
Gaara dan Baim, dua bocah lelaki itu tak beranjak sedikitpun dari sisi box yang berisi dua bayi kembar, adik mereka.
Keduanya benar-benar mengagumi keindahan yang ada didepan matanya. Padahal beberapa waktu lalu, kedua kakeknya harus bekerja keras memegangi keduanya.
Tepat saat sang mama menjerit untuk melahirkan adik perempuan mereka, kedua bocah itu berlari. Hendak melihat keadaan malaikatnya yang terdengar sedang sangat kesakitan.
Papa Herman dan papa Ihsan benar-benar dibuat bingung dan kewalahn karena keduanya terus meronta dan menangis histeris.
Beruntung mama Ana bisa menenangkan kedua cucunya itu dan mengatakan jika adik kembar mereka sudah lahir dan saat ini tengah dibersihkan oleh dokter.
"Adiknya cantik.." Gumam Gaara mengelus lembut pipi adik perempuannya.
"Iya..dia juga tampan". Baim membelai dengan sangat hati-hati pipi bayi laki-laki yang masih terlelap itu.
Diandra tersenyum bahagia menatap keempat anaknya. Tak pernah terbayangkan olehnya bisa merasakan kebahagiaan sebesar ini. Jangankan bermimpi, membayangkan saja Diandra tak berani.
Ia tidak pernah menyesali keputusannya yang memberi kesempatan pada cinta pertamanya itu dan memutuskan membangun rumah tangga mereka bersama. Memberi kembali kepercayaannya pada Abi setelah lelaki itu pernah menghancurkan kepercayaannya dan menorehkan luka.
Abi pun sama, ia juga menatap Gaara dan Baim yang terlihat begitu antusias dengan kehadiran adik kembarnya. Ia kemudian menatap sang istri yang rupanya juga tengah memperhatikan buah hati mereka. Terpancar jelas kebahagiaan diwajah istri tercinta nya itu.
Dalam hati ia bertanya, akankah ia semakin tersingikir setelah kehadiran si kembar? Atau mungkin Gaara semakin posesif pada Diandra dan dirinya semakin kesulitan menemukan waktu berdua? Entahlah, Abi tak ingin terlalu memikirkannya. Yang jelas saat ini ia merasakan kebahagiaan yang teramat.
"Kamu bahagia?". Diandra menoleh, mendapati sang suami yang tengah menatapnya penuh cinta.
"Apa wajahku kurang menjelaskan kebahagiaanku mas?". Diandra balik bertanya membuat Abi terkekeh. Ya, harusnya ia tahu apa jawaban dari pertanyaannya.
"Aku tidak menyesali semua keputusanku mas. Aku bahagia menikah denganmu, karena aku mendapatkan anak-anak yang sangat menggemaskan dan sangat perhatian". Atensi Diandra beralih pada dua jagoannya yang masih fokus pada bayi kembar yang terlelap itu.
"Makasih sayang. Terimakasih untuk kesempatan yang kamu berikan. Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah terbaik untuk kalian. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang udah kamu kasih buat aku". Abi menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya berkali-kali.
"Kenapa kalian selalu bermesraan disembarang tempat". Cibir mama Ana yang melihat tingkah anaknya. Meski sejujurnya dalam hati ia sangat bahagia melihat kehidupan yang kini anaknya jalani.
"Mama sirik". Sahut Abi balik mencibir sang mama.
"Jadi, siapa nama cucu-cucu mama ini sayang??". Mama Dita mendekati ranjang Diandra.
__ADS_1
"Jangan bilang kalian belum menyiapkan nama untuk mereka". Mama Ana menatap anak dan menantunya curiga
"Udah dong. Masa iya aku belum siapin nama". Sanggah Abi cepat
"Jadi siapa nama mereka?". Desak mama Ana tak sabar.
"Mama..adik bayi gerak-gerak". Belum sempat Abi menjawab pertanyaan sang mama, seruan Gaara saat melihat kedua adiknya menggeliat membuat kedua nenek muda itu mendekat.
"Adik kembar nangis..mama". Baim terlihat panik melihat adik perempuannya menangis.
"Aduhaduh..cucu oma pada laper ya". Mama Ana dengan tenang mendekat dan mengangkat tubuh cucu tercantiknya itu perlahan.
Pun dengan mama Dita yang mengangkat cucu lelakinya yang juga ikut menangis karna tangisan adik kembarnya.
"Sini sayang..sama mama". Diandra mengulurkan tangannya. Mengurus Gaara sejak bayi membuatnya terampil merawat bayi meski ini kali pertamanya melahirkan. Meskipun dirinya juga merasa sedikit kerepotan karena mengurus dua bayi sekaligus. Namun dirinya bahagia.
"Papa keluar dulu ya, mau ngopi sama Ihsan". Pamit papa Herman pada sang istri yang tengah membantu putrinya yang hendak menyusui anak kembarnya.
