
Abram mengusap kasar wajahnya. Perusahaannya ada diambang kehancuran setelah semua investor menarik dana yang mereka tanamkan di perusahaannya.
Ini sudah satu minggu berlalu sejak Gaara berhasil meloloskan diri. Masalah demi masalah terus menerjang dirinya dan perusahaannya. Belum lagi kedua orang tuanya yang benar-benar tidak mau mengakuinya lagi. Keduanya bahkan enggan menerima Abram dirumahnya.
"Aaakkkhhh!!!!". Teriakan Abram menggema memenuhi ruang kerja nya.
Tak lama terdengar ketukan pintu yang berulang.
"Apa lagi sekarang". Geram Abram mempersilahkan sekretarisnya masuk. Karena Abram tahu, hanya sekretarisnya yang akan berani mengetuk pintunya disaat seperti ini.
"Masuk". Teriak Abram. Dan tidak lama muncul sesosok perempuan muda.
"Maaf mengganggu pak.."
"Katakan". Ucap Gaara memijit pelipisnya.
"Ada beberapa polisi mencari bapak.." Cicit sekretaris Abram tak berani mengangkat wajahnya.
"Polisi?". Sekretaris Abram mengangguk.
"Untuk apa mereka mencariku?". Tanya Abram dan sekretarisnya hanya menggeleng tak tahu.
"Suruh mereka masuk".
Tak lama beberapa pria dengan pakaian polisi lengkap masuk kedalam ruangan Abram.
"Selamat siang tuan Abraham Sanjaya.."
"Selamat siang". Sahut Abram
"Ada keperluan apa pak?". Tanya Abram kemudian.
"Saya datang membawa surat penangkapan saudara Abraham Sanjaya atas laporan bapak Abimana Argantara atas dugaan penculikan putra pelapor, Sagaara Argantara".
"Silahkan bapak ikut kami. Bapak berhak mendapat dampingan hukum. Mari".
"Tunggu. Apa-apaan ini! Gaara putraku!! Atas dasar apa mereka melaporkan aku!". Teriak Abram tak terima
"Anda bisa menjelaskan nanti dikantor. Bawa dia". Dua orang polisi maju dan memasang borgol ditangan Abram yang masih meronta.
"Harap kerjasama nya tuan Abraham". Tegas polisi yang melihat Abram terus mencoba berontak.
"Tapi ini benar-benar gila! Aku ayah kandungnya!!". Abram masih berteriak tak terima.
"Anda berhak diam, silahkan jelaskan semuanya di kantor nanti".
Abram digelandang keluar dari kantornya. Disaksikan para karyawan yang saling berbisik melihata atasannya digelandang paksa oleh polisi dengan tangan terborgol.
Kini mereka mengkhawatirkan nasib pekerjaan mereka. Bagaimana mereka akan memberi nafkah pada keluarganya jika perusahaan tempat mereka mencari uang akhirnya bangkrut.
Abi menatap Abram yang digelandang polisi. Tatapan tajam dan dingin Abi, hunuskan pada lelaki yang sudah berani membawa lari putranya. Meski Abram adalah ayah kandungnya, namun pengadilan sudah mengetuk palu dan menyatakan ia dan istrinya yang berhak atas Gaara.
"Kau!! Kau yang melakukan ini?!". Teriak Abram menatap tajam Abi yang berdiri di lobby perusahaannya.
__ADS_1
"Beraninya kau!!!". Teriak Abram mencoba melepas cekalan dua polisi.
"Kau yang menginginkan ini". Balas Abi tak kalah tajam.
"Bertaubatlah. Semoga kau bisa berpikir didalam penjara nanti". Abi menepuk pundak Abram yang masih menatap penuh kebencian padanya.
Waktu berlalu tanpa terasa. Sudah tiga bulan sejak Abram ditangkap oleh kepolisian. Harta nya sudah habis tak bersisa untuk membayar pengacara, namun tak membuahkan hasil apapun.
