
Saat ini Abi dan Alvin serta beberapa temannya berdiri beberapa puluh meter dari sebuah bangunan tua dipinggiran kota yang sepertinya sudah sangat lama tidak digunakan.
"Itu mobilnya". Alvin menunjuk sebuah mobil yang terparkir disamping gedung. Sejak 10menit lalu Abi dan teman-temannya terus memantau gedung tua itu sambil menunggu kedatangan polisi bersama papa Herman dan papa Ihsan.
" AAAAAAAKKKKKKKHHHH..." Abi terkesiap mendengar jeritan dari suara yang teramat ia kenal.
Tanpa berpikir dua kali, Abi segera berlari tanpa memikirkan apapun yang nanti mungkin terjadi didalam gedung tua itu. Pikirannya dipenuhi oleh Diandra. Memikirkan nya saja sudah membuat hati Abi tak tenang.
"Bi!!! Woy!!! Bocah gila!".Gerutu Alvin yang sudah sangat mengenal bagaimana Abi jika menyangkut kekasih kecilnya itu.
"Susulin!". Perintahnya pada teman-temannya yang lain.
Semua teman Abi termasuk Alvin bergegas menyusul Abi yang sudah menghilang dari pandangan mereka.
" Buset dah tu anak, lari apa pake jurus apaan? Udah ngilang aja". Celetuk Alvin sambil berlari.
"Kaya nggak tahu aja kalo urusan Diandra mah tu anak kaga bisa ditawar". Balas salah seorang teman Alvin.
Sementara Abi yang sudah lebih dulu masuk kedalam gudang tidak menemukan siapapun. Ia mencari dan terus mencoba mencari hingga ia kembali mendengar jeritan Diandra.
Secepat mungkin ia berlari setelah memastikan dari mana arah teriakan kekasihnya itu, hingga ia sampai disebuah ruangan yang pintunya terkunci.
Abi berusaha membuka paksa pintu ruangan itu. Beberapa kali mencoba gagal, dan setelah beberapa saat ia akhirnya berhasil mendobrak pintu ruangan itu.
Matanya melebar, berkilat penuh amarah melihat apa yang ada didepannya saat ini. Meskipun hampir tak ada lampu, hanya cahaya temaram dari lampu yang ada diluar gedung, namun Abi bisa melihat jelas siluet tubuh tiga orang lelaki yang mengerubungi tubuh mungil Diandra.
" B*JINGAN!!! MINGGIR LO SEMUA ANJ*NG!!!!". Teriak Abi sambil menerjang satu persatu lelaki yang berani mengganggu kekasih hatinya.
Abi seperti orang kesetanan yang terus memukul dan memberi tendangan pada orang-orang yang ada didepannya. Hingga seseorang menahan tubuhnya dengan kuat membuatnya sulit bergerak.
__ADS_1
"Stop bro!! Gila lo! Bisa mamp*s tu orang-orang". Seru Alvin yang berusaha keras menahan tubuh Abi yang terus berontak.
" LEPAS VIN!!! BAGUS TU ORANG-ORANG MAMP*S!!". Teriak Abi masih terus berusaha melepaskan diri.
"DIANDRA LEBIH BUTUH ELO GOBL*KK!!!!!". Bentakan Alvin membuat Abi berhenti berontak. Amarah membuatnya melupakan gadis yang saat ini pasti sangat membutuhkan dirinya.
Dan benar saja, saat Abi berbalik, ia melihat Diandra duduk dengan memeluk lututnya dengan mata terpejam rapat dengan lelehan cairan bening yang sudah membasahi wajahnya.
Perlahan Abi mendekat dan berjongkok didepan Diandra, hatinya bagai terisis melihat keadaan Diandra. Baju yang robek dibeberapa bagian.
" Sayang.." Abi memegang pundak Diandra namun gadisnya itu justru berteriak histeris dan terus berusaha menepis tangan Abi.
"JANGAAAAANN!!! TOLONG LEPASKAN SAYA!!". Teriak Diandra.
" Di..ini aku sayang. Abi". Abi memegang kedua pundak Diandra dengan lembut karena takut Diandra akan semakin takut jika ia terlalu memaksa.
Abi melepaskan jaketnya untuk menutupi pundak Diandra yang terekspos karena baju seragamnya robek.
