
Nala menghela nafas panjang. Ternyata apa yang ia jalani tak semudah bayangannya. Menghapus nama Gaara di hatinya tak semudah perkiraannya. Awalnya ia begitu percaya diri jika akan dengan mudah melupakan Gaara. Apalagi dia sama sekali tidak bisa bertemu Gaara.
Namun hingga satu tahun dirinya berada jauh dari lelaki yang hingga kini masih menempati ruang hatinya itu, Nala belum bisa melupakan Gaara.
Gadis itu masih enggan menyingkirkan foto dirinya dan Gaara yang terbingkai rapi. Foto yang ia letakkan diatas nakas samping ranjangnya. Foto yang selalu ia tatap setiap paginya.
"Kenapa susah banget sih bang.." Lirih Nala mengusap wajah tampan Gaara yang terbingkai itu.
"Aku udah jauh bang..tapi kenapa masih susah lupain abang.." Nala mulai menangis, dan ia benci air mata si alan yang selalu tak bisa ia cegah setiap menatap foto Gaara.
"Padahal abang kaku gini..tapi kenapa aku suka". Nala terkekeh kemudian mencium foto Gaara.
"Dek..." Nala menghapus cepat jejak air matanya saat sang kakak memanggilnya.
"Sebentar mas.." Nala balas berteriak.
"Aku tinggal dulu ya bang..baik-baik. Jagain kamar aku ya.." Nala kembali terkekeh kemudian meletakkan foto Gaara dengan sangat hati-hati seolah foto berbingkai itu adalah hatinya. Yang jika tidak diperlakukan dengan hati-hati bisa hancur sewaktu-waktu.
"Pagi mas.." Sapa Nala pada sang kakak dan mendaratkan kecupan dipipi kakaknya.
"Kuliah pagi?". Nala mengangguk dengan senyum merekah dibibirnya. Dan Zayn hanya membalas senyuman palsu Nala.
Sudah satu tahun, dan sepertinya adiknya masih kepayahan melupakan cintanya itu. Ia tahu apa yang dilakukan Nala setiap menatap wajah Gaara yang terbingkai di atas nakas adiknya itu. Namun Zayn hanya diam. Bukan tak sayang atau tidak peduli pada adiknya. Namun Zayn ingin membiarkan adiknya itu mendewasakan dirinya dengan proses sesuai apa kemampuan adiknya sendiri.
"Tumben belum berangkat mas?". Tanya Nala. Pasalnya sangat jarang kakaknya itu ada dirumah dijam pagi seperti ini.
"Nemenin adik kesayangannya mas.." Zayn mengusak rambut adiknya perlahan. Takut adik cerewetnya itu mengamuk jika rambutnya berantakan.
"Mas anter ya ke kampusnya.." Nala mengangguk dengan semangat. Kapan lagi ia diantar oleh lelaki tampan itu.
"Mas tau nggak.." Zayn langsung menggeleng membuat Nala mencebik.
"Dengerin dulu ih! Orang belom selesai ngomongnya". Cebik Nala membuat Zayn terkekeh.
"Iya iya..maaf. Kenapa adeknya mas..." Goda Zayn semakin membuat Nala kesal.
"Mas tuh dikiranya pacar aku tau. Pada digosipin katanya mas calon suami aku". Nala terkikik geli setiap mengingat teman-temannya menggoda dirinya dan mengatakan jika Zayn adalah kekasih sekaligus calon suaminya.
__ADS_1
"Terus kamu jawab apa?". Tanya Zayn
"Aku diem aja". Nala terbahak membuat Zayn menggeleng.
"Ada yang bilang, pasti jodoh soalnya mukanya mirip". Nala kembali tergelak ketika mengingat teman-temannya yang begitu bersemangat membicarakannya dan sang kakak.
"Ya iyalah mirip. Kan mak bapak kita sama ya mas.." Zayn ikut tertawa mendengar celotehan adiknya itu.
"Jahil kamu tuh.." Nala terkekeh mendengar ucapan kakaknya.
"Dek.." Nala menghentikan tawanya, menatap kakaknya yang kini juga menatap serius dirinya.
"Aku baik-baik aja mas.." Nala tahu apa yang akan kakaknya katakan. Meskipun mencoba meyakinkan sang kakak jika dirinya baik-baik saja. Tetap saja ia tak bisa membodohi laki-laki yang sangat ia sayangi itu.
"Berhenti kalau kamu nggak kuat, dek. Jangan terlalu memaksakan diri". Zayn mengelus lembut kepala Nala yang wajahnya berubah sendu. Tak ada senyum cerah seperti sebelumnya.
"Aku bener-bener gapapa mas. Aku baik-baik aja kok.." Nala kembali tersenyum. Mencoba meyakinkan sang kakak tentang kondisinya.
"Anterin yuk mas..keburu siang". Zayn mengangguk dan segera mengambil tas kerja dan jas nya.
