
Setelah semua terbuka, Diandra dan Abi melarang Baim menginap lagi dirumah mereka. Semua itu Diandra lakukan demi putra putrinya. Mama muda itu pun melarang Kara untuk ke apartemen Baim seorang diri.
Diandra tahu seperti apa orang yang sedang jatuh cinta. Jika orang yang tidak saling mencintai saja bisa berbuat sesuatu diluar norma jika hanya berdua, apalagi yang saling mencintai seperti kedua anaknya.
Awalnya Kara merengek, memaksa ingin tetap sang kekasih rutin menginap dirumah. Namun setelah dibujuk dan diberi penjelasan, akhirnya Kara faham dan menuruti semua ucapan orang tuanya.
"Baim masih bisa kesini, Ra. Dia cuma nggak boleh nginep". Terang Diandra membuat Kara mengangguk patuh meskipun wajahnya cemberut.
"Jadi kapan kalian menikah?". Semua menatap Abi dengan tatapan tak percaya.
"SMA aja aku belum lulus loh pa". Kara melotot pada sang ayah yang justru terkekeh.
"Kemaren ngotot nggak mau dipisahin. Giliran ditanya kapan nikah sekarang ngambek". Ledek Abi yang senang melihat putrinya merajuk.
"Ya nggak gitu juga kali pa, konsepnya". Gerutu Kara
"Kara masih mau kuliah dulu pa..baru nanti Kara mau nikah". Kara tersenyum malu-malu melirik Baim.
"Anj*r! Ji jik banget gue liat muka lo malu-malu gitu". Cibir Raffa menoyor kepala Kara yang langsung menatapnya tajam.
"Tau lo santen! Biasanya juga lo malu-maluin". Tawa Gaara dan Raffa pecah melihat wajah Kara memerah dengan bibir mengerucut. Wajah masam itu benar-benar menghibur untuk Gaara dan Raffa.
"Mama..abang sama sarap ngeselin". Rengek Kara membuat Diandra mendengus.
"Kaya gitu aja baru mama mama..sana ke kakak kamu". Sindir Diandra yang hingga kini masih suka merasa kesal setiap mengingat Kara dan Baim yang menyembunyikan hubungannya.
"Yaelah..udah emak-emak juga meuni dendaman banget ama anak". Cibir Kara membuat Diandra melotot.
"Beneran kamu mau kuliah dulu?". Tanya Abi meminta kejelasan.
"Iya lah..Masa calon suami aku pinter, sekolah tinggi. Eh akunya cuma lulus SMA. Kan nggak banget pa.." Baim hanya diam dan tersenyum tipis mendengar semua ucapan kekasihnya.
"Lah, si kakak keburu tua lah nungguin lo kuliah". Sebuah sandal hampir saja melayang mengenai kepala Raffa jika saja Diandra tidak menahannya.
"Kamu tuh kalo ngamuk biasain jangan suka lempar-lempar deh, Ra. Mama sama bibi capek loh ngumpulin sendal-sendal kamu. Segitu banyak sendal masa tinggal sebelah semua sih". Kara nyengir menatap sang mama kemudian melotot pada saudara kembarnya.
"Bukan tua!! Tapi matang! Lo tau apaan sih dasar bocah". Cibir Kara melirik sinis saudara kembarnya yang kini justru tertawa keras.
"Lo ngatain gue apaan? Bocah? Gue ama elo aja duluan gue liat dunia nya sableng". Cibir Raffa menatap remeh saudara kembarnya.
__ADS_1
"Beda 7menit aja lo bangga-banggain". Balas Kara tak mau kalah.
"Heh, 7menit juga berarti. Gue punya pengalaman lebih lama 7menit dibandingin elo didunia". Diandra dan Abi segera bangkit, menunggu anak kembarnya selesai berdebat hanya akan membuang waktu mereka.
"Kita istirahat aja mas. Capek liatin anak kamu ribut mulu". Abi mendengus
"Giliran ribut dibilangnya anak aku. Kalo nilai mereka sempurna dibilang kaya kamu". Cibir Abi yang disambut kekehan Diandra.
"Pantes aja anak-anaknya seneng ribut. Emak bapaknya juga hobinya ribut". Abi dan Diandra melotot menatap Gaara yang menggoda mereka.
"Daripada ledekin mama sama papa, mending mikirin tuh calon istri. Apa mau mama cariin sekalian?". Balas Diandra tersenyum penuh kemenangan melihat putranya mendengus.
"Karna Kara masih mau kuliah, jadi abang aja yang nikah duluan". Ucap Diandra santai.
"Nggak usah mulai ya ma.." Gaara menatap Diandra yang tertawa.
"Katanya abang udah punya pacar. Terus kenapa?". Diandra dan Abi kembali duduk. Mengabaikan perdebatan kedua anak kembarnya yang berfokus pada Gaara.
