Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
ingin bahagia


__ADS_3

"Oh ya??". Diandra menaikkan Sebelah alisnya menatap Monika tak percaya.


" Emang kamu bisa masak?". Tanya Diandra meledek hingga membuat Monika kesal.


"Yang kaya kamu liat aja. Semua aku masak sendiri". Ucapnya pongah.


" Kamu udah cobain mas?". Abi langsung menggeleng cepat hingga membuat Diandra tersenyum tertahan.


"Jangan dimakan. Jangan-jangan ada racunnya". Monika melotot mendengar ucapan Diandra, sementara dua penguping terlihat membekap mulutnya karena takut tawanya didengar hingga dalam.


" Jangan sembarangan ya kalo ngomong!". Omel Monika tak terima.


"Karna aku cinta sama kamu, biar aku yang duluan cicipin mas". Diandra melepaskan tangannya, namun langsung ditahan Abi.


"Nggak usah sayang. Kita makan diluar aja.." Cegah Abi. Ia tak tahu maksud Diandra, namun ia tak mau mengambil resiko dan membuat Diandra semakin kesal dan membencinya.


"Gapapa mas..kasian dia udah masak". Diandra kembali melirik Monika. Cara menghempas wanita seperti Monika hanya dengan menunjukkan kemesraan didepannya langsung seperti apa yang tengah Diandra lakukan. Tanpa Diandra sadari, sejak tadi ia hanya mengikuti nalurinya sebagai seorang wanita yang berstatus sebagai istri seorang Abimana.


" Tapi Di.." Abi masih berusaha mencegahnya namun Diandra sudah duduk disofa yang didepannya sudah tersaji berbagai macam masakan yang katanya hasil masakan pesaingnya itu.


"Ih..ini apaan Mo?". Tanya Diandra mengambil sesuatu dari dalam tempat makan dengan sumpit.


" Ini masakan apaan sih? Kok bentuknya acak-acakan gini sih?". Diandra tengah menatap cap cay hasil karya Monika.


"Emmm...asin banget!". Diandra langsung melepeh kembali wortel yang baru saja ia masukkan kedalam mulutnya.


" Jangan dimakan mas..kamu bisa darah tinggi terus stroke kalo makan ini". Diandra segera berdiri dan menjauh kan Abi dari meja yang berisi berbagai macam masakan Monika.


Sementara duo penguping segera menutup pintu saat merasa sudah tidak sanggup lagi menahan tawanya. Kedua tertawa puas diluar ruangan bosnya. Apalagi melihat wajah Monika saat Diandra mengatakan jika Abi akan terkena stroke jika memakan hasil masakannya.


"Jangan boong kamu! Tadi udah aku cicipin dan rasanya enak kok". Sanggah Monika. Sungguh ia merasa terhina dengan semua ucapan Diandra.


" Cobain aja lagi kalo nggak percaya". Ucap Diandra yang sudah kembali menempel pada Abi yang terus menatap wajah ayunya.

__ADS_1


Monika yang tak percaya segera menghampiri masakannya. Perlahan tangannya a terulur untuk mengambil sepotong wortel dan memasukkannya kedalam mulut. Hanya perlu waktu dua detik saja hingga wortel itu kembali dimuntahkan oleh Monika.


"Kok bisa sih". Gumam Monika membuat Diandra terkikik disamping Abi.


" Tadi enak kok kak.." Monika menatap sedih pada Abi yang terus terfokus pada Diandra hingga membuatnya semakin kesal.


"Tadi yang kamu makan tuh masakan pembantu kamu dirumah kali". Ledek Diandra


" Aku nggak ngomong sama kamu!". Ketus Monika


"Kamu nggak perlu repot-repot seperti ini lagi Mo. Aku sudah memiliki istri yang mengurusku dengan baik". Tak ingin keadaan semakin memanas, Abi segera menengahi. Ia merengkuh pinggang ramping istrinya dan merapatkan tubuh keduanya.


" Tapi kak.."


"Nggak denger suami aku bilang apa?? Syuh..syuh..jauh-jauh sana. Jangan ganggu suami aku lagi". Diandra mengibaskan tangannya beberapa kali, mengusir Monika secara terang-terangan. Sementara Abi hanya menggeleng dengan seulas senyum menghiasi wajah tampannya.


Diandra memang tak pernah menyembunyikan perasaannya. Jika dirinya memang tak menyukainya, maka Diandra akan langsung menunjukkannya.


"Udah sana pulang. Ganggu orang aja sih". Monika menghentakkan kakinya ke lantai sebelum berlalu keluar dengan wajah ditekuk.


Wajah Monika semakin terlihat suram saat melihat dua orang kepercayaan Abi terlihat meliriknya dengan tatapan mengejek sama seperti yang Diandra lakukan.


