
Teriakan seorang wanita menggema diseluruh penjuru kamar seorang gadis yang masih bergelung manja dengan selimut tebalnya.
"Lengkaraaaaa..!!!"
"Astagfirullah..Lengakara!! Bangun nak". Diandra yang sejak tadi berteriak memanggil putri semata wayangnya dibuat pusing saat melihat Kara masih berlindung dibawah selimut.
"5menit ma.." Gumam Kara merapatkan selimutnya.
"Ini bukan hanya 5 menit Lengkara. Ini sudah lebih dari 50menit!".
"Berapa kali mama harus bilang sama kamu. Jangan tidur lagi kalo udah shalat subuh. Kenapa masih ngeyel sih". Omel Diandra sembari membuka gorden dikamar anak gadisnya itu hingga sinar matahari bisa masuk.
"Silau ma.." Rengek Kara yang justru menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Astaga! Kamu nurun dari siapa sih kedul kaya gini". Diandra menarik paksa selimut Kara yang rupanya dipegang erat oleh Kara.
"Beneran 5menit lagi aja ma.." Pinta Kara memohon.
"Dari mulai mama masuk kesini sampai detik ini udah lebih dari 5menit! Cepet bangun!". Perintah Diandra yang sudah berkacak pinggang didepan putrinya.
"Masih pagi banget ini". Masih enggan bangun juga rupanya Kara.
"Kamu lupa hari ini hari pertama kamu masuk SMA".
"Tapi kan masih pagi ma". Elak Kara yang melirik jam diatas nakas. Masih menunjukkan pukul 6 pagi. Jarak rumah dan sekolahnya tak jauh, jadi meskipun berangkat 10menit sebelum bel pasti tidak akan telat. Lagipula masih ada waktu satu setengah jam sampai bel berbunyi. Pikir Kara santai.
"Yaudah. Biar Raffa aja yang dianter abang sama kakakmu". Mata Kara langsung terbuka lebar
"Kakak disini?". Tanya Kara semangat.
"Mama akan bilang pada mereka untuk pergi lebih dulu. Karena princess mereka masih mau tidur". Diandra beranjak dari tempat nya berdiri.
"10menit lagi Kara turun". Diandra menggeleng melihat putrinya melompat dari kasur dan bergegas masuk ke kamar mandi.
"Hati-hati, nak". Teriak Diandra namun tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi.
"Giliran ada kakaknya aja cepet". Gerutu Diandra meninggalkan kamar putrinya.
"Pasti belum bangun kan si sableng?". Raffa yang sudah duduk diruang makan membuka suara.
__ADS_1
"Laguan lo Raf. Lo juga baru nongol". Sahut Gaara cepat.
"Tapi jelas lebih rajin aku daripada Sableng bang". Raffa tak mau kalah.
"Sableng, sableng. Namanya Kara Raf". Gaara hanya menggeleng mendengar panggilan unik kedua adiknya.
"Sama aja bang. Sabhita Lengkara, disingkat ya jadi SabLeng kan? Ringkas, padat dan jelas". Raffa tersenyum puas.
"Selamat pagi semuaaaa.." Gadis cantik yang masih memakai seragam putih biru itu terlihat menuruni tangga.
"Heh, lo kaga mandi ya. Pasti cuma cuci muka kan lo". Ledek Raffa membuat Kara melotot seram.
"Heh SaRap! Sekata-kata kalo ngomong ya. Kaga liat gue udah cantik kaya bidadari gini?". Sembur Kara tak terima.
"Raffa!! Sarap sarap pala lo". Kini ganti Raffa yang tak terima.
"Sama aja. Kepanjangan panggil nama lo Sakha Rapa. SaRap aja, singkat padat jelas". Kara tak mau kalah.
Sedangkan Diandra dan Abi sudah menunduk sambil beberapa kali menepuk keningnya. Mereka sudah susah payah memberi nama keduanya begitu bagus dan indah. Malah disingkat jadi hal-hal konyol seperti saat ini.
"Apa lo?"
Hampir setiap hari hal seperti ini terjadi. Keduanya selalu membuat keributan. Jika tidak ada keributan, itu justru akan berbahaya. Karena pasti salah satu diantara mereka sedang sakit.
Berulang kali Abi dan Diandra menasehati anak-anaknya itu. Tapi percuma, karena berulang kali pula dua anak itu mengulangi panggilan aneh itu.
"Kalian nggak akan sarapan?". Keduanya menoleh pada sumber suara. Tanpa banyak protes, keduanya langsung memakan nasi goreng yang sudah disiapkan oleh Diandra.
