
Satu bulan sudah keduanya menjalani pernikahan selayaknya pernikahan pada umumnya. Mama Ana dan mama Dita serta suami mereka tidak bisa menutupi kebahagiaan mendengar keputusan Diandra yang memberi kesempatan bagi Abi dan memaafkannya. Karena sejak awal, inilah yang mereka harapkan.
Suasana dikantor pun mulai kondusif seiring mood Abi yang selalu baik sejak kebersamaannya dengan Diandra. Berkali-kali karyawan dikantor Abi dibuat terkejut saat sapaan mereka dibalas ramah oleh bos mereka.
"Si bos kesambet apa yang sebulan ke belakang?". Bisik karyawan A mulai bergosip. Sasaran gosip paling mantap adalah bos sendiri bukan?
" Iya, udah jarang yang kena sembur juga belakangan ini". Sahut karyawan B setengah berbisik.
Sementara Alvin yang mendengar karyawan bos nya bergosip hanya bisa menggeleng sambil tersenyum tipis.
"Iya ya, sebenarnya kenapa ya sama pak Abi? Saya juga penasaran sebenernya". Alvin dengan usil ikut nimbrung pergosipan dua karyawatinya itu.
" Emang pak Alvin nggak tau si bos kenapa berubah?". Tanya si A tak sadar siapa yang ia ajak berbicara.
Menggosip memang terlalu mengasyikkan hingga terkadang kita lupa dimana kita berada.
"Hmm..nggak tau juga. Kira-kira kenapa? Kalian ada yang tau?". Alvin benar-benar mendalami perannya sebagai seorang penggosip handal.
Kedua karyawati itu menggeleng bersamaan membuat Alvin menampakkan wajah kasihan pada keduanya.
" Karna kita sama-sama tidak tahu. Bagaimana kalau kita kembali pada pekerjaan kita saja sekarang? Atau mungkin kalian lebih senang kalau pak Abi kembali seperti singa kelaparan yang setiap hari mengamuk??". Alvin sudah kembali pada mode seriusnya dan menegakkan tubuhnya dengan dua tangan berada dalam saku celananya.
Seolah tersadar dengan siapa mereka berdua bergosip, kedua wanita itu segera meminta maaf dan memilih melarikan diri sebelum mereka masuk kedalam masalah besar.
Senyum tak kunjung surut dari wajah tampan Abi, bagaimana tidak, pagi ini dirinya kembali mendapatkan vitamin yang membuatnya begitu terlihat bugar dan segar.
Alvin yang baru saja masuk kedalam ruangan bosnya hanya bisa menggeleng melihat Abi yang tersenyum sendiri sambil memainkan pulpen ditangannya.
"Pantes aja pada heboh. Orang bos nya beneran kaya orang gila begini". Gerutunya yang berjalan mendekat dengan setumpuk berkas dikedua tangannya.
Dengan sengaja ia menurunkan berkas-berkas ditangannya dengan cara sedikit dibanting hingga membuat Abi terkejut.
__ADS_1
" Kerja bos, kerja". Sindir Alvin yang masih berdiri didepan meja Abi.
"Sirik aja". Ketus Abi
" Lu kalo dikantor dikontrol deh, Bi". Abi mengangkat sebelah alisnya karna tidaj memahami maksud Alvin.
"Tu muka kontrol". Alvin tanpa segan menunjuk langsung wajah bos nya.
" Emang muka gue kenapa?". Tanya Abi tanpa dosa sambil meraba wajahnya.
"Muka gue baik-baik aja. Tetep ganteng kaya dulu". Alvin mendecih, melirik bos nya yang belakangan ini tingkat kepedeannya bertambah hingga pulukan kali lipat, tapi kewarasannya semakin menurun.
" Kontrol muka biar nggak mesam mesem, Bi". Tiara langsung menyambar saat memasuki ruangan Abi.
"Emang kenapa? Gue kan bales keramahan karyawan gue". Abi masih belum memahami maksud Alvin dan Tiara.
" Gue kan bales keramahan karyawan gue". Cibir Alvin menirukan gaya bicara Abi.
"Gila lo berdua". Abi bahkan bangkit dari duduknya.
