Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
tips


__ADS_3

"Biar ama gue aja bang. Ntar tu bocah ngamuk kalo lo berdua masuk". Nala mencegah Gaara yang hendak mengambil alih nampan berisi makanan untuk Kara.


"Kita cuma mau liat kondisi dia aja, La". Nala menghela nafas panjang. Meski belum tahu pangkal permasalahannya, namun ia sedikit memahami jika sepertinya Kara sedang merajuk pada kedua kakaknya.


"Lo mau nyampe kapan sih ngambek?". Tanya Raffa yang duduk disisi ranjang, menatap Kara yang merebahkan tubuhnya dengan mata tertutup.


"Gue cuma nggak mau nyampe kurang ajar ama mereka Rap". Sahut Kara masih dengan mata terpejam.


"Lo beneran kaga mau ke rumah sakit?". Tabya Raffa memastikan.


"Kaga Rap. Astaga".


"Mama nggak curiga kan?". Tanya Kara sambil membuka matanya.


"Aman. Lo tenang aja. Kan biasa lo nginep sini kaga pulang-pulang". Kekeh Raffa saat melihat reaksi biasa sang mama ketika ia bilang Kara akan menginap di rumah Nala.


Untunglah luka diwajah Raffa tidak se kentara Kara, hanya sudut bibirnya yang jelas terlihat terluka. Namun ibunya tidak terlalu memperhatikan hingga ia tak perlu mencari alasan tentang lukanya.


Tak lama Nala masuk dengan sebuah nampan berisi makan malam untuk Kara. Plus segelas susu coklat kesukaan Kara. Sekenal itu Nala dengan Kara, hingga semua kesukaan Kara, Nala selalu tahu, pun sebaliknya.


"Duh, laper banget gue". Kara segera duduk ketika melihat Nala membawa makanan untuknya.


"Liat makanan aja lo langsung sehat". Cibir Raffa saat Kara dengan semangat langsung duduk. Padahal sejak tadi ia datang, Kara tak sedikitpun bangun. Jangankan bangun, membuka mata saja ia enggan.


"Laper bosss.." Sahut Kara cepat sambil menunjukkan deretan gigi rapinya.


Mereka melupakan dua lelaki yang masih duduk diruang tamu menunggu kabar dan keadaan adiknya saat ini.


Keduanya langsung berdiri saat melihat Raffa turun. Keduanya mendekat pada adiknya dan langsung memberondong adiknya dengan berbagai pertanyaan seputar Kara.


"Gimana kondisinya sekarang?",


"Mau dibawa kerumah sakit aja?".


"Udah makan belom tu anak?", Raffa mencebik mendengar pertanyaan beruntun dari dua kakaknya.


"Satu-satu". Gerutu Raffa yang langsung menghempaskan tubuhnya diatas sofa.


"Jadi gimana kondisi Kara?". Desak Gaara duduk disebelah Raffa.

__ADS_1


"Dia udah keliatan baik-baik aja bang. Lagi makan". Jelas Raffa langsung


"Sebenernya gimana tadi ceritanya, Raf?". Tanya Baim yang sejak tadi menyimak. Sungguh dirinya tidak berniat memarahi apalagi membentak Kara, hanya saja ia terlalu khawatir melihat wajah Kara babak belur tak berbentuk seperti kemarin. Dirinya lepas kendali.


Raffa menghela nafas panjang, menceritakan awal mula kejadian yang menyebabkan keduanya terlibat perkelahian kemarin.


Rupanya para pemuda itu tidak terima karena salah seorang dari mereka memiliki kekasih, dan kekasihnya justru kini tertarik pada Raffa.


Dan terjadilah pengeroyokan di kantin sekolah. Tak ada sedikitpun yang terlewat. Raffa menceritakan semuanya tanpa ada yang disembunyikan.


"Kara cuma mau belain gue. Bantuin gue karna gue dikeroyok ama anak-anak kemaren. Gue nggak mulai keributan itu, apalagi Kara. Kita cuma coba melindungi diri kita". Terdengar helaan nafas panjang saat Raffa selesai bercerita.


Dari wajahnya, Raffa sangat yakin jika saat ini kedua kakaknya sangat merasa bersalah pada Kara.


_____


Sudah dua hari Kara berada dirumah Nala. Dua hari itu pula kedua kakaknya selalu datang untuk menengok adiknya. Memastikan keadaan adiknya membaik atau sebaliknya.


Namun selama dua hari itu pula keduanya tidak pernah berhasil menemui adiknya. Kara masih enggan menemui kedua kakaknya.


"Lo beneran kaga mau nemuin kak Baim, Ra? Tuh orangnya didepan". Kara masih asyik dengan ponselnya. Sebenarnya Kara bukan marah karena Baim memarahinya saat berkelahi. Ia jauh lebih marah karena melihat Baim berjalan dengan seorang perempuan pagi itu.


