
"Wah..istrinya Abimana perhatian banget sih..sampe bawain bekal makan siang segala". Dan kalimat yang meluncur mulus dari bibirnya itu tentu saja mendapat hadish berupa tatapan tajam dari Diandra.
Namun seolah tak peduli, Abi justru mengambil alih tubuh Gaara yang sudah terbangun beberapa saat lalu.
" Anak papa udah gede ya..lihat, mama perhatian banget sama papa ya.." Abi menciumi wajah putranya yang kini terlihat semakin gemuk.
"Dasar tukan ngambil kesempatan.." Gerutu Diandra pelan, meski begitu Abi masih mendengarnya.
"Harus ikhlas loh mama..nanti dapat pahala banyak kalo ngelayani papa.." Sungguh Diandra ingin menampol bibir Abi yang tak henti menggodanya.
Jika bukan karena keberadaan Gaara, maka sudah pasti tangan Diandra melayang untuk menempeleng kepala suaminya itu.
"Nggak usah kepedean, semua itu mama yang suruh". Ketus Diandra namun Abi seolah menulikan telinganya.
" Hmm..wangi banget. Pasti enak.." Diandra ingin sekali menjambak rambut suaminya itu. Namun yang bisa ia lakukan hanyalah mengumpat dalam hati saja atas apa yang Abi lakukan.
"Udah cepet makan. Katanya ada meeting".
" Duh mama perhatian banget sama papa..makin cinta jadinya". Diandra dibuat melongo dengan segala tingkah laku Abi. Sungguh bukan Abi yang ia kenal selama ini.
"Berisik". Sungut Diandra mengambil alih tubuh Gaara dan membiarkan Abi menikmati makan siangnya.
" Meeting nya nanti jaaa-m...."
"Siang kak Alvin.." Sapa Diandra ramah pada asisten kepercayaan Abi selama ini.
"Si-ang". Alvin kini berada diantara dunia nyata dan dunia mimpi melihat Diandra berada diruangan bos nya, lagi.
" Apa kabar kak?". Diandra mengulurkan tangannya yang disambut dengan ragu oleh lelaki tampan yang berstatus sebagai asisten dari suaminya itu.
"Ba-baik. Ini beneran kamu Di??". Tanya Alvin ragu. Namun anggukan kepala Diandra membuatnya mau tak mau percaya.
" Nggak usah lama-lama salamannya. Modus". Cibir Abi yang datang dan melepas jabatan tangan Diandra dan Alvin.
"Dasar posesif!". Cibir Alvin
__ADS_1
" Ada apa?". Tanya Abi yang sesekali melirik Diandra yang asik sendiri dengan Gaara.
"Meetingnya jam 1..ini semua materi meetingnya". Alvin meletakkan tumpukan berkas diatas meja kerja Abi.
" Oh satu lagi, laporan keuangan bulan lalu yang udah diperiksa. Ternyata bener ada kejanggalan..semua yang udah dikasih tanda sama kamu, itu semua memang memiliki selisih yang cukup besar. Dari mana kamu tahu??". Tanya Alvin setelah menjelaskan panjang lebar.
"Nggak tahu..pas aku bangun tidur. Berkas-berkas itu udah ditandai semua. Mungkin ada malaikat yang nolong aku.." Abi melirik Diandra yang berpura-pura sibuk dengan Gaara.
Sementara Diandra, jantungnya berdegup kencang. Khawatir Abi tahu jika dirinya yang membantu. Ia tak ingin Abi terlalu percaya diri dan menganggapnya sudah memaafkan lelaki itu.
"Ah serius?? Kok bisa??". Tanya Alvin semakin penasaran.
Abi hanya mengendikkan bahunya acuh, belum saatnya ia membongkar jika istri tercinta nya lah yang membantu dirinya menemukan semua kejanggalan dalam laporan bulanan keuangan perusahaan yang ia pimpin itu.
" Aku udah selesai sayang.." Diandra melirik cepat pada Abi yang tengah meneguk air putih selepas menandaskan makan siangnya. Makan siangnya kali ini terasa lebih nikmat karena Diandra dan Gaara yang menemaninya didalam ruang kerja nya.
"Aku pamit". Diandra hendak meninggalkan ruangan Abi setelah selesai membereskan bekas makan Abi. Namun tangannya Keburu dicekal oleh Abi.
" Nggak salim dulu sama suami??". Goda Abi melirik Gaara.
Diandra mendengus kesal, selalu saja Gaara yang dijadikan alasan agar dirinya bersikap manis pada Abi. Meski kesal, Diandra menurut dan mencium punggung tangan Abi. Namun yang dilalukan Abi membuat matanya membola. Abi menarik tubuhnya dan kemudian memeluk dirinya dan Gaara bersamaan, tidak sampai disana, Abi juga mendaratkan ciuman dikening dan pipi Diandra kemudian berganti mencium Gaara.
