
Bukan hanya Kara yang mematung melihat siapa yang sudah bersandar di sebuah mobil hitam tinggi itu. Wajahnya yang rupawan serta tatapan mata tajamnya berhasil membuat semua gadis yang melewatinya menatap kagum ciptaan tuhan itu.
Arkan tersenyum melihat wajah terkejut Kara. Nala yang disampingnya pun tak kalah terkejutnya.
"Itu yang mau dijodohin ama elo?". Tanya Nala membuat Kara menoleh pada sahabatnya itu.
"Hm.." Kara hanya menjawabnya dengan sebuah deheman. Namun membuat Nala memekik heboh.
"Astaga Lengkara!!! Kalo kaya gitu yang mau dijodohin sih gue mau. Kaga usah dipaksa juga mau gue mah". Pekik Nala kegirangan. Selama ini ia hanya melihat Arkan dari foto saja. Ia tak menyangka jika Arkan ternyata jauh lebih tampan daripada fotonya.
"Hish..!". Kara mendesis kesal melihat Nala heboh sendiri.
"Hai.." Kara mengerjap beberapa kali melihat Arkan sudah berdiri didepannya dengan senyum lebar yang menambah kadar ketampanannya. Semakin membuat para gadis yang melihatnya memekik heboh.
"Aduh gusti, meleyot deh gue..sumpah". Gumam Nala menatap kagum Arkan. Sementara Kara membalas sapaan Arkan dengan senyum kaku.
"K-kak Arkan kok disini?". Tanya Kara heran.
"Gue abis dari rumah lo tadi. Tante Diandra sama mama minta gue jemput lo.." Senyum menawan itu masih terus terpatri di wajah tampan Arkan. Namun Kara sama sekali tidak tertarik.
Kara justru celingukan seperti mencari sesuatu. Dan tatapan matanya terhenti pada sosok lelaki yang sudah berhasil merebut seluruh hatinya tengah menatap teduh padanya.
Lelaki yang tak lain adalah Baim tersenyum dari jarak yang tidak terlalu jauh dari Kara. Namun hati Kara justru sakit melihat senyum Baim yang Kara yakini itu palsu.
"Loh, itu kak Baim kan?". Kara segera menatap Arkan, rupanya lelaki itu mengikuti arah pandangnya hingga ia juga melihat Baim.
"Tante Diandra nggak bilang kalo elo mau dijemput kak Baim". Arkan merasa sungkan karena tidak mengetahui jika Baim juga akan menjemput Kara.
"Udah dari tadi, Ar?". Tak ingin terlihat mencurigakan, Baim berjalan mendekat pada Arkan dan Kara dan menyapa lelaki yang katanya akan dijodohkan dengan kekasihnya itu.
"Belom kak. Gue baru dateng. Tante Diandra nggak bilang kalo kak Baim jemput, makanya gue nurut aja suruh jemput Kara". Jelas Arkan membuat Baim tersenyum saja.
"Gapapa, bukan salah kamu". Kara menatap Baim. Entah apa yang sedang Baim pikirkan tapi Kara yakin Baim sama tidak nyamannya seperti dirinya.
"Kamu pulang sama Arkan aja gapapa. Kasian dia udah jauh-jauh kesini jemput kamu". Kara melebarkan matanya menatap tak percaya kekasihnya.
"T-tapi.."
"Kakak kebetulan ada urusan. Gapapa kan?". Kara menghela nafas panjang dan mengangguk lemah.
"Gapapa kan Ar? Titip Kara ya.." Baim menepuk pelan pundak Arkan yang langsung mengangguk.
"Siap kak. Kara aman sama gue". Sahut Arkan yakin.
"Yaampun..beruntung banget sih nasib sahabat gue". Gumam Nala masih mengagumi wajah Arkan dan Baim secara bergantian. Wajah keduanya sama-sama tampan meski Nala akui jika Baim memang terlihat lebih tampan dan menawan. Apalagi pembawaan Baim yang kalem dan tenang membuat pesona lelaki itu semakin membuat kaum hawa menggilainya.
__ADS_1
"Kita pulang dulu kak.." Pamit Kara mencium punggung tangan Baim yang langsung mengelus lembut kepala Kara.
"Duluan kak.." Baim mengangguk. Menatap punggung Kara dan Arkan yang mulai menjauh.
Sudut bibirnya terangkat saat melihat Arkan membukakan pintu untuk Kara. Meskipun ia tak rela, namun ia tidak bisa berbuat lebih untuk saat ini. Biarlah seperti ini dulu sebentar sambil ia memperjuangkan sesuatu untuk dirinya dan Kara.
"Kak.." Baim menoleh saat melihat Nala menatapnya sedih.
"Kakak gapapa, La. Kamu pulang gih. Ntar dicariin mama kamu". Nala mencebik.
"Gue bukan anak sd kak". Gerutu Nala namun tak urung mengikuti ucapan Baim dan berpamitan pada Baim.
"Hati-hati. Jangan ngebut.." Nala mengacungkan jempolnya pada Baim.
Sementara didalam mobil hanya ada keheningan. Kara masih memikirkan Baim. Apa yang lelaki itu pikirkan sekarang. Bagaimana perasaannya. Dan segala hal tentang Baim yang terus mengganggu Kara.
