
"ABAAANG!!!!". Nala menjerit keras saat wajah tampan Gaara terkena pukulan keras.
"Hajar bang!!! Jangan kasih kendor!!". Seru Kara yang membuat Nala langsung melotot kesal pada sahabatnya itu. Bukannya memisahkan malah menjadi kompor.
Nala menatap Kara dan Nick bergantian. Hanya kedua orang itu yang ia andalkan. Dan nampaknya kedua makhluk itu tak memiliki sedikitpun niatan untuk memisahkan dua orang yang masih saling adu jotos itu.
"Nick!!! Pisahin dong! Kok malah ditonton aja sih!". Kesal Nala saat melihat Nick justru menikmati tontonan didepannya.
"Nggak berani mbak. Saya sayang wajah ganteng saya". Nala melongo tak percaya dengan jawaban Nick.
"Santen!! Jangan diem aja dong". Nala beralih pada Kara.
"Nanggung La. Lagi seru-serunya ini. Udah lama nggak liat abang gelut". Kara bahkan beberapa kali menyemangati sang kakak.
"Apa aku bantuin aja sekalian ya? Tambah seru kayanya". Kara seolah mendapat ide brilian. Namun secepat mungkin Nala menahan Kara yang hendak ikut terjun dalam keseruan baku hantam yang tengah terjadi.
Gaara dan Haikal sudah menjadi tontonan banyak pengunjung lain. Ada yang Nala khawatirkan. Bukan Haikal, tapi Gaara. Ia takut reputasi Gaara menjadi jelek dan berpengaruh pada bisnis dan perusahaannya. Belum lagi wajah tampan Gaara yang terlihat bonyok dibeberapa bagian.
Tak lama beberapa orang petugas keamanan datang. Padahal ada empat orang petugas keamanan. Namun mereka masih terlihat kuwalahan memisahkan Gaara dan Haikal.
"Tolong jangan membuat keributan disini pak. Atau kami laporkan pada pihak berwajib". Baik Gaara maupun Haikal masih mencoba melepaskan diri.
Saling beradu tatapan tajam tanpa menghiraukan peringatan petugas keamanan. Dan akhirnya petugas keamanan kalah. Dua orang petugas yang memegangi Gaara maupun Haikal berhasil dihempas.
Tangan Gaara sudah melayang di udara. Siap dihantamkan ke wajah Haikal yang selalu membuatnya naik darah. Namun sesaat sebelum tangannya berhasil menjangkau wajah menyebalkan itu, tubuhnya mematung saat merasakan sebuah pelukan hangat dibelakang tubuhnya.
"Abang udah...aku mohon udah". Lirih Nala yang mempererat pelukannya pada perut berotot Gaara.
Haikal yang juga sudah mengangkat kepalan tangannya mengurungkan niatnya saat Nala memeluk rivalnya. Jika kepalan tangannya ia berikan di wajah Gaara, sudah pasti Nala akan tertimpa tubuh Gaara yang jauh lebih besar. Merasakan ngilu dihatinya melihat Nala memeluk Gaara.
Keadaan menjadi hening setelah apa yang Nala lakukan. Sungguh, sebesar apapun kekecewaannya terhadap Gaara, semarah apapun dirinya pada lelaki itu. Nyatanya perasaan cinta dan rasa khawatirnya jauh lebih besar dari itu semua.
"Aku mohon udah..abang bisa terluka". Nala semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Gaara. Membuat Gaara melengkungkan senyuman di bibirnya yang robek akibat pukulan Haikal.
Petugas keamanan berusaha membubarkan kerumunan pengunjung lain. Dan meminta kedua lelaki yang sudah membuat keributan itu untuk ikut ke ruangan managemen mall.
"Tidak bisa. Kalian harus tetap ikut". Nick berusaha mencegah agar bos nya tak dibawa. Namun tak berhasil. Akhirnya ia hanya bisa mengikuti bosnya yang diarak ke kantor.
Saat ini kedua lelaki yang baru saja baku hantam itu tengah duduk bersebelahan. Keduanya saling lirik dengan tatapan tajam.
Nala menghela nafas panjang. Ia pikir kepindahanny sudah menyelesaikan masalah sebelumnya. Namun ternyata salah, Haikal rupanya lelaki yang nekat.
__ADS_1
"Sebenernya itu siapa sih, La?". Bisik Kara yang menemani Nala.
Saat ini Gaara dan Haikal tengah menandatangani perjanjian damai dan berjanji tidak akan bertarung lagi dikeramaian seperti saat ini.
"Ntar aja deh aku jelasin. Masih tremor ini tangan ama kaki liat abang gelut kaya tadi". Nala balas berbisik.
"Beneran ya. Aku tagih nanti ceritanya". Nala hanya mengangguk. Fokusnya bukan pda Kara melainkan pada wajah Gaara yang terlihat lebih babak belur dibanding pertarungan mereka sebelumnya.
