
Nala turun dari mobil sang kakak. Seperti yang sudah-sudah, kedatangannya ke kampus dengan diantar oleh pria tampan itu berhasil membuatnya menjadi fokus perhatian teman-temannya.
Apalagi saat melihat Nala mencium punggung tangan Zayn dan Zayn yang mencium kening Nala dengan lembut membuat teman-teman Nala berasumsi jika memang benar Zayn adalah calon suami gadis itu.
Nala melangkahkan kakinya masuk ke dalam kampus tanpa menghiraukan bisikan-bisikan dari teman-teman ataupun seniornya di kampus. Hingga sebuah tepukan lembut di pundak, membuat langkahnya terhenti.
"Yaelah, La. Kamu jahil banget sih.." Nala menoleh, kemudian tersenyum tipis mendapati gadis yang menjadi temannya sejak setahun belakangan sudah merangkulnya.
"Jahil kenapa?". Tanya Nala berpura-pura tak tahu hingga membuat gadis yang masih merangkul Nala mencebikkan bibirnya.
"Itu liat, kamu bikin patah hati banyak orang tau". Nala mengikuti arah pandang temannya. Dan benar saja, banyak mahasiswa yang menatap dirinya.
"Emang aku ngapain sih Jen??". Gadis yang Nala panggil Jen kembali mencebik.
Ya, karena sepertinya memang hanya gadis itu yang tahu jika lelaki tampan yang sering mengantarkan Nala itu adalah kakak tertua Nala.
"Aku sih penasaran, La. Gimana reaksi mereka kalo tahu mas Zayn itu kakak kamu". Jen terkikik geli ketika membayangkan akan seperti apa wajah teman-temannya saat mengetahui kenyataannya.
Sejak awal kepindahannya, Nala memang sudah mencuri perhatian banyak lelaki. Banyak pria yang berusaha mendekatinya, namun Nala tidak sedikitpun meresponnya.
Namun belakangan, banyak pria yang memilih mundur. Apalagi belakangan ini Nala sering diantarkan oleh Zayn yang menurut desas desus adalah calon suami Nala. Membuat beberapa pria memilih mundur karena melihat Zayn yang tampan dan juga mapan.
"Kamu nggak tertarik sama salah satu dari temen kita gitu, La?". Tanya Jen membuat Nala langsung menggeleng.
"Gimana aku bisa tertarik sama laki-laki lain, kalau hati aku masih dimiliki sama pria menyebalkan itu". Batin Nala yang kembali teringat Gaara.
Sungguh ia sudah berusaha melupakan Gaara, namun apalah dayanya. Ia benar-benar tak bisa menghapus bayangan wajah Gaara yang selalu berhasil mengganggu tidur nyenyaknya.
"Hah..percuma wajah kamu cantik, La. Nggak punya pacar". Ledek Jen membuat Nala terkekeh.
"Punya pacar cuma bikin pusing, Jen. Aku sih mau langsung nikah aja kalo ketemu yang cocok". Balas Nala membuat Jen kembali mencebik. Selalu seperti itu jawaban Nala jika Jen membicarakan soal pacar.
Keduanya terus berjalan menuju kelas mereka pagi ini sambil terus berbincang diselingi canda tawa. Hanya Jen teman baik Nala, karena menurut Nala, Jen sangat pengertian meski kadang mulutnya sangat pedas.
.
__ADS_1
.
"Bagaimana?". Gaara yang duduk dikursinya bertanya tanpa menatap pada orang yang sedang dia ajak berbicara.
"Maaf pak. Nihil". Nick, sang asisten yang kini sudah tidak lagi merangkap sebagai sekretaris menundukkan wajahnya.
"Sudah satu tahun Nick. Sebenarnya kamu itu mencarinya atau tidak?". Tanya Gaara dengan suara rendah, namun berhasil membuat Nick kesulitan hanya untuk menelan ludahnya.
"Nggak akan ketemu bang, mau dicari kemana juga". Gaara menghela nafas mendengar suara yang teramat sangat ia kenali itu.
Entah bagaimana gadis itu bisa selalu ada dikantornya disaat ia sedang membahas sesuatu yang sebenarnya Gaara ingin gadis itu tak tahu.
"Kamu ngapain lagi sih dek?". Tanya Gaara pada gadis yang tak lain adalah Kara.
