Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
adik untuk Gaara


__ADS_3

Semua orang kini menatap dokter yang menangani Diandra dengan penuh tanya. Sementara Gaara sudah merebahkan tubuhnya diatas brangkar sang mama dan memeluknya dari samping.


"Ha-hamil? Istri saya hamil?". Tanya Abi menatap sang dokter.


" Iya..selamat pak Abi. Istri anda sedang mengandung anak kedua anda". Mata Abi tampak berkaca-kaca, sedangkan Diandra yang hanya bisa mendengarkan karena terus menutup mata sudah menangis.


"Tapi kenapa istri saya pingsan dok? Kenapa masih pusing juga sekarang?". Tanya Abi yang menggenggam tangan Diandra.


" Di usia kehamilan muda seperti saat ini, wajar kalau ibu hamil sedikit pusing dan mual pak. Bapak tenang saja, semua dalam kondisi sehat. Baik ibu maupun janinnya semua sehat pak". Jelas dokter menenangkan Abi yang tampak khawatir.


"Saat ini kehamilan bu Diandra memasuki usia 8minggu, dan kondisi janinnya sangat sehat. Saya sudah resepkan obat untuk bu Diandra. Dan untuk beberapa hari ke depan, saya menyarankan bu Diandra untuk rawat inap saja. Sekaligus kami akan memantau perkembangan ibu dan janinnya". Abi langsung mengangguk dan berterimakasih pada dokter.


" Kalau begitu, saya permisi dulu. Bapak atau ibu bisa memencet tombol sebelah sini kalau membutuhkan sesuatu". Abi kembali mengangguk dan kembali duduk disamping ranjang Diandra.


"Mbak..kita mau punya cucu lagi". Mama Dita sudah berpelukan dengan mama Ana. Sementara papa Herman dan papa Ihsan hanya bisa tersenyum bahagia.


" Sayang kamu hamil. Gaara akan memiliki adik sayang" Abi sudah menciumi wajah istrinya penuh haru. Penantiannya selama bertahun-tahun akhirnya terwujud.


"Papa awas. Ndak boleh!!". Gaara mendorong wajah Abi yang terus menciumi mama nya. Masih saja tak terima jika Abi menyentuh sang mama.


" Abang jadi pengen punya adik nggak?". Tanya Abi dan dijawab anggukan kepala oleh Gaara.


"Abang mau adik". Beo Gaara semangat. Anak berusia 4tahun itu sudah satu tahun belakangan ini merengek meminta adik pada sang mama.


" Sekarang diperut mama ada adiknya abang". Jelas Abi mengelus perut Diandra yang masih rata.


"Benelan mama??". Tanya Gaara yang meragukan ucapan sang ayah.


" Abang nggak percaya emangnya sama papa?". Abi hanya mendengus melihat bagaimana putranya meragukan informasi dari dirinya.

__ADS_1


"Mama.." Rupanya terlalu sering diganggu, membuat Gaara meragukan apapun yang dikatakan sang papa.


" Iya sayang..disini ( Diandra membawa tangan mungil Gaara mengelus perutnya ) ada adiknya abang. Abang seneng? ". Tanya Diandra


" Seneng mama..tapi kenapa adiknya dipelut mama?". Tanya Gaara sambil menatap perut sang mama. Perlahan Diandra membuka matanya. Rasa pusingnya sudah berkurang. Ia ingin melihat wajah bahagia suami dan anaknya serta orang tuanya.


"Adiknya abang masih keciiiil banget..jadi sekarang sembunyi dulu diperut mama. Nanti kalo sudah agak besar, baru adiknya ketemu sama abang". Jelas Diandra yang melihat wajah bingung Abi.


" Abang mau adik pelempuan". Seru Gaara tiba-tiba.


"Kenapa mau adik perempuan?". Tanya Abi, pasalnya selama ini Gaara tidak pernah menyebut jenis k*lamin apa jika nanti memiliki adik.


" Bial abang bisa jagain adik". Ucapnya sok dewasa membuat Abi gemas dan mengusak rambut anaknya itu.


"Abang..mau adiknya laki-laki atau perempuan, abang harus sayang sama adik ya..kan semua sama aja sayang". Diandra mencoba memberi pengertian, ia tidak mau Gaara terlalu kecewa dan tidak menerima adiknya jika nanti anak yang ia lahirkan juga seorang laki-laki.


