Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
Gaara


__ADS_3

Diandra melambaikan tangannya pada Panca yang berjalan semakin menjauh darinya. Gaara pun tak ketinggalan melambaikan tangannya pada paman dadakannya itu.


"Udah sih nggak usah diliat terus, sayang". Abi memaksa menurunkan tangan Diandra yang masih melambai pada Panca


" Ish..kamu apaan sih mas".


"Nggak usah dadah-dadah terus. Orangnya juga udah nggak keliatan ini". Diandra menggeleng pelan dengan seulas senyum melihat kecemburuan Abi.


Diandra memutuskan ikut mengantar Panca hingga bandara setelah keduanya bertemu tadi. Tak ingin Panca melancarkan aksinya mendekati Diandra, Abi segera menyusul ke tempat keduanya bertemu.


" Kata aku juga apa. Dia masih suka sama kamu, sayang". Bibir Abi komat-kamit. Ia ingat ucapan Panca sebelum berpamitan pada Diandra beberapa saat lalu.


"Kamu masih simpen nomor aku kan Di?". Diandra mengangguk saat tadi Panca bertanya.


" Kalau nanti laki-laki ini berani menyakitimu lagi, segera hubungi aku. Aku akan cepat kembali untukmu". Mengingatnya saja langsung membuat Abi mendengus kesal.


"Aku siap merangkap tugasku sebagai seorang kakak sekaligus suami yang baik". Abi bertambah sebal saja karena Diandra justru mengangguk dan kedua orang itu terbahak bersama.


" Liat papa kamu sayang, mukanya sangat jelek kalo gitu". Bisik Diandra yang masih bisa didengar oleh orang disampingnya.


"Apa-apaan itu, merangkap tugas? Cih". Abi mendecih


" Mana ada tugas rangkap kaya gitu. Keenakan". Sungutnya lagi membuat Diandra terkekeh pelan.


"Udah sih mas..ngomel mulu. Tuh kerutan dimana-mana". Goda Diandra sambil terkekeh menunjuk wajah Abi yang sebenarnya masih sangat kencang tak berkerut sama sekali.


" Nggak usah ngeledek deh". Sementara kedua orang tuanya berdebat, Gaara sibuk sendiri dengan kalung sang mama yang selalu bisa mencuri perhatiannya.


Kalung yang dihadiahkan kakaknya saat dirinya lulus SMA. Mungkin anak itu tahu kalung itu berasal dari mana, pasalnya setiap waktu Gaara selalu memainkan kalung itu

__ADS_1


Waktu terus berlalu, kehidupan damai yang keduanya jalani masih terus berlanjut hingga saat ini usia Gaara hampir menginjak 4 tahun.


Diandra pun masih kukuh menunda kehamilannya demi Gaara. Apalagi saat ini Gaara benar-benar semakin manja padanya.


Beberapa tahun lalu sahabatnya Naya juga sudah melahirkan. Namun rencana besar Naya yang ingin menjadikan Gaara sebagai menantu harus ia urungkan lantaran dirinya juga melahirkan seorang putra tampan.


Setiap harinya, Gaara semakin manja pada Diandra dan sering bertengkar dengan sang papa karena memperebutkan dirinya. Dan betapa kesalnya Diandra jika Abi dengan sengaja menggoda putra mereka dengan cara memeluk dan menciumi wajah Diandra didepan Gaara.


"Mas, lepasin deh. Itu kasian abang nangis". Kini Diandra dan Abi memang memanggil Gaara dengan sebutan Abang, membiasakan jika suatu saat anak itu memiliki adik katanya. Ide siapa lagi jika bukan ide bapaknya.


" Mama kan punya papa, bang". Goda Abi menciumi wajah Diandra yang sudah memberontak dipelukan Abi.


"Mama..huwaaaaaa.." Tangisan Gaara semakin keras. Sementara kakek neneknya yang menyaksikan itu hanya bisa menggeleng. Sudah lelah rasanya mereka memarahi Abi setiap hari.


"Mas..." Kesal Diandra yang membuat Abi melepaskannya sambil nyengir.


"Cup..cup..sini anak mama". Diandra langsung menggendong tubuh Gaara dan memeluknya sambil menepuk pelan punggung putra kecil nya itu.


"Cup..cup..anak pinter nggak boleh nangis ya, sayang. Mama punya Gaara". Pelukan Gaara pada leher Diandra semakin erat, anak kecil itu menatap sang papa dengan tatapan penuh permusuhan. Jika menyangkut Diandra, Gaara memang sangat galak pada siapapun.


