Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
perjodohan


__ADS_3

Masih flashback ya..


Abram berbincang dengan kedua orang tuanya. Menyalurkan perasaan rindu yang lama terpendam.


"Apa sudah lama dia menginap disini?". Tanya Abram pada kedua orang tuanya.


Kedua orang tua Abram saling berpandangan kemudian tersenyum.


"Dimulai sejak satu minggu kamu dipenjara nak". Abram tercengang mendengarnya.


"Ta-tapi bagaimana mungkin ma? Waktu itu dia--" Abram tak kuasa meneruskan ucapannya.


"Dia dibesarkan oleh orang tua yang sangat istimewa, Bram". Pak Burhan angkat bicara.


"Anakmu tumbuh menjadi pemuda yang sangat membanggakan. Bukan hanya akademiknya, tapi hatinya begitu tulus". Bu Yuli terus tersenyum membicarakan cucunya.


"Dia bilang mendapat semua itu dari malaikatnya".


"Malaikat?". Beo Abram membuat bu Yuli mengangguk.


"Wanita yang membesarkannya. Melimpahinya dengan kasih sayang yang tulus hingga menjadikan Gaara anak sehebat sekarang". Bu Yuli benar-benar mengagumi Diandra. Meski Gaara bukan darah dagingnya, namun Diandra mencintai cucunya itu begitu tulus.


"Diandra?". Gumam Abi


"Siapa lagi? Berterimkasihlah padanya Bram. Dia benar-benar malaikat. Bukan hanya untuk putramu, tapi untuk kita semua dia adalah jelmaan malaikat yang sesungguhnya". Abram mengangguk.


"Besok aku akan kesana pa, ma. Aku akan mengucapkan terimakasihku pada mereka dan juga meminta maaf yang selayaknya padanya dan keluarganya yang sudah sangat aku sakiti". Kedua orang tua itu mengangguk.


"Apa Gaara sering menginap?". Tanya Abram berharap.


"Dua minggu sekali dia menginap. Tapi dia bisa berkali-kali kesini sekedar melihat kondisi orang tua ini". Pak Burhan tersenyum ketika mengingat betapa perhatiannya Gaara pada mereka.


Keesokan harinya, Abram benar-benar mengunjungi rumah keluarga Diandra. Tentu setelah menghubungi Gaara dan meminta persetujuan anaknya itu.


Diluar perkiraannya. Kedatangannya disambut hangat oleh keluarga dari wanita yang dulu begitu ia lukai. Tak ada tatapan kebencian dari semua orang. Mereka menyambut hangat kedatangannya seolah dirinya tidak pernah berbuat kesalahan. Dan itu justru membuat dirinya begitu malu.


"Maaf jika kedatangan saya mengganggu". Ucap Abram sungkan. Ia ditemani kedua orang tuanya.


"Omaaaa, opaaaa.." Abram mencari sumber teriakan itu. Tak lama seorang gadis cantik dengan rambut dikuncir kuda berlari memeluk kedua orang tuanya.


"Lengkara. Jangan teriak-teriak nak". Abram terlihat kebingungan, siapa gadis itu? Pikir Abram.


"Kara kangen tau. Abang nggak pernah ajak aku ke rumah opa sama oma". Bibir mungil itu mengerucut lucu. Abram tak sadar jika tersenyum melihat tingkah gadis yang belum ia kenali itu.


"Oh..hallo om. Kenalin, nama aku Lengkara. Om panggil aja aku--"

__ADS_1


"Santen". Sambar Gaara cepat membuat Kara mendelik kesal.


"Omaaa..abang nakal". Adu Kara pada bu Yuli yang tersenyum ssambil melambaikan tangannya pada Kara agar mendekat padanya.


"Dia putriku. Dan ini saudara kembarnya, Raffa namanya". Abi memperkenalkan Raffa pada Abram.


"Mereka sangat manis". Gumam Abram


"Selamat malam om.." Seorang pemuda seusia Gaara datang menyapanya. Abram diam mengingat dan tersenyum saat ingat siapa anak itu.


"Baim?". Baim mengangguk saat Abram mengingatnya.


Abram benar-benar dibuat terharu saat tanpa ragu Gaara selalu memanggilnya ayah. Ditambah gadis cerewet nan manis yang juga ingin memanggilnya ayah.


"Abang punya papa, punya ayah juga. Aku juga mau!". Rengeknya yang membuat bibir Abram melengkung sempurna.


"Boleh kan aku panggil ayah?". Mata indah itu mengerjap lucu. Dan mana mungkin Abram menolak kebahagiaan itu.


"Tentu boleh. Ayah akan sangat bahagia kalau kamu juga memanggil ayah". Kara berseru senang. Sungguh gadis ceria..pikir Abram.


