
Satu bulan sudah berlalu sejak Diandra membawa Baim untuk tinggal bersamanya. Dan bu Ratih benar-benar melakukan pekerjaan rumah tangga yang biasa dikerjakan mbok Tun yang kini sudah pulang ke kampung halamannya. Usianya yang semakin tua membuat mbok Tun ingin dekat bersama anak dan cucunya.
Berulang kali mama Dita melarang bu Ratih menghandle semua pekerjaan rumah tangga. Namun wanita yang usianya tak jauh berbeda dengannya itu keukeuh mengerjakan semua hal bahkan dimulai dari sejak sebelum subuh. Ia beralasan jika badannya terasa sakit jika hanya berdiam diri.
Tak ingin membuat bu Ratih tidak nyaman dan pergi, akhirnya mama Dita dan Diandra hanya bisa membiarkan nya melakukan apa yang ingin bu Ratih kerjakan.
Satu minggu pertama bersekolah adalah masa paling sulit bagi Baim. Banyak anak-anak orang kaya yang mengoloknya bahkan mengatakan jika Baim memanfaatkan Gaara untuk bisa bersekolah ditempat elite seperti sekolah mereka.
"Dasar orang kampung. Pasti dia melakukan cara menjijikkan supaya bisa bersekolah".
" Iya. Dia tidak pantas sekolah disini"
"Ya. Apalagi berteman dengan anak seperti Gaara. Sangat tidak level".
Entah dari mana anak berusia 5tahun bisa berkata sebegitu menyakitkannya. Darimana mereka belajar menghina dan mengolok orang lain? Sungguh Diandra tak habis pikir.
Baim hanya bisa diam memendam perasaan sakit yang ia rasakan. Tak ada keluhan sedikitpun dari bibir mungil itu meski setiap hari selalu menjadi bahan ejekan teman-teman disekolahnya.
Hanya menangis diam-diam yang anak itu lakukan. Bahkan dirinya sempat mengatakan pada Diandra jika ia ingin berhenti sekolah, atau pindah ke sekolah biasa saja namun Diandra tak mengijinkan.
Anak-anak nakal itu hanya mengejek Baim saat Gaara tidak ada disampingnya. Mereka melakukan apa yang ingin mereka lakukan pada Baim saat Gaara tidak ada. Karena jika ada, maka mereka akan disemprot habis-habisan oleh Gaara.
Bahkan hingga satu bulan Baim bersekolah disana, anak-anak itu seperti tak ada puasnya menghina Baim. Mereka selalu merasa menang karena Baim tak pernah berani melawan mereka semua.
Berulang kali Diandra bertanya mengapa Baim ingin pindah sekolah. Namun anak itu hanya mengatakan jika ia tidak cocok disana, ia tidak terbiasa dengan lingkungan mewah disekolah Gaara.
Namun Diandra tidak mempercayainya begitu saja. Anak baik dan sopan seperti Baim memang pandai menyembunyikan luka. Diandra tahu jika diam-diam Baim selalu menangis menahan sendiri luka dihatinya akibat mulut-mulut berbisa itu.
" Boleh kan, mama?". Tanya Baim lagi saat malam ini Diandra menemaninya dan Gaara yang hendak tidur.
"Kenapa Baim pengen pindah sayang??". Diandra mengelus kepala Baim. Namun anak angkatnya itu hanya menggeleng pelan.
" Mereka masih gangguin Baim ya?". Gaara yang sudah bisa melafalkan huruf 'r' dengan jelas langsung nimbrung.
"Mereka? Mereka siapa bang? Ada yang gangguin kak Baim??". Baim langsung menggeleng kuat. Ia tak mau lagi merepotkan Diandra dan Abi. Cukup mereka menganggapnya sebagai anak dan menyekolahkannya. Itu sudah lebih dari cukup.
" Bilang sama mama kalau ada yang ganggu kakak". Diandra memanggil Baim kakak, sesuai keinginan anak itu. Karena Gaara sudah abang, maka Baim ingin dipanggil kakak saja kelak oleh anak yang ada didalam kandungan Diandra.
__ADS_1
"Aku nggak apa-apa, ma. Nggak ada yang ganggu aku". Lirih Baim namun Diandra tahu jika anaknya itu berbohong.
" Yasudah kalau begitu..kakak sama abang bobok ya. Besok sekolah..besok mama antar". Keduanya bersorak. Pasalnya sudah satu minggu ini Diandra tidak mnegantar mereka karena perutnya yang semakin membesar.
Abi menyusul Diandra kedalam kamar anak-anak nya karena istrinya tak kunjung keluar dari kamar anaknya.
"Kenapa lama sekali sayang.." Ucap Abi saat memasuki kamar Gaara dan Baim.
"Loh..kok kakak sama abang belum pada bobo ini gimana?". Tanya Abi ikut duduk disisi ranjang yang ditempati Gaara. Karena Diandra sudah duduk disisi ranjang Baim.
" Baim mau pindah sekolah papa. Tapi mama nggak ijinin. Abang juga nggak". Tegas Gaara yang langsung menjelaskan duduk permasalahan.
"Kenapa hm??". Abi mendekat
Gaara tak mau kalah, anak itu bahkan sudah naik keatas ranjang saudaranya dan duduk disampingnya hingga membuat Abi menggeleng.
" Bener-bener ngga mau kalah ini anak". Gumam nya sambil tersenyum melihat kelakuan Gaara.