" Ndak boyeeeh papaaaaa!!!". Teriak Gaara saat Abi berjalan mendekat. Abi kembali tergelak melihat posesifnya Gaara memeluk Diandra.


"Mas udah deh. Kamu mah seneng banget bikin anaknya nangis". Omel Diandra yang sudah sangat kesal. Pasalnya ia tidak bisa mengerjakan apapun jika Gaara sudah diganggu seperti sekarang ini.


" Abis gemesin. Liatin tuh anak kamu melototin aku sayang". Adu Abi pada Diandra Karena memang benar saat ini Gaara menatapnya sangar. Meski begitu wajah anaknya itu justru terlihat semakin menggemaskan.


"Makanya jangan digangguin terus dong. Nanti jadi galak anaknya". Diandra masih terus mengomeli Abi membuat mama Ana tersenyum puas.


Pasalnya anak lelakinya itu selalu ngeyel jika mama Ana menasehatinya. Abi hanya akan bungkam saat Diandra sudah mengomel tanpa henti seperti saat ini.

__ADS_1


Dan benar saja, hingga jarum jam menunjuk angka 12, Gaara tak mau lepas dari Diandra. Apalagi hari ini memang hari libur, sehingga Abi tidak pergi ke kantor. Semakin posesif saja Gaara pada Diandra.


" Sayang..mama bantu nenek sama oma masak dulu ya". Pamit Diandra namun Gaara segera bangkit dari duduknya dan kembali memeluk sang mama.


"Ndak mau.." Ucapnya tegas kemudian melirik papa nya yang terlihat menatap keduanya. Gaara sudah siaga satu saja jika papa nya ada dirumah.


Diandra menghela nafas pasrah kemudian melirik tajam suaminya yang justru mesem sana mesem sini melihat Diandra hendak mengomelinya lagi.


Abi berjalan mendekat membuat putra kecilnya langsung memasang badan didepan mamanya. Abi benar-benar gemas melihat tingkah Gaara. Ia mengusak lembut kepala putranya dan duduk dihadapan Gaara.


"Kita ajak mama jalan-jalan yuk, bang". Ajak Abi mengajak putranya berdiskusi.


Gaara tetaplah seorang bocah kecil yang saat mendengar kata jalan-jalan, ia akan antusias dan melupakan permusuhuannya dengan sang papa.


" Jalan-jalan mama.." Gaara menatap Diandra penuh harap. Jika sudah begini, Diandra tak akan kuasa menolak kemauan anak tersayangnya itu.


Setelah sepakat untuk jalan-jalan, keluarga kecil itu berniat menonton film yang sekiranya akan disukai Gaara. Sepanjang perjalanan bibir mungil itu tak henti mengoceh, menceritakan kegiatannya jika bersekolah, menceritakan temannya dan segala hal yang mampu membuat Diandra tersenyum.


Sampai di pusat perbelanjaan, Ketiganya berjalan berdampingan dengan Gaara berada diantara kedua orang tuanya. Terlihat jelas pancaran kebahagiaan di netra jernih bocah lelaki itu.


"Abang seneng?". Tanya Diandra yang duduk berdampingan dengan Gaara sembari menunggu Abi yang tengah membeli tiket dan cemilan untuk ketiganya.


Kepala kecil itu mengangguk cepat. Gaara bahkan langsung bangkit dan memeluk Diandra penuh kasih sayang sembari mengucapkan betapa sayangnya ia pada sang mama.


" Abang, sayaaaaang mama banak-banak". Diandra terkekeh dan membalas pelukan sang putra.


"Mama juga sayang abang banyaaaaaak banget". Balas Diandra. Wanita yang usianya hampir menginjak 27 tahun itu terlihat sangat menyayangi putra nya. Anak yang tak ia lahirkan namun begitu ia cintai.


" Besok kita tengok mama Dea ya.." Kepala kecil Gaara kembali mengangguk antusias.

__ADS_1


Ya, Diandra memang rutin membawa Gaara ke makam ibu kandungnya satu minggu sekali setiap hari minggu. Abi pun selalu ikut jika tidak sedang ada pekerjaan.


Bagaimanapun Diandra tidak ingin Gaara melupakan wanita berjasa yang melahirkannya didunia ini. Bahkan perlahan kini Diandra mulai menjelaskan pada Gaara tentang siapa mama Dea dan mengapa Gaara harus memanggilnya mama.


__ADS_2