
"Jadi nama adik siapa mama?". Tanya Gaara yang masih menempel pada Diandra. Sikap manjanya tak hilang meski adiknya sudah lahir.
"Coba tanya papa". Diandra melirik Abi yang sedang menggendong princessnya.
"Nggak mau. Maunya mama yang kasih nama". Tolak Gaara
"Emangnya kenapa?". Tanya Diandra heran.
"Masa iya udah mulai ribut lagi sih. Kan kemaren udah akur". Batin Diandra menatap was-was pada para lelaki yang amat ia cintai itu.
"Nanti kasih namanya jelek". Abi menjatuhkan rahangnya mendengar suara santai putranya.
"Kamu nggak percaya sama papa?". Tanya Abi menatap putranya.
"Enggak". Jawaban cepat tanpa harus berpikir, itulah yang Gaara ucapkan.
"Waah, kamu bener-bener". Abi tak bisa melanjutkan ucapannya, ia hanya bisa menggeleng.
Sebisa mungkin Diandra menahan tawanya, melihat suaminta frustasi dengan sikap ceplas ceplos anak pertamanya.
"Jadi siapa namanya??". Tanya Gaara mendesak.
Semua menatap Diandra, menunggu jawaban yang sejak tadi mereka tunggu namun terhalang dengan perseteruan anak dan bapak yang tak kunjung usai.
"Sakha Raffa Argantara, nama adik laki-laki kamu, Sakha". Abi mendekat dan mengelus kepala Gaara.
"Sakha? Papa yang kasih nama?". Abi mengangguk.
"Tumben bagus". Gumam Gaara membuat Abi kembali melongo.
"Lalu nama adik perempuan siapa?". Tanya Baim yang sejak tadi fokus pada adik perempuannya.
"Sabhita Lengkara Argantara, kalian bisa panggil dia Kara". Senyuman puas tersungging dibibir semua orang.
"Sakha, Kara.." Gumam Baim dengan senyuman bahagia.
Dan keributan antara Abi dan Gaara terus berlanjut, Gaara mempertanyakan alasan sang ayah memberi mama adik perempuannya Kara. Kenapa seperti nama santan instan. Tapi jika dipikir-pikir, apa yang ditanyakan Gaara ada benarnya.
"Kenapa kaya santan instan papa".
__ADS_1
"Kata siapa?". Tanya Abi tak terima
"Abang suka liat bungkus santan yang dipake nenek sama mama masak. Oma juga suka pake, iya kan oma?". Keributan itu terus saja berlanjut hingga berkali-kali semua orang dibuat terpingkal dengan tingkah keduanya.
Diandra hanya memperhatikan keributan antara suami dan anaknya itu. Saat-saat seperti ini akan ia rindukan saat nanti buah hatinya beranjak dewasa.
***__***
"Tapi abang mau jagain mama sama adik". Rengek Gaara saat kakek dan neneknya mengajak pulang.
"Besok abang sama kakak kesini lagi pulang sekolah. Sekarang biar mama istirahat ya". Bujuk mama Dita.
"Tapi kenapa papa nggak disuruh pulang?". Tatapan mata anak itu beralih pada sang ayah yang melotot tak percaya mendengar pertanyaan anaknya.
"Ya kan papa jagain mama". Sahut Abi membuat Gaara melengos
"Bisa juga abang yang jaga mama. Papa nggak bisa". Abi semakin melongo, bisa-bisanya anaknya masih mengajaknya ribut disaat seperti sekarang.
"Mode gelutnya udah on". Diandra bergumam sambil menggeleng melihat anak dan suaminya sudah mulai meributkan hal-hal tidak penting. Padahal mereka baru saja diam ribut perkara nama Kara yang seperi santan instan. Kini merek kembali ribut perkara jaga menjaga dirinya.
"Mama masih sakit?". Diandra mengalihkan pandangan pada anak tampan yang sedari tadi duduk disamping ranjangnya.
"Gaara, ayo kita pulang". Gaara beralih menatap Baim yang sudah berdiri disamping papa Herman.
"Nanti dulu, aku belum selesai". Seolah enggan menyudahi acara ributnya itu dengan sang ayah.
"Udah sana pulang. Mama biar papa yang jagain". Gaara menatap tak suka, merasa diusir oleh sang papa yang memasang wajah menang.
