Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
sandiwara


__ADS_3

Diandra menaiki lift yang akan membawanya ke lantai tertinggi digedung itu, lantai yang dikhususkan untuk si pemilik perusahaan dan orang-orang kepercayaannya, termasuk asisten pribadinya yang sudah sangat Diandra kenal.


Lift berdenting di angka 12, artinya Diandra sudah sampai dilantai tempat sang suami bekerja. Tangan kirinya menenteng tas berisi makan siang untuk Abi, sementara tas untuk keperluan Gaara ia sampirkan dipundak kanannya.


Dari kejauhan ia melihat seorang wanita yang sudah amat ia kenal, ia adalah sekretaris yang sudah bekerja dengan suaminya sejak suaminya merintis usahanya ini.


"Selamat siang bu.." Tiara, sekretaris Abi membungkuk hormat pada Diandra yang mecebik kesal melihat apa yang Tiara lakukan.


"Ck..nggak usah kaya gitu juga kali kak". Diandra berdecak sebal hingga membuat Tiara tersenyum. Gadis itu masih sama dimata Tiara, gadis manis yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.


" Ya kan nggak sopan Di, masa sama istri bos aku nggak sopan sih". Godanya lagi hingga membuat wajah Diandra semakin merengut.


"Kakak kaya ke siapa aja sih. Kaya baru kenal aja, nyebelin". Sungutnya membuat Tiara semakin tergelak.


" Kakak kangen banget sama kamu Di. Udah setahun lebih, malah hampir dua tahun nggak ketemu kamu.." Tiara memeluk Diandra yang langsung membalas pelukannya.


"Aku juga kangen sama kakak.."


"Ini anaknya Abi??". Ya, Tiara merupakan teman Abi sewaktu SMA dan kuliah, hingga Tiara tak sungkan memanggil nama bosnya tanpa embel-embel pak.


" Iya.." Diandra langsung menatap Gaara yang rupanya terlelap.


"Kok mirip kamu juga ya..gemesin banget ih. Pengen cepet punya jadinya.." Tiara menciumi wajah tampan Gaara hingga membuat bayi itu menggeliat karena merasa tidurnya terganggu.


"Aku doain mudah-mudahan kak Tiara cepet punya momongan deh.."


"Emang aku udah nikah kamu doain gitu?". Tanya Tiara membuat Diandra melirik jari manis Tiara.


" Dari dulu emang jeli banget kamu tuh.." Tiara menjembel pipi Diandra hingga gadis itu mengaduh kesakitan.


"Aku masuk dulu ya kak..nanti kita ngobrol lagi". Tiara mengangguk.

__ADS_1


Bertepatan dengan Diandra akan membuka pintu, pintu ruangan suaminya terbuka dari dalam. Menampakkan seorang wanita dengan rok pendek yang hanya menutupi setengah pahanya serta kemeja yang mencetak jelas tubuhnya itu, bahkan sepertinya sengaja membuka dua kancing teratas kemeja itu agar terlihat menggoda.


Keduanya sama-sama diam untuk sesaat, sampai Diandra tersadar dan tersenyum penuh kepalsuan dihadapan wanita itu.


" Eh..ada mbak Melisa. Selamat siang mbak.." Sapa Diandra pura-pura ramah.


"Siang". Sahut Melisa ketus.


" Abis ngasih laporan sama mas Abi ya mbak". Tatapan Diandra begitu tajam meski nada suaranya sangat lembut.


"Nggak usah sok pengen tahu deh.." Sengit Melisa membuat Diandra bersorak dalam hati. Buat musuhmu terbawa emosi, maka akan dengan mudah membuatnya mengaku tanpa ia sadari.


"Jangan galak-galak mbak..mau gimanapun aku istri bos kamu". Diandra menunjukkan senyuman smirknya hingga membuat Melisa semakin geram.


" Kamu hanya ibu asuh buat anaknya pak Abi. Nggak usah merasa menang". Balas Melisa sengit namun Diandra justru terkekeh.


"Apapun itu, buktinya mas Abi lebih milih aku tuh. Kan kasian yang udah pamer payu dara tapi nggak dilirik". Wajah Melisa memerah, antara malu dan marah yang bercampur jadi satu.


" Jangan banyak-banyak buka kancingnya. Nanti masuk angin". Diandra mengancingkan satu kancing baju milik Melisa dengan senyum mengejek.