Hatinya merasa tak tenang. Takut jika ada luka parah yang Gaara dapatkan. Bahkan saat Kara terus berbisik pun Nala sudah tak mendengarkan.
"Saya harap ini pertama dan terakhir kalinya anda berdua membuat keributan seperti ini. Bukan hanya disini, tapi dilain tempat pun sama". Kepala keamanan menjabat tangan Gaara dan Haikal bergantian.
Sang kepala keamanan kemudian meminta Gaara dan Haikal untuk saling menjabat tangan satu sama lain.
Masih dengan tatapan permusuhan, keduanya saling berjabat tangan. Tangan keduanya pun tak bisa membohongi jika keduanya memang masih belum bisa saling memaafkan.
"Kita pulang bang!". Nala menarik tangan Gaara yang masih menjabat tangan Haikal dengan begitu erat. Seolah keduanya tengah mengadu kekuatan tangannya melalui jabatan tangan itu.
"La..kakak mau bicara". Haikal berusaha mencegah kepergian Nala.
"Anda tidak melihat? Disini ada calon suami saya! Lepaskan!". Nala menghempas tangan Haikal yang mencengkeram pergelangan tangannya.
"Anda dengar apa yang dikatakan calon istri saya bukan?". Gaara melepas tangan Nala dan kemudian menggenggamnya erat seolah tak akan pernh ia lepas lagi.
Sementara Kara seperti seorang yang bo doh mendengar Nala mengatakan kakaknya adalah calon suami gadis itu begitupun sebaliknya.
"Calon suami?".
"Calon istri??". Gumamnya kebingungan.
"Kita pulang mbak Kara. Jangan bengong disini". Suara Nick menyadarkan Kara dari lamunannya.
"Ada apa sebenarnya Nick? Aku bingung". Nick tersenyum tipis melihat adik dari bosnya kebingungan.
Kara berjalan dibelakang Nala dan Gaara yang masih bergandengan tangan. Tidak! Lebih tepatnya Gaara yang menggenggam erat tangan Nala.
"Mau dibawa kemana sahabat aku? Bang!!! Abang!!!". Teriak Kara saat melihat Gaara membawa Nala ke dalam mobil lelaki itu.
"Woiiiii!!!! Kulkas dua pintu!!!". Teriak Kara kesal karena Gaara tak menjawab dan justru melajukan mobilnya meninggalkan Kara dan Nick.
"Bos kamu kenapa sih Nick?! Ngeselin banget sih!", Sungut Kara
__ADS_1
"Nih aku pulang gimana sekarang?!". Belum sempat Nick menjawab, sebuah suara membuat Kara menoleh.
"Kamu pulang bareng kakak".
"Saya permisi pak Baim". Nick menundukkan kepalanya sebentar sebelum pergi. Ia memiliki tugas membawa mobil Nala kembali.
"Kakak kok disini?". Tanya Kara saat Baim merangkul pundaknya mesra.
"Nick yang telpon kakak tadi".
"Kapan?". Tanya Kara bingung karena sejak tadi Nick ada bersama dirinya dan juga Nala serta Gaara.
"Nggak penting sayang. Sekarang kita pulang aja".
"Tapi Nala gimana??". Tanya Kara membuat Baim gemas dan mencubit pelan pipi kekasih hatinya itu.
"Nala kan udah sama Gaara, sayang. Dia aman". Kara mendengus mendengar kata aman.
"Justru karena Nala sama abang makanya sahabat aku nggak aman bang". Baim terkekeh pelan. Benar apa yang dikatakan Kara, lebih berbahaya saat Nala bersama Gaara.
Sementara didalam mobil Gaara. Nala terus menatap wajah Gaara. Lebih tepatnya luka diwajah Gaara.
"Kita kerumah sakit dulu ya bang". Ucap Nala membuat Gaara menoleh sekilas.
"Luka abang parah. Kita ke dokter dulu ya.." Dari suaranya jelas Nala tengah khawatir. Dan itu benar-benar membuat Gaara bahagia.
"Nggak usah sayang.." Sahut Gaara begitu lembut membuat Nala sedikit tersentak karena Gaara memanggilnya sayang.
"T-tetep harus diperiksa bang. Takutnya bahaya". Meskipun menjadi sedikit gugup, Nala mencoba bersikap biasa.
Kekhawatiran Nala benar-benar membuat Gaara melengkungkan senyum sempurna. Betapa bahagianya ia kini. Merasa menjadi lelaki yang berarti bagi gadis cantik pemilik hatinya itu.
"Ini yang namanya luka pembawa berkah". Batin Gaara senang.
...¥¥¥•••¥¥¥...
Nah loh tangan othornya jadi kebablasan nulisnya🤦🏼♀️
Gimana ini jadinya? Duh maapin deh ya jadi banyak up nya😅😅
Selamat menikmati readers ku tercintaaaah💋💋💐💐🥰🥰
__ADS_1