Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
perasaan rindu


__ADS_3

Mbok Tun masih terus mengelus kepala Diandra karena sejak tadi Diandra tak kunjung menanyakan apapun padanya.


"Simbok.."


"Iya non.." Tanya mbok Tun. Ia tahu apa yang ingin ditanyakan anak majikannya karena sejak tadi Diandra terlihat ragu.


"Malam itu.." Tenggorokan Diandra seolah tercekat, tak mampu melanjutkan apa yang ingin ia tanyakan meski rasanya sangat ingin.


"Simbok paham apa yang mau non Diandra tanyakan". Diandra mendongak menatap netra teduh mbok Tun.


Mbok Tun menatap lurus ke depan. Ingatannya kembali berputar pada kejadian yang sudah 2 tahun lalu terjadi.


" Simbok nggak tahu kejadian sebenarnya seperti apa non..tapi simbok yakin non Dea sama mas Abi tidak mungkin sengaja melakukannya pada non Diandra. Apalagi sengaja menyakiti hati non Di". Diandra diam mendengarkan sambil menikmati sentuhan lembut di kepala nya.


"Pasti semua itu bikin non Diandra sakit.." Simbok menatap Diandra yang matanya sudah memerah.


"Simbok juga sakit. Membayangkan suatu saat non Di akan tahu jika mas Abi menikah sama non Dea". Mbok Tun menyeka air yang menggenang diujung matanya.


" Pasti sulit sekali diposisi nya non Diandra.. " Elusan itu terasa semakin lembut dikepala Diandra.


"Tapi itu juga nggak mudah buat non Dea sama mas Abi non.." Mbok Tun menghela nafas panjang seolah udara disekitarnya cepat habis.


"Simbok saksi hidup perjuangan non Dea sama mas Abi buat bangkit setelah kejadian mengerikan itu".


" Maksud simbok?". Tanya Diandra penasaran.


Mbok Tun tersenyum lembut menatap anak majikannya yang sudah seperti anak kandung baginya.


"Mungkin non Diandra pikir mas Abi dan non Dea bisa hidup tenang setelah kejadian malam itu, tapi tidak non".


" Butuh berbulan-bulan untuk membuat non Dea hidup normal. Mas Abi juga nggak kalah.."


"Nggak cukup satu bulan buat mas Abi mau melanjutkan memimpin perusahaan setelah kejadian naas itu".


Tak ada suara apapun dari Diandra namun ia benar-benar mendengarkan dengan baik setiap kata yang mbok Tun ucapkan.


" Sambil makan ya..simbok suapin". Mbok Tun menawari Diandra namun Diandra menggeleng.


"Nanti sakit kalo ndak makan.." Bujuk mbok Tun

__ADS_1


"Aku udah makan sama temen tadi mbok". Jelas Diandra membuat mbok Tun mengangguk dan melanjutkan ceritanya. Kisah yang membuat dua putri majikannya sama-sama hancur dan kesulitan menjalani hidup.


" Non Dea bahkan pernah beberapa kali mencoba bunuh diri non". Diandra yang awalnya merebahkan diri langsung duduk mendengar cerita mbok Tun.


Gadis itu menggeleng tak percaya dengan apa yang dia dengar. Namun ia percaya mbok Tun tidak akan mengarang cerita mengerikan seperti itu hanya untuk membuatnya percaya.


"Beruntung mas Abi sama bapak dan ibu memergokinya non. Dari situ mas Abi bangkit, karena bagaimanapun bayi dalam kandungan non Dea tidak bersalah dan membutuhkan mas Abi sebagai ayahnya". Jelas mbok Tun membuat Diandra terdiam.


" Non Dea sempat depresi, sampai berkali-kali bapak sama ibu panggil psikolog. Non Dea selalu menyalahkan dirinya karena merebut mas Abi dari adiknya sendiri".


"Setiap hari selalu menyakiti dirinya sendiri. Memukul kepala sama jambak rambutnya sampai rontok. Apalagi setiap melihat foto non Diandra. Non Dea akan histeris dan menangis keras". Entah seperti apa ekspresi wajah Diandra saat ini. Semua benar-benar diluar perkiraannya. Ia pikir kakak dan kekasihnya hidup bahagia setelah berhasil menghancurkannya. Tapi nyatanya? Kehidupan mereka jauh lebih hancur dari dirinya.


"Saat mendengar detak jantung den Gaara untuk pertama kalinya, non Dea seperti ditarik dari dunia semu nya selama ini. Non Dea jadi punya alasan bertahan meski setelah semuanya terbongkar, non Dea kembali harus sering mengunjungi psikiater". Diandra menghapus cepat air mata yang sudah mengalir dipipi mulusnya.