Baim hanya melirik Gaara. Selama ini Gaara tidak pernah jujur padanya sedang menjalin hubungan dengan siapa. Tapi selama ini ia hanya tahu jika Gaara hanya dekat dengan seorang gadis aja.
Sejujurnya ia juga penasaran. Karena saat Diandra ingin menjodohkan Gaara dengn Icha, Gaara menolak dan bilang sudah memiliki kekasih.
Gaara terlihat gelagapan. Dirinya hanya asal bicara agar ibundanya tak memaksa dirinya untuk dijodohkan. Namun siapa sangka kini menjadi senjata makan tuan.
Ia memang tertarik pada seorang gadis. Namun sepertinya gadis itu sulit ditakhlukkan. Belum lagi sang ayah yang juga memiliki rencana menjodohkan dirinya dengan anak dari seorang kenalan sang ayah yang sangat berjasa bagi ayahnya itu.
"Hmm..jadi kamu cuma boongin mama biar nggak dijodohin ama Icha ya?". Mata Diandra memicing menatap curiga Gaara.
"Aku masih mau fokus kuliah ama kerjaan ma. Belum pengen mikirin nikah. Aku juga masih muda". Kilah Gaara melengos, tak mau menatap mama nya yang terus menatapnya.
"Umur kamu udah 23 bang".
"Itu masih muda ma. Jangan coba-coba jodohin aku ya ma". Gaara sudah memasang sikap siaga melihat senyum mama nya.
"Dih, kepedean aja si abang. Lagian Icha juga nggak akan mau ama kulkas berjalan kaya kamu bang. Kaku, kaya kanebo kering abis dicuci". Ledek Diandra membuat Gaara melotot. Bisa-bisanya ia yang tampan ini disebut mirip kanebo kering.
Baim terkekeh pelan mendengar ucapan Diandra. Tapi senyum di bibirnya luntur saat Diandra juga menyebutkan namanya.
"Kamu juga sama kak. Kalian tu kaku dua-duanya. Udah kaya kanebo kering nyebelin pokoknya". Kini giliran Gaara melirik Baim dengan tatapan meledeknya.
__ADS_1
"Sikap kaya gitu aja kamu turunin ke mereka mas, mas.." Abi melongo. Sejak tadi ia diam, namun tetap saja kena sembur istrinya.
"Aku daritadi diem loh sayang. Masih aja kesenggol". Abi memberengut membuat kedua putranya tertawa kecil.
"Mama..mama.." Diandra menatap Kara yang sedang berlari karena dikejar oleh Raffa.
"Rapa mau dikawinin katanya.." Teriak Kara yang berhasil duduk disamping Diandra.
"Mulut lo ya santen! Seenak jidat aja lo ngomong". Teriak Raffa membuat Kara terbahak.
"Tuh nikahin aja dulu si sarap ma. Dia suka ama si---ehmm". Tangan Raffa membekap mulut Kara yang sejak tadi terus mengajaknya ribut.
Diandra menghela nafas, anak kembarnya memang sulit akur dan diam jika berdekatan.
"Kalian ribut mulu ih.." Gerutu Abi menatap dua anaknya yang masih saling sikut.
"Si santen yang mulai pa". Kara menggeleng sambil mengibaskan tangannya.
"Mana ada. Gue tuh baik, gue bantuin ngomong ama papa mama biar lo cepet dinikahin". Raffa menjitak kepala adik kembarnya.
"Lo suka kan ama dia.." Goda Kara menatap Raffa yang wajahnya memerah.
"Diem deh lo, Ra. Tu mulut kaga bisa diem apa". Kesal Raffa karena Kara terus menggodanya.
"Kalian ini ribuuut terus. Mama sama papa tu nanyain abang kalian. Kenapa kalian yang ribut sih.." Omel Diandra menatap anak kembarnya.
"Mau dinikahin sekarang aja sama mama?". Kara dan Raffa kompak menggeleng sambil mengibaskan tangannya.
"Abang aja dulu". Ucap keduanya serempak membuat Gaara melotot galak.
"Atau enggak kakak aja, ma. Jodohin sama Icha anaknya tante Naya. Kayanya cocok". Kara langsung mencubit perut Raffa kencang hingga kakak kembarnya itu berteriak.
"Lo ngajakin gue ribut?!". Sungut Kara membuat Diandra dan Abi menepuk keningnya lelah.
Namun detik berikutnya. Diandra mengangkat wajahnya dan tersenyum melihat anak-anaknya berdebat. Kehangatan yang sempat menghilang kini sudah kembali menghangatkan rumah mereka.
...---£££---...
Udah segini dulu aja. Aku bingung mau bikin cerita mereka. Jadi bikin ribut si santen ama si sarap aja lah ya😂😂keliatan banget amatirnya😅😂🤣
__ADS_1
Semoga aku dapat ilham jadi ketemu mau nyeritain yang gimana si sarap ama si abang😁