
Setelah kejadian di kantor beberapa waktu lalu, Diandra mencoba berdamai dengan keadaan. Tidak lagi mengacuhkan Abi meski masih sering memasang wajah judes.
Namun belum ada perubahan berarti dalam keseharian keduanya. Keduanya masih tidur ditempat terpisah sama seperti sebelumnya.
"Aku hanya berdamai dengan keadaan. Tidak ada yang berubah dalam perjanjian kita mas. Kamu harus tetap menjaga jarak". Segala asa yang Abi miliki dihempas Diandra dengan sepenggal kalimat menohok itu.
Abi kira perubahan Diandra yang sudah memanggil dirinya dengan panggilan 'mas' seperti dulu sudah menjadi titik balik hubungan keduanya. Namun rupanya Abi terlalu percaya diri menganggap Diandra nya telah kembali. Nyatanya sikap Diandra masih saja kaku padanya.
Namun Abi tak akan pernah menyerah untuk mendapatkan hati Diandra seperti dulu.
Jika kalian berpikir Diandra sudah tenang dalam menjalani kesehariannya, maka itu salah besar. Setiap saat setiap malam pikirannya selalu dibayangi pertanyaan seputar mengapa kakaknya dan lelaki yang ia cintai bisa menusuknya dari belakang.
Namun ego nya terlalu tinggi untuk sekedar bertanya pada orang-orang yang jelas tahu bagaimana kebenaran kisahnya. Ia selalu dihantui perasaan takut jika nantinya orang-orang disekelilingnya kembali membodohinya dengan cerita palsu. Namun dirinya juga begitu ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi.
Diandra sedang melamun dibalkon kamarnya setelah menidurkan putranya saat mama Dita masuk kedalam kamarnya. Entah apa yang mengganggu pikirannya malam itu hingga kehadiran mama Dita tidak ia sadari.
Mama Dita diam terpaku menatap punggung putrinya. Putri yang dulu begitu manja padanya dan suaminya itu kini benar-benar berubah menjadi gadis keras yang sangat kaku. Tak ada lagi sapaan lembut dan senyum ceria anak gadisnya itu yang dulu selalu mengisi hari-harinya.
Perasaan bersalahnya pun tak kalah besar dari anak sulungnya serta menantunya. Ia merasa ikut andil menggores luka hati putri bungsu nya itu hingga menjadi gadis keras seperti yang tengah ia pandangi saat ini.
"Sayang.." Panggil mama Dita namun Diandra masih asik dengan dunianya sendiri.
"Diandra?". Ulang mama Dita namun tetap tak ada respon.
" Nak.." Mama Dita memberanikan diri menepuk lembut pundak Diandra.
Siang tadi, dirinya dan sang suami serta kedua besannya baru saja kembali dari luar kota. Sebenarnya mereka sudah bisa kembali beberapa hari lalu, namun dengan alasan mendekatkan Abi dan Diandra, mereka menunda kepulangannya.
Diandra yang tengah asik dengan lamunannya dikejutkan dengan sebuah tepukan lembut dipundaknya. Ia segera menoleh dan mendapati senyum lembut wanita paruh baya yang telah berjasa melahirkannya didunia ini.
Betapa rindunya Diandra dengan belaian dan pelukan lembut sang mama. Namun mengapa semua kerinduan itu tidak mampu mengikis perasaan kecewanya. Mengapa ia tidak bisa melupakan semua kesalahan orang-orang itu dan menjalani hidupnya seperti dulu lagi? Mengapa?
Diandra selalu bertanya hal itu pada dirinya sendiri. Apakah sebegitu egoisnya kah ia? Hingga hatinya tak bisa melunak dan memaafkan kesalahan kedua orang tuanya dan lelaki yang ia cintai itu.
"Kita makan yuk..mama udah masakin makanan kesukaan kamu". Senyum tulus mama Dita berikan pada putri cantiknya itu.
" Mama duluan aja". Sahut Diandra datar.
__ADS_1
"Kita bareng ya..udah lama nggak makan bareng kan?". Bujuk mama Dita dengan senyum yang tak pudar meski mendapat perlakuan dingin dari putrinya.
" Toh Gaara juga udah tidur sayang". Bujuknya lagi
Diandra diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan. Tidak ada salahnya makan bersama, toh selama ia menjadi istri Abi juga sudah beberapa kali mereka makan bersama-sama.
Senyum mama Dita semakin lebar saat Diandra mau makan bersama dengan dirinya dan keluarga yang lain.
Senyum kebahagiaan tidak dapat ditutupi oleh anggota keluarga yang lain saat ternyata Diandra ikut turun bersama mama Dita.
"Sini sayang duduk.." Mama Ana yang sudah lebih dulu ada di meja makan segera menarik kursi disebelahnya untuk Diandra.
