
Dijemur dibawah teriknya matahari siang sudah bukan hal baru bagi Kara. Bahkan tubuhnya sudah sangat kebal dengan hukuman yang menurutnya biasa saja itu.
"Gue aduin lo ke papa. Gara-gara elo gue jadi dihukum juga". Omel Raffa yang juga berdiri disamping saudara kembarnya.
Banyak pasang mata menatap keduanya dan tiga orang gadis yang sedang berdiri ditengah lapang saat ini. Namun Kara tetaplah Kara, ia acuh dan tetap santai saja.
"Semangat Karaaaa..aku menunggumu cantiiiiik". Sahabat tak berakhlaknya berteriak dari sisi lapangan yang terlihat teduh dengan rindangnya pepohonan, jelas bukan karena memang ingin menyemangati sahabatnya. Menggoda Kara yang sedang ia lakukan saat ini.
"Suruh siapa lo pisahin gue. Harusnya gue bisa botakin rambut tu buaya betina". Kara melirik tiga orang gadis yang sudah memelototinya.
"Haish! Mulut lo emang nggak ada saringannya. Hobi banget sih nyari perkara!".
"Abis ini pasti mama sama mama dipanggil ke sekolah". Gumam Raffa yang sudah merasa pusing dengan kelakuan Kara.
"Ya tinggal dateng sih".
"Lo bandel banget sih!". Geram Raffa yang gemas dengan sikap tenang sudaranya.
"Gue bilangin abang sama kakak!".
"Dasar tukang ngadu". Cibir Kara.
Sejak resmi menjadi murid baru di SMA Pelita, Kara dan Raffa sudah menarik perhatian dari semua orang. Selain karena paras keduanya yang begitu menawan, memang siapa yang tidak mengenal anak kembar pebisnis ternama dan wanita sukses pemilik toko kue terbesar di kota itu.
Namun selain karena nama orang tuanya, Kara juga memang sudah terkenal karena sikap beraninya sejak dulu.
"Hah..gila panas banget". Keluh Kara yang langsung mengambil botol minum yang dipegang Nala.
"Si Raffa mana?". Tanya Nala melihat sekitar.
"Tau tuh kemana si Sarap". Kara mengendikkan bahunya acuh.
"Enak dihukum?". Tanya Nala meledek.
"Biasa aja.." Sahut Kara cuek.
Kara bahkan tidak mempedulikan tatapan tajam tiga gadis yang baru saja bermasalah dengannya.
Jam menunjukkan pukul 1 saat banyak siswa SMA Pelita berhamburan keluar gedung sekolah. Tidak terkecuali Kara dan Nala.
"Gue ada tugas. Lo gapapa pulangnya ama Nala doang?". Tanya Raffa yang berdiri didepan Kara.
Meskipun hampir setiap saat bertengkar, namun menjaga Kara menjadi hal utama untuk Raffa. Raffa sangat menyayangi Kara, pun dengan Kara. Hanya cara keduanya menunjukkan kasih sayang saja yang sedikit ekstrim.
"Gapapa. Nyantai aja". Sahut Kara menenangkan. Keduanya memang tidak berada dalam satu kelas yang sama.
"La, titip Kara ya". Nala mencebik mendengarnya.
"Kebalik! Ada juga gue yang dititipin ama sodara elo". Cibir Nala membuat Raffa tertawa.
__ADS_1
"Gue tinggal ya. Ati-ati lo pulangnya". Raffa melambaikan tangannya pada Kara dan Nala.
"Cabut yuk.."
"Nongkrong mau kaga?". Tawaran Nala sedikit membuatnya tertarik. Akhirnya keduanya memilih mampir dulu ke sebuah cafe baru yang sedang trending di sosial media.
"Gue pamit nyokap dulu". Nala mengangguk.
Keduanya memutuskan naik angkutan umum untuk sampai ditempat tujuan mereka. Meski dari kalangan berada, baik Kara maupun Nala tidak pernah malu menaiki angkutan umum yang panas dan pengap.
"Gila sih..emang keren". Puji Nala melihat tampilan luar cafe.
"Iya..selera anak muda banget sih ini mah". Sahut Kara ikut kagum menatap cafe yang ada didepannya.
"Masuk lah yuk. Ngapain kesini cuma diem didepan cafe nya doang". Nala menarik tangan Kara
Mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe yang terlihat penuh oleh pengunjung. Hingga pekikan Nala yang menunjuk kursi kosong membuat Kara mendengus.
"Biasa aja sih lo.." Sungut Kara membuat Nala nyengir.
"Keburu ditempatin orang tau..."
Nala mengangkat tangannya hingga seorang pelayan menghampiri meja nya. Jangan kalian pikir kedua gadis itu adalah pemilih dalam hal makanan. Meski tubuhnya bisa dibilang sangat ideal, kedua gadis itu termasuk gadis yang doyan makan. Terlihat dari meja yang kini sudah penuh dengan aneka makanan. Padahal mereka hanya berdua.
"Gila juga sih ya kita..udah kaya kuli bangunan makannya". Nala tergelak sendiri melihat banyaknya makanan dimeja mereka.
"Kuli model kita bisa bikin mandornya bangkrut". Timpal Kara dan keduanya terbahak bersama.
