Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
hal tak terduga


__ADS_3

Waktu berlalu tanpa terasa, hari ini Nala dan Zayn akan kembali ke kota mereka setelah tiga hari lama nya mereka menumpang di rumah pengantin baru. Sungguh aneh, jika kebanyakan pengantin baru akan pergi berbulan madu, lain hal nya dengan Raffa dan Delisha. Pengantin baru itu justru sibuk sendiri ikut mengurus Zayn.


"Makasih banyak ya, sarap. Maafin aku sama mas Zayn yang udah ngerepotin kamu sama istri kamu", Ucap Nala sungkan. Karena sejujurnya ia merasa tak enak, bukan tanpa sebab. Ia merasa mengganggu pasangan pengantin baru itu.


"Sini bayar kalo nggak enak". Ucap Raffa menengadahkan tangannya didepan Nala.


"Aduh.." Raffa mengelus kepalanya saat Kara menempeleng kepalanya. Membuat Delisha yang melihat kelakuan suami dan saudara kembar suaminya itu terkekeh.


"Masih kurang banyak duit lo". Sengit Kara


"Aaw.." Kini giliran Kara yang mengaduh saat telinganya ditarik oleh seseorang yang tak lain adalah Baim.


"Iya maaf, lupa". Kara langsung menyadari kesalahannya saat menatap tunangannya.


"Nggak usah sungkan, La. Kita semua keluarga". Ucap Baim bijak membuat Nala maupun Zayn tersenyum.


Pembawaan Baim yang tenang membuat siapa saja akan merasa nyaman saat berbincang dengan lelaki itu.


"Nggak mau nginep disini lagi aja La? Kan belom sempet jalan-jalan". Ucap Kara


"Kuliah Ra, kuliah. Jalan-jalan aja isi kepala". Cibir Nala membuat Kara tergelak.


"Kuliahnya istirahat dulu nggak apa-apa lah". Sahut Kara enteng membuat Nala mendengus.


Nala beralih menatap sosok yang rupanya juga menatapnya sedari tadi disudut ruangan. Lelaki yang tak lain adalah Gaara itu terus menatap intens padanya hingga membuat Nala salah tingkah.


Nala tersenyum untuk menyembunyikan kegugupannya. Berjalan perlahan untuk mendekati Gaara.


"Abang..makasih banyak ya bantuannya selama kami disini", Ucap Nala tulus saat ia sudah berdiri didepan Gaara yang masih diam mematung.


"Maaf..aku sama mas Zayn banyak repotin abang sama keluarga". Imbuhnya lagi membuat sudut bibir Gaara sedikit terangkat.


"Nggak masalah.." Sahut Gaara singkat membuat Nala tersenyum kecut.


Rupanya waktu tidak merubah perasaan Gaara terhadap dirinya. Sikap dingin lelaki itu tetap saja ada. Dan sepertinya begitupun dengan perasaan lelaki itu. Memiliki hati dan raga dari seorang Gaara hanya akan selalu ada didalam angannya saja.


"Kalo gitu, aku sama mas Zayn pamit dulu ya, bang. Sekali lagi makasih.." Nala tetap memberikan senyum terbaiknya pada Gaara yang bagaikan patung. Tak bergerak sedikitpun.


"Aku permisi..lain kali mampir ke rumah kami kalau sedang ke kota kami". Zayn menyalami Baim yang langsung mengangguk dengan senyum ramah.

__ADS_1


Berbeda dengan Baim, mata Gaara melebar saat mendengar kalimat Zayn yang menurutnya terdengar janggal.


Beberapa saat kemudian matanya semakin melebar saat menyadari apa yang janggal dari ucapan Zayn.


"Rumah kami? Tunggu! Rumah kami??? Apa maksudnya rumah kami?". Gaara berperang dengan pikirannya.


"Apa mungkin? Apa mungkin mereka tinggal bersama? Nggak! Nggak mungkin kan mereka tinggal bareng?". Kara menatap bingung pada Gaara yang termenung dan beberapa kali terlihat lipatan didahinya.


"Bang! Abang!". Seru Kara memanggil Gaara sambil melambaikan tangannya didepan Gaara. Namun lelaki jangkung itu tak merespon panggilannya.


"Abang!! Woiii!!!". Kesal karena terus diabaikan, Kara memukul pundak kakaknya cukup keras hingga membuat Gaara terlonjak.


"Paan sih". Sengit Gaara membuat Kara mencebik.


"Mau bengong disini aja? Itu Nala udah mau pergi". Ucapan Kara membuat Gaara segera mengalihkan tatapannya keluar rumah.


Nala dan Zayn sudah berdiri didepan teras, dan tunggu. Sejak kapan ada mobil asing yang sudah terparkir dihalaman rumah Raffa.