Kedua orang tua Abram pun tak sedikitpun membantunya. Bukan karena tidak peduli. Tapi kedua orang tua itu hanya ingin anaknya sadar dan bertaubat atas segala kesalahan yang ia buat selama ini.
Hari ini adalah sidang putusan untuk Abram. Abi beserta Diandra dan Gaara serta Baim datang menghadiri sidang.
Tak ingin terjadi keributan karena ulah anak kembarnya, Diandra memilih menitipkan si kembar pada kakek dan neneknya.
Hakim membacakan putusan sidang. Sepuluh tahun, Abram harus menebus kesalahan yang ia buat dengan 10tahun berada dibalik jeruji besi.
Kepala Abram nampak tertunduk dalam. Terlihat jelas gurat kesedihan diwajahnya yang sebenarnya tampan itu.
Abram menatap sendu Gaara yang ada disana. Ia melewati Gaara yang terlihat sangat baik-baik saja bersama keluarganya. Sangat berbeda dengan dirinya yang hancur tak bersisa.
"Tunggu sebentar.." Petugas yang sedang membawa Abram menghentikan sejenak langkahnya.
Abram berbalik dengan tangan terborgol. Menatap Gaara yang saat ini tengah menatap ibunya.
Diandra mengangguk dengan senyum lembut hingga Gaara juga ikut tersenyum kemudian berjalan mendekati Abram.
"Mari bertemu lagi nanti saat anda sudah menyelesaikan hukuman anda. Dan mari menjadi anak dan ayah yang selayaknya, nanti saat kita bertemu lagi". Abram tercengang mendengar ucapan Gaara. Pandangannya mengabur karena air mata kebahagiaannya.
"Aku sudah memaafkan anda dan semua kesalahan yang pernah anda lakukan. Aku mohon jalani hukuman anda dengan sebaik-baiknya dan berubahlah. Jadilah orang yang lebih baik saat nanti kita bertemu lagi". Abram menatap uluran tangan putranya. Masih tak percaya jika ia masih diberi kesempatan oleh putranya.
"Terimakasih.." Abram menerima uluran tangan putranya dengan perasaan bahagia. Kini dirinya bisa dengan ikhlas menjalani hukumannya karena putranya sudah memaafkan dirinya.
Abi dan Diandra mendekat diikuti Baim dibelakangnya. Ketiganya saling menatap dalam diam.
"Maaf..maaf atas segala kesalahan yang sudah aku lakukan. Aku berjanji akan berubah. Aku akan menjadi orang yang baru saat nanti kita bertemu lagi". Mata Abram menatap Diandra dan Abi secara bergantian.
"Jalanilah hukumanmu. Kami, terutama Gaara sudah memberikan kesempatan padamu. Jangan lagi kecewakan dia". Abram mengangguk cepat mendengar ucapan Diandra.
"Aku titipkan Gaara pada kalian. Aku percaya kalian orang tua terbaik baginya.." Abram tersenyum tenang membuat Gaara membalas senyum ayah kandungnya itu.
"Maaf kami harus membawa pak Abraham". Semua orang beralih menatap petugas, kemudian mereka mengangguk.
Abram pergi dengan hati damai dan ikhlas, pun dengan Gaara dan Diandra yang hatinya juga tenang setelah memaafkan Abram dan segala kesalahannya.
"Kita pulang sekarang sayang?". Gaara beralih menatap sang ibu dan kemudian mengangguk.
Sampai dirumah, Diandra sudah disambut dengan suara melengking yang mampu membuat telinganya berdenging.
"Mamaaaaaaa....!!!!"
"Astaga Kara..kenapa kamu teriak-teriak sayang?". Tanya Diandra lembut, ia benar-benar tak habis pikir dengan putri bungsunya itu.
"Tau nih si santen. Telinga abang sakit tau denger kamu teriak mulu". Gaara berpura-pura mengelus terlinganya hingga membuat Kara semakin kesal.