Jika ditanyakan mengapa panggilan mereka berubah..maka jawabannya adalah titah tak terbantahkan dari pemilik kasta tertinggi rumah tangga, yaitu mama.
"Ngapain lagi? Liatin robot dong.." Nick mengernyitkan dahinya. Matanya menatap sekeliling mencari keberadaan robot yang dicari oleh adik dari bos nya itu.
"Kamu nggak liat robotnya, Nick?". Tanya Kara dan dijawab gelengan kepala oleh Nick.
"Memang disini ada robot, nona?". Tanya Nick membuat Kara tertawa lepas.
"Astaga Nick. Robot itu ada dihadapanmu saat ini". Kara melirik Gaara yang sudah berwajah masam. Sementara Nick yang baru tersadar jika robot yang dimaksud Kara adalah Gaara, berusaha menahan tawanya.
"Lengkara?". Kara yang tengah menertawakan sang kakak segera berbalik. Menatap lelaki paruh baya yang tak lain adalah ayah kandung dari Gaara.
"Ayah.." Kara langsung menghambur kedalam pelukan Abram.
"Kamu dari kapan? Terus ada apa? Tumben pagi-pagi". Kara melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Abram.
"Disuruh mama liatin manusia kutub ayah kerja". Ucap Kara lantang hingga membuat Nick semakin melipat bibirnya karena menahan tawanya.
"Dia bukan manusia kutub, Ra. Bukankah mirip kanebo kering? Sangat kaku". Tawa Kara meledak mendengar ucapan Abram.
Bukan Abram tak tahu tujuan Kara. Bahkan Abram lah yang meminta Kara dan Diandra setiap hari melihat Gaara. Ia khawatir dengan kondisi putranya pasca ditinggalkan Nala pergi.
__ADS_1
Anak lelakinya itu jadi gila kerja dan bahkan jarang pulang kerumahnya ataupun rumah Abi. Dan Abram sangat mengkhawatirkan putranya itu.
"Keluarlah Nick. Aku tau kau ingin tertawa". Nick langsung memasang tampang datarnya saat ternyata Gaara menyadari jika dirinya sejak tadi mencoba menahan tawa.
"Saya permisi pak.." Nick menundukkan sedikit kepalanya pada Gaara, lalu pada Abram dan Kara. Setelahnya ia bergegas keluar ruangan karena tidak lagi bisa menahan bibirnya agar tidak melengkung ke atas.
"Abang mendingan liburan deh.." Saran Kara yang sudah melihat Gaara kembali sibuk dengan pekerjaannya.
"Benar kata Kara, nak. Lebih baik kamu istirahat". Timpal Abram.
"Abang tu butuh refreshing. Jangan kerja mulu kaya robot". Sungut Kara membuat Abram terkekeh.
"Dengerin tuh adik kamu". Imbuh Abram membuat Gaara menggeleng pelan.
"Ini tu hiburan buat aku, yah".
"Dasar laki-laki payah". Cibir Kara membuat Gaara melotot.
"Kalo suka kan harusnya diperjuangin ya yah. Ini dia diem aja tapi galau". Sindir Kara yang langsung didukung Abram.
"Iya bener. Abang kamu ngeyelnya setengah idup".
"Terus setengahnya apa yah?". Tanya Kara
"Setengahnya ogah-ogahan. Disuruh idup susah, disuruh mati juga nggak mau". Kara kembali tertawa mendengar ucapan Abram.
Gaara menghela nafas panjang. Menatap dua orang didepannya yang asyik tertawa. Mereka tidak tahu saja jika selama satu tahun ini, Gaara sudah berusaha mencari dan melacak keberadaan Nala. Namun semua usahanya belum juga membuahkan hasil.
"Aku berharap bisa nemuin kamu, La. Setidaknya untuk meminta maaf atas segala sikap dan perbuatanku selama ini ke kamu". Batin Gaara menatap layar ponselnya yang entah sejak kapan berhiaskan wajah tersenyum Nala.
Gaara larut dengan pikirannya tentang Nala hingga tidak mempedulikan semua ucapan Kara dan Abram yang sejak tadi terus menceramahinya. Pikirannya kini hanya terfokus pada Nala dan cara menemukan gadis itu.
...•••€€€•••...
Segini dulu ya..besok-besok lagi deh ya..
__ADS_1
Semoga suka ya semuaaa🙏🏻