Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
Akhirnya kembali


__ADS_3

Diandra bangkit setelah menjewer telinga Abi. Ia berjalan menuju dapur untuk mengambil kopi Abi. Namun rupanya Abi mengikutinya, takut jika Diandra akan menghilang lagi jika terlepas dari pandangannya.


"Nih kopi". Diandra menyodorkan secangkir kopi pada suaminya. Namun Abi justru terus menatap Diandra.


Ditatap dengan intens membuat Diandra sedikit salah tingkah, bagaimanapun mereka sudah lama menjalani hubungan yang kaku. Atau lebih tepatnya dirinya lah yang membuat hubungan keduanya kaku.


" Pulang mas. Gaara nyari terus". Diandra kembali meletakkan cangkir kopi ke atas meja karena Abi justru terus menatapnya. Ia berbalik dan membelakangi Abi, tak sanggup juga lama-lama jika ditatap secara intens begitu.


Tubuhnya tiba-tiba membeku saat sebuah tangan kekar melingkari perut ratanya. Abi juga meletakkan kepalanya dipundak Diandra.


"Kenapa kamu kesini Di?".


" Kenapa emang? ". Diandra balik bertanya dengan kening berkerut.


Abi membuang nafasnya dan justru membuat Diandra merinding. Pasalnya lehernya seperti ditiup oleh Abi saat Abi membuang nafas. Diandra bahkan sampai menahan nafas karena tubuhnya tiba-tiba meremang.


" Kamu tahu aku akan kesulitan melepaskan kamu Di". Belitan diperutnya terasa semakin erat.


"Kamu dateng kesini sayang, dan aku anggep itu sebagai persetujuan kamu buat dampingin aku selamanya". Diandra masih diam. Sejujurnya semalam dirinya hanya reflek mendatangi Abi karena khawatir saat mendapat kiriman foto jika Abi sedang mabuk.


" Diemnya kamu, aku anggep kalo kamu setuju". Diandra memekik saat Abi membalikkan tubuhnya dan mendudukkannya diatas meja makan.


Abi mengunci Diandra dengan kedua tangan disisi kanan dan kiri Diandra hingga istrinya itu tidak bisa bergerak. Sementara Diandra hanya bisa diam sambil menatap wajah yang sejujurnya ia rindukan itu.


Sebelah tangan Abi terulur membelai lembut pipi Diandra. Matanya terus menatap istrinya itu, betapa merindunya ia pada gadisnya itu.


"Aku kangen banget sama kamu, sayang". Diandra melengos mendengar Abi merindukannya.


" Kangen tapi nggak pulang". Cibir Diandra membuat Abi menarik dagu istrinya untuk menatap dirinya langsung.


"Aku takut kamu semakin benci sama aku, sayang". Abi kembali membelai pipi Diandra.

__ADS_1


Mata Diandra melebar saat tanpa aba-aba, Abi menempelkan bibirnya dengan bibir Diandra. Awalnya hanya menempel, namun semakin lama semakin terasa menuntut.


Lidah Abi menerobos masuk dan mulai bermain didalam sana hingga membuat Diandra ikut terhanyut dalam permainan Abi. Ia bahkan melingkarkan kedua tangannya dileher Abi hingga tubuh keduanya menempel sempurna.


Lama keduanya bertukar saliva, melepaskan perasaan rindu yang sama-sama membelenggu dalam hati keduanya.


Diandra kalah, ia kalah dengan dirinya sendiri. Tembok yang ia bangun dengan kokoh ia hancurkan sendiri. Abi masih tetap Abi, ia masih lelaki yang memiliki hatinya sepenuhnya. Dan kini Diandra memasrahkan dirinya pada lelaki yang sebenarnya memang berhak atas dirinya lebih dari siapapun.


Puas menikmati bibir manis istrinya, Abi mengangkat tubuh Diandra yang langsung melingkarkan kakinya dipinggang Abi.


Abi menggendong Diandra ke kamarnya. Merebahkan tubuh istrinya perlahan keatas ranjang dan kemudian membelai lembut wajah istrinya. Diandra bisa melihat jelas kabut gairah suaminya.


"Sayang.." Suara Abi pun sudah terdengar berat. Diandra hanya menganggukkan pelan kepalanya dengan wajah yang entah sudah seperti apa saat ini.


Merasa mendapat lampu hijau, Abi tidak menyiakan kesempatan itu dan akhirnya terjadilah sesuatu yang memang harus terjadi diantara keduanya. (Adegan iya-iya nya dibayangin sendiri-sendiri aja ya. Othornya suka nggak bisaan)


*****


Diandra hendak bangkit, namun tangan kekar seseorang membelit kuat perut ratanya hingga ia kesulitan bergerak.


