
Seorang wanita muda tengah meringis menahan sakit yang teramat. Ia merasa seluruh tulangnya diremukkan secara bersamaan saat ini.
Sementara seorang lelaki duduk disampingnya sambil terus mengelus pucuk kepala dan menciumi kening si wanita yang dipenuhi peluh keringat.
"A-bang..sa--kit.." Wanita yang tak lain adalah Nala itu tampak meringis kesakitan.
"Iya..sabar ya sayang". Gaara mencoba menenangkan istrinya yang terus merintih. Sumph demi lautan luas, Gaara tak tega melihat kesakitan istrinya.
"Abang bilang sabar-sabar mulu. Ini tuh sakit banget". Gaara hanya meringis saat istrinya kembali mengomelinya.
Sudah sejak beberapa jam lalu istrinya itu merasakan kontraksi. Beberapa saat kesakitan, dan sesaat kemudian sakit itu menghilang.
Namun sudah satu jam ini sakit yang Nala rasakan datang lebih sering dan dalam jangka waktu yang cukup lama.
"Jangan marah-marah terus. Ngelahirin itu memang sakit". Mami Nita yang ikut mendampingi kesal sendiri karena Nala terus memarahi menantunya.
"Nggak apa-apa, mi". Ucap Gaara memberi kode pada mertuanya agar tidak memarahi Nala. Karena bisa dipastikan, dirinya lah yang akan terkena imbasnya jika Nala dinasehati apalagi dimarahi saat seperti ini.
"Aaaaa..." Gaara kembali meringis saat kuku-kuku cantik istrinya menancap sempurna dikulit lengannya.
"Mami sakiiit..." Rengek Nala yang membuat Gaara kembali mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah istrinya.
Tak lama beberapa petugas medis masuk ke dalam ruangan Nala, bermaksud melihat sampai dimana jalan lahir calon ibu muda itu terbuka.
"Kenapa harus dilihat? Udah nggak sakit kok.." Nala terlihat enggan membuka kakinya saat seorang dokter memintanya membuka kaki untuk memudahkan medis melihat pembukaannya.
"Abang aja yang lihat.." Semua petugas medis terlihat melipat bibir menahan tawa mereka mendengar permintaan calon ibu itu.
Gaara terlihat kikuk, dirinya memang sudah biasa melihat bagian inti sang istri. Namun dirinya hanya ahli dalam bidang pembenihan saja. Jika menyangkut yang namanya jalan lahir itu, jelas Gaara tidak memahaminya.
"Sayang..biar dokter aja yang lihat ya". Bujuk Gaara, namun Nala tampak masih enggan.
"Lagian udah nggak sakit kok bang.." Nala tetap enggan membuka kakinya. Bahkan ia merapatkan kakinya sambil menatap Gaara penuh permohonan.
"Nggak usah ngadi-ngadi deh kamu, dek". Kesal mami Nita.
"Suami kamu cuma ahli pembenihan aja. Mana tahu dia soal jalan lahir! Dia cuma bisa bikinnya aja". Mami Nita memaksa membuka kaki Nala yang masih dirapatkan.
__ADS_1
"Aaaa..." Kontraksi kembali datang, dan tanpa paksaan siapapun Nala membuka lebar kedua kakinya hingga dokter leluasa memeriksa jalan lahir dari pasiennya.
"Pembukaannya sudah sempurna..ibu ikuti aba-aba bu bidan ya.." Nala mengangguk saja seolah paham, padahal yang sebenarnya terjadi ia sama sekali tak mendengarkan ucapan dokter.
Sakit kali ini terasa sangat sakit, bahkan ia merasa nyawanya ditarik keluar dari tubuhnya.
"Mami..maafin aku. aku nggak kuat mi.."Ucap Nala yang berderai air mata membuat mami Nita yang tadi sempat kesal ikut menitikkan air mata.
"Ssst..kamu kuat sayang. Kamu anak mami yang paling kuat. Jangan nangis dong". Mami Nita mencoba menenangkan dan menghapus air mata Nala, meskipun air matanya tak henti menetes.
"Sakit banget miii..." Rintih Nala, semua kilasan kenakalannya yang membuat sang ibu susah seolah tengah diputar di otaknya. Timbul rasa bersalah yang besar pada dirinya saat tahu bagaimana dulu sang ibu melahirkannya.
"Abang maafin aku.." Di saat seperti ini, Nala mengingat semua kelakuannya yang menyusahkan sang suami. Mulai dari ngidamnya hingga sikap galaknya pada sang suami selama hamil. Gaara mengangguk meyakinkan sang istri jika semua akan baik-baik saja.
"Aku takut nggak bisa bang.." Gaara tersenyum teduh sambil mencium kening istrinya.
"Kamu kuat sayang. Dan kamu pasti bisa, kamu ibu yang hebat untuk putri kita.." Dalam kesakitannya Nala tersenyum. Merasa beruntung memiliki suami sesabar Gaara. Ia seolah mendapat kekuatan besar dengan keberadaan suami dan ibu yang melahirkannya.