Makan malam Abram kali ini benar-benar sangat mengesankan. Bagaimana tidak, ia seolah bangkit dari kematian. Terbangun dari mimpi terburuknya dan saat terbangun disuguhkan indahnya dunia dengan kehadiran keluarga baru.


Sepanjang makan malam, gadis yang Abram tahu bernama Lengkara itu terus berceloteh. Entah apa dia tidak lelah, tapi Abram sangat suka mendengar celotehan gadis yang senang sekali memanggilnya Ayah itu.


"Apa ini?". Tanya Abram bingung namun tetap menerima map itu. Tangannya perlahan membuka map itu dan seluruh tubuhnya bergetar. Tak percaya apa isi yang ada dalam map itu.


"I-ini.." Abi dan Diandra saling menatap dan tersenyum.


"Aku hanya membantumu menjaga itu semua selama ini. Sekarang aku kembalikan karena kamu sudah bebas". Abram menggeleng. Sungguh tak percaya.


Bagaimana bisa perusahaan yang sudah bisa dibilang hancur itu ternyata masih beroperasi hingga kini? Dan nama pemiliknya? Bagaimana bisa masih dirinya? Ia ingat betul saat dirinya ditangkap waktu itu, usahanya sudah benar-benar hancur.


"B-bagaimana bisa??". Tanya Abram masih tak percaya.


"Aku hanya menjaga milik putra kita. Toh suatu saat nanti itu akan kamu berikan pada Gaara bukan?". Abram menatap Abi tak percaya. Mengapa bisa mereka semulia ini, sebaik dan setulus ini pada dirinya yang baj*ngan ini.


"Sekarang lanjutkan lah, kak. Tugas kami selesai membantumu menjaga milik Gaara. Selanjutnya menjadi tugasmu". Abram tak kuasa menahan air matanya. Bahkan Diandra sudi memanggil dirinya kakak.


"Maafkan aku. Sungguh maafkan aku..dan terimakasih untuk semua kebaikan kalian selama ini. Aku benar-benar berhutang segalanya pada kalian". Abram menunduk menyembunyikan air matanya.


"Kita keluarga, nak. Menjadilah manusia yang baik jika memang kamu sangat menyesali semua kesalahanmu itu". Abram mendongak saat mama Dita duduk disampingnya dan menepuk pelan pundaknya.


"Terimakasih..sekali lagi terimakasih. Dan maaf".


Sejak saat itulah mereka menjadi keluarga. Anak-anak Diandra tak ragu memanggil Abram 'ayah' seperti Gaara. Dan Kini Gaara ikut membantu sang ayah mengembangkan perusahaan yang nantinya akan menjadi miliknya itu.

__ADS_1


flashback off


"Masih pagi ma..ngelamun aja". Lamunan panjang Diandra buyar mendengar suara menyebalkan putrinya.


"Ish..dasar kamu tuh". Sembur Diandra membuat Kara terkekeh.


"Mama mikirin apa atuh masih pagi gini". Goda Kara yang tak ada puasnya mendengar omelan sang mama.


"Berisik. Udah cepet makan itu nasi goreng kamu". Kara menurut, memakan nasi goreng yang sudah disiapkan Diandra dipiringnya.


"Oh iya sayang..mama ada yang mau diomongin ke kamu". Dahi Kara berkerut menatap sang mama.


"Aku? Tumben ma.."


"Kamu inget Arkan anaknya tante Naya?". Tanya Diandra dijawab anggukan kepala oleh Kara. Sedangkan Abi sudah menatap istrinya curiga.


"Inget. Ada apa emangnya ma?". Tanya Kra menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.


Semua mata menatap Diandra menunggu jawaban. Namun tidak dengan Kara, gadis itu masih sibuk dengan makanannya.


Entah mengapa, Baim memiliki firasat tidak baik dengan apa yang akan sang mama sampaikan.


"Kamu kan bentar lagi juga lulus kan?".


"Ada apa sih ma? Mama nggak jelas ah ngomongnya". Kara tetap memakan nasi gorengnya yang tinggal sedikit lagi.


"Mama mau jodohin kamu sama Arkan".


uhuk..uhuk..


"Sayang.." Lirih Abi menatap istrinya saat batuknya mereda.


Tebak siapa yang tersedak??


Salah jika berpikir Kara. Karena semuanya tersedak oleh makananannya sendiri-sendiri saat Diandra mengutarakan maksudnya.


Perjodohan?? Di jaman seperti ini???


...___€€€___...


Hayoh loh si mama mau jodohin Kara ama Arkan anaknya Naya.


Kira-kira siapa nih yang bakal menang? Mama yang mau jodohin anaknya apa si bucin yang masih belum berani ngomong kalo mereka pacaran??🤔


Bismillah, doain bisa satu bab lagi ya..

__ADS_1


__ADS_2