Perlahan ia membalikkan tubuhnya, sudut bibirnya terangkat melihat Abi ada disana. Ingatannya kembali pada beberapa jam lalu, membuat wajahnya memerah saat mengingat pergulatan panas antara dirinya dan Abi.


Akhirnya Abi pemenangnya. Dirinya dan egonya kalah dengan cinta yang ia miliki untuk suaminya, ia kalah dengan perjuangan keras Abi meluluhkan hatinya selama setahun terakhir ini.


Perlahan Diandra mengelus lembut rahang kokoh yang sudah ditumbuhi bulu-bulu yang cukup lebat. Sepertinya suaminya ini benar-benar tidak merawat diri satu bulan belakangan ini.


"Pada akhirnya tetap aku yang kalah mas.." Batin Diandra sambil menatap wajah tampan yang masih terlelap itu.


"Aaww.." Pekik Diandra saat Abi menggigit jarinya yang sedang mengelus bibir seksi itu.


"Masih kurang? hmm?". Tanya Abi dengan mata masih terpejam.

__ADS_1


" Kurang apa?". Diandra balik bertanya dengan polos.


"Kurang ini". Abi langsung bangkit dan menindih tubuh istrinya.


"Mas!!". Teriak Diandra saat Abi menindihnya. Tubuh yang sama-sama masih polos tanpa sehelai benang itu saling menempel hingga Diandra dapat merasakan sesuatu yang keras mengganjal di area bawahnya.


Wajah Diandra memerah bak kepiting rebus membuat Abi sangat gemas. Abi menghujani wajah Diandra dengan kecupan diseluruh wajah tanpa ada yang terlewat.


" Awas ih aku mau bersih-bersih". Diandra mendorong da da Abi, namun bukannya menyingkir, Abi justru semakin mendekatkan wajahnya dengan wajah Diandra.


Cup..


Sebuah kecupan hangat mendarat tepat dikening Diandra yang langsung terdiam. Ia balas menatap Abi yang saat ini juga tengah menatap matanya begitu dalam.


"Makasih sayang. Aku laki-laki paling beruntung". Abi kembali memeluk Diandra dengan erat. ( Pasti pada mau bilang, ya iya beruntung, kakaknya dapet, adeknya juga dapet. Mana sama-sama masih gadis lagi hahaha )


Diandra hanya diam tanpa berkata apapun. Ia menikmati pelukan Abi. Pelukan yang lama tidak bisa ia nikmati walau sebenarnya bisa ia rasakan kapanpun.


Cukup lama keduanya diam dengan posisi Abi memeluk Diandra dari belakang. Dalam hati Abi benar-benar bersyukur karena setelah satu tahun lebih lamanya, ia bisa kembali bersama Diandra.


" Kamu udah maafin aku?". Tanya Abi setelah lama keduanya terdiam


"Ya menurut kamu? Aku mau ditidurin kalo nggak maafin kamu". Kesal Diandra.


Abi terkekeh pelan mendengar suara kesal istrinya. Sudah lama rasanya ia tidak mendengar dan melihat kekesalan istrinya itu. Tiba-tiba tangan Abi beralih mengelus perut rata Diandra.


" Disini udah ada adiknya Gaara belum ya sayang?". Tanya Abi tiba-tiba hingga membuat Diandra terdiam dan berpikir.


"Semoga belum". Sahut Diandra kemudian membuat Abi langsung membalikkan tubuh istrinya.


" Kamu nggak mau kita cepet punya anak?". Tanya Abi dengan kening berkerut lantaran bingung. Pasalnya dulu, sebelum ada kejadian dirinya dan Deanita terjebak hubungan suami istri, Diandra pernah berkata jika suatu saat ia kenikah dengan Abi, ia ingin langsung memiliki anak dan tidak ingin menundanya. Lalu mengapa sekarang Diandra berubah pikiran.

__ADS_1


"Bukan. Gaara masih terlalu kecil untuk memiliki adik mas. Aku ingin mencurahkan seluruh kasih sayangku dulu padanya agar suatu saat dia tidak berpikir jika aku tidak lagi peduli sama dia. Aku sayang sama Gaara kaya anak kandung aku sendiri. Jadi lebih baik kita tunda punya momongan lagi supaya Gaara puas dulu sama kasih sayang kita". Abi tak percaya mendengar penjelasan Diandra. Ia sama sekali tidak menyangka jika Diandra benar-benar memikirkan Gaara meski anak lelaki itu bukan putra kandungnya.


__ADS_2