"Nggak ada apa-apa, pa. Baim baik-baik aja". Diandra dan Abi saling menatap. Mereka tahu Baim berbohong
Diandra dan Abi keluar dari kamar anak-anak nya setelah memberikan kecupan dikening keduanya secara bergantian.
"Kamu yakin dia nggak kenapa-kenapa sayang?". Tanya Abi saat keduanya berada didalam kamar.
" Kamu tahu Baim mas..dia pasti tidak ingin merepotkan kita". Abi mengangguk. Satu bulan mengenal Baim sudah cukup baginya untuk mengetahui bagaimana watak anak angkatnya itu.
"Dia terlalu ingin terlihat tangguh sayang. Usianya terlalu kecil buat dia lewatin semua sendiri". Abi mengelus kepala Diandra yang bersandar didada bidangnya.
" Biar besok aku yang antar ke sekolah mas. Aku penasaran sebenarnya kenapa anak itu. Tadi Gaara bilang kalau ada yang gangguin Baim soalnya". Abi mengangguk, ia tahu istrinya akan melakukan apapun jika menyangkut anak-anak nya. Jadi sekalipun ia larang, Diandra akan tetap ngeyel.
"Asal diantar supir". Kini Diandra yang mengangguk patuh. Toh yang dikatakan Abi juga untuk kebaikannya.
Keesokan harinya, Diandra benar-benar mengantar kedua putranya. Wanita hamil besar itu bahkan tidak langsung pulang dan tetap diarea sekolah.
Ia sengaja melakukannya karena ingin tahu apa yang dialami Baim saat disekolah. Pasalnya, Baim dan Gaara tidak satu kelas. Jadi Gaara tidak tahu seperti apa keadaan Baim jika didalam kelas.
Diandra berjalan masuk kedalam area sekolah saat semua siswa sudah berada didalam kelasnya masing-masing. Dari jendela kelas ia mengintip putranya yang duduk bersama seorang anak perempuan berambut sebahu. Sangat imut, pikir Diandra.
__ADS_1
Namun matanya melebar saat melihat apa yang beberapa anak lakukan pada putranya. Mereka mendorong, mencaci dan menghina putranya yang tak melawan sedikitpun.
Sakit, hati Diandra sakit melihat hal itu. Kakinya hendak melangkah namun ia urungkan saat anak perempuan yang duduk disamping Baim berdiri dan membela putranya, gadis kecil itu bahkan membantu Baim bangkit.
Ia terus memarahi teman-temannya hingga tiga anak laki-laki yang mengganggu Baim pergi begitu saja. Anak perempuan itu juga membantu Baim membersihkan seragamnya yang kotor karena terjatuh ke lantai.
"Mama akan buat perhitungan sama mereka sayang. Kamu jangan khawatir". Gumam Diandra mengepalkan kedua tangannya.
Ia masih disekolah anak-anaknya, menunggu jam istirahat untuk memberi pelajaran pada anak-anak yang sudah mengganggu Baim. Ia melakukan itu karena tahu jika anak-anaknya tidak akan keluar kelas saat istirahat karena ia membawakan bekal untuk keduanya.
" Kalian.." Panggil Diandra tak santai. Pasalnya ia sudah sangat kesal dan marah. Ia bahkan memanggil sekalian para ibu anak-anak itu untuk diberi ceramah.
"Iya mama Gaara.." Ketiganya mendekat dengan takut-takut. Apalagi disana juga ada ibu mereka.
"Kalian ada masalah dengan Baim?". Tanya Diandra langsung membuat anak-anak itu pucat seketika.
" Kenapa kalian mengganggu Baim? Dia mengusik kalian? Membuat kalian tidak nyaman? Atau kenapa?". Ketiganya menggeleng.
"Dia tidak pantas sekolah disini". Cicit salah satu diantaranya membuat Diandra bertambah geram.
" Tidak pantas? Apa maksudnya tidak pantas?!". Tanya Diandra kesal.
"Dia hanya pemulung tante". Yang lain menambahkan.
" Lalu kenapa? Apa masalahnya hah?!". Diandra sudah hampir kehilangan kesabarannya.
"Atas dasar apa kalian menghina anak saya?!". Ketiganya langsung ciut dan menunduk.
" Baim bersekolah disini bukan kalian yang menyekolahkannya. Dia membayar biaya sekolah sama dengan kalian! Dia juga tidak pernah menyinggung dan mengusik kalian! Jadi apa masalahnya?!". Suara Diandra hampir tak terkontrol. Jika tak ingat sedang hamil, sudah ia maki semua anak itu.
" Tante ingatkan pada kalian. Baim adalah anak tante, dia saudaranya Gaara. Jadi perlakukan dia dengan baik atau tante benar-benar tidak akan memaafkan kalian! Mengerti?! ". Tekan Diandra disetiap kalimatnya.
" Dan anda semua. Ajarkan dan didik anak-anak anda dengan benar! Karena saya tidak akan memaafkannya lain kali! Jangan ganggu kedua putra saya jika kalian tidak ingin bermasalah!!". Para ibu hanya mengangguk dan kemudian menunduk.
Diandra tidak menyadari jika ada sepasang mata yang sudah basah karena air mata bahagianya. Tam pernah tebayangkan dalam kehidupan nya akan bertemu malaikat pelindung seperti mama nya itu.
"Mama.."
__ADS_1