"Karna mau dibuka semua pun, mas Abi nggak akan tergoda". Tiara mati-matian menahan tawanya. Ini yang ia suka dari Diandra, tak ada yang bisa mengintimidasinya. Sangat berbeda dengan Deanita yang akan langsung drop jika berhadapan dengan Melisa.


" Dan satu lagi..berhenti main-main dengan uang perusahaan suamiku mbak. Atau aku akan turun tangan dan menghancurkan mbak Melisa". Bisik Diandra yang masih bisa didengar oleh Tiara. Wajah Melisa langsung memucat mendengar apa yang diucapkan Diandra, mana mungkin gadis yang ia benci bisa tahu permainannya.


"A-apa maksudmu?!". Melisa tergagap membuat Diandra tersenyum sinis.


" Sayang..kemana aja sih? Resepsionis bawah bilang kamu udah dateng dari tadi..kenapa baru sampai". Obrolan keduanya terpotong dengan kedatangan Abi yang langsung mencium mesra kening Diandra.


Ingin Diandra menempeleng kepala Abi, namun ia urungkan. Membuat lawannya yang jelas tertarik dengan suaminya itu cemburu jelas menambah poin untuknya.


"Maaf mas..tadi ketemu temen lama. Terus barusan ngobrol dulu sama mbak Melisa.."

__ADS_1


"Iya kan mbak??". Diandra bersikap amat mesra dan manja pada Abi. Jika boleh, Abi ingin menghentikan waktu dan menikmati semua sikap manja dan mesranya Diandra yang tak akan ia dapatkan jika hanya berdua.


Tiara yang tahu pasti seperti apa hubungan rumah tangga Abi dan Diandra hanya mengulum senyum melihat kelakuan Diandra yang sengaja menyiramkan bensin pada kobaran Abi. Terlihat jelas jika Melisa sangat cemburu dan tidak suka dengan interaksi keduanya.


" Kamu emang beda Di..terlalu cerdas untuk jadi lawan Melisa". Batin Tiara puas.


"Saya permisi pak.." Tanpa menghiraukan suara Diandra yang memanggilnya, Melisa memilih pergi meninggalkan ruangan atasannya.


Hati dan matanya tak kuasa melihat perlakuan mesra Abi yang mencium kening istrinya dan merangkul mesra pinggang ramping Diandra.


"Lepas". Ketus Diandra setelah Melisa menghilang ditelan lift. Diandra yakin jika Tiara sudah tahu hubungan palsunya dengan Abi, maka sebab itu Diandra tak menutupi sikap judesnya jika dihadapan Tiara.


" Kenapa dilepas sayang??". Abi semakin senang menggoda Diandra yang berwajah galak.


"Sayang-sayang gundulmu! Lepas nggak?!".


" Galak banget sih istri aku.." Abi justru semakin memeluk tubuh Diandra hingga membuat gadis itu semakin jengkel.


"Dasar mesum!!!". Diandra mengatakannya sambil mendaratkan kakinya tepat diatas kaki Abi yang langsung meringis kesakitan.


Diandra lantas menyambar tas bekal dan tas milik Gaara sebelum berlalu dan masuk kedalam ruangan Abi tanpa memperdulikan Abi yang masih sibuk mengelus kakinya.


" Hahahaha...rasain". Ejek Tiara membuat Abi mencebik.


"Dasar sekretaris kurangajar. Untung aku baik, kalo enggak udah aku pecat". Kesal Abi yang justru ditanggapi Tiara dengan tawa.


" Coba aja cari sekretaris yang kaya aku. Mana ada sekretaris yang betah kerja sama kamu". Balas Tiara telak


"Ya..ya..kamu benar". Abi lantas menyusul Diandra yang sudah lebih dulu masuk kedalam ruangannya, meninggalkan Tiara yang masih tertawa didepan ruangannya.


" Kamu dapat lawan sepadan sekarang Mel..aku yakin kali ini kamu bakal bener-bener kalah". Gumam Tiara menatap pintu ruangan Abi yang tertutup.

__ADS_1


"Kakak harap kamu secepatnya menemukan kebahagiaan kamu lagi Di..kakak tahu kamu wanita hebat dan kuat". Tiara kembali ke meja nya dan kembali fokus dengan beberapa dokumen yang harus ia siapkan untuk diperiksa Abi.


__ADS_2