" Halo adik..kamu lagi apa?". Gaara menempelkan telinga nya diperut rata sang mama.


"Adik lagi bobo, abang". Jawab Diandra dengan menirukan suara anak kecil hingga membuat Gaara tertawa dibuatnya.


Suasana kamar rawat Diandra terasa begitu hangat. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajah-wajah orang didalamnya. Mama Ana dan mama Dita bahkan menawarkan segala jenis makanan untuk Diandra, namun Diandra menggeleng karen memang sedang tidak ingin apapun.


Diandra tak lupa membagikan kabar bahagia ini pada Naya dan Dimas, sahabatnya. Pun dengan Panca yang kebetulan menelponnya karena merindukan Gaara. Ucapan selamat dan doa tulus diberikan oleh para sahabatnya.


Selama dua hari ini, Diandra benar-benar istirahat dirumah sakit atas paksaan sang suami dan ibu serta ibu mertuanya. Selama dua hari itu pula, Abi memilih absen ke kantor dan menemani istrinya dirumah sakit.


Sementara Gaara, anak itu bahkan tidak pulang ke rumah selama sang mama dirawat. Setiap pulang sekolah, Gaara akan langsung ke rumah sakit. Pun untuk tidur, anak itu memilih tidur disamping sang mama di rumah sakit.


" Tos dulu jagoan papa". Dua hari ini Abi bertugas mengantar dan menjemput putranya. Kehadirannya yang cukup mencolok membuat para ibu yang mengantar buah hatinya sering mencuri pandang bahkan mencoba mencari perhatian Abi. Namun jelas hasil yang mereka dapatkan hanya angin lalu saja.

__ADS_1


"Belajar yang pinter ya, anak papa. Nanti siang papa jemput, oke". Abi mengepalkan tangannya dan menyodorkan didepan Gaara dan langsung dibalas dengan saling beradu tinju dengan sang papa.


" Oke, papa. Assalamualaikum ". Ucap Gaara setelah mencium punggung tangan Abi.


" Wa'alaikumsalam ". Abi membalas lambaian tangan Gaara dan tersenyum. Senyum yang berhasil membuat beberapa ibu menjerit tertahan.


Selesai dengan urusan antar mengantar, Abi kembali ke rumah sakit untuk menemani istrinya. Biasanya pagi hari begini Alvin sudah menunggunya dikamar rawat Diandra untuk membawa berkas yang perlu ia periksa dan tanda tangani.


Saat Abi sampai, ia sedikit terkejut melihat dokter dan beberapa perawat ada didalam kamar istrinya. Sedikit banyak ia khawatir jika terjadi sesuatu dengan istri ddan calon anaknya, pasalnya pagi tadi dokter sudah visit ke kamar istrinya.


" Ada apa dok? Apa ada masalah dengan istri saya?". Tanya Abi beruntun membuat Diandra tersenyum


"Tidak ada..hanya saja tadi bu Diandra terlalu banyak bergerak sepertinya, darah masuk kedalam selang infus. Kami hanya memperbaiki. Bapak tidak perlu khawatir". Jelas dokter ramah.


" Dan siang nanti, bu Diandra sudah diijinkan pulang. Silahkan selesaikan administrasinya dahulu". Abi mengangguk menjawab perintah dokter. Ia bersyukur istrinya sudah diperbolehkan pulang.


" Huft..syukurlah". Abi langsung menghela nafas lega mendengar penjelasan dokter.


"Aku cuma mau ke kamar mandi mas". Jelas Diandra saat Abi menatapnya.


"Kenapa nggak minta tolong suster, sayang". Diandra hanya nyengir. Ia sebenarnya kesal karena diperlakukan seperti orang sakit.


" Aku hamil mas, bukan sakit". Gerutu Diandra pada akhirnya setelah para medis pamit undur diri.


"Berantemnya ntar lagi. Nih dokumen periksa dulu. Gue mau ke kantor". Sebelum Abi dan Diandra berdebat seperti hari-hari sebelumnya, Alvin segera menengahinya.


" Ganggu aja". Sungut Abi membuat Alvin melotot.


"Lah dasar bos gelo". Umpat Alvin membuat Diandra terkekeh pelan melihat perdebatan Abi dan Alvin.

__ADS_1


__ADS_2