" Kakak..." Lirih Diandra saat sudah melihat siapa yang memeluknya. Ya, Diandra dulu memanggil Abi dengan sebutan kakak. Panggilan mas ia pakai saat dirinya sudah berada dibangku perkuliahan.
"Aku takut.." Imbuhnya lagi. Kini ia sudah membalas pelukan Abi bahkan sangat erat.
"Kita pulang ya sayang..kamu aman". Abi mengecup kening Diandra dan segera mengangkat tubuh ramping kekasihnya itu.
" Gue balik dulu..gue percayain mereka ke kalian" Pamit Abi pada teman-temannya yang mengangguk yakin.
Sejak malam itu, Diandra selalu ketakutan saat listrik padam atau dalam keadaan gelap. Trauma nya masih belum hilang dengan bertambahnya usianya, bahkan terkadang ia akan sesak nafas dan kesulitan bernafas jika dalam keadaan gelap seperti saat ini.
flashback off
__ADS_1
Abi kembali menatap wajah Diandra yang sudah terlihat damai. Ia mendaratkan kecupan lembut dikening istrinya dan kembali memeluknya. Tanpa sadar Abi ikut terlelap karena terlalu lelah dengan ingatan kenangan masa lalunya.
Diandra mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menormalkan penglihatannya karena cahaya matahari menelusup masuk kedalam kamarnya.
Ia merasakan sebuah tangan melingkar dipinggangnya, dan apa ini? Benda apa yang berapa tepat didepan wajahnya ini?
"Mas Abi?". Gumam Diandra menahan suaranya agar tidak berteriak. Ia mendongak, menatap rahang kokoh milik suaminya, hidung mancung dengan alis hitam yang tebal. Satu kata yang Diandra miliki untuk suaminya, tampan..sangat tampan.
Perlahan Diandra mengingat, mengapa bisa dirinya tidur berdua dengan Abi. Ingatannya kembali berputar pada kejadian semalam saat tiba-tiba semua menjadi gelap dan dirinya ketakutan.
" Makasih mas.." Lirih Diandra dengan mata mulai berembun. Sejujurnya ia masih mencintai suaminya, namun rupanya ia masih belum bisa berdamai dengan kesalahan yang dilakukan Abi.
Diandra segera memejamkan kembali matanya saat melihat mata Abi mengerjap beberapa kali. Ia tidak ingin Abi tahu jika sejak tadi dirinya sudah terbangun dan mengagumi ketampanan Abi.
"Pagi sayang.." Sapa Abi yang melihat Diandra masih terlelap didalam pelukannya. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum. Semalam adalah tidur ternyenyaknya setelah dirinya melakukan kesalahan besar dengan Dea.
Diandra merasakan hangat dikeningnya ketika Abi mendaratkan sebuah ciuman lembut disana. Ia hampir berteriak saat tiba-tiba sebuah benda kenyal menempel tepat dibibirnya, hanya menempel saja.
"Aku harap kita akan bisa seperti ini seterusnya sayang.." Abi mengelus lembut pipi Diandra.
Sementara Diandra berusaha sekuat mungkin untuk tetap terlihat tenang dalam tidurnya. Ia berpura-pura meleng*h untuk membuat Abi menghentikan aksi manisnya. Jantungnya tidak baik-baik saja jika Abi melakukan hal semacam itu.
"Semalam adalah tidur ternyenyakku Di..dan pagi ini adalah pagi terindah saat terbangun dan melihat wajahmu". Abi kembali mencuri cium dibibir tipis istrinya.
Perlahan ia menarik tangannya yang menjadi bantal untuk Diandra. Ia tidak mau Diandra marah jika dirinya berada satu kamar dengannya. Abi juga turun dari ranjang dengan sangat hati-hati agar tidak sampai mengganggu tidur Diandra. Ia tak tahu jika Diandra sudah terbangun lebih dulu.
Diandra segera membuka matanya saat mendengar pintu kamarnya kembali tertutup setelah Abi keluar dari kamarnya.
Ia merem*s dadanya yang berdebar kencang, irama jantungnya tak berjalan seperti normalnya.
__ADS_1
" Dasar bod*h! Bahkan setelah semua yang dia lakukan..kamu masih berdebar untuknya? Kamu benar-benar bodoh Di". Gumam Diandra dengan seulas senyum miris
Dirinya merasa menjadi wanita paling bodoh yang masih tidak bisa menyingkirkan perasaan cintanya pada Abi, bahkan setelah apa yang Abi lakukan padanya.