
Suara tepuk tangan menggema memenuhi seluruh isi aula. Sepasang suami istri menatap bangga pada sepasang anak kembar yang saat ini tengah berdiri ditengah panggung yang disiapkan oleh pihak sekolah.
"Selamat sayang..kamu berhasil". Bisik Abi ditelinga istrinya yang menatap haru sepasang anak kembarnya.
"Mereka benar-benar membanggakan". imbuhnya
"Iya mas..ya walaupun suka bikin emosi". Diandra balik berbisik dan keduanya terkekeh pelan.
"Kalo pas gitu juga anak kamu". Abi sedikit tergelak saat mengatakannya.
.
.
"Kakaaaaak..." Teriak Kara saat melihat Baim yang sudah menunggunya di halaman sekolah. Ia berlari menghampiri Baim dan melompat ke pelukannya.
Dengan senang hati Baim menangkap tubuh kekasihnya dan balas memeluknya erat.
"Selamat ya.." Ucap Baim tulus membuat Kara mengangguk masih dengan memeluk Baim.
"Kamu hebat.." Puji Baim lagi dan membuat Kara semakin mengembangkan senyumannya.
"Abaaaang, peluuuk..." Rengek Raffa yang langsung membuat Gaara bergidik.
"Ji jik anj*r!". Bukan pelukan yang Raffa dapatkan. Namun justru sebuah sentilan dikening yang membuat pemuda tampan itu merintih kesakitan.
"Elo mah tegaan ama gue bang. Liatin tu si santen aja dipeluk-peluk ama kakak".
"Beda konsep!". Sentak Gaara membuat Abi dan Diandra terkekeh.
Anak-anaknya memang paling ajaib. Selalu ada saja yang mereka ributkan namun berhasil membuat Diandra dan Abi terhibur.
"Ayah?". Gaara menoleh ke belakang mendengar ucapan Raffa.
Disana ia melihat Abram yang berjalan mendekat dengan sebucket bunga yang sangat cantik.
"Ayaaah.." Seru Kara dan segera menghambur memeluk Abram.
"Selamat ya kalian. Anak-anak ayah benar-benar hebat". Puji Abram yang sudah lebih dulu diberitahu Gaara perihal kedua anak kembar itu yang menjadi juara umum karena nilai mereka yang sama bahkan sampai ke koma nya sekalipun.
"Makasih ayah.." Ucap Kara sambil menerima bucket bunga yang diberikan Abram.
"Bunganya cantik bangeeeet.." Puji Kara
__ADS_1
"Kaya gue". Sambung Nala yang berjalan mendekati Kara yang berdecak sebal.
"Hallo om, tante..hai ayah.." Sapa Nala yang memang belum sempat menyapa kedua orang tua si kembar dan juga Abram yang memang baru ia lihat.
Jangan tanya mengapa Nala ikut memanggil Abram dengan sebutan ayah. Gadis yang menobatkan dirinya sebagai calon menantu Abram itu memang memanggil Abram dengan sebutan ayah sejak pertama kali berjumpa.
"Selamat ya sayang..kamu udah lulus". Diandra memeluk Nala dan menghadiahi sebuah kecupan lembut dikening gadis itu.
"Makasih tante..tapi nilai aku nggak se sempurna nilai mereka". Bibir Nala mengerucut lucu.
"Yang penting kamu udah usaha sebaik mungkin". Abi menenangkan.
"Lagian om sama tante kasih mereka makan apa sih? Kalo si sarap mah aku tau dia rajin. Lah kalo si santen? Tiap pelajaran juga kerjaannya tidur loh tan..kok bisa sih nilainya bagus banget. Jadi juara umum lagi". Keluh Nala yang langsung dihadiahi sebuah tatapan tajam dari Kara.
"Tidur?", Beo Abi dan Diandra kompak dan dijawab anggukan kepala dengan mantap oleh Nala. Namun sesaat kemudian mata Nala melebar sambil kemudian ia membekap mulutnya sendiri. Merasa sudah keceplosan dan tak sengaja membocorkan rahasia besar sahabatnya itu.
"Kuman..." Geram Kara yang membuat Nala nyengir sambil mengangkat dua jarinya hingga membentuk huruf v.
"Sorry.." Cicit Nala masih tersenyum pada Kara.
"Yang penting kan nilai aku bagus ma, pa.." Kara membela diri sebelum disembur oleh kanjeng mami dan kanjeng papinya.
"Mulai sekarang harus dirubah ya..nggak boleh lagi kaya gitu". Nasehat Baim yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Kara.
"Abang ganteng nggak mau kasih selamat buat calon istri". Abram terkekeh pelan melihat gadis yang terus mengganggu putra semata wayangnya itu.
Dulu Gaara merasa biasa saja dengan kehadiran Nala. Namun beberapa tahun lalu gadis itu dengan berani mengungkapkan perasaannya pada Gaara hingga membuat Gaara tidak nyaman berada terlalu dekat dengan Nala.
"Ih, si abang ganteng gitu-gitu banget sih sama calon istri". Nala berdecak sebal menatap Gaara. Tatapan mata tajam itu benar-benar membuatnya jatuh hati dan menggilai wajah rupawan itu.