"Mau ikut Bi?". Ajak papa Ihsan namun Abi langsung menggeleng.
"Aku mau disini aja nemenin Diandra sama anak-anak pa". Papa Ihsan tersenyum
"Maklum San, pernah ngerasain ditinggal". Timpal papa Herman membuat keduanya tergelak sambil berjalan keluar.
"Dasar bapak-bapak julid. Anak bucin juga dijulidin". Mama Ana menggeleng melihat suaminya.
"Mbak Ana juga sama julidnya. Suami julid balik dijulidin ya mbak?". Akhirnya kedua nenek muda itu terkekeh bersama.
"Mama..dulu Gaara juga sekecil adik?". Tanya Gaara membuat semua tersenyum.
"Iya sayang..dulu abang juga sama kecilnya seperti adik". Diandra menyusui dua anaknya bergantian.
"Apa aku juga dulu sekecil itu?". Lirih Baim membuat semua atensi beralih padanya.
"Sini sayang.." Diandra melambaikan tangannya. Ia menyerahkan anak kembarnya pada mama Ana dan mama Dita.
__ADS_1
Gaara dan Baim mendekat bersama, duduk disamping kiri dan kanan sang mama yang langsung memeluk dan membelai lembut pucuk kepala keduanya.
"Apa dulu abang juga minum dari mama seperti adik?". Diandra terhenyak mendapat pertanyaan itu dari putranya. Salah, harusnya tadi ia meminta suaminya untuk membawa dua putranya keluar saat ia menyusui.
"Bukan ya, abang nggak dilahirin mama". Sakit sekali hati Diandra mendengar cicitan anak sulungnya itu.
Ya, Diandra memang sudah menjelaskan meski belum sepenuhnya Gaara paham. Namun anak itu sudah memahami jika dirinya tak dilahirkan oleh wanita yang manjaga dan membesarkan serta menyayanginya selama ini.
"Sayang.." Kedua putranya mendongak. Sementara mama Ana dan mama Dita serta Abi hanya melihatnya.
"Kalian anak mama..terlepas dari siapapun yang melahirkan kalian, kalian tetap kesayangan mama. Apa kalian ragu sama kasih sayang mama?". Keduanya serempak menggeleng.
"Dengarkan mama sayang.." Diandra merangkul kedua putranya hingga membuat dua anak lelaki tampan itu menempelkan kepala mereka didada sang ibu sambil memeluknya.
"Apapun yang terjadi, kalian akan tetap menjadi anak mama. Meskipun bukan mama yang melahirkan kalian, mama akan menyayangi kalian sama seperti adik kembar kalian. Karena sebelum mereka ada, kalian sudah ada untuk menjadi cahaya buat mama dan papa. Jadi jangan pernah berpikir kalau mama akan membedakan kasih sayang mama pada kalian hanya karena mama tidak melahirkan kalian. Kalian paham?". Keduanya mengangguk dan semakin mempererat pelukannya pada sang mama.
Mama Ana dan mama Dita tidak dapat menyembunyikan perasaan harunya. Melihat bagaimana dewasanya Diandra dan bagaimana besar kasih sayang wanita muda itu pada anak-anak yang bahkan tak ia lahirkan. Sosok keibuannya benar-benar memberi kedamaian.
"Kalian lupa kalo punya papa?". Tanya Abi dengan wajah ditekuk membuat Diandra terkekeh.
Seperti orang tua yang memanggil anaknya, Gaara melambaikan tangannya pada sang papa agar mendekat.
"Kenapa papa gampang sekali ngambek?". Ledeknya membuat kedua neneknya tergelak, sementara Abi mendecih sebal diledek putra sulungnya.
"Papa kan sudah tua. Jangan sering ngambek, iya kan Baim?". Baim mengangguk dan semua tertawa melihat Abi terus diledek kedua putranya.
"Dasar. Anak siapa sih kamu hm?". Abi gemas dan mengacak rambut Gaara.
"Tentu saja anak mama". Balasnya tegas membuat Diandra tersenyum dan kembali memeluk dua putranya.
Abi yang melihat langsung ikut bergabung. Ia memeluk istri dan dua anaknya. Dalam hati ia bersumpah pada dirinya sendiri, ia akan memberikan kebahagiaan pada istri dan anak-anaknya bagaimanapun caranya. Meski harus berkorban nyawa sekalipun, jika itu bisa membuat keluarganya bahagia, maka dengan senang hati ia akan melakukannya.
****____****
Kasih nama si kembarnya di bab selanjutnya ya, udah dapet sih namanya..cuma biar panjang ceritanya hehehe😂😂
__ADS_1
Selamat membaca readers tersayangku, makasih banyak ya buat dukungannya. Maaf kalo komennya nggak dibalas, soalnya othor nya kalo pegang hp cuma nulis-nulis, terus langsung kirim dan kemudian melanjutkan peperangan didunia nyata😅
lopelope sekebon manteman semuaaa😘😘😘