
Hari-hari Kara sebagai seorang murid SMA sama seperti kebanyakan remaja lainnya. Tak perlu ditanyakan lagi kenakalan Kara. Karena masalahnya dengan ketiga gadis yang mencari ribut dengannya tempo hari belum juga usai.
Belum usai permasalahannya dengan gadis-gadis gila itu. Saat ini Kara dibuat geram dengan hal yang ia lihat.
"Kebiasaan lo mah Ra. Lama-lama sepatu lo tinggal sebelah semua". Gerutu Nala menahan Kara yang hendak melepas sepatunya.
"Weeiiitss. Jangan mangkok baso juga yang lo lempar! Gila aja lo, Ra. Bisa mati anak orang". Nala menahan tangan Kara yang sudah siap melemparkan mangkok baso yang sedang ada dinampan yang ia pegang.
Kara menyambar jus jambu pesanannya yang ada didalam cup plastik. Tanpa berpikir dua kali, Kara melemparkannya sekuat tenaga hingga pecah mengenai kepala seorang yang membuat darahnya mendidih sedari tadi.
"YAAAAA!!!!!!". Teriak orang yang dilempar jus oleh Kara, jelas saja ia tak terima.
Orang tersebut berbalik, mencari siapa gerangan yang berani melemparinya dengan minuman hingga seragamnya basah dan kotor.
Kara nampak tenang, tak terganggu dan tak terlihat sedikitpun ketakutan dari wajahnya.
"LO!! Lo yang lempar?!!". Tanya pemuda yang sudah basah dengan jus menatap tajam Kara dan Nala yang bersembunyi dibalik tubuh Kara.
"Nyari mat* tu cewe". Gumam beberapa orang saat melihat pemuda itu mendekati Kara dengan senyum miring.
"Jadi lo yang lempar?". Kara mengangkat sebelah alisnya dan menatap remeh lawan bicaranya.
"Jangan cari masalah sama gue, cantik". Tangan lelaki itu berusaha membelai pipi Kara, namun dengan cepat Kara menepis dan menampar keras wajah lelaki itu hingga terhuyung dan menabrak meja kantin.
Tanpa mempedulikan makian dan umpatan dari lelaki yang baru saja ia tampar. Kara berjalan cepat menghampiri seorang lelaki yang tersenyum menatapnya.
Kara lalu mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh lelaki yang tak lain adalah Raffa, saudara kembarnya.
"Gini aja bonyok lo". Cibir Kirei melihat sudut bibir saudara kembarnya sobek.
"Kaga liat mereka berapa orang? Liat juga badannya segede kulkas 2pintu gitu". Ketus Raffa yang tak terima diremehkan adik kembarnya.
"Wah..wah..wah. Jadi ini sodara kembar lo? Cakep juga". Didepan Kara dan Raffa sudah berdiri 5pemuda yang tadi mengeroyok Raffa.
"Boleh lah buat gue aja. Lo boleh pergi asal cewek cantik itu buat gue". Raffa tersenyum miring menatap lawan didepannya.
__ADS_1
"Banci!". Hanya sepatah kata dari mulut Kara. Namun berhasil memancing amarah orang-orang yang sejak tadi menatapnya tajam.
"Mulut lo perlu diajarin sopan santun". Geram salah seorang lelaki disana.
Suasana dikantin semakin riuh. Belum sempat mereka berpaling dari keributan Raffa dan kelima lelaki yang memang terkenal sebagai senior yang suka berlaku seenaknya pada adik kelas. Kini ditambah Kara yang dengan beraninya seolah menantang kelima pria itu untuk berduel.
"Lo kira gue takut?!". Kara tersenyum remeh membuat Raffa menggeleng dengan senyum menawannya menatap gemas Kara.
Adik kembarnya memang memiliki nyali sebesar gunung. Jangankan hanya lima orang, jika Kara ditantang oleh sepuluh pria sekalipun akan ia hadapi jika itu memang perlu.
"Ada apa ini?!". Semua orang beralih menatap pintu masuk kantin.
"Cabut". Kelima pemuda yang hendak menyerang Kara dan Raffa tiba-tiba pergi setelah kedatangan seorang guru.
"Urusan kita belom selesai! Awas nanti lo pulang sekolah!". Ancamnya pada Raffa dan Kara yang nampak biasa saja.
Kara menarik tangan Raffa menuju UKS. Diikuti Nala yang setia mengekor dibelakangnya.