"Ra.."
"Lengakara".
"Hah? Eh iya apa?". Kara tergagap saat pundaknya ditepuk seseorang.
"Lo gapapa?". Tanya Arkan membuat Kara menggeleng.
"Dari tadi gue panggil tapi lo bengong". Kara tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
"Gue nanya, mau langsung pulang apa mau mampir kemana dulu?". Kara tampak terdiam sesaat.
"Kalo langsung pulang..pasti mama ngomongin perjodohan terus. Mending gue kabur aja ama kak Arkan. Seenggaknya kak Arkan nggak akan bahas masalah perjodohan gila ini kan.."
"Kita cari makan dulu aja kak. Mau kan?". Tanya Kara antusias. Ia memilih tidak cepat pulang agar tidak diteror pertanyaan-pertanyaan konyol mama nya.
"Hmm..ga makan dirumah aja?". Tanya Arkan ragu. Pasalnya ia belum meminta ijin Diandra maupun Naya.
Alis Arkan mengernyit saat Kara justru mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya yang sejak tadi ia pangku.
"Assalamualaikum, ma. Aku mau jalan-jalan sama kak Arkan dulu ya".
"Iya, aku pulang sebelum makan malem". Kara mematikan teleponnya, Menatap Arkan dengan senyum cerah.
"Udah..kita makan dulu ya". Akhirnya Arkan menurut dan mengikuti petunjuk Kara.
"Kita makan disini. Gapapa kan kak?". Tanya Kara menatap Arkan meminta persetujuan. Pasalnya bukan restoran mewah yang kini ada di hadapan mereka. Hanya pedagang mie ayam dengan gerobak dipinggir jalan.
"It's oke. Selagi enak, kenapa enggak". Arkan membuka sabuk pengamannya dan segera turun disusul Kara.
__ADS_1
"Padahal nggak usah dibukain kak. Gue bisa sendiri". Kara nampak tak nyaman karena Arkan terus memperlakukannya baik.
"Gapapa. Ayo turun". Kara turun dari mobil dan segera masuk ke warung tenda langganannya.
"Maaaang..." Arkan menggelengkan kepala dengan senyum tipis dibibirnya mendengar teriakan melengking Kara.
"Waaah, si eneng. Udah lama nggak kesini.." Jika dilihat dari interaksi keduanya, sepertinya Kara adalah pe langgan tetap disini.
"Kangen ama mie ayam buatan mamang. Mau dua dong.."
"Siiiap atuh".
"Eh siapa ini? Meuni kasep. Pacarnya ya?". Goda si penjual membuat Kara langsung mengibaskan tangannya cepat.
"B-bukan mang. Ini sodara jauh mang..udah ah cepetan bikinin. Aku udah laper banget nih". Kara segera mencari tempat duduk yang kosong.
Kedatangannya dan Arkan cukup menarik perhatian beberapa pembeli lain. Terutama gadis-gadis muda yang terlihat sangat mengagumi wajah Arkan.
"Siap atuh..tunggu sebentar ya". Kara mengacungkan jempolnya pada penjual mi ayam langganannya.
"Udah sering jajan disini?". Tanya Arkan memecah kecanggungan. Ia bisa melihat dengan jelas jika Kara tidak nyaman berdua dengannya.
"Dari jaman SMP, kak". Kara tersenyum senatural mungkin.
"Biarin lah. Daripada gue diobok-obok dirumah ama mama. Pasti ditanyain cocok enggak, baik kan kak Arkan. Hah, gue nggak siap bikin mama kecewa". Batin Kara merasa bersalah pada Arkan.
Tak lama dua mangkok mia ayam diletakkan didepan keduanya. Dari penampilannya, Arkan yakin jika itu enak.
"Makan kak, jangan diliatin mulu. Kaga bakal kenyang". Arkan menoleh, mendapati Kara sudah mulai menuangkan bumbu pelengkap seperti saos, kecap dan sambal yang sangat banyak hingga membuat mi ayam Kara sangat merah.
Arkan bergidik membayangkan makanan pedas itu melewati tenggorokannya. Pasti sangat pedas dan panas.
"Nggak kebanyakan itu, Ra? Lo bisa sakit perut..lagian pasti pedes". Arkan masih menatap tak percaya mangkok Kara.
"Masih pedesan omongan tetangga kak". Kara tertawa dan mulai menyantap mi ayam miliknya.
"Hemh..enak banget. Mau coba kak?", Arkan langsung menggeleng cepat membuat Kara terkekeh.
"Pelan-pelan, Ra. Gue nggak bakal minta". Kara mematung saat Arkan mengusap ujung bibirnya dengan jempol. Membuat suasana tiba-tiba semakin bertambah canggung dan hening.
...---¥¥¥---...
Piye iki teman-teman. Kira-kira gimana ini???
Aku kok deg-degan sendiri ya😂😂
__ADS_1
Takut dibully ama disantet online sama kalian😂😂😂
Sabar yaaa..pelan-pelan biar ada gregetnya😁 Jangan dibully sama jangan diomelin lah ya☺️😁