" Se sulit itukah keadaan kalian saat itu?". Batinnya sakit.


"Simbok juga marah saat tahu mas Abi dan non Dea mau menikah. Simbok kira mereka menghianati non Di..Tapi semua tidak seperti yang simbok kira". Wanita tua itu membelai lembut wajah Diandra dan menghapus air matanya.


" Simbok tahu kalau yang non Diandra lewati pasti sangat sulit. Pasti bikin hati sakit sama sedih. Simbok juga sedih.." Mbok Tun memeluk Diandra dan mengelus punggungnya.


"Tapi simbok bahagia saat melihat non Diandra kembali tersenyum pas sama Den Gaara".


Lama Diandra menangis didalam pelukannya pengasuhnya hingga akhirnya tertidur karena terlalu lelah menangis.


"Kakak?". Wanita cantik dengan gaun bermotif bunga-bunga itu berbalik. Diandra tidak salah, itu adalah kakaknya, Deanita. Diandra berlari dan memeluk kakak yang ia rindukan.


" Adeknya kakak udah gede.." Diandra menikmati pelukan yang lama tak ia rasakan.


"Kamu tambah cantik, dek. Kakak bahagia lihat kamu sekarang".


" Tapi kakak harus pergi". Dea melepaskan pelukannya.


"Kakak mau kemana?". Tanya Diandra saat Dea melepas pelukannya.


" Anak kakak butuh kakak. Jangan tinggalin dia". Imbuhnya lagi menggenggam tangan Dea.


"Dia udah punya mama yang baiiik banget. Sayang banget sama dia..kakak bisa tenang, dek". Diandra menggeleng kuat, rasanya terlalu berat mengemban tugas sebagai seorang ibu.


" Lepaskan semuanya sayang. Kakak sudah bahagia karena kamu memaafkan kakak".

__ADS_1


"Sekarang kakak minta, berbahagialah.."


"Abi mencintaimu Di. Sangat mencitaimu".


" Dia menjaga kakak karena anak ini.."


"Sekarang kalian sudah bersama. Jangan sampai ada apapun yang memisahkan kalian seperti kakakmu ini". Dea terlihat tersenyum lembut meski Diandra terus menggeleng.


Entahlah, Diandra merasa lidahnya kelu hingga tak bisa bersuara meski rasanya ingin sekali menolak keinginan sang kakak.


" Enggak kak..jangan. Jangan kak, jangan...Jangan pergi".


"Kakak!!!!". Diandra membuka matanya dengan keringat membasahi wajahnya, ia merasa mengejar Dea yang berjalan pelan namun tak bisa ia gapai.


Rupanya dirinya bermimpi bertemu dengan sang kakak yang sudah tiada. Diandra duduk kemudian menyandarkan punggungnya dikepala ranjang. Mengusap wajah yang basah oleh keringat.


Ia menoleh dan tidak mendapati putranya dimanapun. Dengan panik ia turun dari ranjang dan mencari keseluruh penjuru kamarnya. Namun hasilnya nihil.


" Kamu dimana sayang?". Gumam Diandra sambil menuruni anak tangga dengan sedikit berlari.


Langkahnya terhenti saat melihat putranya sudah bersama kedua neneknya diruang keluarga. Diandra bernafas lega mendapati Gaara ada bersama kedua neneknya.


Ia melirik jam dinding, rupanya dirinya tertidur cukup lama. Diandra mengedarkan pandangannya, ia melihat papa dan papa mertuanya tengah bermain catur. Matanya melihat kesekililing. Entahlah, tapi Diandra berharap melihat Abi saat ini.


"Kamu nggak pulang lagi mas?". Gumamnya pelan


" Waah..itu mama udah bangun sayang". Seru mama Ana yang melihat Diandra di tengah tangga.


Diandra tersenyum tipis kemudian berjalan perlahan menuruni anak tangga untuk menghampiri putranya yang terlihat memanggilnya.


"Mamamamama.." Dengan langkah yang masih limbung, Gaara berjalan cepat menghampiri sang ibu.


"Eits kena..jangan lari dong. Nanti pala nya benjol". Diandra menangkap tubuh mungil Gaara yang hampir jatuh karena memang anak itu masih belajar berjalan.


" Papapappa.." Ocehan Gaara berhasil membuat Diandra terdiam.


"Papa kerja sayang..cari uang yang banyak buat anak mama. Gaara kangen?". Gaara tetap mengoceh karena belum memahami maksud pertanyaan Diandra.


" Mama juga kangen sama papa, sayang". Imbuhnya, namun tentu saja hanya berani ia ucapkan dalam hatinya saja.

__ADS_1


__ADS_2