Namun bukan itu yang sebenarnya membuat Nala benar-benar jatuh hati pada seorang Sagaara. Tapi sikapnya yang selalu lembut dan perhatian pada ibu dan adiknya. Serta sikap setianya pada wanita yang Nala tahu pasti disukai oleh lelaki itu.
"Apaan sih lu, La. Geser sana". Gaara mencoba melepaskan tangan Nala yang membelit lengannya. Namun semua gagal, karena Nala memeluk erat tangan Gaara.
"Ayah restuin kan kalo Nala jadi calon mantu?". Nala mengedipkan matanya beberapa kali hingga membuat Abram terkekeh geli melihat kelakuan gadis cantik yang saat ini masih menempel pada putranya.
"Apaan lo main minta restu? Gue kaga mau. Udah lepas". Nala tak bergeming, ia justru semakin erat memeluk lengan lelaki pujaannya itu.
Sejak dua tahun lalu, Nala lebih berani mengekspresikan perasaannya pada lelaki tampan yang berstatus sebagai kakak dari sahabat baiknya itu.
Jika boleh jujur, Nala sudah menaruh perasaan pada Gaara sejak ia masih duduk dikelas satu SMP. Namun selama ini Nala diam, dan artinya ia dan Kara tidak jauh berbeda. Bahkan Nala jauh lebih lama menyimpan perasaannya pada Gaara.
"Gue bakal kejar elo kemanapun dan sampai kapanpun bang.." Nala membulatkan tekadnya. Meskipun sejak dua tahun lalu, Gaara jadi menjaga jarak dengan dirinya karena perasaannya. Namun Nala tak gentar dan terus mencoba menarik perhatian Gaara.
__ADS_1
"Awas sih lo. Jadi cewe nggak ada malunya". Sering kali Gaara berkata ketus bahkan terkadang kasar, namun Nala seolah tuli dan tak memikirkan semua ucapan Gaara.
Baginya, Gaara melakukan itu karena lelaki tampan itu sengaja menghindarinya. Dan itu semakin membuat Nala bersemangat untuk menakhlukkan hati Gaara yang sedingin es itu.
"Ayah aja nggak keberatan loh jadiin Nala mantu. Masa abang ganteng nggak mau". Nala tersenyum sangat manis. Namun itu tidak membuat Gaara luluh dan melembut. Lelaki jangkung itu justru mendorong kening Nala hingga kepalanya mendongak.
Apa yang dilakukan oleh Gaara dan Nala tidak lepas dari pengamatan Kara dan Raffa, juga Baim dan kedua orang tua mereka.
Diandra hanya tersenyum melihat Nala. Nala sudah seperti putri kandung baginya, besar bersama Kara dan sering menginap membuatnya sangat tahu seperti apa Nala.
Diandra pun tidak akan keberatan jika pada akhirnya nanti, Gaara akan bersama Nala. Karena bagi Diandra, Nala adalah gadis baik dan ceria seperti Kara, putrinya.
"Udah sih bang, daripada nunggu yang nggak pasti kan". Kara menggoda sang kakak, menaikturunkan alisnya dengan tatapan menyebalkan, bagi Gaara.
"Diem lo santen!". Sengit Gaara membuat Kara terkekeh. Gadis itu bahkan mengikuti tingkah Nala dengan merangkul mesra lengan Baim. Namun bedanya, jika Baim akan tersenyum lembut pada dirinya. Maka Gaara akan menatap tajam Nala.
"Liatin nih bang, kakak aja nggak keberatan aku peluk-peluk". Kara tersenyum menatap Baim yang menggelengkan kepalanya perlahan. Ia tahu jika Kara sengaja menggoda Gaara agar semakin sewot.
"Beda konsep!". Ketus Gaara membuat Kara tertawa.
"Jangan kelewat sebel bang. Ati-ati lo". Peringat Kara menatap Gaara serius.
"Iya bang..benci ama cinta bedanya tipis". Imbuh Raffa yang ikut menggoda Gaara.
"Diem ah lo pada". Gaara semakin kesal karena kedua adiknya justru menggoda dirinya.
"Analaaa.." Teriakan dari seorang wanita membuat belitan tangannya dilengan Gaara melonggar. Dan Gaara tidak mungkin menyianyiakan kesempatan itu untuk bisa lari dari Nala.
"Iya maaa.." Nala yang melihat sang mama dan papa yang sudah menunggu segera berpamitan pada semua orang.
"Abang.." Gaara menoleh malas pada Nala yang senantiasa tersenyum padanya.
"Awas jatuh cinta.." Nala mengedipkan sebelah matanya dengan senyum lebar yang membuat mata gadis itu menyipit. Sesaat Gaara terpaku menatap wajah ayu itu, namun segera ia menggelengkan kepala dan melengos.
"Daaaa..calon imam". Gaara tersenyum tipis melihat Nala sedikit berlari dengan mengangkat kain yang ia kenakan sambil melemparkan ciuman dengan jari-jarinya.
"Calon imam.." Gumam Gaara.
...***•••***...
Yuhuuuuu..masih adakah penghuni novel ini😅
Othornya lagi galau lagi pliiis😂saran saran dong manteman. Ini cerita si abang ama si kuman disini aja apa gimana nih ya???
__ADS_1
Yaampun yaampun, othornya labil banget nggak sih??😂😂
Mohon sarannya ya semuaaaa🙏🏻