Suamiku, Kakak Iparku

Suamiku, Kakak Iparku
kehidupan baru


__ADS_3

"Kamu yakin mau melakukan ini nak?". Andre, sang ayah menanyakan keyakinan putrinya.


"Mami nggak mau jauh dari kamu, sayang". Nita memeluk putrinya begitu erat.


"Ya ampun mami..mami masih bisa jenguk aku. Kenapa kaya nggak akan ketemu sih". Nala terkekeh pelan.


"Mami sepi nggak ada kamu. Nggak ada yang mami omelin". Nala melotot kesal hingga membuat Nita tertawa.


"Omelin aja kak Melly". Nala melirik kakaknya yang tengah mengandung didampingi suaminya.


"Kakak kamu lagi hamil. Masa iya mami omelin". Sahut Nita membuat Nala mencebik.


"Jagain adek kamu ya mas.." Nita menatap anak laki-laki pertamanya kemudian menatap Nala yang masih menempel padanya.


"Mami kaya mau di tinggal pergi ke Antartika aja deh". Cibir Zayn, putra pertama Nita dan Andre, kakak Nala.


"Rumah tuh sepi kalo nggak ada adik kamu, mas". Ketiga anaknya kompak tertawa. Bagaimana bisa seperti itu, jika berada dekat selalu berdebat.


"Janji sama mami, jaga diri kamu baik-baik ya. Cepet hubungi mami kalo ada apa-apa". Nala mengangguk dan kembali memeluk sang ibu.


"Papi.." Nala beralih memeluk ayahnya.


"Papi percayain semua ke kamu, sayang. Kamu anak papi yang paling kuat..tapi ingat. Jangan sungkan minta tolong kalau merasa kesulitan..ngerti?". Nala mengangguk dalam pelukan sang ayah.


Setelah beberapa hari berpikir tentang apa yang akan ia lakukan, Nala memutuskan untuk pergi. Pergi menjauh agar tidak bisa lagi melihat wajah laki-laki yang masih teramat ia cintai meski sudah berulang kali mendapatkan rasa sakit dan kekecewaan.


Ada keraguan yang besar dalam hatinya memutuskan pergi dari kota penuh kenangan ini. Apalagi lelaki yang ia cintai juga ada di kota itu.


Matanya menatap sekeliling. Kemudian sesungging senyum miris tersemat dibibirnya. Bagaimana mungkin ia masih berharap jika Gaara akan datang dan mencegah kepergiannya. Bodoh sekali bukan?


"Kita pergi sekarang dek.." Zayn menyadarkan Nala yang langsung mengangguk.


"Sudah kamu periksa semua?". Tanya Andre dijawab anggukan kepala.


"Urus semua mas. Papi percayain sama kamu, jaga dan awasi adik kamu". Zayn mengangguk dan memeluk kedua orang tuanya secara bergantian.


"Jaga keponakan aku, Mel. Nanti aku sama Nala pulang pas kamu lahiran". Melly mengangguk, membalas pelukan kakak lelakinya.

__ADS_1


Jarak usia Nala dan kedua kakaknya memang cukup jauh, jika dengan Melly, Nala terpaut usia enam tahun, sedangkan Zayn hanya lebih tua satu tahun dengan Melly yang artinya usia Nala dan Zayn terpaut 7tahun.


"Kamu juga cepetan nikah. Inget umur udah nggak muda". Peringat Melly saat Zayn memeluknya.


"Aku gampang. Nanti nikah kalo Nala udah nikah". Sahut Zayn santai.


Selama ini memang Zayn menolak menikah sebelum kedua adiknya memiliki keluarga sendiri. Ia merasa bertanggung jawab pada kedua adiknya meski kedua orang tuanya masih ada.


"Nggak usah mulai deh mas. Aku masih muda banget. 20 juga belum, udah ngomongin nikah. Mas Zayn aja dulu yang nikah". Gerutu Nala yang gemas pada sang kakak yang selalu menggunakan namanya untuk menolak perjodohan dari kedua orang tuanya.


Perdebatan tiga bersaudara itu terhenti saat terdengar pengumuman jika penumpang pesawat diharapkan segera check in.


"Kita pamit dulu mi, pi.." Meskipun berat, Nita dan Andre ikhlas melepaskan putri bungsu mereka untuk ikut kakak tertuanya.


"Kak Melly, nitip mami sama papi ya.." Melly dan suaminya mengangguk. Setelah diskusi kilat yang mereka adakan. Sudah diputuskan jika Melly dan suaminya akan tinggal bersama mami dan papi mereka selama Nala belum kembali.


Nala dan Zayn melambaikan tangannya. Keduanya berjalan bersisian dengan menyeret koper masing-masing.


"Kamu yakin dek? Masih ada waktu buat batalin keberangkatan kamu kalo emang kamu nggak yakin". Ucap Zayn menatap adiknya yang sejak tadi hanya diam menatap luar jendela pesawat.