"Ck, abang titip mama ya pa. Jangan sampe mama sakit lagi". Setiap katanya berisi peringatan keras pada sang papa yang hanya bisa menggeleng gemas melihat putranya.
"Mama, abang pulang dulu ya. Besok abang kesini lagi". Gaara mendekati sang mama, naik ke ranjang dengan menggunakan kursi dan memeluk serta mencium sang mama.
"Kalo papa nakal, mama tinggal bilang sama abang. Nanti biar abang yang hukum papa". Nenek kakek serta sang mama hanya bisa tertawa mendengar ucapan bocah 5tahun itu. Betapa menggemaskannya anak itu.
"Siap deh..nanti kalo papa nakal ke mama, mama bilang ke abang ya". Gaara mengangguk puas mendapat jawaban Diandra.
"Inget ya papa, jagain mama". Bahkan sebelum keluar dari kamar rawat sang mama, Gaara masih saja memperingatkan sang ayah.
"Astaga, anak siapa sebenarnya dia. Kenapa sensi banget sama aku". Gerutu Abi membuat Diandra dan mama Ana yang masih menunggui menantunya terkekeh.
__ADS_1
"Dia kan kaya kamu, maunya Diandra buat sendiri. Nggak boleh ada yang deketin". Sindir papa Ihsan yang ingat betul bagaimana Abi saat remaja dulu.
"Bener kata papa, dia tuh nurun banget dari kamu. Kalo udah jadi punyanya, posesifnya nggak ada yang ngalahin. Ampun deh pokoknya". Timpal mama Ana membuat Abi mencebik kesal karena kedua orang tuanya justru meledeknya.
^^^***^^^
Tiga hari sudah Diandra dirawat dirumah sakit. Sebenarnya sejak hari pertama Diandra sudah diizinkan pulang karena memang kondisinya dan dua anak kembarnya normal.
Namun Abi tidak membiarkan istrinya pulang. Abi bersikukuh untuk Diandra dirawat selama tiga hari disana.
Dan hari ini Diandra sudah benar-benar diperbolehkan pulang. Jangan tanyakan bagaimana antusiasnya Gaara dan Baim yang mengetahui sang mama sudah diperbolehkan pulang.
Keduanya bahkan memilih bolos sekolah hanya untuk bisa ikut menjemput mama dan kedua adik kembarnya.
Sebenarnya Baim sudah ingin bersekolah, sesuai perintah nenek angkatnya. Namun Gaara memaksa Baim agar mau mendukung keinginannya. Tentu saja Baim akan menurut apa permintaan saudara angkatnya itu.
Mama Dita dan mama Ana sudah membujuk keduanya agar mau bersekolah dan mengatakan jika pulang sekolah nanti mama dan adik kembarnya sudah ada dirumah, namun keduanya keukeuh tidak mau sekolah dan ingin ikut menjemput mama nya.
Merasa tak berhasil membujuk kedua cucunya, mama Dita pasrah saat kedua cucunya sudah rapi dengan pakaiannya. Keduanya bahkan mandi sejak pagi-pagi sekali, tidak perlu membangunkan keduanya saja keduanya sudah bangun dengan sendirinya.
"Ayo oma..udah siang". Sejak tadi Gaara sudah memburu sang nenek agar cepat bersiap.
"Kalian harus makan dulu gantengnya oma". Mama Ana mengusak gemas rambut cucunya.
"Makannya nanti aja, oma. Aku mau ke mama sama adik". Rengek Gaara
"Makan dulu Gaara, nanti kalo sakit nggak bisa jagain mama sama adik kembar". Ucapan bijak dari Baim membuat mama Ana tersenyum.
Kedua anak itu sedikit berbeda, meski sikap dingin mereka sama jika pada orang lain. Namun Baim lebih dewasa dibanding Gaara yang cenderung manja dan cerewet jika dirumah.
Mungkin karena keadaan yang membuat Baim selalu bersikap dan berpikir dewasa. Berbeda dengan Gaara yang sejak bayi selalu dilimpahi kasih sayang oleh Diandra dan Abi serta keluarganya.
"Ayo makan dulu". Baim menarik tangan saudaranya ke meja makan.
***___***
Double up ya semuaa, jangan lupa jempolnya yaaa..
Jangan lupa mampir dikarya aku yang lain, ada **'Imperferct Partner' sama ada **'Cinta Kirana'
__ADS_1