
Seperti rencana keduanya, siang itu setelah selesai dengan perkuliahan mereka, Nala dan Kara memutuskan untuk pergi nge mall.
Keduanya berencana makan terlebih dahulu baru kemudian mereka akan menonton sebelum nanti menguras isi kartu sakti papi Andre.
"Makan apa ya kita?". Ucap Kara yang tengah bingung memilih makan siang apa.
"Indonesiaan aja lah. Jangan junkfood. Bosen makan ayam crispy ama burger mulu". Keluh Nala yang bosan setiap pergi ke mall selalu makan makanan siap saji.
"Nasi goreng enak kayanya ya, La". Mata Kara tertuju pada sebuah restoran yang menyediakan berbagai macam makanan khas indonesia.
"Kuy lah. Cacing udah pada demo dari tadi". Nala menarik tangan Kara karena memang sejak tadi ia sudah merasa sangat lapar.
Keduanya segera masuk kedalam restoran. Memanggil pramusaji dan mengatakan apa pesanan mereka.
Keduanya nampak asyik mengobrol dan bercerita tentang apa yang keduanya lalui selama dua tahun terakhir ini. Gadis yang sebentar lagi akan berusia 20tahun itu tampak selalu memancarkan senyum bahagia.
Tanpa keduanya sadari, sejak kedatangan keduanya kedalam restoran itu. Ada sepasang mata tajam yang terus memperhatikan gerak gerik keduanya.
Bahkan beberapa kali ia kehilangan fokus dengan pembahasan meeting yang tengah ia jalani saat ini.
Lelaki yang tak lain adalah Gaara itu terlihat kebingungan saat melihat meja yang tadinya diisi oleh Nala itu kini telah kosong.
"Apa halusinasi?". Gumam Gaara kembali menatap meja yang ditempati Nala namun ternyata saat ini kosong.
"Bos.." Nick menyikut pelan tangan Gaara saat Gaara tak merespon ucapan klien mereka.
Mencoba mengembalikan fokusnya pada meeting meski pikirannya berkelana entah kemana.
"Terimakasih pak Gaara. Semoga kerjasama kita berjalan lancar dan memberi kita keuntungan. Senang bisa bekerjasama dengN anda". Gaara menjabat tangan lelaki yang merupakan kliennya.
"Senang juga bekerjasama dengan anda pak". Gaara kembali duduk setelah kliennya pergi.
"Masa sih salah lihat. Gue yakin kok". Gumam Gaara lagi yang kembali menatap meja yang sebelumnya ia melihat Nala dan sang adik duduk disana.
"Yakin apa bos?". Tanya Nick membuyarkan lamunan Gaara yang langsung menatap Nick.
"Tadi kamu liat si santen nggak disana?". Gaara menunjuk meja yang sejak tadi ia perhatikan.
"Ada pak". Gaara berbinar
"Dimana sekarang?". Tanya Gaara antusias. Namun jawaban Nick benar-benar membuat Gaara ingin menenggelamkan asistenny itu ke dasar lautan.
__ADS_1
"Didapur pak". Gaara mengepalkan dua tangannya didepan muka Nick seolah ingin menghantamkan kepalan tangannya itu ke wajah asisten tak berakhlak itu.
"Kok sewot pak. Kan nanyain santen tadi". Ncik pun sempat melihat Kara yang duduk bersama si pawang. Ia hanya ingin membuat bos nya sewot.
"Astaga Nick. Saya cekik kamu lama-lama". Geram Gaara yang coba meredam emosinya.
"Itu. Kamu liat nggak sekarang??". Seru Gaara yang mendapati Nala dan Kara duduk di kursi yang sama seperti tadi.
"Liat pak". Jawaban Nick membuat Gaara bersemangat.
"Ada meja sama kursi pak". Aaaah...Gaara benar-benar ingin berteriak kencang dan memaki asistennya.
"Muka si bos asem banget. Di pecat kaga ya gue ngerjain dia mulu". Batin Nick was-was
Bukan ia tak takut mendapat hukuman dari Gaara, namun melihat bosnya uring-uringan dan frustasi merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Nick.
Kurang durjana apalagi coba itu asisten??😂
"Saya masih pegang pisau Nick". Nick melirik tangan Gaara yang memang masih menggenggam pisau. Ia nyengir kaku menampakkan deretan giginya pada Gaara.
"Sekarang jawab saya yang bener". Gaara memutar tubuhnya hingga menghadap tepat pada meja Nala dan Kara.
"Kamu lihat baik-baik. Kamu kenal mereka?". Gaara menunjuk dua gadis yang terlihat asyik menikmati makanannya itu.
