Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
Flashback


__ADS_3

"Sayang tunggu.." Abi menahan tubuh Diandra dan kembali mendekapnya.


"Apa lagi mas?". Tanya Diandra mulai kesal karena sejak tadi Abi menahan dirinya yang hendak membersihkan diri.


" Dari mana kamu tahu semalam aku ada di sana?". Tanya Abi dengan serius.


Diandra tersenyum sinis menatap kesal pada suami ngeyelnya itu.


"Mas pikir cuma mas aja yang punya mata-mata". Cibir Diandra


" Ada yang memberitahuku mas. Jadi jangan pernah berpikir untuk macam-macam lagi karena mataku ada dimana-mana". Ancam Diandra serius.


"Siapa?". Tanya Abi masih penasaran namun Diandra mengabaikannya dan justru menggulung tubuh polosnya dengan selimut.


Ini adalah pertama kalinya bagi gadis yang baru saja tidak gadis itu tidak memakai apapun dihadapan lawan jenisnya.


" Mas!!". Pekik Diandra saat Abi menarik paksa selimutnya dan langsung mengangkat tubuh yang masih sama polos dengannya itu.


"Kita mandi bareng ya". Diandra melihat jelas seringai mesum suaminya hingga ia mendengus sebal.


" Aku hanya membantumu sayang. Aku tahu pasti sakit dibawah sana". Kilah Abi yang membuat Diandra mencebikkan bibirnya.


Inti tubuhnya memang terasa sangat nyeri saat ini, apalagi Abi berkali-kali melakukannya hingga tubuhnya terasa remuk sekarang. Namun digendong dalam kondisi polos tanpa busana juga membuatnya sangat malu. Bahkan jika Abi sudah melihat semua pada tubuhnya sekalipun.


"Alasan". Sungut Diandra yang tak urung mengalungkan tangannya dileher sang suami.


Sesuai dengan prediksinya, Abi kembali menyerangnya didalam kamar mandi. Hingga acara mandi yang seharusnya bisa ia selesaikan paling lama setengah jam itu menjadi satu jam lebih.


Diandra terus menggerutu, bahkan wajah cantik nya terlihat masam saat Abi kembali menggendong nya keluar kamar mandi. Sangat berbanding terbalik dengan wajah Abi yang terlihat semakin segar dan sumringah karena berhasil mencuri kesempatan didalam kamar mandi tadi.


" Ya kira-kira dong mas". Diandra masih terus mengomel saat Abi menurunkan secara perlahan keatas kasur. Ia masih kesal karena Abi kembali menggagahinya didalam kamar mandi tadi.


"Ya maaf..aku nahan udah setahun sayang". Abi mengakhiri ucapannya dengan sebuah cengiran.


"Salah siapa?". Sambar Diandra cepat membuat Abi menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.


" Iya..maafin suami kamu yang bodoh ini ya". Abi membelai lembut wajah Diandra dan mendaratkan kecupan lembut di kening istrinya yang hanya bisa tersenyum tipis.


"Aku ambilin baju ganti dulu ya.." Abi bergegas masuk kedalam ruangan dimana ia menyimpan beberapa pakaiannya dan Diandra. Sebelum keluar membawakan pakaian untuk istrinya, ia memakai pakaiannya terlebih dahulu.

__ADS_1


Bibir seksinya melengkung membentuk sebuah senyuman sempurna saat melihat tanda cinta istrinya dipunggungnya. Percintaan pertamanya, saat pertama ia berhasil menjebol milik Diandra, istrinya itu mencakar punggungnya hingga menghasilkan goresan yang cukup dalam namun berhasil membuat bibir seksi itu tidak berhenti tersenyum.


Sementara Abi tengah mengingat panasnya percintaan mereka beberapa waktu lalu, Diandra kembali mengingat semalam saat dirinya mendapat foto kiriman dari lelaki yang belum lama mengungkapkan perasaan padanya.


flashback bentar yaaa..


Siang itu Diandra tengah menemani putranya bermain saat ponselnya berdering. Menampilkan nama seorang pria yang belakangan ini sering sekali menghubunginya.


Bukan Diandra tidak menyadari, ia bahkan sangat tahu jika lelaki yang ia anggap sahabat itu menaruh rasa pada dirinya.


Tidak ingin terus menghindar, Diandra memutuskan mengangkat panggilan itu. Masalah harus dihadapi bukan? Begitu pikirnya.


"Assalamualaikum". Sapa Diandra pada si penelpon yang tak lain adalah Panca.


" Wa'alaikumsalam Di.."


"Bisa ketemu Di??". Tanya Panca di seberang sana.


" Ada apa Ca?". Tanya Diandra.