"Gue salah ya La, suka sama kak Baim?". Tanya Kara. Sisi kewanitaannya keluar disaat seperti ini.


"Lo yakin suka Ra? Bukan karena elo nyaman dengan semua perlakuan ama perhatian kak Baim doang?". Tanya Nala hati-hati.


"Emang bedanya apa?". Nala menepuk keningnya. Ia lupa sahabatnya terlalu bod*h dalam urusan percintaan.


"Beda lah Ra. Sekarang apa yang lo rasain ke kak Baim?". Tanya Nala bagai seorang yang berpengalaman dalam hal percintaan.


"Ehm..gimana ya.." Kara membuat Nala menghela nafas panjang.


"Kenapa malah nanya ke gue sih". Kesal Nala membuat Kara nyengir.


"Gue tuh nggak tau, La. Gue seneng aja liat kak Baim tuh. Muka nya tuh bikin adeeeeem banget kalo diliat. Belom sikap dewasanya..bikin gue tuh ngerasa dilindungi. Gue suka aja semua yang ada ama kak Baim". Nala ikut tersenyum melihat sahabatnya tersenyum sendiri mengingat Baim.


Kini ia yakin jika sahabatnya itu benar-benar tengah jatuh cinta, bukan hanya sekedar mengagumi ataupun rasa nyaman karena sering bersama saja.


"Lo beneran jatuh cinta ama kakak lo, Ra". Kadang Nala sampai tidak habis pikir, diantara banyaknya lelaki yang mencoba mendekati dan mencari perhatiannya, bagaimana bisa wanita secantik dirinya jatuh hati pada lelaki yang berstatus sebagai kakaknya sendiri.

__ADS_1


"Kak Baim tuh sempurna La.." Senyum di wajah Kara tak pudar saat terus terbayang wajah tampan Baim. Apalagi jika sedang tersenyum manis padanya.


"Terus kenapa lo nggak mau nemuin dari kemaren?". Pertanyaan Nala sukses membuat senyum Kara hilang.


Ingatannya kembali berputar saat pagi itu Baim terlihat tersenyum bersama seorang gadis yang sampai saat ini belum ia ketahui siapa.


"Dari pada lo gini-ginian mending lo jujur ama kak Baim, Ra". Kara langsung menoleh dan menatap tajam sahabatnya.


"Kaga usah melotot juga kali". Cebik Nala


"Kan biar lo tau, kak Baim lo itu juga sama kaya elo atau cuma anggep lo adek aja". Usul Nala yang langsung membuat bahu Kara merosot.


"Gue nggak berani La.." Lirih Kara dengan wajah sedih.


"Kenapa nggak berani???". Tanya Nala penasaran.


"Kalo ternyata cinta gue cuma cinta bertepuk sebelah tangan gimana?? Terus kak Baim jadi jaga jarak ama gue?",


"Ya berarti tugas lo bikin dia ama lo jadi bertepuk tangan lah. Jangan cuma bertepuk sebelah tangan terus". Nala memberi semangat pada Kara yang terlihat pesimis.


"Tapi kalo gagal gimana?". Nala mendengus kesal.


"Nyoba juga belom. Udah pesimis aja lo. Kalo takut gagal, jangan jatuh cinta". Kini Kara yang mendengus kesal.


"Sok-sok an banget lo ngajarin gue perkara cinta. Kaya yang pernah jatuh cinta aja lo". Cibir Kara membuat Nala melotot.


"Gini-gini gue tuh lebih peka daripada lo. Masih lebih handal gue kemana-mana dibanding lo yang kelewat nggak peka". Sengit Nala.


"Kita cari tips menarik perhatian pria dewasa. Siapa tahu dengan lo jadi wanita idaman para pria, kak Baim jadi tertarik ama lo dan liat lo sebagai perempuan. Bukan sebagai seorang adik doang". Usul Nala yang langsung disetujui oleh Kara.


Malam itu keduanya sibuk mencari tips cara menggaet dan menarik perhatian pria dewasa. Esok hari Kara akan menerapkan tips yang sudah ia baca dengan Nala. Ia akan mencoba menarik perhatian kakaknya, Baim dengan penampilannya.


Entah akan seperti apa hasilnya, Kara tidak tahu. Entah berhasil atau justru membuat kakaknya tidak menyukainya. Yang pasti Kara akan mencoba segala cara untuk membuat Baim melihatnya sebagai seorang wanita seutuhnya.


...---***---...


Kira-kira si santen berhasil kaga nih nyari perhatian Baim? Apa malah bikin si kakak risih dan menjauh???


Maunya gimana nih readers? Bertepuk sebelah tangan apa bertepuk tangan??🧐🧐

__ADS_1


__ADS_2