sahabatnya, Abi yang baru selesai membubuhkan tanda tangannya diatas dokumen itu memijit pangkal hidungnya. Benar apa yang dikatakan Alvin, mengingat Panca membuat dirinya was-was karena saingannya itu jelas memperlihatkan ketertarikannya pada Diandra.


"Handle semua kerjaan. Gue mau pulang". Abi berlalu setelah menyambar jas yang ia sampirkan dikursinya. Ia berlari keluar tanpa memperdulikan teriakan Alvin yang sepertinya sedang mengumpatinya. Bagaimana tidak, pekerjaan keduanya sedang banyak-banyaknya, bos nya malah ngabur.


" Kemana si bos Vin?". Tanya Tiara yang melihat Abi berjalan dengan buru-buru bahkan beberapa kali berlari kecil.


"Tau lah, bos sengklek. Kerjaan banyak malah kabur". Oceh Alvin yang ditanggapi senyum lucu oleh Tiara. Sudah bukan hal baru jika bos dan asistennya itu ribut seperti anak kecil.


Sementara kedua orang kepercayaannya sedang menggunjingkan dirinya, Abi tengah memacu kuda besinya menuju rumahnya. Karena saat ini Diandra tinggal dirumah kedua orang tuanya.


Bukan perkara mudah membujuk Diandra untuk mau tinggal dirumah kedua orang tua Abi. Dan itupun mereka akan bergantian, satu minggu dirumah mama Ana dan satu minggu dirumah mama Dita dan begitu seterusnya. Itupun belum berlangsung lama, baru sekitar satu bulan berlangsung.


Sampai dirumah, Abi memarkirkan mobilnya dan segera turun. Ia bahkan berlari untuk masuk kedalam rumahnya dan berteriak mencari Diandra.


" Di.." Panggilan pertamanya tak mendapat jawaban.


" Sayang..kamu dimana sih?". Abi membuka pintu kamar namun Diandra tidak ada.


Abi menghela nafas lega saat melihat punggung Diandra yang membelakanginya. Pantas saja dipanggil tidak mendengar, rupanya istri cantiknya itu tengah berkutat dengan berbagai bahan kue.


"Eh!!". Hampir saja Diandra membanting tubuh suaminya karena tiba-tiba memeluknya dari belakang.


" Kamu apa-apaan sih mas?!". Sentak Diandra memaksa melepaskan tangan Abi yang membelit perutnya.


"Bentar aja Di.." Lirih Abi semakin mengeratkan pelukannya.


"Jangan kelewatan ya. Inget apa syarat aku". Bukannya melepaskan, Abi justru membalikkan tubuh Diandra hingga keduanya saling berhadapan.


Abi sudah tidak bisa menahan lagi segala perasaan sakitnya karena terus diacuhkan oleh Diandra. Ia akan memaksa Diandra mendengarkan ceritanya tentang apa yang ia dan Dea alami. Dan jika Diandra tetap tidak bisa menerimanya, maka ia akan melepaskan Diandra agar bisa bahagia dengan orang lain meski mungkin dirinya tidak akan bisa menjalani hidup selayaknya orang normal lainnya nantinya.

__ADS_1


" Ikut aku". Abi menarik tangan Diandra menuju kamarnya.


"Ngapain ke kamar kamu sih!!". Diandra masih terus berushaa melepaskan tangannya, namun cekalan Abi terlalu kuat.


Abi melepaskan tangan Diandra dan mengunci pintu kamarnya. Melepaskan dasi dari lehernya dan membuka dua kancing bajunya. Diandra sudah dibuat was-was karena melihat Abi membuka kancing kemejanya. Pikirannya berkelana liar membayangkan apa yang diinginkan Abi dari dirinya.


" Awas aku mau keluar!". Diandra melewati Abi namun tubuhnya kembali tertahan oleh pelukan Abi.


"Selama ini kamu nggak pernah tau gimana kisah aku sama Dea yang sebenarnya Di. Kamu harus denger". Lirih Abi tepat disamping telinga Diandra.


" Nggak! Aku nggak mau tau kisah kalian. Nggak penting buat aku". Ucap Diandra berusaha melepaskan pelukan Abi.


"Dengerin semua cerita aku dulu Di". Abi menyerukkan wajahnya dileher Diandra. Menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu bisa membuatnya kecanduan.


" Nggak per---"


"Kalo setelah aku cerita kamu masih benci sama aku dan nggak bisa maafin aku.." Abi menghela nafas panjang, bukan hal mudah ia pada keputusannya ini. Namun ia tidak ingin Diandra nya tersiksa karena dipaksa hidup dengan dirinya.


"Aku akan lepasin kamu sayang..aku akan mengikhlaskan kamu hidup dengan lelaki yang menurutmu akan bisa membuat dirimu bahagia". Aksi berontak Diandra seketika berhenti setelah Abi mengatakan jika akan melepaskan Diandra.


" Aku tau kamu tersiksa dipaksa keadaan untuk menjadi istri b*jingan seperti diriku". Diandra meremas kuat kedua tangannya.


"Ya!! Kamu eemang b*jingan mas!! Tapi kenapa sakit mas.." Batin Diandra yang tiba-tiba merasa sesak didadanya mendengar Abi akan melepasnya.


#######


**chapter selanjutnya bakal diisi flashback kenapa Abi sama Dea bisa nikah dan apa alasan keduanya yaa...


tetep dukung othor ya semua..happy reading**

__ADS_1


__ADS_2