Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
reuni


__ADS_3

"Ini semua rencana kamu mas?". Tanya Diandra pada sang suami setelah mereka kini duduk bersama diruang keluarga.


"Bukan". Sambar Abi cepat, bisa gawat urusannya jika Diandra marah pada dirinya.


"Ini ide anak-anak. Tuh tanya abang sama kakak, mereka yang punya ide. Papa cuma ikuti rencana mereka". Gaara tersenyum mengejek melihat sang papa ketakutan.


"Terus kenapa tadi ngajak ituan?". Bisik Diandra membuat Abi nyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Aku lupa kalo ada rencana bikin kejutan buat kamu sayang". Jawaban Abi membuat Diandra melongo. Bisa-bisanya lupa hanya karna kebutuhan biologisnya.


"Mama bisikin apa?". Si kepo, Kara sudah nyempil diantara papa dan mamanya.


"Hah? Nggak..nggak ada sayang". Sahut Diandra tergagap.


"Kara awas, aku mau deket mama". Raffa menggeser tubuh Kara yang lebih kecil darinya.


"Nggak mau! Rapa apa sih dorong-dorong Kara". Diandra sudah menghela nafas panjang, sementara Gaara sudah tersenyum jahil menatap kedua adiknya.


"Jangan jahil, Gaara". Baim sudah hafal kebiasaan Gaara yang senang mengusili adiknya.


"Mumpung lagi rame, Im". Gaara menaik turunkan alisnya sambil melebarkan senyumnya.


Baim sebenarnya tak habis pikir dengan Gaara. Bagaimana bisa saudaranya itu berubah 180 derajat jika berada dirumah.


Gaara yang ia kenal disekolah adalah anak yang pendiam dan cenderung acuh terhadap sekitarnya. Bahkan ia sangat dingin dan tidak peduli pada orang-orang yang mendekatinya. Tapi dirumah, Gaara menjelma menjadi kakak yang penyayang sekaligus jahil. Bahkan tak segan menunjukkan sikap manja nya pada Diandra.


"Awas-awas deh. Ini mah mama nya abang..kalian berdua awas". Jelas Gaara menang, ia mengangkat tubuh kedua adiknya dan memindahkannya dipangkuan sang ayah. Kemudian ia duduk disamping mama nya dan memeluk Diandra seorang diri, bahkan berulang kali mencium pipi sang mama hingga membuat dua adik kembarnya menjerit tak terima.


"Nggak mau! Itu mama Kara!". Gaara berusaha keras untuk menyingkirkan tubuh Gaara yang masih menempel pada mama nya.


"Bantuin Kara, Rapa". Saat seperti inilah si kembar akur dan saling membantu. Keduanya berusaha sekuat tenaga untuk menyingkirkan tubuh si abang yang jelas jauh lebih besar.


"Nggak bisa wle..udah ngalah aja ama abang". Gaara menjulurkan lidahnya meledek kedua adik kembarnya.


"Ini nggak ada gitu yang mau rebutin papa? Padahal kalo minta apa-apa semua nempel papa". Cibir Abi yang seolah tak nampak dimata ketiga anaknya.


"Abang awas ih..ini mama kita". Suaraa Abi seolah bagaikan angin lalu yang tak terdengar oleh anak-anaknya yang masih sibuk memperebutkan mama nya.

__ADS_1


"Abang udah dong..nanti nangis lagi adiknya". Gaara akhirnya melepaskan sang mama, sudah merasa puas melihat wajah kedua adiknya yang sudah siap menangis.


"Yeee..mama Kara". Kara segera naik ke pangkuan Diandra dan memeluk sang mama.


"Mama Raffa". Diandra kembali menghela nafas, selesai ribut dengan Gaara, kini beralih si kembar yang ribut memperebutkan dirinya.


"Oke stop anak-anak.." Ucap Diandra.


Seperti prajurit yang mendapat perintah dari komandannya, kedua anak itu langsung diam dan duduk tenang. Kara dipangkuan Diandra sementara Raffa duduk disamping kiri Diandra sambil memeluk lengan ibunya.


"Abang sama kakak sini". Abi benar-benar tak habis pikir, anak-anaknya benar-benar menurut apapun yang diperintahkan Diandra. Tak perlu sampai istrinya mengulang ucapannya, keempat anaknya akan langsung melaksanakan apa perintah mama nya. Berbeda dengan dirinya yang kadang justru diledek anak pertamanya.


"Nggak adil.." Gumam Abi melirik sebal anak-anaknya yang sudah memeluk mama nya.


"Mama sayaaaang banget sama kalian". Diandra mencium pucuk kepala anak-anaknya bergantian dan memeluk mereka bersamaan.


"Kita juga sayaaang banget banget sama mama.." Seru keempatnya bersamaan.


