
Diruang makan rumah besar itu, kini terdengar sangat ramai dengan suara Nala dan Kara. Entah makanan apa yang masuk kedalam mulut mereka hingga seperti tak ada lelahnya berbicara.
"Lo berdua abis makan radio ama kabel-kabelnya ya?". Tanya Raffa yang pusing mendengar dua gadis yang selalu bersama dengannya sejak kecil itu terus berbicara.
"Ama studionya juga dimakan ama mereka berdua". Imbuh Gaara yang juga pusing mendengar ocehan Kara dan gadis yang selalu menobatkan dirinya sebagai calon nyonya Gaara.
"Sirik aja sih lo berdua". Cibir Kara yang tak terpengaruh dengan sindiran saudara-saudaranya.
"Kakak nggak kesini, Ra?". Tanya Diandra yang belum melihat kekasih putrinya.
"Kakak? Oh, tadi kata kakak hari ini ada janji sama dosen". Gaara yang sedang minum sampai menyemburkan kembali minumannya karena ia baru ingat jika dirinya juga memiliki janji dengan dosen yang sama.
Lelaki tampan itu segera melihat jam yang melingkar ditangannya. Dengan cepat meraih jas yang ia sampirkan di kursinya dan menyambar kunci mobil.
"Abang mau kemana?". Diandra dan Nala kompak bertanya.
"Abang lupa ada janji juga sama dosen". Gaara mencium punggung tangan Abi dan Diandra bergantian.
"Gue ikut bang.." Nala mengikuti Gaara dan mencium punggung tangan Abi dan Diandra.
"Kaga usah. Ngeribetin lo". Tolak Gaara tanpa basa basi. Namun bukan Nala namanya jika menyerah saat ditolak oleh Gaara. Penolakan Gaara bukan pertama ini ia dapatkan. Dan ia sudah sangat kebal dengan segala penolakan yang Gaara lakukan.
"Abang kelamaan, nanti telat loh". Tanpa banyak bicara, Nala merebut kunci mobil Gaara dan berjalan mendahului lelaki itu yang akhirnya mau tidak mau kini justru berbalik mengejar Nala yang lebih dulu keluar.
"Nala!! Anala!! Heh kuman!!!". Mereka bisa mendengar Gaara yang terus memanggil Nala.
"Yah..kelar dah idup si abang". Ucap Kara memasang wajah simpati.
"Lo kali ini bener, Ra. Kelar abang lo disupirin ama si kuman". Anak kembar itu kompak menggeleng, menantikan bagaimana nasib abang tercinta mereka setelah berada dikursi kiri dengan Nala yang mengemudikan kendaraannya.
"Emang kenapa?". Tanya Abi dan Diandra kompak.
"Cieee, kompak banget". Goda si kembar yang tak kalah kompak.
"Cie yang kembar.." Balas Abi tak mau kalah membuat keempatnya tertawa bersama.
__ADS_1
"Jawab dulu sayang..kenapa memangnya kalo Nala yang nyupirin??". Wajah Abi dan Diandra terlihat sangat penasaran namun si kembar hanya memasang senyum misterius dan bahkan sesekali mereka bergidik ngeri.
.
.
"REM!! REM!! Rem, La!". Teriakan demi teriakan terdengar menggema didalam sebuah mobil dimana seorang gadis tengah fokus pada kemudi mobilnya.
"Ini tu biar lo kaga telat bang". Gadis yang tak lain adalah Anala itu terus memperdalam injakan kakinya pada pedal gas.
Sementara Gaara, lelaki gagah itu bahkan menggenggam erat sabuk pengaman yang membelit tubuh kekarnya. Tak lupa ia merapalkan doa untuk keselamatannya.
Gaara semakin mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman dan memejamkan matanya saat didepan mobilnya ada sebuah bus yang jaraknya sangat dekat dengan mobil miliknya.
"Awas!!!". Teriaknya lantang dengan mata terpejam.
"Ya Allah..tolong selamatkan hamba". Doa itu terus Gaara ucapkan meski hanya dalam hatinya.
Namun alih-alih mendengar benturan benda keras, Gaara sama sekali tidak mendengar dan merasakan apapun. Dengan perlahan ia membuka matanya, dan ia membuka matanya dengan sempurna saat melihat kampus sudah ada didepan matanya.
"Sampai bang.." Senyum itu masih sama. Selalu tersenyum tulus meski sering Gaara perlakukan tidak baik.
"Mending abang turun, masih kekejar lah ya kalo abang lari". Nala melirik pergelangan tangannya, meski tak tahu jam berapa lelaki itu membuat janji dengan dosen, namun Nala berharap jika Gaara masih ada waktu.
