
Suasana mendadak hening karena keduanya tiba-tiba bungkam tak sedikitpun bersuara. Namun tangan Kara tetap melingkar erat diperut rata sang kakak.
Hingga keduanya sampai didepan gerbang sekolah, keduanya masih bungkam. Entah apa yang membuat suasana tiba-tiba menjadi canggung.
Kara yang sejak tadi sebenarnya ingin berbicara selalu mengurungkan niatnya saat teringat poin penting dalam tips yang ia baca di internet untuk menarik perhatian kakaknya.
'bersikaplah lembut dan tidak terlalu banyak bicara. Karena banyak lelaki yang tidak terlalu menyukai wanita cerewet'. Kara benar-benar termakan semua tips yang sudah ia baca dan benar-benar menerapkannya.
"Aku masuk dulu, kak". Pamit Kara yang baru saja turun dari motor sang kakak dan melepaskan helmnya kemudian menyerahkannya pada Baim.
"Jangan pulang sampai kakak jemput". Kara yang baru saja mencium punggung tangan kakaknya langsung mematung. Antara bingung dan senang karena itu artinya siang nanti ia akan kembali bertemu dengan sang kakak.
"Aaaaaa...ntar siang ketemu lagi dong". Batin Kara girang namun segera teringat sesuatu.
"Jangan! Jangan Kara!! Jangan keliatan manja dan selalu ngerepotin! Inget tujuan lo!!!". Kara menggelengkan kepalanya sesaat lalu kembali menatap Baim.
"Aku naik taksi aja kak. Kasian kakak nanti capek. Aku nggak mau ngerepotin". Ucap Kara lembut membuat Baim semakin terlihat syok. Bagaimana tidak? Selama mengenal Kara, tidak pernah adiknya itu sekalipun menolak jika dirinya akan menjemput. Bahkan terkadang Kara lah yang memaksa meminta dijemput oleh dirinya. Tapi apa katanya barusan? Tidak ingin merepotkan?? Ada apa sebenarnya dengan adiknya ini? Baim berperang dengan pikirannya.
"Eh udah bel. Aku masuk dulu kak..kakak hati-hati". Baim yang baru saja membuka mulut tidak sempat mengatakan apapun lagi karena Kara sudah berlari dan melambaikan tangan pada dirinya.
Baim kembali menghela nafas panjang dan kini memijit pangkal hidungnya. Kepalanya tiba-tiba pusing melihat perubahan adiknya yang..sedikit ekstrim menurutnya.
"Astaga..Lengkara". Gumam Baim saat melihat banyak pasang mata menatap penampilan Kara yang terlihat sangat..ah entahlah Baim pusing memikirkan adiknya itu.
"Lo tuh nggak usah aneh-aneh aja udah banyak yang deketin, Ra. Sekarang pakaian lo malah..." Baim tak sanggup meneruskan ucapannya. Ia hanya terus menghela nafas panjang seolah pasokan udara di paru-parunya cepat sekali habis.
Setelah memastikan Kara sudah masuk ke dalam lingkungan sekolah, Baim memutuskan memacu kendaraannya ke kampus, tempat dimana dirinya menimba ilmu.
Hari ini dirinya ada janji dengan dosen pembimbingnya untuk menyerahkan skripsi yang sudah ia kerjakan. Ia harus cepat agar tidak banyak memakan waktu dan siang nanti dirinya bisa menjemput adik nakalnya yang sepertinya perlu diberi sedikit nasehat lagi.
Sepanjang perjalanannya menuju kelas, Kara benar-benar merasa risih dengan tatapan teman-temannya terutama para lelaki. Kara benar-benar merutuki kebod*hannya yang mengikuti saran yang ia baca bersama Nala.
"Oke Ra. Cukup angkat kepala lo, percaya diri. Cukup dengan percaya diri". Gumam Kara menguatkan tekadnya yang hampir rubuh.
__ADS_1
Kaki Kara melangkah cepat, ia ingin segera sampai kelas dan diam disana hingga usai sekolah. Tatapan teman-temannya benar-benar membuatnya tak nyaman. Dan ini adalah karena kesalahannya sendiri.
"Gimana?". Tanya Nala yang sudah lebih dulu sampai disekolah.
"Apanya yang gimana?". Tanya Kara yang sibuk menarik ujung rok dan bajunya.
"Ish!! Kak Baim lah yang gimana liat penampilan baru lo". Nala semakin tak sabar melihat Kara yang masih saja lama menangkap maksud pembicaraannya.