" Lo yang gila!". Sahut keduanya cepat membuat Abi mendengus melihat kekompakan teman-temannya.
"Gue biasa aja". Abi tak mau kalah meski sejujurnya sebulan ini dirinya sulit mengendalikan ekspresi wajahnya jika teringat wajah masam Diandra. Ia sering tersenyum sendiri saat mengingat wajah itu. Seperti saat ini.
" Noh liat, Ra". Seru Alvin saat Abi tiba-tiba tersenyum.
"Ngeri kaga lo?". Serunya lagi membuat Tiara mengangguk dan berpura-pura bergidik.
" Lo masih waras kan Bi?". Tanya Tiara mendapat pelototan Abi.
"Ya lo kira?". Tanya Abi balik
__ADS_1
" Udah sono pada balik kerja. Karyawan kaga ada akhlak emang lo berdua, ama bos yang ngegaji lo aja pada berani ngatain gila. Dasar karyawan edan". Abi kembali duduk dan langsung menyibukkan dirinya dengan tumpukan dokumen yang Alvin bawa, ditambah yang baru saja Tiara bawa.
"Udah kerja sana kerja, makan gaji buta lo pada". Kedua temannya mendengus, mereka keluar dengan mulut yang terus menggerutu membicarakan Abi.
Abi menyandarkan tubuhnya dikursi kebesarannya, ia menatap langit-langit ruangan nya. Segala yang ia lihat seolah menampakkan wajah ayu Diandra hingga ia tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak membentuk sebuah senyuman.
" Diandra..kamu bener-bener bikin aku gila Di. Jauh atau dekat, kamu selalu bisa bikin aku gila". Abi terkekeh sendiri dibuatnya.
Sementara Abi sedang seperti orang gila karena Diandra, didalam kamar yang kini ditempati oleh keduanya, Diandra juga tengah seperti orang gila karena mulut tipisnya tak henti menggerutu mengingat kelakuan menyebalkan suaminya.
Bagaimana tidak, setelah subuh tadi Diandra sudah membereskan kasurnya. Namun selesai melaksanakan shalat subuh dengan Abi, lelaki itu kembali menyerangnya dan mengakibatkan kasurnya kembali tak berbentuk karena ulah keduanya.
"Mas Abi lama-lama kaya minum obat. Yang bener aja sehari dua tiga kali. Sekalian aja ama vitaminnya biar banyak". Bibir tipis itu tak henti mengomel
" Liat sayang kelakuan papa kamu. Nanti kalo kamu gede jangan kaya papa ya. Nanti istri kamu ngomel terus kaya mama". Sambil merapikan kasurnya dan mengganti sprei, Diandra memberi wejangan pada anaknya yang jelas belum mengerti maksud Diandra.
Tengah asyik membereskan kasurnya, ponsel Diandra yang berada diatas nakas berbunyi nyaring.
"Panca?". Gumam Diandra menatap layar ponselnya.
" Assalamualaikum Ca". Sapa Diandra setelah menggeser layar ponselnya.
Diandra menutup sambungan telepon setelah Panca selesai berbicara. Lelaki itu meminta bertemu dengan Diandra dan memintanya membawa keponakan lucunya, yang tak lain adalah Gaara.
Rupanya Panca akan pergi ke luar negeri untuk mengembangkan bisnisnya. Ia ingin berjumpa dengan adik dan keponakan yang ia dapat kan secara instan itu sebelum keberangkatannya.
Diandra menghubungi Abi untuk meminta izin, jika dulu ia dengan seenaknya pergi menemui siapapun dengan atau tanpa izin dari Abi. Kini setelah ia memutuskan memaafkan Abi, ia selalu meminta izin pada suaminya itu sebelum pergi.
"Iya pergi aja gapapa, tapi inget. Jangan deket-deket, jaga jarak sama dia. Jangan-jangan si pencaksilat cuma modus". Diandra mendengus kesal setiap mengingat apa yang Abi katakan saat tadi dirinya meminta izin.
" Papa kamu emang suka ngaco. Masa nama uncle udah bagus Panca, diganti pencaksilat". Sambil mengganti baju Gaara, Diandra tak henti mendumel.
__ADS_1