"Aaaa..." Nala kembali berteriak saat ada sesuatu yang mendesak dibawah sana hingga ia merasa sesuatu dibawah sana pecah.
"Ikuti aba-aba saya bu.." Seorang bidan pendamping mulai memberi instruksi pada Nala apa yang harus dilakukannya.
Bahkan bukan hanya Nala, Gaara dan mami Nita pun seolah mendalami peran yang tengah diperankan Nala dengan ikut mengejan.
"Ayo sayang sedikit lagi.." Seru Gaara dengan semangat menggebu seolah dirinya lah yang tengah berjuang melahirkan putri mereka saat ini.
"Huh..huh..huh..." Nala mencoba mengatur nafasnya, kembali menarik nafas panjang dan mengejan untuk kesekian kalinya.
Dan akhirnya...
oeek..oeeekk...
Sebuah tangisan yang sudah mereka nantikan selama sembilan bulan akhirnya terdengar. Suara tangisan yang mampu membuat seorang Gaara menitikkan air matanya karena rasa haru dan bahagia nya.
"Terimakasih sayang..terimakasih.." Gaara mencium seluruh wajah Nala. Mengekspresikan perasaannya kini yang tengah diliputi kebahagiaan.
Ia bahkan tak langsung melihat anaknya. Yang ada dipikirannya hanya Nala, istrinya. Melihat perjuangan Nala melahirkan putri pertama mereka membuatnya menyadari betapa besarnya pengorbanan seorang ibu dalam melahirkan anaknya ke dunia ini.
__ADS_1
Dan Gaara berjanji pada dirinya sendiri, akan mencintai dan menjaga istri dan buah hatinya dengan segenap jiwa dan raganya. Apapun akan ia lakukan untuk kebahagiaan istri dan putri tercintanya.
Mami Nita tak kalah terharunya dari Gaara. Kelahiran cucu keduanya itu juga merupakan sebuah anugerah besar untuk dirinya.
"Abang..anak kita". Lirih Nala disisa tenaganya setelah berjuang melahirkan putri kecilnya.
"Iya sayang..kamu berhasil. Kamu berhasil melahirkan putri kita ke dunia ini..terima kasih. Terimakasih banyak sayang..Kamu wanita hebat..kamu wanita kuat". Gaara memeluk Nala dan kemudian menciumi istrinya.
Keduanya saling berpelukan sesaat sampai seorang dokter memberikan putrinya yang sudah dibersihkan untuk dilakukan IMD. Bayi mungil itu ditempelkan pada dada Nala yang terbuka, membiarkan bibir kecil itu mencari sesuatu yang akan menjadi sumber makanannya selama dua tahun ke depan.
Baim Gaara maupun Nala terlihat begitu kagum melihat makhluk kecil yang baru saja terlahir didunia itu.
Tangan gemetar Gaara perlahan mendekat, dengan sangat hati-hati, Gaara mengelus pipi selembut sutra milik putrinya itu dengan lelehan air mata. Betapa dirinya kini diliputi kebahagiaan yang teramat besar.
"Dia cantik sekali bang.." Suara Nala terdengar sangat lirih. Seolah takut mengganggu makhluk kecil yang sudah berhasil menemukan sumber penghidupannya.
"Ya..sangat cantik sayang. Seperti kamu, dia sangat cantik seperti kamu". Gaara terus mengagumi wajah cantik putri kecilnya itu.
"Tapi alis dan hidungnya, bahkan bibirnya mirip sekali sama abang.." Terlihat raut wajah tak terima saat mengatakannya.
"Abang yang bekerja keras selama ini". Nala mencebikkan bibirnya. Bisa-bisanya suaminya itu berbicara se fulgar itu didepan banyak orang.
"Tapi aku yang melahirkannya. Kenapa lebih banyak mirip abang". Sepertinya tenaga Nala sudah pulih, terlihat dari caranya mendebat sang suami.
Mami Nita yang melihatnya hanya tersenyum geli sambil menggeleng. Bisa-bisanya dua orang yang baru menyandang status sebagai orang tua itu memperdebatkan masalah wajah anaknya.
"Kamu apa-apanya mirip papi aja, mami nggak pernah protes. Jadi terimain aja". Nala kembali mendengus karana sang ibu selalu membela menantunya itu.
...¥¥¥•••¥¥¥...
...Sesuai request kesayangan othor..dikasih bonus chapter😆☺️...
...Sebenernya takut sampe ada yang bilang ceritanya nggak jelas. Tapi pas baca komenan kalian, ternyata banyak yang minta ekstra part😱...
...Semoga nggak bikin kalian semua bosen ya.....
...Akhirnya othornya kalah ama pembaca setianya kuman sama santen😂😂 kaga jadi end dong begindang ceritanya mah😂😂...
__ADS_1
...Jangan lupa juga ya, mampir ke cerita barunya aku..tadi udah up satu bab lagi🤭🤭...
...Selamat membaca semuaaaa😘🥰🥰🥰💐💐💋💋♥️...