Makan malam Diandra malam ini dirinya duduk diapit oleh ibu dan ibu mertuanya. Piringnya yang masih terisi terus ditambah oleh dua wanita yang menyayanginya itu.
"Udah ma..cukup. Sayang kalo nggak abis". Cegah Diandra saat melihat mama Ana kembali menyendok sayur untuknya.
" Kamu harus banyak makan nak..pasti capek jagain Gaara seharian kan.." Diandra tetap menggeleng meski dipaksa menambah makannya.
Pikirannya seolah tidak fokus pada makanan dihadapannya saat ini. Karena beberapa hari ini Diandra merasa ada orang yang mengikuti dirinya setiap kali keluar rumah. Bahkan disekitar rumah pun Diandra merasa ada yang mengawasinya.
" Ya? Apa?". Tanya Diandra kebingungan karena sedari tadi fikirannya tidak fokus.
"Kamu gapapa? Daritadi kamu ngelamun terus Di.." Abi bertanya dengan khawatir.
"Hah? Enggak..nggak ada apa-apa mas".
" Aku..aku capek. Mau istirahat dulu ya. Malam semua". Diandra segera meninggalkan meja makan dan pergi ke kamarnya.
"Kalian bertengkar lagi? Kamu apain lagi istri kamu hm?". Cecar mama Ana pada sang putra yang kini terlihat bingung. Pasalnya siang tadi Diandra terlihat baik-baik saja.
" Enggak ma..aku nggak ngapa-ngapain Diandra. Sumpah". Abi menunjukkan kedua jarinya yang membentuk huruf v untuk meyakinkan ibunya.
"Mungkin Diandra memang capek mbak. Masa iya apa-apa Abi yang disalahin". Mama Dita membela menantunya.
Sementara didalam kamar Diandra tengah berdiri menghirup udara malam dibalkon kamarnya. Namun ketenangan itu hanya berlangsung sesaat karena matanya menangkap sebuah mobil yang mencurigakan terparkir tepat diseberang rumahnya.
Diandra menyipitkan matanya untuk menajamkan penglihatannya dan seketika matanya melebar saat menyadari jika mobil yang saat ini ia lihat adalah mobil yang sama yang beberapa hari ini selalu ia lihat mengikutinya kemanapun ia pergi.
__ADS_1
" Siapa sebenarnya pemilik mobil itu? Kenapa ngikutin aku terus?". Gumam Diandra.
"Oh ayolah Di..positif thinking dong. Mungkin rumahnya emang sekitar sini kan". Mensugesti diri bahwa semua baik-baik saja yang saat ini Diandra lakukan.
Diandra masih fokus memperhatikan mobil sport berwarna biru itu saat seseorang masuk ke dalam kamarnya.
" Di.." Diandra tersentak saat mendengar seseorang memanggilnya. Ia segera membalikkan badan dan mendapati Abi tengah menatapnya dengan tatapan bingung.
"Mas?".
" Kamu ngapain disana? Katanya capek?". Tanya Abi mendekati Diandra yang masih berdiri dibalkon kamarnya.
"Hah? Oh..iya, cari angin". Jawab Diandra melirik ke bawah dimana tadi ada mobil misterius yang masih mengganggu pikirannya.
" Kemana mobilnya?? ". Diandra terlihat mencari sesuatu hingga membuat Abi semakin curiga.
" Kamu nyari apa sih?". Tanya Abi yang sudah berdiri disampingnya.
"Hah? Oh..nggak ada mas. Nggak ada". Diandra berusaha sebisa mungkin bersikap biasa.
" Kamu nggak lagi nyembunyiin sesuatu kan? Kalo ada apa-apa bilang aja Di." Abi masih belum mempercayai jika Diandra tidak menyembunyukan apapun darinya.
"Beneran nggak ada apa-apa. Lagian kamu ngapain kesini mas?" Tanya Diandra untuk mengalihkan perhatian Abi yang ikut melihat ke bawah.
"Oh aku mau mastiin kamu udah istirahat sama mau liat Gaara. Seharian aku belum main sama dia". Pandangan Abi beralih ke atas ranjang Diandra, dimana malaikat kecilnya tengah tertidur pulas.
" Gaara tidur sama aku ya.." Pinta Abi yang langsung membuat Diandra yang tengah melihat ke arah jalan menatap Abi.
"Gak mau. Enaknya aja, ntar aku yang nggak bisa tidur". Omel Diandra.
######
hallo halloo semua..maapin othor yang hilang dari peredaran, othornya lagi persiapan mudik manteman semua. Semoga masih setia nunggu kelanjutan ceritanya yaaa...
Ditunggu ya, bentar lagi akan hadir sosok pebinor yang sudah dinantikan buat bikin Abi kelimpungan..oke oke yaaaa..
Lopelope sekebon readers ku tersayang...
__ADS_1