"Ada hal ingin aku sampaikan padamu". Diandra menghela nafas lalu berkata 'ya' . Ia harus menyelesaikan satu persatu masalahnya.


" Aku akan kirimkan alamatnya. Kita bertemu disana".


" Sampai bertemu nanti malam Di". Diandra menutup panggilan teleponnya setelah menjawab salam dari Panca.


"Mungkin ini akan menyakitimu Ca. Tapi aku harap kamu akan bisa menemukan wanita yang memang lebih pantas daripada aku". Diandra kembali menghela nafasnya.


" Karena hatiku memang tidak bisa berpaling darinya. Sekalipun lelaki itu b*jingan yang membuat aku sangat terluka". Diandra menatap Gaara dan tersenyum lembut pada anak itu.


Tak terasa malam menyapa, Diandra pamit pada kedua orang tuanya untuk keluar dan menitipkan Gaara sebentar. Meski penasaran, kedua orang tuanya hanya mengiyakan tanpa bertanya banyak.


Memasuki restoran Diandra sudah ditunggu oleh Panca. Lelaki itu bahkan membantu dirinya turun dari mobil dengan membukakan pintu.


"Kamu dateng.." Panca seolah tak percaya melihat Diandra kini benar-benar ada didepan nya.


Keduanya berjalan beriringan memasuki restoran dan duduk berhadapan diarea VIP hingga tak akan ada yang mengganggu obrolan keduanya.


"Mau makan apa Di?". Tanya Panca menyerahkan buku menu pada Diandra.

__ADS_1


" Apa aja". Diandra mendorong pelan buku menu yang baru saja disodorkan Panca.


Lelaki itu tersenyum maklum, ia kemudian memesankan beberapa menu yang sekiranya Diandra menyukainya. Setelah mencatat pesanan pelanggannya, pelayan yang bekerja itu segera pamit undur diri.


"Ada apa Ca?". Tanya Diandra tanpa basa-basi.


" Pasti ada hal yang lebih penting daripada sekedar makan malam". Ucap Diandra santai.


Panca tersenyum lagi, wanita yang ia cintai ini memang benar-benar peka. Pikirnya.


"Setelah makan ya?". Pinta Panca diangguki oleh Diandra. Setidaknya mereka sudah kenyang jika harus ada yang kecewa, pikir Diandra.


Tak terlalu lama keduanya menunggu, pesanan Panca sudah tersaji diatas meja yang cukup membuat selera makan Diandra tumbuh.


" Alhamdulillah". Diandra mengelus perut kenyangnya sementara Panca semakin menatap kagum Diandra yang sejak dulu memang tidak pernah jaim didepan siapapun. Mungkin itulah alasan mengapa ia begitu mengagumi wanita yang sudah bersuami itu.


Panca menghela nafas panjang, mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan perasaannya pada Diandra. Yang jelas menyiapkan mental jikalau Diandra menolak segala tawarannya.


"Di.." Diandra sudah duduk tegap menatap Panca yang terlihat gugup.


"Nyantuy aja Ca..kaya baru kenal sih". Diandra ingin sesantai mungkin menanggapi Panca.


" Aku mau ngomong serius sama kamu Di.." Panca kembali menghela nafas yang membuat Diandra terkekeh.


"Dengerin aku ya Ca.." Diandra menatap mata teman baiknya itu.


"Apapun yang bakal kamu omongin, aku harap pertemanan kita tetep sama". Diandra secara tidak langsung sudah memberi batasan pada Panca yang bahkan belum mengutarakan maksud hatinya.


" Aku ingin lebih Di.." Lirih Panca membuat Diandra kembali tersenyum tenang. Ia sudah tahu arah pembicaraan Panca bahkan sebelum lelaki itu mengatakan apapun.


"Menikahlah denganku Di..aku akan membahagiakanmu". Panca menggenggam tangan Diandra yang ada diatas meja.


" Laki-laki itu tidak pantas untuk bersanding denganmu, dia seorang b*jingan. Ku mohon pergilah darinya". Diandra melihat jelas ketulusan Panca pada dirinya. Ia bahkan membiarkan Panca menggenggam tangannya.


"Bercerailah, dan menikah denganku. Aku memang tidak sekaya dirinya , Tapi aku berjanji akan membuatmu bahagia Di. Aku janji". Panca terus menggenggam tangan Diandra yang kini justru terkekeh pelan.


Diandra menangkup tangan Panca yang menggenggam sebelah tangannya. Ia tersenyum sangat lembut pada lelaki tulus didepannya ini. Andai dirinya bisa, mungkin ia akan meninggalkan Abi dan memilih Panca. Namun hatinya tak bisa dipaksa.


###"""###

__ADS_1


**Masih Flashback dulu ya bab abis ini..maaf baru bisa up malem gini..


happy reading semua**..


__ADS_2