"Itu beneran mereka kan? Saya nggak halusinasi?? Atau sekedar fatamorgana???". Nick menyunggingkan senyum geli. Melihat bos nya yang suka marah-marah dan emosian langsung luluh dengan kehadiran wanita idamannya.
"Awww!!!". Gaara menatap tajam Nick yang mencubit lengannya dengan cukup kuat.
"Berarti beneran pak. Kan sakit saya cubit". Entah harus bagaimana lagi Gaara menyikapi asisten koplaknya ini. Jika saja Nick bukan orang yang bisa ia andalkan, sudah sejak kapan tahun ia lemparkan lelaki menyebalkan itu.
"Kamu..." Geram Gaara yang kembali harus menahan kekesalan karena ulah Nick.
"Saya hanya membantu bos.." Nick kembali menampakkan deretan giginya dengan sebuah senyuman kaku.
Gaara menghela nafas panjang sambil kembali memutar tubuhnya. Masih tak percaya jika Nala ada disana bersama Kara. Sejak kapan gadis itu dikota ini? Mengapa ia tak sedikitpun tahu? Mengapa pula tak ada yang memberitahunya??
"Sejak kapan dia disini? Apa mungkin lagi nengok papi maminya??". Tanya Gaara pada dirinya sendiri.
"Sudah hampir dua minggu pak". Gaara segera membalikkan tubuhnya menatap sang asisten.
"Dua minggu?". Nick mengangguk polos sementara Gaara terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Mbak Nala juga sudah kembali kuliah di kampus yang sama seperti mbak Kara pak". Semakin kebingungan saja Gaara mendengar ucapan Nick. Hampir dua minggu dan dirinya baru tahu?
"Darimana kamu tahu? Jangan mengarang cerita". Desis Gaara yang masih tak percaya dengan semua ucapan Nick.
"Kan saya yang nyuruh pindah bos". Gaara melebarkan matanya. Tak mengerti apa maksud asistennya.
"Saya yang suruh mbak Nala pindah kesini bos".
"Apa maksudmu? Aku tidak paham". Jelas saja Gaara bingung.
"Saya capek ngikutin bapak bolak balik sana sini. Jadi mbak Nala yang saya pindah paksa kesini". Jelas Nick dengan ringan karena ia yakin semarah dan sekesal apapun Gaara padanya, ia masih membutuhkan kecerdasan dan kegesitan Nick.
"Hah????". Tanpa sadar Gaara meninggikan suaranya.
"Kamu gila??". Nick menggeleng karena dirinya memang tak merasa gila.
"Pengen gue balik nanya. Yang gila gue apa elo bos". Tentu saja hanya batin Nick yang bertanya.
Gaara berpikir keras. Dirinya pernah meminta Nala untuk kembali ke kota ini. Dan dengan tegas Nala menolak. Lalu mengapa gadis itu menuruti perkataan asistennya.
Mata Gaara memicing, menatap curiga pada asistennya. Ia curiga jika asistennya memiliki hubungan khusus dengan Nala.
"Kenapa dia mau?". Tanya Gaara menelisik membuat Nick tersenyum penuh arti.
"Saya punya jurus rahasia bos. Ngalahin jurusnya wiro sableng". Gaara mendengus memdengar lelucon Nick
"Kamu nggak bakat bercanda Nick. Katakan yang sebenarnya". Gaara tahu betul watak dan sikap lelaki yang sudah lama menjadi asistennya itu. Tak mungkin dengan meminta baik-baik pada Nala.
"Tanyakan saja pada orang nya bos. Yang jelas harusnya bos berterimakasih dan memberi saya bonus". Gaara tetap terlihat tak percaya.
"apa yang kamu lakukan sampai dia mau pindah lagi kesini Nick?". Desak Gaara yang tak puas dengan jawaban Nick.
"Saya takut nanti bos kena serangan jantung kalo saya kasih tahu". Mulutnya saja yang seolah mengkhawatirkan Gaara, namun jemarinya bergerak lincah diatas layar ponselnya dan memutar video yang ia jadikan alat untuk memaksa Nala kembali ke kota ini.
Mata Gaara melebar sempurna saat melihat video yang Nick tunjukkan. Bagaimana bisa lelaki itu mendapat video saat dirinya dan Nala berciuman.
"Dasar asisten edan!". Umpat Gaara namun Nick justru tersenyum menyebalkan.
...¥¥¥•••¥¥¥...
Pelan-pelan aja gapapa yaaa, mudah-mudahan ceritanya nggak ngebosenin. Othornya lagi seneng mengeksplor si asisten edan soalnya🤭🙏🏻
__ADS_1
Nanti ada waktunya mereka ketemu terus sayang-sayangan juga kok. Ntar dinikahin cepet-cepet deh biar nggak diganggu se tan😁😁😁