" Aku duluan kak.." Pamit Diandra menatap Alvin yang terlihat menahan senyum melihat interaksinya dengan Abi.
"Lebih teliti kak..sepertinya ada yang ingin menggerogoti uang perusahaan.." Peringat Diandra pada Alvin ketika melewati tubuh jangkung lelaki itu.
Alvin tersenyum, tanpa ada yang memberitahu ia sudah paham jika Diandra lah yang membantu perusahaan Abi untuk menemukan kejanggalan yang sudah berbulan-bulan ia telusuri dan menemukan jalan buntu.
"Sepertinya kita memiliki tambahan pasukan baru yang sangat kuat". Abi tersenyum mendengar ucapan Alvin.
" Ya..bahkan dengan sekali lihat saja dia menemukan yang tidak bisa kita temukan berbulan-bulan". Ada senyum penuh rasa bangga ketika membicarakan Diandra. Sungguh gadis itu memang sangat luar biasa dalam hal berhitung.
"Pasti banyak umpatan yang keluar dari bibirnya saat kamu tidak berhasil menemukan semua yang berhasil ia temukan". Ledek Alvin tepat sasaran. Pasalnya dulu, Diandra tak pernah menutupi rasa kesalnya jika Abi tanpa sengaja melakukan kesalahan saat menghitung uang perusahaan.
" Ya..pasti. Kamu tau dia sangat galak jika menyangkut itu. Umpatannya benar-benar menyakitkan ". Abi terkekeh saat mengingat mulut Diandra tak henti mengumpati kebodohannya.
__ADS_1
" Apa kamu bisa mengambil laporan keuangan yang dibuat mbak Melisa bulan ini, Ar?? Aku sangat membutuhkannya.." Didalam mobil, Diandra mengetikkan sesuatu yang langsung dikirim untuk Arlita, temannya.
"Ya..akan aku usahakan Di. Nanti aku akan mengabari jika laporannya sudah ada ditanganku". Diandra tersenyum puas membaca balasan pesan dari Arlita.
" Kita harus selesaikan secepatnya sayang..aunty Naya akan menikah 3minggu lagi, sebelum kita kesana dan berpesta, masalah ini harus selesai.." Diandra teringat undangan pernikahan yang dikirimkan Naya beberapa hari lalu. Sebelum temannya mengadakan pesta pernikahan, masalah ini sudah harus bisa ia selesaikan.
****\****
Sudah satu minggu ini Diandra berperang dalam diam. Mencari bukti kecurangan Melisa dan salah seorang petinggi perusahaan.
"Aku rasa cukup. Aku sudah bisa membuat mereka mengaku dengan semua bukti ini.."
"Tapi mama butuh satu bukti lagi. Dan sudah pasti bukti itu ada diruangan pria buncit itu.." Gumam Diandra yang tengah berpikir keras bagaimana caranya bisa masuk kedalam ruang kerja direktur umum dikantor suaminya itu.
"Kita ke kantor papa ya sayang..kalo mama sendiri, yang ada papa kamu gede kepalanya". Diandra bersiap setelah memastikan segala keperluan Gaara.
Ia menuruni tangga dengan menggendong Gaara, tepat diruang keluarga, mama Dita dan mama Ana sedang menyaksikan serial yang sedang digandrungi para ibu-ibu sambil mulutnya terus mengucap sumpah serapah.
" Lihat kedua oma kamu sayang..benar-benar sudah kecanduan ikan terbang". Bisik Diandra sambil terkekeh. Satu minggu ini, dirinya mulai bersikap biasa pada kedua orang tua dan kedua mertuanya. Hanya pada Abi ia belum bisa bersikap seperti sediakala.
"Ma.." Kedua wanita paruh baya itu segera menoleh. Senyum tersungging dibibir yang sudah mulai menunjukkan keriput itu.
"Kamu mau kemana sayang??". Tanya mama Ana cepat.
" Kantor Abi..".
"Gaara dirumah saja Di..biar mama yang jaga sama mama Ana". Diandra menggeleng, ia akan kehilangan alasan jika putranya itu ia tinggal.
" Hanya sebentar kok..biar Gaara sama aku aja". Kedua mamanya hanya mengangguk dengan kemauan Diandra.
"Hati-hati dijalan ya..cucu oma Jangan rewel ya sama mama.." Mama Dita menciumi wajah cucunya yang semakin lama justru semakin memiliki kemiripan dengan Diandra.
"Aku pergi dulu ma..Assalamualaikum".
" Wa'alaikumsalam.." Mama Dita dan mama Ana menjawab kompak. Keduanya sangat bahagia dengan perubahan sikap Diandra.
__ADS_1
"Pak Salim..ke kantor mas Abi ya.." Pak Salim mengangguk patuh setelah membuka pintu untuk nona mudanya.
"Oke sayang..saatnya mama beraksi".