
"Mas lepas!". Ucap Diandra mencoba melepaskan genggaman tangan Abi.
" Itu Gaara mau dibawa kemana sama kak Alvin?". Tanya Diandra saat melihat Gaara dibawa oleh Alvin di mobilnya.
"Mas!!". Kesal Diandra yang sejak tadi diacuhkan Abi.
Diandra sudah lama mengenal Abi, ia tahu jika saat ini suaminya itu tengah marah. Yang Diandra pikirkan adalah alasan apa yang menjadikan Abi marah sampai seperti ini.
" Masuk!". Perintah Abi dingin ketika ia sudah membukakan pintu untuk Diandra.
"Gaara mau dibawa kemana". Sanggah Diandra, meski sejujurnya ia takut dengan kemarahan Abi, namun ia mengkhawatirkan putranya.
" Masuk". Ulang Abi dengan suara beratnya.
"Hei..jangan kasar sama perempuan dong bro". Diandra melirik ke belakang Abi, disana ada Panca yang sudah berdiri dengan kedua tangan menyilang didepan dada.
Diandra memejamkan matanya sambil menghirup udara sebanyak mungkin. Kini ia menyadari alasan Abi begitu marah, tentu saja karena ia bersama lelaki lain.
" Jangan ikut campur urusan rumah tangga saya". Sinis Abi yang sudah berbalik dan kini berhadapan langsung dengan Panca.
"Sorry..tapi saya nggak bisa diam saja kalau anda kasar sama Diandra". Sahut Panca yang semakin membakar emosi Abi.
" Saya bilang, jangan ikut campur urusan kami!". Suara Abi sudah naik satu oktaf dan Diandra tahu tidak akan baik jika mereka bertiga tetap berada di tempat yang sama.
Kini Diandra bersyukur karena Gaara dibawa oleh Alvin dengan mobil lain, jika tidak maka dirinya lah yang akan direpotkan dengan keadaan seperti ini.
"Urus saja urusan anda!". Sinis Abi yang disambut tawa sinis Panca.
" Diandra adalah urusan saya, jadi jika anda menyakitinya..maka anda akan berurusan dengan saya". Ucapan Panca bak bensin yang sengaja ditumpahkan diatas kobaran api. Abi tahu jika lelaki didepannya ini menaruh perasaan lebih terhadap istrinya. Cara Panca menatap Diandra saja sudah terlihat berbeda, penuh kekaguman dan cinta. Dan Abi sangat tidak nyaman dengan tatapan Panca terhadap istrinya itu.
"Apa maksudmu bed*bah!!". Bentak Abi
__ADS_1
Jika Diandra tidak cepat memahan Abi, sudah dapat ia pastikan jika akan ada perkelahian didepan matanya.
"Mas..cukup. Kita pulang ya.." Diandra menahan lengan Abi saat menyadari Abi hendak mendekat pada Panca.
"Kami pamit ya Ca. Kita bisa ngobrol lagi lain waktu". Diandra berusaha menengahi, namun sepertinya kata-katanya memancing kecemburuan Abi semakin membesar.
" Nggak ada lain waktu lagi!". Sentak Abi memaksa Diandra masuk kedalam mobil.
"Dan saya ingatkan! Jangan pernah temui istri saya lagi!". Setelah mengatakannya Abi langsung meninggalkan Panca seorang diri.
" Aku akan mengambilnya darimu brengs*k!". Panca membulatkan tekadnya, perusahaan yang ia dirikan sudah semakin besar, tidak akan sulit untuk bersaing dengan perusahaan milik suami Diandra itu, walaupun jelas lebih besar perusahaan suami dari wanita yang ia kagumi sejak dulu itu. Panca mungkin bisa dibilang lebih mengetahui tentang apa yang terjadi antara Dea dan Abi, meski begitu ia tetap menganggap Abi berengs*k dan tidak pantas bersanding dengan Diandra yang sudah seperti malaikat baginya.
Bagi Panca, Diandra adalah wanita paling sempurna. Bukan hanya rupanya yang begitu elok, namun sikap lembut dan ceria yang dimiliki Diandra mampu membuat semua orang jatuh hati.
Panca ingat betul saat keduanya masih berada dibangku sekolah atas, bagaimana para siswa disekolahnya begitu memuja dan mengagumi sosok Diandra yang dikenal baik dan ramah terhadap siapapun. Dari sanalah Panca menaruh kekaguman pada Diandra hingga tanpa ia sadari perasaan kagum itu perlahan berubah menjadi perasaan cinta. Meski selama ini ia tak pernah berani mengakuinya, namun kini ia sudah merasa cukup pantas untuk mendampingi gadis sesempurna Diandra.