"Pelan-pelan lo. G*la ya. Sembuh kaga, tambah bonyok iya kalo cara lo ngobatin kaya gitu". Protes Raffa saat Kara menekan kuat luka disudut bibirnya.
"Bilang gue tukang bikin masalah. Biang rusuh segala macem. Terus lo apaan? Dasar sinting". Cibir Kara sembari mengobati luka saudara kembarnya. Hal seperti ini sudah sering keduanya alami. Bahkan saat baru pertama kali menginjakkan kakinya di SMP. Entah mengapa banyak sekali senior yang membuat masalah dengan keduanya. Padahal keduanya tak pernah sekalipun memulai.
"Udah ah. Gue mau masuk kelas, bye!". Kara meninggalkan Raffa setelah selesai mengobati luka saudaranya.
"Ra.." Panggil Nala saat keduanya sudah duduk didalam kelasnya.
"Ra.." Panggilnya lagi karena Kara yang merespon dan tetap merebahkan kepalanya diatas meja.
"Apasi! Berisik, gue ngantuk". Gerutu Kara merasa waktu tidurnya terganggu karena ocehan Nala.
"Ish! Tidur mulu kerjaan lo. Segitu tiap pelajaran tidur nilai lo nggak pernah mengecewakan. Heran gue ama cara kerja otak lo". Antara bingung dan kagum yang Nala rasakan pada sahabatnya itu. Entah bagaimana bisa, Kara menyerap semua pelajaran dengan sangat baik. Padahal selama jam pelajaran temannya itu asyik merajut mimpi.
"Lo gangguin gue cuma mau ngoceh gituan doang?". Tanya Kara mendengus kesal.
"Eh..bukan". Nala kembali menggoyangkan lengan Kara karena akan kembali merebahkan kepalanya.
__ADS_1
"Apalagi sih Analaaaaa". Kesal Kara
"Gue kepikiran sama orang-orang tadi. Takutnya mereka beneran nungguin elo sama Raffa pas nanti pulang sekolah". Kara tersenyum geli melihat kekhawatiran sahabatnya.
"Kaya baru sekali liat aja sih lo". Kara menggeleng heran membuat Nala mendengus.
"Jangan tawuran mulu lah. Muka lo bonyok mulu. Lama-lama cantik lo luntur. Katanya mau ngejar cintanya kak Baim. Masa mukanya jelek". Rayu Nala agar Kara mau menghindari masalah.
"Kak Baim..Heuh". Kara tersenyum kecut mengingat nama itu.
Tanpa memperdulikan ocehan Nala. Kara justru benar-benar tidur selama mata pelajaran berlangsung hingga bel pulang berbunyi.
"Otak lo emang udah distel kayanya deh Ra. Giliran mau pulang langsung melek. Gila sih". Nala tak mengerti lagi akan berkomentar seperti apa.
Keduanya berjalan menuju parkiran motor. Karena Gaara maupun Baim tidak bisa terus menerus mengantar dan menjemput mereka, papa Abi membelikan motor untuk Raffa. Agar memudahkan ia dan Kara untuk pergi dan pulang sekolah bersama.
"Balik gih sono". Usir Kara karena Nala terus mengikutinya hingga parkiran motor. Padahal Nala membawa mobil.
"Lo bareng gue aja deh. Jangan bareng Raffa". Ajak Nala membuat Kara mengernyit heran.
"Lo kenapa sih. Gue mau bareng si Rapa aja. Lagian rumah kita tuh nggak se arah". Tolak Kara
"Ih tapi gue takut tau kalo orang-orang yang dikantin tadi beneran nungguin lo sama si Raffa". Rupanya Anala benar-benar mengkhawatirkan Kara dan Raffa.
Ia semakin khawatir saat tadi di kantin ia mendengar banyak orang membicarakan lima orang pemuda yang tadi menyerang Raffa. Kelimanya memang terkenal kejam.
"Lo kaga percaya ama kemampuan si sarap? Gue ama dia La". Kara terus mencoba menenangkan.
"Udah sih nyantai aja". Kara menepuk pelan pundak sahabatnya beberapa kali.
"Gih balik sana. Tuh si Rapa udah nunggu gue". Kara mendorong pelan tubuh Nala.
"Lo ati-ati ya. Langsung kabarin kalo ada apa-apa". Kara mengangguk dan melambaikan tangannya pada Nala.
...---***---...
__ADS_1
Duh si kembar emang beneran rusuh banget ya..punya hobi bikin rusuh yak😂
Tunggu kelanjutannya ya manteman semuaa☺️☺️