" Dasar gatel". Gerutu Diandra setelah Monika menghilang dari pandangannya. Ia tak menyadari jika Abi masih merengkuh pinggangnya.


Abi masih diam, menunggu akan seperti apa reaksi Diandra jika menyadari posisi keduanya saat ini. Namun bibir tipis istrinya itu masih terus menggerutu dan mengumpati gadis yang sudah keluar sejak beberapa menit lalu itu.


"Dia dari tadi disini mas?". Diandra mengalihkan pandangannya pada sang suami. Inilah kebiasaan Diandra jika tengah kesal, lupa dengan situasi dan keadaan sekitarnya, seperti orang amnesia.


" Belum..dia baru dateng terus kamu dateng". Abi menoel gemas hidung mancung istrinya.


"Seneng ya kamu digodain perempuan gatel modelan begitu?". Ketus Diandra dengan mata melotot.


" Aku lebih seneng liat kamu kaya sekarang sayang". Abi membelai lembut pipi mulus Diandra. Dan saat itulah Diandra tersadar akan semua keadaan. Ia segera melepaskan rengkuhan Abi dan memberi jarak pada keduanya.

__ADS_1


"Apaan sih.." Diandra mengalihkan tatapannya kearah lain karena tak sanggup jika bertatapan langsung dengan Abi. Ia takut semakin luluh.


"Oh iya..kamu kesini sendiri? Gaara nggak ikut?". Tanya Abi membuat Diandra menatapnya.


" Ikut. Aku titip kak Tiara didepan, abis disini sumpek tadi. Takut dia gerah". Sindir Diandra membuat Abi tersenyum.


"Kamu dari rumah?". Abi kembali bertanya membuat Diandra ingat apa tujuannya datang ke kantor suaminya


" Aku mau belanja sama Gaara. Tapi dompet aku ketinggalan". Diandra lalu menengadahkan tangannya yang langsung dimengerti oleh Abi.


Lelaki jangkung itu segera merogoh saku belakangnya dan mengeluarkan dompetnya dan memberikannya pada Diandra.


"Pilih sendiri, pin nya tanggal lahir kamu semua, sama kaya dulu". Ucapan Abi sukses membuat Diandra membeku.


Ya, ini bukan kali pertama Diandra akan memakai kartu sakti milik Abi. Sejak masih menjadi sepasang kekasih, Abi memang selalu royal pada Diandra. Terlebih setelah dirinya bisa menghasilkan uang sendiri. Dan ternyata meski hubungan keduanya merenggang, Abi tak sama sekali memiliki keinginan untuk mengubah semua pin kartu kredit maupum debitnya.


Diandra jadi salah tingkah sendiri, dengan cepat ia mengambil kartu secara acak dan mengembalikan dompet Abi.


" Aku pergi". Namun sebelum Diandra berhasil meninggalkan ruangan Abi, tangannya sudah digenggam oleh Abi hingga tubuhnya membentur tubuh suaminya itu.


"Kamu nggak mau salim dulu?". Tanya Abi menatap langsung mata teduh Diandra. Ingin rasanya Abi mendekap tubuh Diandra, namun ia takut Diandra semakin marah dan menjauhinya.


" Ya awas lepasin dong. Aku nggak bisa salim". Diandra mencoba melepaskan tangannya, namun Abi tak membiarkannya.


Tubuh Diandra membeku saat wajahnya dan Abi berada dalam jarak yang sangat dekat. Ia bahkan sempat menahan nafasnya karena dirinya merasa tegang. Degupan jantungnya jangan ditanyakan lagi, ia bahkan takut Abi mendengar degupan jantungnya.


"Sampai kapan kamu bakal benci sama aku Di? Aku bener-bener kesiksa kaya gini" Abi membelai lembut pipi Diandra. Pada akhirnya ia kalah dengan ketakutannya, ia menarik Diandra dan mendekapnya erat.


"Lakuin apapun Di..tapi maafkan kesalahanku. Aku ingin kita hidup bahagia bersama". Tak ada respon apapun dari Diandra. Gadis itu hanya diam, tak lagi terasa aksi penolakan seperti beberapa menit lalu.


Abi melonggarkan pelukannya, menangkup kedua pipi Diandra dengan dua tangannya dan membelainya lembut. Perlahan wajahnya mendekat. Merasa tidak ada penolakan dari Diandra, Abi semakin mendekatkan wajahnya hingga bibir keduanya bersentuhan.


Diandra benar-benar merutuki tubuhnya, otaknya ingin menolak namun raganya menikmati belaian lembut suaminya. Aaah..Diandra merasa dirinya benar-benar gila.

__ADS_1


__ADS_2