
"Abang becanda La..kok ngambek beneran sih". Saat ini Gaara tengah berada didepan kamar Nala yang tertutup rapat dengan pintu terkunci sempurna.
Malu bercampur kesal membuat Nala meninggalkan Gaara seorang diri dan memilih mengurung dirinya didalam kamar.
"La...buka pintu nya dong". Gaara mengetuk pintu kamar Nala berulang kali.
"Abang mau pulang nih.."
Gaara menghela nafas panjang, mungkin tadi dirinya memang keterlaluan. Tidak seharusnya ia menggoda Nala seperti tadi. Tapi dirinya juga hanya ingin menjaga agar tidak terjadi hal-hal diluar kuasanya.
"Abang kan cuma nggak mau terjadi hal yang abang inginkan. Eh, nggak diinginkan maksudnya". Ralat Gaara yang masih berusaha membujuk Nala. Namun sepertinya kekesalan Nala sudah memuncak.
Sementara didalam kamar, Nala menyembunyikan seluruh tubuhnya di balik selimut tebal.
"Mau ditaruh dimana ini muka aku. Abang bener-bener keterlaluan. Awas aja besok-besok kalo mau cium nggak akan bisa". Bibir Nala terus menggerutu.
Nala membuka selimutnya saat mendengar Gaara pamit untuk pulang. Baguslah, ia tidak perlu bersembunyi lagi jika lelaki itu pulang.
Nala turun dari ranjang, melihat keluar jendela kamarnya untuk memastikan Gaara benar-benar pulang. Dan benar, Gaara pergi dengan mobil yang dikemudikan Nick. Entah sejak kapan asisten durjana itu kembali.
Nala menghela nafas lega karena Gaara pergi. Dan nanti, ia akan menghukum kakak dan sahabatnya jika keduanya kembali. Bisa-bisanya meninggalkan dirinya berdua bersama Gaara.
---
Keesokan paginya, Nala sudah kembali beraktivitas. Pergi kuliah seperti biasa. Kini dirinya sedikit lega karena grup WA kampusnya sudah tidak lagi membahas dirinya.
"Dorrr!!". Nala tersentak saat seseorang menepuk pundaknya tiba-tiba.
"Jeeennn..." Geram Nala yang masih merasa jantungnya berdetak cepat karena ulah Jen.
"Hihi..maaf deh. Abisan ngelamun mulu sih. Mikirin apa lagi sih?", Tanya Jen yang melihat Nala berjalan sambil melamun.
"Nggak ada. Aneh aja, kemaren kan abis dibully abis-abisan. Sekarang mereka nggak berani bahkan buat bertatap mata sama aku". Nala melirik sekelilingnya, tak ada yang berani menatap Nala. Berbisik pun tidak.
"Ya bagus dong.." Ucap Jen yang ikut mengawasi situasi sekitar.
"Mbak Nala..." Anala dan Jen kompak berhenti saat mendengar suara seorang memanggil Nala.
Nala berbalik, pun dengan Jen. Mereka melihat Nick yang berdiri didepan mereka kini.
"Nick? Ada apa?". Nala mengedarkan pandangannya seolah mencari sesuatu.
"Saya nggak sama bos mbak. Nggak usah dicari". Jen melipat bibirnya menahan senyum. Sedangkan Nala nampak salah tingkah karena Nick yang dengan mudahnya mengetahui apa yang ia cari.
__ADS_1
"Aku juga nggak nyariin bos kamu". Nala mendengus kesal karena Jen terus tersenyum, membuatnya semakin malu.
"Kamu ngapain kesini?", Tanya Nala lagi untuk mengalihkan pembicaraan. Melihat Nick membuatnya memiliki firasat tak baik.
"Saya ada perlu sebentar. Boleh bicara sebentar mbak?". Nala menatap Jen namun calon kakak iparnya itu mengendikkan bahu seolah mengatakan terserah pada Nala.
"Mau ngomong apa?". Tanya Nala lagi
"Mari mbak.." Nala kembali menatap Jen. Jen memberi kode agar Nala ikut dengan Nick.
"Jangan lama. Aku bentar lagi ada kelas". Nick mengangguk dan berbalik, berjalan lebih dulu kemudian diikuti Nala dibelakangnya.
"Aku tinggal dulu Jen". Pamit Nala dijawab anggukan kepala oleh Jen.
Keduanya berhenti ditaman yang ada disamping gedung. Nala duduk sementara Nick tetap seperti patung, berdiri kaku.
"Ada apa?". Nala membuka suara karena Nick tetap diam.
"Mbak Nala harus pindah kampus". Nala mengernyitkan dahinya. Belum faham dengan maksud ucapan Nick.
"Saya yang akan mengurus semuanya. Mbak bisa balik ke kampus yang dulu. Kampusnya mbak Kara juga". Nala semakin tidak paham. Mengapa dirinya harus pindah kampus lagi? Pikirnya.
"Maksudnya gimana sih?". Tanya Nala ingin memperjelas.