"Ayo buruan! Malah bengong lagi". Kara menarik paksa Gaara yang kembali termenung.


"Biar aku yang masukkin kopernya, La". Seorang lelaki muda yang cukup tampan yang menjadi teman baik Zayn mengambil alih dua koper dari tangan Nala.


Gaara berdecih, kesal juga lama-lama melihat Nala selalu mengumbar senyuman manis pada setiap orang yang ditemui.


Dan Gaara bukan lelaki bodoh, ia tahu lelaki bernama Farel itu menatap Nala dengan tatapan yang berbeda. Penuh kekaguman dan sepertinya lelaki itu menyukai sosok Nala.


Gaara kembali berdecih, ia berfikir jika Farel bukan teman yang baik untuk Zayn. Bagaimana bisa, seorang sahabat menyukai calon istri dari sahabatnya sendiri.


Didalam otak Gaara, sudah tertanam jika Zayn adalah calon suami dari gadis yang membuat dunianya jungkir balik setelah kepergian gadis cantik itu.


"Aku pamit dulu ya..sekali lagi makasih", Nala membungkuk sedikit dan menatap satu persatu orang disana.


Tatapan matanya berhenti pada sosok yang terus menatap intens dirinya. Membuat jantungnya dalam kondisi tidak baik karena harus bekerja keras.


Nala mengembangkan senyumnya, berharap bisa melihat senyuman mahal dari lelaki yang masih menempati tahta tertinggi dihatinya.


Jika boleh jujur, Nala kembali merasakan sakit yang dulu ia rasa. Satu tahun lalu, perasaan seperti yang saat ini ia rasakan, Perasaan tak rela meninggalkan, berat hati ia membalikkan tubuhnya. Masuk kedalam mobil setelah Zayn membukakannya pintu.


"Nanti aku telpon ya La.." Ucap Kara membuat Nala menatapnya. Memutus kontak matanya dengan mata tajam milik pemilik hatinya.

__ADS_1


"Iya..kapan-kapan main lagi ya kerumah". Ucap Nala dijawab acungan jempol oleh Kara.


Baik Kara maupun Nala sama-sama melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan. Kara tak menyadari ada yang menyorotnya tajam. Apalagi saat mendengar Nala berkata pada Kara untuk main kerumahnya.


"Jadi selama ini kamu tau kan Nala tinggal dimana?", Tanya Gaara pada Kara yang masih asyik melambaikan tangannya.


"Ya taulah. Nala tu sebagian hidup aku bang, masa iya aku nggak ta---u". Kara berkata dengan suara lirih diakhir kalimatnya saat sadar siapa yang sudah bertanya.


Gaara memasang senyum miring. Senyum dengan sejuta maksud yang membuat Kara kesulitan menelan salivanya. Ia memiliki firasat buruk tentang semua ini.


Dan benar saja, Gaara terus meneror Kara dan menanyakan di kota mana Nala tinggal dan dimana alamat gadis itu. Gaara juga mendesak Kara untuk memberikan nomor ponsel Nala.


Gaara tak peduli dengan gerutuan adiknya. Yang ia mau saat ini hanya alamat dan nomor ponsel Nala.


**¥¥ Beberapa bulan kemudian


Gaara mengepalkan tangannya kuat saat melihat sosok yang cukup ia kenal. Matanya terus menyorot tajam sosok lelaki yang saat ini tangannya tengah menggenggam tangan seorang gadis.


Ia segera mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar Zayn dan gadis yang tak ia kenal itu.


"Kurangajar". Geram Gaara yang tak melepaskan pandangannya dari sosok lelaki yang ia tahu sebagai calon suami gadis yang ia cintai.


"Pak?". Gaara tersadar saat sebuah tepukan dipundak ia rasakan. Nick, asistennya tengah menatap bingung padanya.


"Maaf pak, kita sudah ditunggu pak Burhan dan klien". Gaara kembali menatap punggung lelaki yang tak lain adalah Zayn.


"S*al". Umpat Gaara yang masih terus menatap Zayn yang semakin menjauh bersama sosok yang ia yakin bukan Nala.


Ia tak menyangka jika kedatangannya ke kota ini untuk menemui kliennya justru membuat dirinya mendapat hal tak terduga seperti ini.


"Aku nggak akan diem aj!".


...¥¥¥¥•••••¥¥¥¥...


Hollaaaaa semua..apa kabar kalian sekua? Semoga sehat ya..


Sebelumnya maafin othor yang menghilang tanpa kabar ini. RL bener-bener nggak bisa disambi ngehalu🤦🏼‍♀️


Semoga readers masih setia nunggu kelanjutan ceritanya si kuman ama kang gara-gara ya☺️

__ADS_1


Happy reading🥰🥰


__ADS_2