__ADS_1
"Abang sama aja kaya Rapa! Ngeselin! Kara sebel sama abang!". Amuk Kara dengan mata memelototi Gaara yang justru terbahak melihat amarah adiknya.
"Aduh..santen sachet nya abang ngamuk". Goda Gaara lagi membuat Kara bertambah kesal dan menghentakkan kaki nya ke lantai.
"Papa..abang nakal". Adu Kara pada sang ayah yang hanya bisa menggeleng gemas.
"Sini sama papa.." Dengan semangat 45, Kara berlari dan melompat kedalam pelukan sang ayah.
"Kalian udah pulang? Gimana hasilnya?". Tanya mama Ana dan mama Dita kompak.
"Hasil apa?". Tanya si kembar tak kalah kompak.
"Anak kecil dilarang kepo". Gaara mencubit gemas hidung adiknya kemudian berlari karena ia melihat Kara yang sudah turun dari gendongan Abi dan hendak mengejarnya.
"Abang awas yaaaa!! Kara bales!!!".
"Nggak bisa. Sejak kapan santen bisa lari". Ledek Gaara menjulurkan lidahnya pada Kara yang telrihat sangat kesal.
Keduanya berlari mengelilingi ruang tamu, membuat sudut bibir Baim tertarik melihat bagaimana menggemaskannya Kara jika sedang mengamuk.
"Lari bang. Santen kan emang nggak bisa kalo lari, biasa juga dipake masak". Si kompor Raffa membuat Kara semakin kesal.
Karena ia menoleh, Kara tidak fokus dengan langkahnya hingga akhirnya kakinya tersandung dan jatuh.
Tangisan Kara menggema memenuhi seluruh ruangan hingga membuat Gaara panik. Buru-buru ia menghampiri Kara dan menggendong adiknya itu. Dilihatnya lutut sang adik sedikit memar dan kemerahan.
"Sakit ya.." Tanya Gaara lembut.
"Sakit banget..huaaa. Abang nakal". Tangis Kara semakin pecah. Sementara Diandra membiarkan Gaara menenangkan adiknya. Bahkan Baim yang hendak membantu dilarang oleh Diandra.
"Biarkan saja. Gaara yang bikin adik kamu nangis. Jadi biar dia yang bikin diem lagi". Baim mengangguk patuh. Meski sejujurnya khawatir, namun sesuai perintah ibunda. Ia akan mematuhinya.
"Iya..abang yang nakal. Maafin ya.." Gaara meniupi lutut Kara. Kemudian tak lama datang asisten rumah tangga membawa kotak p3k.
Dengan sangat hati-hati, Gaara mengoleskan salep agar luka memar dikaki adiknya tidak membengkak.
"Sakit.." Rengek Kara
"Iya. Tahan sedikit ya..nanti langsung sembuh". Kepala kecil Kara mengangguk lucu.
"Maafin abang ya.." Gaara memeluk Kara yang balas memeluknya. Ia merasa bersalah krena membuat adiknya terluka.
"Kara enggak apa-apa abang.." Kara menenangkan. Ia tahu abangnya, meskipun jahil namun abangnya sangat menyayangi dirinya. Ia juga tahu jika Gaara akan terus meminta maaf padanya hingga dirinya benar-benar sembuh.
Diandra tersenyum menatap anak-anaknya. Anak yang rasanya belum lama ia rawat dan ia lahirkan, kini mereka sudah beranjak dewasa.
...\~\~\~•••\~\~\~...
Oke ya..karma nya Abram juga udah..
Bab setelah ini anak-anak udah pada remaja. Dengan cinta-cintaan mereka yang masih menjadi misteri🤭😁
Jangan bosen dan dukung terus karya othor yaaa..makasiiiiih banyak buat semua like, komen dan semua dukungannya. Maafin kalau jarang ada malah hampir ga pernah balas komen. Bukan sombong loh yaaa..mohon pengertiannya🙏🏻🙏🏻🥰
__ADS_1