"Memangnya kenapa?? Aku sudah nyaman disini". Bukan tanpa alasan, Nala malas harus berpindah-pindah kampus. Terlalu melelahkan mengurus segala sesuatunya.
"Saya yang akan mengurusnya mbak". Nala memutar bola matanya jengah. Ia yakin lelaki didepannya bisa dengan mudah mengurus semuanya. Namun dirinya enggan berpindah lagi.
"Kenapa aku harus pindah. Lagian siapa kamu nyuruh-nyuruh aku pindah". Ketus Nala
"Saya asistennya pak Gaara, mbak", Gemas sekali Nala rasanya mendengar jawaban Nick. Nggak usah dikasih tau juga, Nala tahu kalo manusia kaku dan menyebalkan itu asistennya Gaara. Laki-laki yang sama menyebalkannya seperti Nick.
"Kamu disuruh sama abang?". Tanya Nala curiga. Namun Nick menggeleng.
"Terus?". Nala semakin mendesak.
"Inisiatif saya aja mbak". Nala bengong. Apa katanya?? Inisiatif katanya?
"Saya capek mbak diajak bolak balik ke kota ini. Pasti alesannya meeting sama klien, tapi ujung-ujungnya saya disuruh buntutin si bos nemuin mbak Nala. Jadi mending mbak Nala aja yang pindah kampus. Biar si bos kalo mau nyamperin mbak Nala nggak usah bawa-bawa saya". Keluh Nick yang membuat Nala semakin melongo.
Kasian amat sih kamu Nick. Punya bos kaga ada akhlaknya emang susah ya Nick. Ck ck ck..
"Kenapa aku harus mau. Aku nggak ada urusan sama bos kamu itu. Kalo dia mau bolak balik kesini ya itu nasib kamu Nick".
__ADS_1
"Udah ah, mau masuk". Nala bangkit hendak berjalan meninggalkan Nick.
"Kalo mbak Nala nggak mau, saya jamin dan saya pastikan mbak Nala dibawa paksa buat dinikahin sama bos". Nala menghentikan langkahnya. Firasatnya semakin tak enak saja.
"Apa maksudmu Nick? Jangan ngancem aku ya. Nggak mempan". Cebik Nala
"Saya juga nggak suka ngancem mbak. Tapi saya capek. Sekali-sekali ngancem calon istri bos nggak apa-apa kan mbak?". Nick tetap berbicara dengan wajah datar tanpa ekspresi hingga membuat Nala gemas.
"Siap juga yang calon istri bos kamu. Udah deh, saya keburu telat masuk kelas".
"Kalo ini saya kasih ke orang tua mbak Nala sama si bos kira-kira disuruh nikah enggak ya mbak?". Nala kembali menghentikan gerakannya. Hatinya semakin terasa tak tenang saja. Nick sama seperti Gaara, sama gila nya dan nekatnya jika memiliki kemauan.
Perlahan Nala memutar tubuhnya. Dan benar saja, apa yang Nick tunjukkan dilayar ponselnya berhasil membuat tubuh Nala menegang.
"Apalagi kalo yang ini ya mbak.." Wajah Nala semakin pucat saja saat Nick memutar sebuah video.
Nick tersenyum kaku, masih dengan wajahnya yang datar saat Nala menatapnya tajam. Benar-benar sangat menyebalkan.
Nala kembali menatap layar ponsel Nick. Tunggu...itu adalah hari kemarin. Dan kemarin tidak ada orang lain selain ia dan Gaara. Kapan asisten koplak itu mengambil foto dan video?
"Gimana mbak?". Nala tersadar, menatap Nick yang tengah menanti jawabannya.
"K-kamu..."
"Nggak usah berterima kasih mbak. Saya ikhlas kok.." Ingin sekali Nala melepas sepatunya dan melemparkannya ke wajah lelaki kaku didepannya ini.
"Saya akan segera mengurus kepindahan mbak Nala. Mbak Nala tinggal pamit ke pak Zayn saja".
"Saya permisi mbak Nala. Sampai bertemu lagi di kota J". Nala masih mematung bahkan saat Nick sudah melangkah pergi.
"Gimana bisa?". Gumam Nala yang terduduk dikursi. Ia masih tak menyangka Nick melakukan semua ini hanya dengan alasan lelah mengikuti bos nya.
"NICK!!!!! Dasar asisten durjana nggak ada akhlak!!!!". Teriak Nala kesal
Nick yang belum terlalu jauh hanya tersenyum mendengar umpatan dari gadis yang ia yakini akan menjadi istri bosnya itu.
"Sorry aja mbak. Saya udah capek ngikutin orang bucin bolak-balik bikin badan saya mau rontok". Gumam Nick sambil terus melangkah riang.
...¥¥¥••••¥¥¥...
Nah loh kan aku kebablasan nulisnya. Jadi double up kan😅
Bener-bener si Nick. Bener kata si Nala, emang asisten durjana kaga ada akhlak sih ya si Nick😂😂😂
__ADS_1