"Sama-sama abang sayang.." Nala sudah lebih dulu berbicara sebelum Gaara mengatakan apapun.
"Ayo bang..cepet turun". Tanpa berkata apapun lagi, Gaara segera membuka pintu dan berlari masuk ke dalam kampus. Sementara Nala menatap punggung kokoh itu yang semakin menjauh.
Biarlah ia dianggap bodoh dengan mencintai laki-laki yang tak pernah menganggapnya. Namun ia yakin jika usahanya akan membuahkan hasil suatu saat nanti, meski ia tak pernah tahu kapan saat itu akan tiba.
Sementara dikendaraan yang lain, Raffa dan Kara masih sibuk membahas tentang seperti apa kelanjutan nasib Gaara yang begitu beruntung mendapat sopir hebat seperti Nala.
Keduanya kembali mengingat bagaimana pertama kali mereka merasakan gila nya seorang Anala ketika mengemudikan mobil.
"Kira-kira nabrak kaga?". Tanya Kara yang kembali teringat saat dulu beberapa kali Nala menabrak. Entah itu pohon, mobil lain, atau pembatas jalan. Ya, dulu Nala memang segila itu saat mengemudikan mobil.
__ADS_1
"Udah canggih dia sekarang". Ucap Raffa santai sambil mengemudikan mobilnya.
"Heh santen.." Kara yang sedang membayangkan wajah tegang Gaara segera menoleh mendengar panggilan saudara kembarnya.
"Paan?". Tanya Kara
"Lo kebayang kaga sih, punya kakak ipar kaya si kuman". Keduanya langsung terdiam. Memikirkan sekaligus membayangkan akan seperti apa keluarga mereka saat seorang Anala menjadi salah satu anggota keluarga mereka.
Kesunyian itu tak bertahan lama. Karena anak kembar itu langsung kompak tertawa keras saat membayangkan akan seperti apa kehidupan abang mereka saat Nala menjadi istrinya.
"Kaga kebayang gue, abang kaya batu bata gitu, dapet si Nala yang cerewetnya setengah idup. Pasti tertekan banget dah si abang.." Kara kembali tertawa. Sedangkan Raffa menatapnya dengan mata sedikit menyipit dan kemudian ikut tertawa.
"Lah, kaga nyadar ni manusia satu. Lagu-laguan bilang abang batu bata dapet orang cerewet. Lah apa kabar si kakak". Raffa ikut tertawa, namun bukan menertawakan nasib Gaara. Melainkan menertawakan kekonyolan saudara kembarnya yang tidak menyadari jika dirinya dan Nala sama saja cerewetnya.
"Tunggu deh.." Raffa menghentikan tawanya saat Kara tiba-tiba menatap dirinya.
"Kenapa?". Tanya Raffa menoleh sekilas dan kembali fokus pada kemudinya.
"Elo ama si itu gimana??". Tanya Kara menggoda dengan menaik turunkan alisnya menatap Raffa.
"Siapa?". Tanya Raffa pura-pura tak tahu.
"Alah, lagu lama lo. Lo udah jadian lama kan ama tu cewek?". Desak Kara yang sejujurnya sangat penasaran dengan kisah percintaan Raffa yang sepertinya sangat damai. Begitu berbeda dengan dirinya maupun Baim atau Gaara.
Raffa diam tak menanggapi, dirinya memang paling tertutup dengan status hubungan percintaannya. Namun Kara tak akan bisa ia bohongi, dan Raffa sadar akan hal itu. Membohongi Kara sama saja seperti membohongi dirinya sendiri.
"Sarap!! Kaga usah pura-pura budeg deh ah". Kesal Kara yang melihat Raffa seolah tak mendengar semua pertanyaannya.
"Turun-turun! Udah nyampe, kaga mau turun emangnya lo?". Kara menengok kiri dan kanan. Rupanya terlalu fokus membahas kisah Gaara dan Nala dan juga menanyakan perihal kekasih Raffa membuat perjalanan keduanya tak terasa.
"Gue tunggu lo cerita sendiri. Apa engga gue bakal bilang ama papa mama. Biar lo dikawinin duluan". Kara tertawa setelah mengatakannya. Apalagi melihat wajah kesal saudara kembarnya itu. Sangat lah menghibur dan begitu menyenangkan.
...¥¥¥•••¥¥¥...
Gas tipis-tipis dulu yaaa..masih cari ilham nih buat bikin rute cintanya si abang kaku ama si kuman..
__ADS_1
Ilham buat si sarap juga masih otw kayanya😅😂 jadi lagu-laguannya sok rahasia-rahasiaan siapa ceweknya si sarap. Padahal mah belom dapet si ilham😂😅😅