"Ya kaga gimana-gimana. Kayanya emang dia nggak tertarik ama gue deh, La. Di mata dia gue cuma bocah yang berstatus adeknya". Kara menjatuhkan kepalanya diatas meja dengan wajahnya yang terlihat lelah.
"Baru juga nyoba sehari. Udah loyo aja lo".
"Pepet terus lah..ntar juga klepek-klepek kakak Baim lo itu". Kara melirik Nala sekilas kemudian mendengus kesal.
Obrolan unfaedah keduanya terputus saat guru mata pelajaran pertama memasuki kelas mereka. Nala kembali fokus pada pelajaran, sedangkan Kara?? Jelas saja anak itu kembali merebahkan kepalanya diatas meja.
Guru yang melihat hanya bisa menghela nafas dan menggeleng pelan. Di tegur pun percuma, karena meskipun Kara seperti tidak memperhatikan dan sering tertidur di kelas, anak itu selalu bisa menyelesaikan soal yang diberikan guru secara tiba-tiba. Bahkan soal yang sulit sekalipun Kara bisa dengan mudah menyelesaikan.
Karena itulah, meski Kara sering bermasalah dengan siswa lain dan sering tidur di kelas, para guru tidak pernah terlalu menganggap. Karena otak yang Kara miliki benar-benar menjadi aset berharga bagi sekolah itu sendiri.
Sang guru terus melanjutkan mengajar, dan Kara melanjutkan kegiatannya merajut asa dengan pria pujaannya didunia mimpi. Beberapa kali bibirnya mungilnya itu menyunggingkan senyum. Entah sedang bermimpi apa anak nakal itu.
"Ra..Ra.." Kara masih belum membuka mata meski Nala sudah berkali-kali memanggil namanya dan menggoyang lengannya.
"Lengakaraaaaa!!! Santen!!!". Teriak Nala yang sudah kesal pada Kara.
"Apasi lo berisik banget". Sengit Kara dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Astaga...lo beneran tidur???". Tanya Nala tak percaya. Mata Kara terlihat merah seperti orang yang benar-benar bangun tidur.
"Enak banget sih Ra idup lo.." Nala sampai dibuat geleng-geleng kepala.
"Lo apaan si berisik banget sumpah". Kara mengucek matanya yang masih terasa berat.
__ADS_1
"Kantin yuk..udah laper nih". Ajak Nala
"Gue dikelas aja". Nala melongo tak percaya mendengar seorang Lengkara menolak pergi ke kantin.
"Ini beneran Lengkara anaknya om Abi bukan sih???". Kara mencebik kesal ketika Nala menatap wajahnya intens.
"Sejak kapan lo bisa nolak makan??? Lo diet??". Ledek Nala dengan senyum mengejeknya.
"Lo kaga liat ini paha gue kemana-mana???". Tawa Nala akhirnya pecah karena melihat Kara sewot. Ia sudah melihat sejak pagi jika temannya itu begitu tidak nyaman dengan apa yang ia kenakan saat ini.
"Yakin kaga mau ke kantin? Gue traktir deh.." Bujuk Nala membuat Kara semakin kesal.
"Lo liat tampilan gue kaya gini aja baru nawarin traktiran. Emang temen s*tan lo". Nala terbahak melihat wajah Kara memerah lantaran kesal.
"Hahahaha.." Nala masih terus tertawa hingga akhirnya Kara melemparinya dengan sebelah sepatu yang ia pakai.
"Aw.." Pekik Nala saat sepatu Kara mendarat tepat dikeningnya.
"Sin ting lo!! Sakit jidat gue". Omel Nala dan membuat Kara balas menertawainya.
"Emang temen nggak ada akhlak lo". sengit Nala yang justru membuat Kara semakin terpingkal.
"Gue lempar juga nih sebelah sepatu lo!". Ancam Nala memegang sebelah sepatu Kara dan balas melemparnya pada Kara.
"Lama-lama sepatu lo tinggal sebelah semua. Punya hobi kok ngelempar sepatu". Cibir Nala
"Daripada lempar batu sembunyi tangan". Kekeh Kara membuat Nala menatapnya sebal.
"Becandaan lo garing banget". Ketusnya membuat Kara terbahak.
...---^^^---...
Selamat pagi semua..semoga dalam keadaan sehat ya teman-teman semua..
__ADS_1
Makasih dukungannya dan selamat menjalani hari. Semoga dilimpahi berkah dan kebahagiaan🤲
Happy reading readers kesayangan🥰🥰😊