"Dasar cewek udik. Makan udah kaya orang nggak makan bertahun-tahun". Kara dan Nala menghentikan tangannya yang sedang menyuap makanan.
Kara mendengus kesal melihat ternyata tiga orang gadis yang tadi bermasalah dengannya juga ada disana.
"Biarin aja. Buaya betina lagi cari perhatian". Ucap Kara acuh. Membuat tiga gadis yang berdiri disamping mejanya menatapnya tajam.
"Sial banget sih gue. Ketemu ama ni buaya betina". Batin Kara kesal
"Urusan kita belom kelar ya!". Desis gadis yang belum Kara ketahui namanya.
"Syuh..syuh..gue mau makan. Nggak usah ganggu!". Usir Kara menatap sinis tiga gadis yang balas menatapnya kesal.
Tak jauh dari meja mereka, ada dua pasang mata yang menatap Kara dalam diam. Keduanya menghela nafas panjang melihat adegan didepannya.
Bukannya pergi, ketiga gadis itu justru terus mengganggu Kara yang terlihat sudah sangat kesal.
"Jangan bikin gue kesel ya lo bertiga! Gue cakar tu muka menor baru tau rasa lo!!". Geram Kara yang tangannya ditahan oleh Nala.
"Dek.." Kara segera menoleh mendengar suara yang sangat ia kenali.
"Abang". Gumam Kara sedikit terkejut.
__ADS_1
Sementara tiga gadis yang membuat masalah dengan Naya tampak terpesona dengan tampilan Gaara yang sedikit urakan namun terlihat sangat keren.
"Ngapain disini hm?? Bukannya balik". Gaara menjewer telinga adiknya yang lansgung mengaduh kesakitan.
"Hih, sakit abang ih". Kesal Naya
"Galak banget sih adek gue.." Gaara yang gemas mengacak asal rambut Kara yang terikat rapi.
"Noh liat siapa yang dari tadi udah perhatiin. Mati lu.." Bisik Gaara membuat Kara mengikuti kemana arah pandang Gaara.
Kara menelan salivanya susah payah melihat tatapan tajam seseorang yang masih duduk dikursinya.
Tak lama orang yang ditakuti Kara bangkit. Berjalan perlahan mendekatinya yang sudah panas dingin.
"Kenapa nggak langsung pulang hm?". Suara nya tidak lah membentak, lembut. Bahkan sangat lembut, namun mampu membuat Kara kesulitan menelan ludahnya.
Sementara tiga gadis yang masih berdiri disana memekik tertahan melihat bagaimana beruntungnya Kara dikelilingi lelaki tampan. Bahkan mereka pun mengakui Raffa adalah lelaki tampan yang sangat mempesona.
"Gapapa kak. Cuma laper aja, lagian abis ini juga mau pulang". Lirih Kara yang kehilangan naf su makannya.
"Abisin. Abis ini kakak anter". Baim duduk didepan Kara dan menunggu gadis itu selesai makan.
"Kak Gaara, anterin Nala pulang yuk.." Rengek Nala yang sudah memeluk lengan Gaara.
"Gue anter ni bocah dulu, Im. Urusin tuh adek lo yang bandelnya bikin gemes". Ledek Gaara menjulurkan lidahnya pada Kara yang memberengut kesal.
"Kalian masih ada kepentingan?". Ketiga gadis yang sejak tadi terpesona dengan ketampanannya itu seolah tersadar. Ketiganya menggeleng pelan.
"Disana ada meja kosong". Baim menunjuk meja dipojok cafe dan meminta para gadis itu untuk meninggalkannya dengan Kara.
Kara melanjutkan makannya dalam diam. Sesekali ia melirik Baim yang terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Ganteng banget sih lo, kak. Mana perhatian pula. Gimana gue nggak terpesona ama elo". Batin Kara yang diam-diam memendam rasa pada Baim setahun belakangan ini.
"Makan Ra. Kita harus pulang..ini udah sore". Kara tersadar dari lamunannya dan segera menghabiskan makannya.
"Kita pulang". Baim menggenggam tangan Kara dan membawanya keluar dari cafe nya setelah membayar makanan yang Kara dan Nala pesan.
"Gimana gue nggak tambah suka ama ni laki. Perhatiannya nggak ada obat..." Batin Kara berteriak. Ingin ia mengungkapkan perasaannya pada Baim. Namun ia takut nantinya akan membuat jarak antara dirinya dan sang kakak.
"Biarin gini aja. Biar Kara aja..gini juga Kara udah seneng kak. Bisa mencintai kakak..meskipun dalam diam". Kara menatap tangannya yang digenggam Baim. Hatinya menghangat dengan perasaan yang semakin besar untuk kakak angkatnya itu.
...---^^^---...
Selamat pagi readers ku tersayang..semoga hari ini reader semua dilimpahi berkah kesehatan dan diberi kelancaran rezeki, aamiin🤲
Nggak berasa ya si santen sachet udah gede aja. Pake udah tau acara cinta-cintaan aja dia😁
Kira-kira si kakak juga demen apa cuma cinta bertepuk sebelah kaki yak?🤔
__ADS_1
Yuk mari kita tunggu aja gimana kelanjutan kisah cinta dua manusia itu..