Keduanya berjalan bersisian keluar dari rumah milik Zayn. Seperti seorang kekasih, Zayn membukakan pintu untuk Nala yang langsung tersenyum padanya.
.
Tak jauh berbeda dengan Nala. Seorang lelaki tampan yang duduk disinggasana kerjanya tengah fokus dengan berkas-berkas yang ada didepannya.
Sudah satu tahun lamanya, lelaki berparas rupawan itu selalu menyibukkan diri dan menghabiskan waktunya dengan bekerja.
Bahkan hingga seseorang masuk ke dalam ruangannya, lelaki itu tak sedikitpun menyadarinya.
Seorang wanita cantik yang baru saja masuk hanya bisa menghela nafas panjang melihat pemandangan itu selama setahun terakhir.
"Istirahat bang.." Lelaki yang tak lain adalah Gaara langsung mengangkat wajahnya.
"Mama?". Gaara terlihat sedikit terkejut melihat kedatangan sang mama.
"Mama kapan dateng?". Diandra mendengus kesal mendengar pertanyaan putranya.
__ADS_1
"Makanya jangan kerja terus!". Ketus Diandra meletakkan rantang makanan yang ia bawa dengan sedikit keras. Membuat Gaara tersenyum tipis melihat kekesalan sang ibu.
"Mama tiap kesini ngomel terus ih.." Gaara memeluk sang ibu dan mengecup singkat pipi dan keningnya.
"Jangan siksa diri deh bang. Heran mama tuh sama kamu". Gaara kembali tersenyum tipis.
Bagi Gaara, bekerja adalah satu-satunya cara agar dirinya bisa sedikit melupakan sosok gadis yang tanpa ia sadari sudah menguasai hatinya.
Selama satu tahun belakangan, sejak kepergian Nala dari kehidupannya. Gaara bagaikan robot yang tak kenal kata lelah. Hampir tak ada kata libur. Bahkan bisa dibilang Gaara bekerja selama 7hari nonstop.
Diandra sudah berulang kali mengomeli anaknya. Meminta agar Gaara tidak menyiksa diri dengan bekerja tanpa istirahat.
"Biarin aja ma..itu hukuman buat anak mama". Kara yang baru masuk langsung meledek kakaknya. Bukan tidak kasihan pada sang kakak. Namun mengingat kebodohan Gaara yang menyianyiakan Nala membuatnya masih menyimpan rasa kesal pada Gaara.
Baik Diandra maupun Gaara sama-sama menoleh dan mendapati Kara masuk dengan senyum mengejek menatap Gaara.
"Kan udah aku bilang bang. Jangan sia-siain Nala. Giliran ditinggal, galau kan? Kerja udah kaya kuda. Kuda aja kerjanya ada istirahat. Lah abang?". Kara kembali mengejek sang kakak yang nampak biasa saja.
Bagaimana tidak biasa. Hampir sertiap hari gadis itu selalu menggoda dan meledeknya perihal kebodohannya membiarkan Nala pergi.
"Kalo cinta itu dikejar! Bukan diem aja". Semprot Diandra yang gemas melihat putranya hanya diam saja tanpa berusaha mencari Nala.
"Dia bahagia jauh dari abang, ma". Sahut Gaara mencoba tersenyum meski hatinya terasa pilu.
"Ya iyalah. Siapa tau kan ya ma, Nala udah dapet cowok ganteng tajir yang cinta sama dia. Mudah-mudahan aja sih ya ma". Diandra melotot menatap Kara. Namun gadis itu tampak acuh saja.
Sudah satu tahun ini, Kara memiliki hobi baru. Yakni menggoda sang kakak dan meledeknya. Ia merasa bisa membalas sikap menyebalkan kakaknya dulu ketika selalu menggoda dan menjahilinya.
"Lagian Nala juga nggak akan mau lah sama abang, ma. Sakit hati lah dia, ngejar laki-laki 2tahun nggak diliat. Eh malah sibuk nengok ke belakang nyampe akhirnya kecemplung jurang deh". Gaara hanya bisa diam tanpa bisa membalas semua ucapan pedas adiknya itu. Karna pada kenyataannya, apa yang Kara katakan memang benar.
Dirinya terlalu sibuk menatap ke belakang hingga tidak melihat jika didepannya ada jurang dalam yang harus ia seberangi. Terlalu larut dalam kenangan masa lalu hingga masa depan yang harusnya ia gapai dan menjdikan hidupnya indah kini pergi.
Benar apa kata Kara. Gaara terlalu asyik menengok ke belakang hingga kakinya salah berpijak dan kini ia terjatuh dalam jurang penyesalan.
Dan inilah yang sekatang harus Gaara jalani setelah kepergian Nala. Hanya ada kesunyian dan kesepian serta penyesalan mendalam karena terlambat menyadari betapa pentingnya Nala.
...¥¥¥•••¥¥¥...
__ADS_1
Eaeaea...yang nyesel yang nyesel mari merapat. Yang mau bully yang mau bully, silahkan disiapkan kata-katanya buat si kang gara-gara😂😂😂