Orang yang baru saja menegur mereka hanya menggeleng. Heran dengan kelakuan keduanya yang semakin dewasa bukannya semakin akur malah kini terlihat seperti anjing dan kucing yang tak ada akurnya.
Gaara tersenyum melihat kedua adiknya. Kemudian ia melirik saudaranya yang masih menatap dua orang yang tak berani bersuara karena tahu jika keduanya masih ditatap oleh kakaknya.
"Gilaaa..manjur amat kalo Baim yang ngomel. Mama mah nggak ada apa-apanya". Ya, orang yang menegur Raffa dan Kara adalah Baim.
Pembawaan Baim yang tenang dan lebih pendiam membuat kedua anak kembar itu lebih takut pada Baim dibandingkan Gaara yang sedikit selengean.
Sementara dibawah meja, kaki kedua anak kembar itu sudah saling menyerang. Baim hanya memijit pangkal hidungnya melihat kelakukan adik kembarnya.
"Bagaimana kuliah kalian nak?". Tanya Diandra membuat Gaara dan Baim menoleh.
__ADS_1
"Lancar ma.." Sahut keduanya kompak membuat Diandra tersenyum lebar. Kedua anak itu memang bisa diandalkan. Bukan hanya wajah rupawan diatas rata-rata, namun otak keduanya juga diatas rata-rata.
Bukan si kembar tak berprestasi, kedua anak itu juga sangat berprestasi. Namun prestasi keduanya tertutup dengan sikap bar-bar mereka yang sering keluar masuk ruang konseling karena membuat ulah.
"Kalian sudah masuk SMA. Papa harap kalian mengurangi kunjungan kalian pada guru BK nantinya". Keduanya menatap sang papa kemudian mengangguk sekenanya.
"Dengerin papa, Raffa, Kara". Baim angkat suara
"Kita denger kak". Sahut keduanya kompak llu sejurus kemudian saling melirik tajam.
Rupanya bukan hanya dirumah. Disekolahpun kedua anak itu menjadi biang rusuh yang sering keluar masuk ruang bimbingan konseling. Terlebih Kara. Diandra benar-benar tak mengerti lagi, darimana sifat putrinya itu menurun. Dirinya dan Abi adalah siswa terbaik saat dulu bersekolah, keduanya jarang bahkan bisa dibilang tidak pernah membuat masalah. Lalu kenapa anak kembarnya begitu senang membuat Diandra dan Abi bolak-balik ke sekolah untuk menemui guru BK.
"Kakak kenapa sih nggak tinggal disini aja". Mode manja Kara langsung keluar.
"Kakak hanya ingin mencoba hidup mandiri, Ra". Sahut Baim tanpa menatap Kara.
"Boong banget". Gumam Gaara sangat pelan, karena ia tahu pasti alasan saudaranya itu ingin keluar dari rumah itu bukan untuk hidup mandiri seperti yang Baim katakan selama ini.
Ya, sejak lulus sekolah menengah atas, Baim meminta izin pada kedua orang tua angkatnya untuk tinggal seorang diri. Dengan alasan ingin belajar hidup mandiri, terlebih setelah sang nenek, bu Ratih meninggal dunia 5tahun silam, tepatnya saat ia duduk dibangkukelas 1SMA.
"Nggak seru tau nggak ada kakak. Aku di bully terus ama si Sarap ama abang". Adu Kara dengan wajah yang terlihat sangat menggemaskan.
"Kamu juga selalu membuat masalah kan sama mereka". Bibir mungil itu semakin mengerucut saja saat Baim tidak membelanya.
"Semuanya nyebelin". Dengus Kara membuat Baim tersenyum, sementara Raffa dan Gaara sudah tertawa puas.
"Kita berangkat sekarang ya. Kakak takut kalian telat". Ajak Baim dijawab anggukan kepala oleh Raffa.
"Aku mau naik motor aja deh". Ucap Kara tiba-tiba membuat semua orang menatapnya horor.
"Nggak gitu juga kali liatin aku nya". Gumam Kara lirih karena takut pada tatapan semua orang.
"Kara pergi ma..assalamualaikum". Kara menyalami kedua orang tuanya dan segera keluar tanpa menatap semua orang lagi.
"Jaga Kara baik-baik. Jangan sampai dia membuat masalah". Pesan sang papa pada Raffa.
"Insyaallah pa.." Jawab Raffa membuat Diandra melotot.
"Si Sableng susah dikasih tau ma.." Raffa yang tau sang mama akan mengomel segera membela diri.
__ADS_1
"Jangan malah ikutan bikin onar kamu". Kini Diandra yang memperingati.