"Apa sih mas..aku yakin kok. Lagian emang kenapa nggak yakin". Nala memasang senyum terbaiknya untuk meyakinkan sang kakak yang juga tahu betul alasannya pergi meninggalkan kota kelahirannya.


"Makasih mas..mas emang terbaik". Nala memeluk tubuh Zayn yang duduk disampingnya.


.


Nala membuka matanya saat Zayn membangunkannya dan mengatakan jika pesawat sudah hampir landing. Waktu satu jam terasa sangat singkat karena Nala tidur sejak pesawat take off.


"Hmm..pantes mas Zayn betah disini. Adem banget nggak sih ini..." Nala membuka kaca mobil, menghirup udara yang terasa segar dan memanjakan paru-parunya.


"Enak ya?". Tanya Zayn yang sedang mengemudi, melirik sekilas adiknya yang terlihat memejamkan mata. Benar-benar menikmati suasana baru.


"Banget ini sih mas..enak pake banget-banget". Nala tersenyum. Menatap hamparan sawah yang menghijau. Benar-benar memanjakan matanya setelah setiap hari hanya melihat kemacetan.


Mobil sang kakak berhenti disebuah rumah berlantai dua. Tidak sebesar rumah kedua orang tuanya, bahkan mungkin tidak sampai setengah dari rumah kedua orang tuanya. Namun terlihat sangat nyaman, dan sepertinya Nala akan betah tinggal disana.


"Enak banget rumahnya mas..serius deh mas.." Zayn hanya tersenyum sambil menyeret koper miliknya dan sang adik. Ia mengikuti adiknya yang sudah lebih dulu berjalan didepannya.

__ADS_1


"Eh.." Nala terkejut saat tiba-tiba pintu rumah terbuka, menampakkan sosok wanita paruh baya yang tersenyum ramah menatapnya.


"Selamat datang mbak Nala..saya Parni, asisten rumah tangga disini". Wanita yang mungkin usianya tak jauh berbeda dengan maminya itu tampak membungkuk sopan menyambut kedatangannya.


"Hallo bu Parni..kenalin saya Nala. Adiknya mas Zayn.." Nala dengan ramah mengulurkan tangannya dan langsung diterima oleh bu Parni yang membalas senyuman ramah Nala.


"Aduh..cantik banget adiknya mas Zayn. Kalo yang ndak tahu, ini pasti dikira pacarnya". Kelakar bu Parni yang disambut gelak tawa Nala.


"Biar ibu bantu mas Zayn.."


"Maaf ya bu..tolong antar Nala ke kamarnya ya". Bu Parni mengambil satu koper yang ukurannya lebih besar.


"Kamu sama bu Parni dulu ya. Mas mau istirahat dulu.." Nala mengangguk dan Zayn segera berlalu ke kamarnya untuk istirahat.


"Kalo butuh apa-apa, bilang aja sama bu Parni. Tapi istirahat dulu sekarang". Sebelum benar-benar ke kamarnya, Zayn berhenti dan menatap adiknya yang langsung mengacungkan jempolnya.


"Ibu antar ke kamar mbak Nala ya.." Nala mengangguk, berjalan bersisian dengan bu Parni menuju lantai dua. Tempat yang akan menjadi tempat beristirahat dirinya kedepannya nanti.


"Ini kamar mbak Nala..sudah ibu bereskan". Nala menatap kamar barunya. Tidak lebih besar dari kamarnya dirumah kedua orang tuanya, tidak terlalu besar pula, tapi lebih dari cukup hanya untuk dirinya beristirahat.


"Makasih ya bu.." Ucap Nala tulus.


"Bajunya mau ibu bereskan sekarang saja apa bagaimana mbak?". Tanya bu Parni.


"Nanti saja bu sama saya sendiri,.nggak banyak kok". Bu Parni mengangguk paham dan segera pamit undur diri agar adik majikannya bisa segera beristirahat.


Sepeninggal bu Parni, Nala bukannya beristirahat. Gadis itu membuka kopernya, mengeluarkan sebuah bingkai foto dimana didalamnya ada foto dirinya dan Gaara.


Ia terkekeh pelan, merasa jika dirinya benar-benar konyol. Bagaimana isi pikirannya itu sebenarnya. Pergi jauh agar bisa melupakan, namun foto lelaki yang ingin ia lupakan terbingkai rapi bukan hanya diselembar kertas, namun juga dihatinya.


"Semoga abang bahagia.." Nala mengusap pelan foto Gaara dan dirinya. Foto yang ia dapatkan dengan memaksa Gaara berfoto dengan dirinya saat pertunangan Kara beberapa waktu lalu.


"Ini pilihan gue..kehidupan baru gue, dan gue pasti bahagia". Gumam Nala meyakinkan dirinya jika lambat laun ia akan terbiasa tanpa bisa mendengar suara Gaara apalagi menatap wajah tampan itu.


...¥¥¥•••¥¥¥...


Eaeaea...yang galau yang galau..siapa duluan yang akhirnya nggak kuat jauh-jauh???

__ADS_1


Othor harap sih si biang gara-gara ya😂😂


__ADS_2