Sementara didalam mobil, udara terasa begitu dingin bagi Diandra. Mengenal Abi belasan tahun, baru ini kali keduanya ia melihat Abi begitu marah seperti saat ini. Dulu Abi pernah marah seperti saat ini, dengan permasalahan yang sama. Yakni Diandra bertemu dan bersenda gurau dengan lelaki lain tanpa sepengetahuan Abi.
" Mas!!". Teriak Diandra saat Abi tak menghiraukan ucapannya.
"Berhenti dan turunin aku kalo kamu mau kaya gini!! Atau aku lompat!!". Ancam Diandra yang sudah frustasi karena Abi tidak mengurangi laju mobilnya.
Abi membanting stirnya ke kiri, untung saja kondisi lalu lintas sedang kosong hingga tidak menyebabkan kecelakaan.
" Kamu apa-apaan sih hah!!". Kesal Diandra menatap garang Abi yang terlihat masih mencengkeram stir mobilnya.
Diandra hendak membuka pintu mobil saat tubuhnya menabrak dada bidang suaminya lantaran Abi yang menarik tubuhnya.
"Jangan pernah temui laki-laki itu lagi". Ucap Abi, suaranya sudah melunak dan tidak sedingin sebelumnya. Namun tidak mengurangi suara tegasnya.
" Dia temanku. Apa alasannya aku tidak boleh menemuinya". sanggah Diandra tak terima. Pasalnya selama ia mengenal Panca, lelaki itu adalah orang baik yang tidak pernah menyakiti siapapun.
__ADS_1
"Dia menyukaimu. Dia menginginkan kamu Di!! Sadarlah!". Abi mencengkeram kedua lengan Diandra dan mengguncang tubuhnya.
" Heuh.." Diandra mendengus kesal dengan pemikiran Abi yang menurutnya terlalu mengada-ada.
"Aku mohon jangan temui dia lagi sayang". Pinta Abi dengan wajah frustasi. Suaranya pun sudah sangat lembut seperti biasanya.
" Kenapa nggak bisa? Kamu bisa sama kak Dea..kenapa aku nggak?!". Tanya Diandra menantang.
"Itu kesalahan terbesarku. Kesalahan yang bikin aku kehilangan kamu. Aku nggak bisa kehilangan kamu lagi Di..aku..aku nggak akan bisa hidup lagi kalo harus kehilangan kamu lagi". Diandra bisa melihat jelas sorot mata sedih dari mata suaminya.
" Kamu terlalu pandai membual". Sinis Diandra melepaskan paksa tangan Abi yang masih mencengkeram kedua lengannya.
Diandra membuang pandangannya keluar jendela mobil. Ia mudah luluh saat melihat sorot mata memohon suaminya, dan kali ini ia bertekad untuk tidak luluh.
Abi meraih wajah istrinya, menangkup kedua pipinya dan menatap dalam mata Diandra. Ia tahu berapa dalam kekecewaan dan kemarahan istrinya itu terhadap dirinya.
"Lepas". Diandra mencoba melepas tangan Abi, namun nihil.
" Aku bisa terima semua kebencian kamu sayang, tapi aku nggak akan sanggup kalau harus kehilangan kamu lagi". Abi mengelus lembut pipi Diandra, Sementara dalam diamnya Diandra menikmati sentuhan lembut Abi yang sudah begitu lama ia tidak rasakan.
"Sadar Di!! Sadar!!". Batin Diandra, namun instruksi otaknya ditolak oleh tubuhnya.
" Aku cinta sama kamu Di..lebih dari apapun". Diandra membeku saat Abi kembali mendaratkan ciuman dibibirnya. Mel*matnya lembut hingga membuat Diandra terbuai.
Akhirnya Diandra menyerah, memilih mengikuti apa yang tubuhnya lakukan daripada mengikuti perintah otaknya yang memintanya menolak perlakuan Abi.
Ciuman keduanya semakin lama semakin memanas, tangan Abi mulai bergerilya kemana-mana hingga Diandra tidak mampu menahan suara merdunya yang membuat Abi semakin bersemangat.
Nafas keduanya terengah, melepas ciuman sesaat untuk menghirup udara kemudian menyatukan kembali kenikmatan yang tengah mereka rasakan.
Mata keduanya sudah dipenuhi kabut gairah, namun kesadaran Diandra masih sedikit tersisa hingga ia menghentikan tangan Abi yang mulai menaikkan kaos yang ia kenakan.
__ADS_1