"Sayaaaang..banyak-banyak sama mama". Kara langsung memeluk leher mamanya dan menciumi pipi sang mama bertubi-tubi.


Begitulah kehidupan Diandra kini. Penuh warna karena kehadiran anak-anaknya. Kebahagiaan yang dulu tak berani ia bayangkan, kini telah ia raih sempurna. Ia tak tahu jika didepannya akan ada batu terjal yang akan menggoyahkan keutuhan keluarga nya.


-------


Seperti hari biasa, Diandra mengantarkan anak-anaknya ke sekolah. Dimulai mengantarkan Gaara dan Baim lebih dulu, lalu mengantarkan si kembar.


Hari ini Diandra ada pertemuan dengan beberapa teman lamanya saat dulu kuliah. Sebenarnya ia sangat malas, apalagi membayangkan akan bertemu dengan orang yang paling malas ia temui.


Monika, mengingat namanya saja ia sudah mendecih pelan. Wanita itu tak ada hentinya mengganggu dirinya meski Monika sudah berkeluarga.


Berkali-kali wanita itu masih berusaha mendekati Abi. Jika kalian pikir perjalanan rumah tangga Diandra selama belasan tahun ini mulus, maka jawabannya salah.


Selama belasan tahun pernikahan, banyak yang berusaha merusak pernikahan mereka. Terutama wanita bernama Monika yang juga temannya saat dulu kuliah.


"Huh.." Diandra menghembuskan nafasnya dengan kasar hingga membuat Baim dan Gaara saling menatap bingung.


"Mama gapapa?". Tanya Gaara yang duduk disamping sang mama yang sedang mengemudi.

__ADS_1


"Hm? Mama oke sayang.." Diandra tersenyum lembut


Menatap Gaara dan Baim bergantian. Sebuah ide terbesit dikepalanya, kenapa dirinya tidak membawa anak-anaknya saja saat reuni nanti. Pasti akan lebih menyenangkan bukan.


"Abang sama kakak nanti mau nemenin mama nggak?". Kedua anaknya kembali saling menatap.


"Ke?". Tanya keduanya serempak membuat senyum Diandra merekah.


"Mama ada reuni nanti malem. Sebenernya mama males, harus ketemu tante Monika". Gaara nampak diam seolah mengingat sesuatu.


"Tante yang menyebalkan yang selalu ingin mendekati papa?". Tanya Gaara dijawab anggukan kepala oleh Diandra.


"Nanti Raffa sama Kara juga mau mama bawa. Jadi kalo mereka rewel, mama punya alesan buat kabur pas acara". Kedua putranya mencibir sang ibu yang sudah mempersiapkan segala hal hanya untuk kabur dari acara reuni.


"Nggak usah dateng kalo mama emang nggak nyaman". Diandra menatap Baim dari spionnya.


"Mau nya sih gitu kak.." Diandra membuang nafas kasar.


"Mama udah sering nolak, bahkan nolak terus. Sekarang mereka maksa, mama jadi nggak enak nolaknya". Jelas Diandra membuat Baim mengangguk paham.


"Kalo emang nggak suka gak usah dateng kali ma. Ngapain nggak enak sama orang lain". Celetuk Gaara membuat Diandra terkekeh. Mulut anaknya lumayan pedas menurutnya.


"Kan nggak sopan sayang, meski nggak suka kan harus tetap menghargai". Nasehat mama membuat Gaara tersenyum.


"Mama terlalu baik. Jangan sampai kebaikan mama membuat orang lain melakukan hal buruk sama mama". Gaara baru duduk dibangku kelas 4 SD, namun Diandra kagum pada pemikiran dewasanya yang selalu berupaya melindungi diri dan hatinya.


"Mama tau sayang, makanya mama ajak abang sama kakak biar jagain mama". Kedua putranya tersenyum.


"Kita ikut ma.." Senyum Diandra semakin merekah, semoga malam nanti anak kembarnya rewel, jadi ia bisa kabur sebelum acara selesai.


---***---


Cek..cek...


Gimana kabarnya readers hari ini? Semoga semua dalam keadaan sehat dan selalu dilimpahi rahmat oleh yang maha kuasa ya🙏🏻🙏🏻


Abis ini bakal ada sedikit konflik ya, aku bukan orang yang bisa bikin konflik rumit. Jadi meskipun ada konflik, konfliknya cuma sebentar dan mendapat jalan keluarnya. Othornya suka rada bingung kalo bikin konflik berkepanjangan..

__ADS_1


Dan buat yang nanya Gaara itu anak Abi beneran atau bukan, ikuti terus aja ceritanyaya. Mungkin beberapa bab selanjutnya bakal bahas soal siapa Gaara dan flashback lagi sama kejadian dimana Abi sama Dea bisa tidur bareng. Mohon bersabar yaa😁


__ADS_2